Setelah Michi selesai merapalkan kalimat berupa mantera, perlahan salah satu batu pada tumpukan batu yang menutup jalan keluar goa pun seketika menggelinding sehingga dari celah kecil tersebut melesat cahaya yang tidak lain adalah berasal dari Bumi.
"Akhirnya," ucap Nim dengan lega ketika melihat sebuah cahaya yang melesat masuk melalui celah kecil dari tumpukan batu, "Ayo!" ajaknya seketika mendekat ke tumpukan batu kemudian mendorongnya sehingga tumpukan baru itu pun tergeser lalu terlihat sebuah cahaya yang sangat terang menyilaukan kedua matanya. Nim melindungi kedua matanya dari silaunya cahaya dengan kedua lengannya.
"Apakah kita benar kembali ke Bumi," ucap Luiji tidak menyangka ketika berhasil kembali pulang ke dunianya.
"Ayo!" teriak Nim seketika berlari keluar dari goa.
Luiji, Juno dan Michi pun ikut berlari menyusul Nim keluar dari goa.
"Aku tidak menyangka kalau bisa melihat lagi warna langit ini," ucap Nim sembari menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit yang berwarna biru.
"Di mana Oldeus?" ucap Juno menoleh ke kiri dan kanan melihat sekelilingnya.
"Mungkin Oldeus sekarang sedang berada di kuil," sahut Nim, "Ayo kita cari dia!" ajaknya kemudian melangkah bersama Luiji, Juno dan Michi masuk ke dalam candi.
Neru mengintip dari balik batu, "Aku rasa sudah aman," gumamnya memperhatikan ke segala arah kemudian segera ikut keluar dari goa. Sesampainya di luar goa, Neru terdiam ketika melihat sebuah dunia yang dianggapnya begitu indah. "Langit ini, apakah ini yang namanya Bumi," gumamnya sembari menatap langit tepat di atas kepalanya.
"Di mana dia?" gumam Nim menengok ke kiri dan kanan setelah tiba di depan sebuah kuil kediaman Oldeus.
"Mungkin disana," ucap Juno menunjuk sebuah jalan tangga yang tepat mengarah ke puncak.
Kemudian Nim, Luiji, Juno dan Michi pun berjalan melewati ratusan anak tangga yang menuju puncak. Neru yang sejak tadi diam-diam mengikuti Nim dan teman-temannya pun seketika mengikuti menaiki anak tangga.
"Ternyata benar, dia ada disini," ucap Juno setelah mereka tiba di puncak dan melihat Oldeus yang sedang melakukan meditasi tepat di atas sebuah batu besar di atas puncak.
Oldeus yang duduk bersila seketika membuka kedua matanya, "Selamat datang kembali," ucapnya menyambut seketika berdiri.
"Bagaimana kabarmu, kakek tua?" tanya Nim dengan polosnya.
JEDUK.... Sebuah tongkat kayu seketika mengayun cepat mengarah tepat mengenai kepala Nim.
"Aduuh!" jerit Nim.
"Sifatmu ternyata tidak berubah," ucap Oldeus tersenyum kemudian menoleh menatap ke arah Juno, "Syukurlah kau berhasil selamat," ucapnya kemudian.
"Semua berkat Nim dan yang lain, Guru," sahutnya seketika menundukkan setengah badannya hormat.
"Tidak, jika Oldeus tidak memberitahu kami jalan menuju ke Khamaya, kami tidak akan bisa menyelamatkanmu, Juno," sahut Nim menjelaskan.
"Siapa perempuan itu?" tanya Oldeus seketika menoleh dan menatap ke arah Michi.
"Oh, perkenalkan dia adikku, Michi," jawab Nim seketika menarik tangan adiknya, kemudian Michi menundukkan setengah badannya hormat.
"Salam kenal," ucap Michi tersenyum.
Oldeus mengerutkan keningnya menatap gelang yang melekat pada lengan Michi. "Gelang itu...."
"Ada apa dengan gelang ini?" tanya Michi heran.
"Apakah benar?" ucapnya seketika melompat dan mendekat ke arah dimana Michi berdiri kemudian memperhatikan lebih dekat gelang yang melekat pada lengan Michi tersebut, "Benarkah ini wujud lain dari Greatshfer?" lanjutnya bertanya menatap ke arah Michi.
"Kau benar, Oldeus," ucap Greatshfer seketika menyahut.
"Greasthfer! Sudah lama sekali kita tidak bertemu," sapa Oldeus.
"Kau benar, sudah hampir ratusan tahun ya," sahut Greatshfer.
"Ratusan tahun?" tanya Michi heran, "Memangnya berapa usia Tuan Oldeus?"
Seketika Oldeus tertawa. "Kira-kira usia ku sudah hampir seribu dua ratus tahun, ku rasa," ucapnya berfikir sembari mengusap janggut putihnya.
"Oh iya, hampir saja aku lupa," ucap Nim, "Kau memiliki adik, kan?" sambungnya bertanya.
"Apa maksudmu dengan adik?" sahut Oldeus bingung seketika balik bertanya.
"Iya, sebelum kami kembali ke sini, kami bertemu seorang kepala kampung," jawab Michi.
"Hhmmm...." Oldeus masih berfikir mencoba mengingat. "Apakah maksudmu Youldes?" sambungnya seketika bertanya ketika ingat nama adiknya tersebut.
"Jadi, namanya adalah Youldes...." Nim tersenyum dengan bangga setelah berhasil mengetahui nama dari kepala kampung yaitu adiknya Oldeus.
"Memangnya kenapa?" tanya Oldeus.
"Sebelum kami kemari, dia tidak mau memberitahu namanya," jawab Michi.
"Dia memang seperti itu, walaupun begitu dia adalah seorang Caster yang baik," sambungnya memberitahu.
"Iya, dia memang benar orang baik," sahut Nim dengan bangga.
"Sebentar," ucap Oldeus seketika menyadari bahwa terdapat sebuah pedang berwarna hitam yang melekat di belakang tubuh Nim, "Pedang ini..." sambungnya mengerutkan keningnya lagi setelah tiba kemudian memperhatikan sebuah pedang hitam dari belakang tubuh Nim. "Warnanya hitam dengan kristal biru," ucapnya memperhatikan pedang sembari mengusap-usap janggut putihnya.
"Ya, kenapa dengan pedangku?" tanya Nim heran.
"Sudah jelas, ini adalah Shirashfer," ucap Oldeus setelah mengenali pedang tersebut, "Aku baru kali ini melihat wujud lain dari Shirashfer," sambungnya kemudian menjentik-jentikkan jarinya ke pedang tersebut.
"Hei hei, tidak usah kau jentik-jentik begitu, aku tidak tidur, Oldeus!" teriak Shirashfer seketika membentak Oldeus.
"Eh! Aku kira kau tidur, Shira," sahut Oldeus seketika menggaruk kepalanya, "Kita juga sudah lama sekali tidak bertemu," sambungnya.
"Ya, terakhir kali kita bertemu, kau mencuri kumisku!" teriak Shirashfer.
"Aku tidak mencurinya!" Oldeus balas berteriak.
"Lalu, apa namanya kalau tidak mencuri!" teriak Shirashfer lagi.
"Emmmm...." Oldeus kembali berfikir. "Aku hanya meminjamnya," sahutnya kemudian.
"Kalau kau meminjam, itu berarti harus dikembalikan!" teriak Shirashfer, "Mana!? Cepat kembalikan!"
"Aku lupa meletakkannya dimana," sahut Oldeus menggaruk kepalanya.
Dari kejauhan, Neru masih mengendap-endap memperhatikan Nim dan teman-temannya yang sedang berbincang dengan Oldeus. "Apa benar dia Oldeus yang melegenda itu...." Neru memperhatikan Oldeus.
"Bagaimana kalian bisa bertemu dengan kedua dewa ini, Nim?" tanya Oldeus yang masih berdiri di belakang tubuh Nim.
Nim membalikkan badannya, "Ceritanya panjang..." jawab Nim.
Kemudian Nim dan teman-temannya pun menceritakan semua yang mereka alami sewaktu hendak menyelamatkan Juno yang ditawan di Khamaya. Dari ketika mereka terhisap lubang hitam dan jatuh di Jembatan Dunia, bertemu dengan Putri Alice, meditasi di Altar Unshiqua dan yang lainnya secara terperinci.
"Beruntung sekali kalian memiliki kesempatan dan berhasil meditasi di Altar Unshiqua," ucap Oldeus.
"Semua karena latihan mu dan Grazel yang berikan," sahut Luiji dengan bangga.
"Bukan latihan, tapi kemauan kalian lah yang kuat," ucap Oldeus dengan bangga.
"Kakek, siapa yang memasang mantera pengunci di goa itu?" tanya Nim seketika menunjuk ke arah goa.
"Memasang mantra apa?" tanya Oldeus merasa bingung, "Aku tidak memasang mantra apa-apa pada goa itu," sambungnya menjawab.
"Eh, goa itu berbeda dengan goa yang tadi kita lewati," ucap Luiji.
"Tentu saja berbeda, karena goa itu memiliki dua cabang," sahut Oldeus memberitahu, "Goa yang kalian lihat di puncak ini adalah bisa dikatakan sebagai goa masuk, dan goa yang berada di luar candi adalah goa keluar," lanjutnya menjelaskan.
"Seperti pintu masuk dan pintu keluar saja," sahut Nim merasa bingung.
"Kalau goa keluar, memang benar aku yang memasang mantranya," ucap Oldeus.
"Kenapa kau memasang mantra pada goa itu?" tanya Luiji.
"Agar anak buah Rieghart tidak bisa kemari," jawab Oldeus.
"Tapi, bukankah Rieghart dan Alio bisa dengan mudah kemari," ucap Nim heran.
"Kalau Rieghart dan Alio memang bisa, tapi anak buahnya yang lain tidak mempunyai kemampuan seperti yang dimiliki Rieghart dan Alio," sahut Oldeus, "Karena, jika anak buah Rieghart yang lain mengetahui jalan itu, maka tentu mereka akan segera ke dunia ini," sambungnya menjelaskan.
"Tapi, kami sudah melepaskan mantra itu," ucap Michi memberitahu.
"Apa!" teriak Oldeus sentak terkejut, "Sebaiknya kita harus kembali menutup jalan itu, sebelum terlambat!" ucapnya seketika bergegas menuju goa yang berada tepat di luar bangunan candi.
"Hei, tunggu Oldeus!" teriak Nim seketika mengikuti Oldeus menuju ke luar candi dan pergi bersama dengan Luiji, Juno dan Michi.
Setelah tiba di depan mulut goa tepat di luar candi, Oldeus tampak bergegas menyusun batu-batu lalu menumpuknya bermaksud menutup jalan tersebut.
"Kami akan membantu," ucap Nim seketika ikut mengangkat sebuah batu kemudian menumpuknya dengan batu yang lain tepat tersusun di depan mulut goa.
"Jadi, suara gemuruh sewaktu kami pertama melewati goa yang di atas sana itu berasal dari mana?" tanya Luiji.
"Tentu saja dari sini," sahut Oldeus.
"Aku masih belum mengerti," ucap Nim merasa bingung.
Neru masih mengintip dari jauh. "Jadi, goa itulah penyebab yang membuat monster dari dunia Khamaya tidak bisa ikut ke dunia ini," gumamnya dalam hati.