32. Hujan Rudal

1306 Kata
Dari depan goa, Nim dan teman-temannya membantu Oldeus menumpuk batu sehingga jalan pada goa tersebut tertutup. Kemudian Oldeus merapalkan sebuah mantra sembari meletakkan kedua telapak tangannya pada sebuah batu. Seluruh tumpukan batu yang menutup jalan goa tersebut seketika menyatu dan menutup seluruh lubang goa sehingga goa tersebut hanya terlihat seperti sebuah batu besar tanpa lubang. "Beruntung makhluk dari Khamaya tidak mengikuti kalian kemari," ucap Oldeus. "Ya, adikmu Youldes juga sudah memberitahu kami agar berhati-hati," sahut Nim. Tiba-tiba terdengar beberapa suara dentuman keras dan ledakan yang berasal tidak jauh dari tempat dimana mereka berada. "Suara apa itu!" sentak mereka terkejut. "Ayo kita ke sana," ajak Luiji seketika berlari menuju asal suara tersebut kemudian diikuti oleh Nim dan yang lainnya. Setelah Nim dan teman-temannya tiba di tempat dimana suara ledakan itu berasal, terlihat beberapa bangunan yang hancur dan sebagian terbakar. "Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" ucap Juno setelah melihat penyebab asal suara ledakan yang didengarnya. "Sepertinya mereka sudah mulai," ucap Oldeus. "Apa maksudmu sudah mulai?" tanya Nim bingung. Kemudian dari atas langit tampak sebuah rudal yang melesat tepat mengenai sebuah gedung besar dan dengan sekejap gedung tersebut luluh lantah. Terdengar suara beberapa orang yang meminta tolong dari balik puing-puing bangunan yang hancur. "Ayo kita tolong mereka semua!" ajak Nim seketika berlari menuju puing-puing bangunan yang menjepit beberapa orang yang berteriak disana. "Ayo!" teriak Luiji mengajak seketika menyusul ke arah Nim. Kemudian Juno, Michi dan Oldeus pun juga turut segera ikut menyusul. "Kalian tenang saja, aku akan mengeluarkan kalian semua dari sini!" teriak Nim setelah tiba di antara puing-puing bangunan. Dengan segera Nim dibantu teman-temannya mengeluarkan beberapa orang yang terjebak di dalam sebuah bangunan yang terbakar. Kemudian segera pergi ke puing-puing gedung dimana beberapa orang yang terjepit. "Tolong... Tolong..." teriak beberapa orang yang kondisi tubuhnya tertindih sebuah tembok besar. Nim segera mengangkat tembok tersebut dan menyelamatkan semua korban. "Anakku masih terjebak di atas sana..." ucap seorang wanita menunjuk gedung yang sebagian rusak. "Ibu... Ibu...." Terdengar teriakan seorang anak kecil laki-laki yang bergelantungan di jendela tepat di atas gedung. "Bagaimana kita bisa ke sana?" tanya Luiji menengadahkan kepalanya ke atas. "Luiji, aku bisa membantu," ucap Naken. "Baik!" Kemudian dari tubuh Luiji seketika melesat sebuah cahaya biru kemudian cahaya tersebut membentuk wujud seekor gurita. Dengan segera Naken melesatkan salah satu tentakelnya ke arah anak kecil laki-laki tersebut, kemudian meraihnya dan perlahan menurunkan anak kecil tersebut. "Ibu...!" teriak anak kecil itu seketika berlari ke arah seorang wanita. Dengan segera wanita tersebut memeluk anak kecil itu. "Terima kasih," ucap wanita tersebut. "Ya, sebaiknya kalian semua cari tempat yang aman!" ucap Juno sembari merawat beberapa orang yang terluka. "Dari mana semua rudal ini?" tanya Nim sembari mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat beberapa rudal yang melesat di atas kepalanya. "Sebenarnya negara kita sedang berperang dengan negara tetangga," jawab wanita tersebut, "Karena beberapa pemerintah di negara kita menuduh negara tetanggalah yang menyebabkan insiden terompet yang menghancurkan sebuah kota waktu itu," sambungnya lagi. Nim tampak kesal, "Sudah ku duga akan jadi seperti ini," ucapnya mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Michi, kamu tuntun mereka semua ke tempat yang aman," perintah Nim kepada adiknya. "Baik, Kak," sahut Michi, "Ayo ikuti aku," ajaknya kepada beberapa orang yang selamat kemudian segera pergi bersama orang-orang tersebut menuju ke dalam hutan dan menuju ke sebuah candi. "Aku harus bagaimana?" gumam Nim kesal. "Nim," panggil Tion. "Ya, Tion," sahut Nim. "Sebaiknya kita musnahkan terlebih dahulu rudal-rudal itu," ucap Tion. "Bagaimana caranya?" tanya Nim. "Portal," jawab Tion. "Tapi, kemana portal itu akan ku arahkan?" tanya Nim. "Hubungkan saja langsung ke istana Rieghart," jawab Tion. "Kau benar, Tion," sahut Juno. "Cerdik juga caramu, Tion," ucap Oldeus tertawa. "Baiklah," ucap Nim seketika melompat mengarah ke sebuah rudal yang melesat di atas langit kemudian mengulurkan kedua tangannya, seketika tercipta sebuah portal yang mengarah langsung ke dunia Khamaya. "Rasakan kau, Rieghart!" gumamnya dengan wajah penuh kemenangan. "Aku juga!" teriak Luiji seketika melompat dan mengalirkan rudal di depannya tepat menuju ke dunia Khamaya, seketika Juno pun ikut melakukannya. "Semua ini karena ulah Rieghart dan Alio yang