"Aku rasa, sepertinya rudal-rudal sudah itu tidak muncul ke sini lagi," ucap Nim ketika menolehkan kepalanya ke atas dan memperhatikan tidak ada lagi rudal-rudal yang meluncur di udara.
"Benar, aku rasa serangan mereka telah berhenti," sahut Juno membenarkan.
"Tunggu sebentar, dimana Oldeus?" tanya Nim ketika menyadari bahwa Oldeus tidak bersama mereka.
"Mungkin dia ikut bersama Michi pergi ke dalam hutan," jawab Juno.
"Aku mengira kalau dia juga membantu kita," ucap Nim menghela nafas, "Baiklah, kita temui Michi dan Luiji disana," sambungnya mengajak.
"Ya," sahut Juno kemudian bersama Nim pergi masuk ke dalam hutan.
Michi melihat Nim dan Juno dari kejauhan yang berjalan ke arahnya, "Kakak," ucapnya tersenyum berteriak sembari melambaikan tangannya.
Dengan seketika Nim dan Juno pun mempercepat langkah kaki mereka.
"Bagaimana keadaan penduduk yang selamat?" tanya Nim seketika tiba di depan Michi.
"Semuanya aman," jawab Luiji seketika menghampiri Nim.
"Ledakan yang tadi itu berasal dari sini, kan?" tanya Juno, "Apa penyebab ledakan tadi?" sambungnya lagi.
"Tadi aku bertemu dengan seorang laki-laki, kemudian sewaktu rudal terbang menuju kemari, laki-laki itu menghentikan dan meledakan rudal itu di udara," jawab Michi.
"Laki-laki?" gumam Nim merasa bingung, "Maksudmu Oldeus?" tanyanya kemudian.
"Bukan, Kak," sahut Michi, "Penampilannya tidak setua kakek Oldeus, aku rasa dia seumuran dengan kakak," sambungnya memberitahu.
"Siapa nama laki-laki itu?" tanya Juno.
"Aku tidak sempat mendengar dia memberitahukan namanya," jawab Michi lagi memberitahu.
"Siapa pun orang itu, aku yakin sekali dia adalah orang yang baik," ucap Nim tersenyum dengan yakin.
"Lalu, sekarang Oldeus dimana?" tanya Juno.
"Mungkin dia sedang berada di tempatnya biasa meditasi," jawab Luiji.
"Semudah itu dia meninggalkan kita yang berusaha menghalau rudal-rudal tadi," ucap Nim mengeluh.
Tiba-tiba tanah bergetar dengan sangat kencang sehingga membuat Nim dan teman-temannya merasa terkejut, lalu seketika membuat sebagian orang-orang yang juga berada di tempat itu pun merasa kepanikan.
"Wah, ada gempa, bagaimana ini," ucap sebagian orang merasa panik.
"Ibu... Aku takut..." lirih seorang anak kecil seketika memeluk erat tubuh ibunya. Kemudian sang ibupun seketika balas memeluk erat tubuh anaknya.
"Ada apa ini," sentak Nim heran.
"Mungkin gempa ini berasal dari gunung di dekat sini," ucap Luiji memberitahu.
"Gempa bumi?" gumam Juno heran, "Aku tidak yakin kalau ini adalah gempa, aku cukup mengenal daerah sini dan gunung-gunung disini sudah lama tidak aktif," sambungnya lagi setelah mengingat dan mengetahui bahwa gunung-gunung di tempat itu sudah tidak aktif lagi.
Bersamaan dengan gempa, tiba-tiba tampak dari atas langit yang awalnya berwarna biru dengan sekejap berubah menjadi merah.
"Apa lagi ini?" tanya Nim semakin heran ketika melihat suasana langitnya berubah.
"Mungkinkah ini ulah Rieghart?" tanya Juno.
"Bukan, aku tidak merasakan kekuatan Rieghart bahkan Alio di sekitar sini," sahut Fyuri.
"Ya, aku juga tidak merasakan apapun," lanjut Naken.
"Tapi, hanya di sekitar tempat ini yang langitnya berubah warna?" ucap Nim heran.
Tidak berapa lama kemudian gempa pun berhenti.
Luiji melihat sebuah bayangan hitam. "Awas!" teriak Luiji seketika melihat sebuah aura hitam melesat ke arah mereka yang berasal dari bayangan hitam tersebut, kemudian dengan segera melompat melindungi beberapa orang yang juga berada disana dan menghalau aura hitam tersebut.
"Siapa kau! Tunjukkan dirimu, jangan hanya bersembunyi," teriak Nim ke arah dimana aura hitam itu berasal.
"Lumayan juga kemampuan kalian," ucap seseorang seketika keluar dari persembunyiannya kemudian berjalan sembari menghentakkan ke tanah tongkat yang dipegangnya dan mendekat ke arah dimana Nim dan teman-temannya berada.
"Siapa kau?" tanya Nim berteriak.
"Perkenalkan, namaku Neilto, pendiri dan sekaligus pemimpin Black Tail," jawab seseorang yang mengenakan pakaian jubah hitam dengan sebuah tongkat berwarna emas yang di atas tongkat tersebut terdapat sebuah kristal berwarna hitam.
"Neilto?" gumam Nim, "Mau apa kau kemari?" teriaknya lagi bertanya.
"Sebelumnya, aku ucapkan selamat pada kalian karena berhasil lolos dari jebakanku," ucap Neilto bertepuk tangan, "Kali ini aku hanya memperingatkan kalian, jangan ikut campur dengan urusanku," ucapnya kemudian dengan tenang.
"Jika itu bersangkutan dengan dunia kami, maka kami tidak akan tinggal diam," sahut Nim dengan lantang.
"Baiklah jika itu keputusan kalian," ucap Neilto kemudian tampak dari sebuah kristal hitam di tongkatnya mengeluarkan cahaya biru gelap yang kemudian melesat ke atas membelah langit yang berwarna merah, "Akan ku perlihatkan sedikit pada kalian kekuatan sempurna dari Ultimiore terkuat," sambungnya.
Dari langit, seketika turun monster dengan wujud burung elang besar berwarna hitam dengan tanduk berwarna emas. Orang-orang yang bersama Nim dan teman-temannya pun ketakutan ketika melihat elang hitam raksasa tersebut.
"Bermain-mainlah sebentar dengan peliharaanku," ucap Neilto kemudian berbalik badan dan lalu dengan sekejap menghilang meninggalkan seekor monster raksasa berwujud elang berwarna hitam.
"Michi, bawa orang-orang menjauh dari tempat ini, cepat!" perintah Nim.
"Baik," sahut Michi mengangguk kemudian segera mengajak orang-orang pergi menjauh dari elang hitam tersebut.
"Tion, apa dia juga Beaster?" tanya Nim.
"Aku tidak yakin, tapi kekuatannya hampir mirip dengan Beaster," jawab Tion.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan ragu melawannya," ucap Nim seketika tubuhnya diselimuti aura biru berbentuk harimau kemudian dengan sangat cepat berlari dan menyerang elang hitam tersebut.
Luiji pun seketika dengan cepat melesatkan tentakelnya menyerang ke arah elang hitam tersebut. Namun, elang hitam itu menghindari serangan Nim dan Luiji dengan mudah karena mampu terbang.
"Sial, aku tidak bisa menyerangnya jika dia terbang," ucap Nim kesal.
Seketika elang hitam raksasa itu mengibaskan sayapnya ke arah dimana Nim dan teman-temannya berada, dan dari kibasan sayap itu keluar jarum-jarum hitam melesat bersama angin kencang ke arah mereka dengan cepat. Nim dan teman-temannya pun seketika menghindari serangan tersebut sehingga mengenai sebagian bangunan di depan candi.
"Kita harus membawa elang itu menjauh dari candi ini sebelum dia menghancurkannya," ucap Juno.
"Ya, kau benar," sahut Luiji, "Ayo pancing dia agar mengikuti kita," sambungnya seketika menyerang elang hitam tersebut.
Bersama-sama, mereka pun bertiga berhasil membawa elang hitam tersebut pergi menjauh dari candi.
"Kita harus mencari cara agar dia tidak bisa terbang," gumam Nim.
"Serahkan padaku," ucap Shirashfer seketika pedang di belakang tubuh Nim melayang melesat ke arah elang hitam tersebut.
Shirashfer dengan wujud pedang hitam melesat ke arah elang hitam dan membentur tubuh elang hitam tersebut, karena saking kerasnya bulu elang hitam itu, Shirashfer tidak mampu melukainya.
"Tubuhnya sangat keras, aku tidak bisa menembusnya," ucap Shirashfer setelah kembali di dekat Nim.
Nim meraih pedang hitam yang melayang di depannya lalu melompat dan mengibaskan pedang tersebut ke arah dimana elang hitam terbang. Dari kibasan pedang di tangan Nim, sebuah energi biru berbentuk sabit melesat ke arah elang hitam raksasa tersebut, namun elang hitam tersebut seketika meluncur ke bawah dan terbang rendah sehingga membuat serangan Nim meleset.
"Nim, Luiji, aku punya rencana!" teriak Juno, "Kalian alihkan perhatiannya, aku akan pergi ke belakangnya, buatlah elang itu kembali terbang rendah," ucapnya kemudian dengan aura biru berwujud banteng perlahan pergi menjauh dan mencari cara agar bisa tiba di belakang elang hitam tersebut.
"Baik," teriak Nim menyetujui, "Ayo, Tion, Shira, kita bekerja sama," ucapnya kemudian melompat dan mengibaskan pedangnya kembali ke arah elang hitam raksasa tersebut.