Malam pun tiba, tampak Nim dan teman-temannya bersama Putri Alice dan Grazel yang sedang duduk berkumpul tepat di depan rumah kepala kampung.
Kepala Kampung keluar melewati pintu rumahnya dengan membawa sepiring kue, "Ternyata kalian disini," ucapnya seketika menghampiri Nim dan teman-temannya yang sedang duduk di depan rumahnya, "Silahkan dicicipi, kue ini buatan saya sendiri loh," ucapnya lagi tersenyum sembari meletakkan sepiring kue tepat atas meja di depan rumahnya.
"Waaah, pas sekali," ucap Nim seketika meraih sepotong kue lalu memakannya, "Eemm, kue ini enak sekali," ucapnya lagi berkata dengan mulut penuh makanan.
"Kakak kebiasaan kalau makan pasti sambil bicara, telan dulu makanannya, Kak," ucap Michi seketika menarik telinga kakaknya.
"Ampun, ampun," jerit Nim.
"Sepertinya Nim yang terlihat seperti seorang adik, dibandingkan Michi," ucap Juno mengejek.
"Iya Kak, kak Nim memang suka begitu, kelakuannya masih seperti anak kecil," sahut Michi.
"Eeh, aku bukan anak kecil!" sahut Nim membela diri.
"Apa buktinya, coba?" sahut Michi bertanya dengan nada mengejek.
"Eeee." Nim menggaruk kepalanya karena bingung hendak menjawab apa. Seketika semua orang yang duduk di depan rumah pun tertawa menertawakan Nim tidak terkecuali Kepala Kampung yang juga ikut tertawa.
"Maaf, apakah saya boleh bertanya?" tanya Putri Alice membelah gelak tawa sembari menatap ke arah Kepala Kampung.
"Ya, Tuan Putri," sahut Kepala Kampung.
"Mumpung saya ingat, sejak tadi saya ingin menanyakan ini kepadamu," ucap Putri Alice, "Sebenarnya saya hanya ingin mengetahui namamu," sambungnya.
"Nama saya?" sahut Kepala Kampung sambil menunjuk dirinya sendiri, "Hhm." Kepala Kampung terlihat berpikir, "Sebentar, kalian mengatakan bahwa kalian berasal dari bumi, kan?" sambungnya bertanya menatap ke arah Nim.
"Iya, kami memang dari Bumi," jawab Nim dengan yakin setelah menelan kue di dalam mulutnya.
"Kalian kenal Oldeus?" tanya Kepala Kampung.
"Ya, kami kenal Oldeus," sahut Nim, "Dialah yang pertama kali melatih kami sewaktu di Bumi," sambung Nim memberitahu.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Kepala Kampung menatap Nim.
"Terakhir yang kami ketahui, dia baik-baik saja," sahut Luiji, "Sebelum kami pergi ke Khamaya, dia memberi aku dan Nim sebuah pecahan Hashfer," sambungnya memberitahu.
Kepala Kampung menundukkan kepalanya.
"Anda kenapa?" tanya Putri Alice seketika melihat wajah Kepala Kampung yang tampak murung.
"Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya," jawab Kepala Kampung.
"Apa hubungan antara kau dan Oldeus?" tanya Juno menatap ke arah Kepala Kampung.
Kepala Kampung tersenyum sejenak, "Dia adalah kakak ku," ucapnya.
"Apa!" teriak Nim dan teman-temannya bersamaan sentak terkejut.
"Ya, Oldeus memang tipe seorang yang suka menyendiri," ucap Kepala Kampung, "Dan aku tidak menyangka jika kalian juga mengenal Oldeus, dunia ini memang sempit ternyata," sambungnya tersenyum.
"Lalu, siapa namamu!?" ucap Nim bertanya penasaran.
"Oh iya, hampir saja saya lupa," sahut Kepala Kampung tersenyum sembari menggaruk kepalanya kemudian sejenak terdiam.
Tampak Nim dan teman-temannya dengan serius menunggu jawaban dari Kepala Kampung tersebut.
"Nanti kalian tanyakan langsung saja dengan Oldeus," ucapnya tersenyum.
"Apa!" teriak Nim dan teman-temannya lagi sentak terkejut karena tidak mendapatkan jawaban dari Kepala Kampung.
"Sebaiknya kalian istirahat," ucap Kepala Kampung, "Dan besok, pagi-pagi sekali kalian harus membuka portal ke Khamaya," sambungnya, "Karena menurutku, sebagian anak buah Rieghart pasti sedang beristirahat."
"Hoam." Michi menguap, "Iya, aku sudang ngantuk, Kak," ucapnya menatap ke arah Nim.
"Ya sudah, kita sebaiknya beristirahat," sahut Nim.
Michi beranjak berdiri, "Kak Alice tidurnya sama Michi, ya?" ucapnya membujuk sembari meraih tangan Putri Alice.
"Hm," sahutnya tersenyum mengangguk ke arah Michi.
"Ayo, Kak," ucap Michi mengajak Putri Alice masuk ke dalam rumah Kepala Kampung kemudian langsung menuju ke kamar yang sudah disiapkan.
***
Pagi pun tiba setelah Nim dan teman-temannya beristirahat. Tampak Putri Alice yang sudah lebih dahulu bangun.
Michi perlahan membuka kedua matanya yang masih terasa rait, "Kak Alice?" ucapnya seketika menoleh ke arah Putri Alice yang lebih dahulu bangun dan sedang duduk di atas kasur di dalam kamar mereka.
Putri Alice menoleh ke arah Michi, "Tidurmu sangat nyenyak, jadi kakak tidak tega membangunkanmu," ucapnya tersenyum.
"Iya Kak, aku sangat lelah setelah kejadian kemarin," sahut Michi menggeliatkan tubuhnya yang masih terbaring di atas kasur.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu.
'Tok... Tok... Tok....'
"Michi, kau sudah bangun?" tanya seseorang terdengar samar dari luar kamar.
"Kak Nim, ya?" tanya Michi.
"Iya."
"Kenapa kak?"
"Ayo kita bersiap, Luiji dan Juno juga sudah siap."
"Baik Kak, sebentar lagi kami ke sana." Kemudian Michi tampak murung seketika menoleh ke arah Putri Alice, "Kak..." ucapnya.
"Ya, Michi?" sahut Putri Alice tersenyum, "Kenapa kamu sedih?" sambungnya bertanya.
"Kak Alice, setelah Michi kembali ke Bumi, apa kita akan bertemu lagi?" tanya Michi seketika meraih tangan Putri Alice.
"Tentu saja, kalian kan bisa membuat portal kemana saja," sahut Putri Alice tersenyum sembari mengusap rambut lurus Michi.
Michi tampak tersenyum kemudian mengangguk, "Kakak benar juga," ucapnya.
"Ayo kita segera temui Nim," ajak Putri Alice seketika berdiri beranjak dari kasur.
Michi mengangguk kemudian segera ikut beranjak dari kasur, lalu bersama Putri Alice pergi keluar kamar dan segera menemui Nim dan yang lainnya.
Nim, Luiji dan Juno terlihat sudah bersiap-siap berdiri di depan rumah Kepala Kampung bersama Grazel yang masih menunggu kedatangan Michi dan Putri Alice.
"Lama sekali mereka berdua," gumam Luiji terlihat kesal karena lama menunggu.
"Memang begitulah sifat perempuan, Luiji," sahut Juno tersenyum.
"Nah, itu mereka," ucap Nim seketika melihat Michi dan Putri Alice yang berdiri di depan pintu rumah kemudian berjalan bersama dengan Kepala Kampung menuju ke arah dimana Nim, Luiji, Juno serta Grazel yang sudah menunggu.
"Maaf, kami terlambat," ucap Michi tersenyum.
"Dasar, perempuan!" gumam Luiji terlihat kesal.
"Apa!" teriak Michi dengan wajah garangnya seketika menatap ke arah Luiji.
"Eh, tidak-tidak," sahut Luiji mendadahkan tangannya dan menggelengkan kepalanya guna menghindari amarah dari Michi.
"Sudah-sudah, nanti kita terlambat," ucap Juno seketika melerai.
Seketika Michi berpaling membuang mukanya dengan wajah cemberut.
"Tolong jaga Alice," ucap Nim seketika mendekat ke arah Grazel.
Grazel mengangguk, "Tentu saja, karena memang sudah tugasku untuk menjaga Tuan Putri," ucapnya dengan menunjukkan ekspresi wajahnya yang serius.
"Terima kasih, Nim," ucap Putri Alice tersenyum.
Nim mengangguk. "Ayo, Michi," panggil Nim menoleh ke arah Michi yang berdiri tepat di samping Putri Alice.
"Kakak...." Michi seketika memeluk Putri Alice, "Hiks... hiks... hiks...."
"Kamu jangan menangis," ucap Putri Alice seketika mengusap air mata yang mengalir di wajah Michi.
"Kak Alice janji, kan?" tanya Michi masih tersegan dengan isak tangisnya.
"Iya," jawab Putri Alice seketika balas memeluk Michi.
"Baik, Kak," ucap Michi tersenyum seketika melepaskan pelukannya kemudian menyapu air mata di wajahnya.
"Ayo, nanti kalian terlambat," ucap Putri Alice.
Michi tersenyum mengangguk.
"Ayo, Michi," panggil Nim.
"Ya, Kak," sahut Michi kemudian mendekat ke arah Nim.
"Kami pergi dulu," ucap Nim melambaikan tangannya ke arah dimana Putri Alice dan Grazel serta Kepala Kampung berdiri.
Putri Alice, Grazel dan Kepala Kampung balas melambaikan tangan.
"Ayo," ajak Luiji seketika lebih dahulu memasuki portal kemudian diikuti oleh Juno belakangnya.
Nim menoleh ke arah Michi, "Ayo," ucapnya.
"Baik, Kak," sahut Michi kemudian seketika berbalik badan dan melambaikan tangannya ke arah Putri Alice, Grazel dan Kepala Kampung.
Nim dan Michi pun perlahan melangkah masuk ke dalam portal yang langsung menuju ke dunia yang bernama Khamaya.
Tepat di atas tebing, Neru mengerutkan keningnya dan mempertajam penglihatannya, "Apa itu?" gumamnya ketika sedang duduk menyendiri dan melihat sebuah portal muncul tepat di dekat sebuah mulut goa, Nim dan teman-temannya pun keluar melalui portal tersebut, "Mereka? Sebaiknya aku menghilangkan auraku dulu, agar mereka tidak bisa merasakan keberadaanku," ucap Neru dalam hati kemudian seketika menghilangkan aura tubuhnya, "Mau apa mereka..." gumamnya seketika bersembunyi ketika melihat Nim dan teman-temannya mengendap-endap masuk ke dalam goa, "Sebaiknya aku ikuti mereka," gumamnya lagi kemudian perlahan melangkah.
Setelah berhasil masuk ke dalam goa, kemudian Nim dan teman-temannya pun segera berlari menuju sudut goa yang lain dan tepat mengarah ke Bumi.
"Ayo, cepat!" ucap Juno ketika berlari tepat di depan.
Neru bersembunyi di balik sebuah batu yang tepat berada di depan mulut goa.
Ketika berlari, tiba-tiba Luiji menoleh ke belakang, "Aku merasa seperti ada yang mengikuti kita," ucapnya, "Naken, apa kau juga merasakannya?" sambungnya bertanya pada Naken.
"Tidak, aku tidak merasakan energi apapun selain energi kita yang ada disini," jawab Naken memberitahu.
"Mungkin aku hanya gugup," ucap Luiji kemudian seketika mempercepat larinya.
Dari balik batu, "Hampir saja aku ketahuan," gumam Neru kemudian melanjutkan mengendap-endap mengikuti Nim dan teman-temannya.
Tepat di ujung goa yang lain, tampak sebuah tumpukan batu masih menutup jalan keluar setelah sebelumnya Nim dan Luiji masuk ke dalam goa tersebut.
"Ternyata goa ini masih belum berubah," ucap Nim memperhatikan tumpukan batu yang menutup jalan keluar.
"Ayo kita buka jalan keluarnya," ucap Juno seketika berjalan mendekat ke arah tumpukan batu lalu mendorongnya, "Eeeeeergh, batu-batu ini sangat sulit didorong," ucapnya lagi setelah tidak berhasil menggeser tumpukan batu yang menutupi jalan keluar goa.
"Ayo kita geser bersama-sama," ucap Nim seketika mendekat ke arah tumpukan batu diikuti Luiji, kemudian bersama Luiji dan Juno mendorong tumpukan batu tersebut.
"Aneh sekali, padahal kekuatan kita sudah bertambah pesat, tapi kenapa menggeser batu-batu ini tetap tidak bisa?" gumam Nim merasa heran.
"Kenapa kita tidak melakukan teleportasi saja?" ucap Naken memberi usul yang terdengar berasal dari tubuh Luiji.
"Kau benar, Naken," sahut Nim seketika meraih tangan Michi kemudian memejamkan kedua matanya.
Nim mencoba melakukan kemampuan teleportasinya. Namun, setelah Nim membuka kedua matanya, dia masih berada di dalam goa.
"Heh, kenapa aku masih disini?" tanyanya heran.
"Aku rasa ada sesuatu yang menghalangi kita," ucap Tion.
"Maksudmu?" tanya Nim penasaran.
"Sepertinya di balik tumpukan batu itu sudah dipasangkan mantera penyegel," jawab Tion memberitahu.
"Serahkan saja padaku," sahut Michi kemudian berjalan mendekat ke arah tumpukan batu yang menutup jalan keluar, "Ayo, Greatshfer," ucapnya lagi kemudian meletakkan kedua telapak tangannya menempel pada bagian batu.
"Baik, Tuan Putri," sahut Greatshfer kemudian menggiring Michi merapalkan mantera untuk melepaskan mantera yang sudah dipasang pada tumpukan batu yang menutup jalan keluar goa.
Di balik sebuah batu di dalam goa, Neru masih memperhatikan dari kejauhan, "Ternyata salah satu dari mereka juga mampu menggunakan sihir," gumam Neru mengerutkan keningnya.