membuat kesalah-fahaman negara kita dengan negara tetangga," ucap Nim kesal sembari menciptakan lagi sebuah portal tepat di depan sebuah rudal yang melesat ke arahnya. Dari kejauhan, tampak Neru yang masih mengintai Nim dan teman-temannya. "Sepertinya aku tidak perlu ikut campur dengan urusan ini," ucapnya kemudian menoleh ke arah Michi yang menuntun beberapa orang menuju ke bangunan candi di dalam hutan. Neru pun kemudian diam-diam mengikutinya. Di dunia Khamaya tepat dari depan istana kekuasaan Rieghart, terlihat puluhan rudal yang keluar melalui portal yang diciptakan oleh Nim, Luiji, dan Juno. Rudal-rudal tersebut melesat cepat ke arah istana. Tampak Alio yang sejak tadi memperhatikan rudal-rudal tersebut. "Benda apa itu," gumam Alio heran mengerutkan keningnya menatap rudal-rudal tersebut, "Sepertinya mengarah ke sini," gumamnya lagi. Dengan mengulurkan sebelah tangannya seketika seluruh rudal tersebut terhenti seakan-akan waktu telah berhenti. Kemudian Alio mengepalkan tangannya, dengan seketika seluruh rudal tersebut meledak bersamaan di atas langit di dunia Khamaya. Ledakan tersebut terdengar oleh Rieghart yang kemudian keluar istana seketika menghampiri Alio. "Dari mana semua benda itu, Alio." tanya Rieghart dengan tenangnya. "Maaf Tuan-ku," sahut Alio menundukkan setengah badannya, "Aku yakin benda-benda itu berasal dari Bumi, dan serangga-serangga itulah yang mengirimnya kemari, Tuan-ku," sambungnya menjelaskan. Rieghart tertawa, "Sepertinya mereka ingin bermain-main denganku," ucapnya kesal, "Kau bereskan saja ini, nanti selanjutnya kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan, Alio," ucapnya lagi sembari melangkah kembali masuk ke dalam istananya. "Baik, Tuan-ku," sahut Alio menundukkan setengah badannya dengan tersenyum licik. Di tengah hutan tepat di depan sebuah bagunan candi, tampak Michi yang sedang menuntun beberapa orang yang selamat untuk segera masuk ke sana. Ketika masuk ke dalam bangunan candi, terdengar sebagian orang yang tampak cemas dengan kejadian yang menimpa negaranya. "Kita aman disini," ucap Michi menenangkan, "Kita tunggu sampai semua tenang," sambungnya. Neru memperhatikan Michi yang sejak tadi berusaha menenangkan sebagian orang yang merasa resah. "Aku rasa perempuan itu masih belum mengenaliku," gumamnya kemudian perlahan menampakkan dirinya pada Michi. "Siapa kau!" tanya Michi dengan sedikit meninggikan nadanya. "Tenang-tenang, aku hanya ingin membantu," jawab Neru. Michi menatap tajam Neru. Tiba-tiba, tampak sebuah rudal yang melesat ke arah dimana Michi dan Neru serta orang-orang yang selamat berada. "Awas!" teriak Neru seketika melompat ke arah rudal tersebut kemudian dengan sekali ayunan kakinya membuat rudal tersebut meledak di udara, sehingga ledakan tersebut terdengar sampai ke tempat Nim, Luiji dan Juno. "Michi!" gumam Luiji seketika mengetahui asal suara ledakan tersebut. "Pergilah, Luiji," ucap Nim, "Aku percayakan Michi padamu, Luiji," ucap Nim dengan penuh yakin "Baik." Kemudian Luiji pun berlari dengan cepat menuju ke dalam hutan dimana Michi bersama orang-orang yang selamat berada. *Kembali di dalam hutan. "Kalian tidak apa-apa?" tanya Neru seketika berdiri tepat di hadapan Michi. "Hm, terima kasih." Michi mengangguk tersenyum. "Namaku Michi, namamu siapa?" sambung Michi mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya kemudian bertanya. Sebelum Neru sempat menjawab, dari kejauhan tampak Luiji yang berlari ke arah Michi beserta orang-orang yang selamat dan berlindung di dalam bangunan candi. "Sebaiknya aku pergi dulu," gumam Neru dalam hati seketika menyadari bahwa Juno berlari ke arahnya, kemudian dia pun bergegas pergi tanpa sempat memberitahukan namanya. "Hei, Kau mau kemana?" tanya Michi berteriak ketika melihat Neru yang tiba-tiba pergi dan masuk ke dalam hutan, kemudian melangkahkan kaki mencoba mengejarnya. "Apa yang terjadi?" ucap Luiji bertanya seketika menghentikan langkah Michi. "Eh, kak Luiji," sahut Michi seketika menoleh ke arah Luiji, "Tadi ada sebuah rudal yang menuju kemari, tapi beruntung seorang laki-laki menyelamatkan kami," ucapnya lagi menjawab. "Seorang laki-laki?" tanya Luiji heran sembari mengerutkan keningnya. "Benar Kak, dengan sekali serang dia menghancurkan rudal tadi dan meledak di atas," jawab Michi menjelaskan. "Siapa dia?" tanya Luiji lagi. "Ketika Kak Luiji kemari, tiba-tiba saja dia langsung pergi," jawab Michi. Luiji terdiam mengerutkan keningnya sembari memikirkan siapakah laki-laki tersebut kemudian tersenyum ke arah Michi, "Ya sudah, tidak apa-apa, yang penting kalian semua sudah selamat," ucapnya lagi kemudian terdiam sejenak, "Siapa laki-laki itu?" gumamnya penasaran dalam hati sembari mengerutkan keningnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN