34. Oldeus Menghilang

1055 Kata
Namun, Elang hitam itu terbang meninggi menghindari serangan dari Nim. "Kenapa dia malah terbang semakin tinggi?" ucap Nim kesal. "Aku akan membantu!" ucap Luiji seketika melesatkan tentakelnya tepat ke arah elang hitam sehingga membuat elang hitam tersebut kembali berbalik arah menghindari serangan dari Luiji kemudan perlahan terbang merendah. "Sekarang!" teriak Juno seketika dengan sangat cepat berlari dan kemudian menggunakan tanduknya dia menyeruduk elang tersebut, sehingga membuat elang hitam itu terlempar membentur beberapa pohon besar di dekatnya kemudian terjatuh. Nim mengibaskan pedangnya ke arah elang hitam yang terjatuh, sehingga elang hitam tersebut membeku kemudian dengan cepat berlari dan menyerang elang hitam itu dengan cakarnya. Luiji pun dengan seketika melesatkan beberapa tentakelnya ke arah elang hitam itu lalu menjerar tubuh elang itu dengan sangat kuat, sehingga membuat elang hitam raksasa tersebut tidak mampu bergerak lagi. Nim dan teman-temannya berjalan mendekat ke arah dimana elang hitam tersebut berada, namun seketika dari tubuh elang hitam raksasa tersebut mengeluarkan aura hitam yang melesat ke langit kemudian membuat langit yang berwarna merah seketika berubah menjadi biru kembali. Kemudian tubuh elang hitam raksasa tersebut berubah wujud menjadi sebuah bola kristal hitam kecil dengan bintik emas di tengahnya. "Benda apa ini?" tanya Nim seketika meraih bola kristal berwarna hitam tersebut. "Mungkin ini yang mereka sebut Ultimiore," sahut Tion. "Jika benda ini Ultimiore, apakah elang hitam tadi juga Beaster sama sepertimu, Tion?" tanya Nim. "Aku masih belum yakin, Nim," jawab Tion. "Aku tahu makhluk ini," sahut Shirashfer, "Makhluk ini masih berasal dari dunia ini, tapi dari bagian dimensi yang berbeda," sambungnya menjelaskan. "Dimensi yang berbeda?" ucap Nim heran. "Ya, hanya itu yang aku tahu," ucap Shirashfer. "Apakah mungkin elang hitam tadi adalah wujud dari siluman?" tanya Juno. "Jika benar elang hitam itu adalah makhluk siluman, artinya Neilto pernah ke dimensi dimana makhluk ini berasal," sahut Luiji. "Kita bahas ini nanti saja, sebaiknya kita menemui Michi dan yang lain di dalam candi, lalu kita pikirkan bagaimana caranya untuk menghentikan kesalah-fahaman negara kita dengan negara tetangga," ucap Nim. Kemudian Nim, Luiji dan Juno pun akhirnya pergi menemui Michi di dalam candi. "Kakak!" panggil Michi berteriak ke arah Nim. "Ada apa, Michi?" tanya Nim setelah tiba di depan adiknya, yaitu Michi. "Sejak tadi aku tidak melihat dimana Oldeus," jawabnya bingung. "Mungkin dia sedang melakukan meditasi di atas sana," sahut Juno. "Sebaiknya kita tanyakan dengan Oldeus tentang perselisih-fahaman ini," ucap Luiji memberi usul. "Baiklah, ayo kita temui dia," ajak Nim kemudian lebih dahulu melangkah menuju tangga yang mengarah tepat ke atas puncak diiringi oleh Juno di belakangnya. "Aku menunggu disini saja, menemani orang-orang ini," ucap Michi. "Mama, aku lapar...." Tiba-tiba seorang anak kecil mengeluh karena lapar. Ibunya tampak kebingungan kemudian memeluk erat tubuh anaknya. Michi pun terlihat bingung dengan apa yang harus dilakukannya demi membantu anak kecil tersebut. "Michi," panggil Luiji. "Ya, Kak?" sahut Michi. "Kamu jaga mereka disini, aku akan pergi ke hutan untuk mencarikan sesuatu yang bisa dimakan," ucap Luiji kemudian berjalan melangkah menuju hutan. "Ya, Kak," sahut Michi mengangguk kemudian mendekat ke arah anak kecil tersebut, "Kamu tenang saja ya, sebentar lagi kakaknya akan membawakan makanan untuk kamu," ucapnya kepada anak kecil tersebut kemudian sembari menatap ke arah Luiji. *Di atas Puncak. "Oldeus tidak ada disini," ucap Juno setelah tiba di atas puncak dan tidak menemukan Oldeus. "Di mana dia?" gumam Nim bingung, "Baiklah kita kembali dahulu menemui Luiji dan Michi," ucapnya kemudian pergi kembali ke bawah. Juno mengangguk kemudian mengiringi Nim kembali ke bawah. *Di tempat Michi dan orang-orang menunggu. "Ini," ucap Luiji seketika kembali tiba dengan membawa beberapa buah-buahan terbungkus dengan kain hitam yang ditemukannya dari dalam hutan kemudian membuka kain hitam tersebut. "Waah, buah," ucap anak kecil tersebut seketika mendekat dan mengambil salah satu buah yang dibawakan oleh Luiji. "Ayo yang lain silahkan ambil buah ini, sementara untuk mengganjal perut kalian," ucap Michi mempersilahkan. "Terima kasih," ucap seorang wanita yaitu ibu dari anak kecil menatap ke arah Luiji dan Michi, "Sebenarnya kalian siapa, dan apa yang terjadi sebenarnya?" tanyanya kemudian setelah memakan salah satu buah dan menghabiskannya. "Kami manusia biasa, sama seperti kalian," sahut Luiji malas menjawab. "Kak Luiji!" bentak Michi menegur. "Iya, maaf," sahut Luiji, "Sebaiknya kau saja yang menjelaskan kepada mereka," sambungnya kemudian berjalan menjauh dan duduk di salah satu batu kecil di dekatnya. "Dimana Nim dan Juno?" gumamnya dalam hati. "Nama saya Michi, dan laki-laki tadi namanya Luiji, kami manusia sama seperti kalian," jawab Michi menjelaskan, "Tapi, kami mengalami sebuah kejadian yang mungkin kalian tidak akan percaya," sambungnya lagi. "Setelah melihat dengan mata kami sendiri makhluk raksasa tadi, apakah kami punya alasan untuk tidak percaya pada kalian?" tanya wanita tersebut menegaskan. "Baiklah, saya akan menceritakan," ucap Michi kemudian menceritakan semua yang terjadi kepada wanita tersebut. "Jadi serangan yang berasal dari negara tetangga tadi adalah kesalah-fahaman," ucap wanita tersebut setelah mendengar cerita Michi. Kemudian tampak Nim dan Juno yang turun melalui anak tangga dan mengampiri Luiji yang sedang duduk. "Bagaimana, apakah kalian sudah bertemu dengan Oldeus?" tanya Luiji ketika Nim dan Juno tiba di depannya. "Tidak, dia tidak ada disana," jawab Nim. "Tidak biasanya Oldeus meninggalkan tempat ini," ucap Juno merasa heran karena mengetahui bahwa Oldeus tidak pernah meninggalkan tempatnya. "Lalu, apa kalianpunya rencana?" tanya Luiji. "Emmm." Nim berusaha berpikir keras, "Aku tidak tahu," ucapnya sembari menggaruk kepalanya. "Kita hanya bisa berharap agar kesalah-fahaman ini lekas berakhir," ucap Juno berharap. "Tapi, kita tidak bisa membiarkan kesalah-fahaman ini berlarut-larut," ucap Luiji. "Kenapa kita tidak mencoba menjelaskannya pada pemerintah," ucap Nim memberi usulan. "Apa mungkin mereka akan percaya dengan apa yang kita katakan pada mereka?" tanya Luiji. "Kalau kita tidak mencobanya, kita tidak akan tahu hasilnya," sahut Nim dengan penuh rasa yakin. Dengan menuntun anaknya, wanita tersebut berjalan bersama Michi menghampiri Nim, Luiji dan Juno. "Kakak," panggil Michi ketika tiba tepat di depan Nim, Luiji dan Juno. "Aku sudah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya," ucap seorang wanita, "Aku memiliki kenalan di bagian pemerintahan, mungkin dia bisa membantu kalian," sambungnya. "Benarkah," ucap Nim tersenyum merasa menemukan titik terang, "Tapi, dimana?" sambungnya bertanya. "Di dekat sini terdapat sebuah kantor pemerintahan, dan kebetulan kenalanku sedang bertugas disana," jawab seorang wanita tersebut. "Baguslah, tapi sebaiknya aku rasa besok pagi saja kita ke sana," ucap Juno kemudian menolehkan kepalanya ke atas, "Karena sekarang hari sudah terlihat mulai gelap," ucapnya lagi memberitahu. "Baiklah." Kemudian bersama orang-orang yang diselamatkan Nim dan teman-temannya, mereka pun pergi ke tengah candi tepatnya di sebuah kuil dimana Oldeus biasa tinggal dan beristirahat disana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN