29. Kampung Ashgar

1733 Kata
"Beruntung kita sempat keluar dari tempat itu," ucap Juno seketika duduk dan meluruskan kedua kakinya. Putri Alice terdiam sejenak kemudian menatap langit, "Aku tidak mengira akan melihat langit ini lagi," ucapnya tersenyum kemudian menatap ke arah Grazel, Nim dan teman-temannya, "Sebaiknya kita kembali ke istana," ucapnya lagi mengajak pulang ke istana. Nim, Michi, Luiji dan Juno seketika terdiam ketika mendengar perkataan Putri Alice yang mengajak mereka untuk kembali pulang ke istana, karena teringat bahwa Putri Alice belum mengetahui apa yang sudah terjadi pada istananya. Disaat yang sama, Grazel sentak terkejut, dia merasa jantungnya seperti mengecil ketika mendengar ucapan Putri Alice yang mengajak mereka semua untuk pulang kembali ke istana,"Maafkan saya, Tuan Putri," ucap Grazel seketika menundukkan kepalanya kemudian terdiam sembari mengepal erat kedua tangannya. "Kenapa kamu meminta maaf padaku, Grazel?" tanya Putri Alice tampak heran. "Maaf Tuan Putri, kita tidak bisa kembali ke istana," jawab Grazel yang masih tetap menundukkan kepalanya. "Kenapa tidak bisa?" tanya Putri Alice heran sembari mengerutkan kedua keningnya. "Setelah Tuan Putri dibawa oleh Yunzo, seluruh bangunan istana dihancurkan oleh Black Tail dan seluruh prajurit pun tewas," jawab Grazel yang tampak semakin erat mengepalkan genggaman tangannya, "Ma-maafkan saya, Tuan Putri," sambungnya, "Saya sudah gagal menjaga istana," sambungnya lagi. "Grazel..." gumam Nim seketika hendak melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Grazel, namun seketika ditahan oleh Luiji. Kemudian Nim menoleh ke arah Luiji. Luiji menggelengkan kepalanya mengisyaratkan untuk tidak mendekati Grazel. Nim pun mengurungkan niatnya. Putri Alice seketika menghempaskan kedua lulutnya setelah terkejut ketika mendengar penjelasan dari Grazel bahwa istananya telah hancur kemudian terdiam. Putri Alice menundukkan kepalanya, tidak berapa lama kemudian tubuhnya serasa tidak berdaya, lalu seketika membuatnya tidak sadarkan diri dan tubuhnya tergeletak di atas tanah di tepi danau. "Kak Alice!" teriak Michi seketika berlari menghampiri Putri Alice yang tergeletak di atas tanah tepat di tepi danau, "Kak Alice!" teriaknya lagi sembari menggoyangkan tubuh Putri Alice dan berusaha menyadarkannya. Juno perlahan mendekat, "Kalian jangan khawatir, dia tidak apa-apa," ucapnya setelah memeriksa kondisi Putri Alice yang tidak sadarkan diri, "Tapi, sebaiknya kita harus membawanya ke suatu tempat dan merawatnya," sambungnya. "Tapi, kemana kita membawa Tuan Putri!" teriak Grazel, "Sedangkan istana sudah hancur menjadi puing-puing kecil!" lanjutnya sedikit kencang berkata ke arah Juno. Juno sentak terdiam, "Tapi kita tidak bisa membiarkannya seperti ini," sahutnya balas mengencang. "Sudah, keributan tidak akan menyelesaikan masalah, tapi akan menambah masalah yang lain," ucap Luiji dengan tegas melerai perdebatan antara Juno dan Grazel. Grazel kembali menundukkan kepalanya, "Maaf." "Nim," panggil Shirashfer terdengar dari pedang hitam yang menggantung di belakang tubuh Nim. "Ya, Shirashfer?" tanya Nim menolehkan kepalanya ke arah pedang hitam tersebut. "Di sekitar danau ini terdapat sebuah perkampungan kecil, aku rasa kita bisa membawa Tuan Putri ke sana dan merawatnya," jawab Shirashfer. Nim mengangguk, "Ayo bawa Alice ke sana," ucapnya. "Ayo, Kak," sahut Michi. Segera Grazel menggendong tubuh Putri Alice yang masih tidak sadarkan diri, "Baik," ucapnya kemudian. Seketika pedang hitam yang menggantung di belakang tubuh Nim pun melayang, "Aku akan menunjukkan jalannya," ucap Shirashfer. Setelah Shirashfer menuntun arah ke tempat tersebut, Nim dan teman-temannya pun akhirnya tiba di sebuah perkampungan di dekat danau yang diberitahukan oleh Shirashfer. Tampak sebagian orang yang tinggal disana heran ketika melihat Nim dan teman-temannya memasuki kampung tersebut. Tiba-tiba tampak seorang laki-laki yang merupakan salah satu penduduk kampung tersebut yang berjalan menghampiri Nim dan teman-temannya, "Maaf, saya adalah Kepala Kampung di tempat ini," ucapnya, "Apa yang terjadi dengan kalian?" sambungnya bertanya dengan ramah sembari menoleh ke arah Putri Alice yang digendong oleh Grazel. Grazel mendekati laki-laki tersebut, "Apa kami bisa merawat wanita ini di kampung kalian?" sahutnya balik bertanya. Kepala Kampung tersebut menatap ke arah Putri Alice, "Ayo bawa dia ke rumahku," ucapnya mengajak kemudian melangkahkan kakinya. Grazel, Nim dan teman-temannya pun mengikuti Kepala Kampung tersebut menuju ke rumahnya. Ketika berjalan, Nim menatap erat wajah Kepala Kampung tersebut, kemudian seketika berjalan tepat di tengah antara Luiji dan Juno, "Hei, Luiji, Juno," panggil Nim berbisik. Luiji dan Juno melirik ke arah Nim yang berjalan di tengah-tengah mereka. "Wajah Kepala Kampung itu seperti tidak asing," bisik Nim. "Siapa maksudmu?" tanya Juno balas berbisik. "Iya, tapi aku lupa," bisik Nim. "Kita sudah sampai," ucap Kepala Kampung ketika tiba tepat di depan rumahnya kemudian membukakan pintu lalu masuk ke dalam, "Baringkan saja dia disini," ucap Kepala Kampung setelah tiba masuk ke dalam rumahnya dan menyiapkan sebuah alas untuk membaringkan tubuh Putri Alice. Grazel mengangguk, "Terima kasih," ucapnya kemudian perlahan membaringkan tubuh Putri Alice yang masih tidak sadarkan diri di atas sebuah alas yang disiapkan oleh Kepala Kampung. "Tidak apa-apa," sahut Kepala Kampung tersenyum, "Maaf, apa yang sebenarnya terjadi pada kalian," sambungnya bertanya. Grazel terdiam sejenak, "Perempuan ini adalah Putri Alice," sahut Grazel. "Putri Alice!" Kepala Kampung sentak terkejut ketika mengetahui bahwa perempuan yang terbaring di dalam rumahnya adalah Putri Alice, "Benarkah, dia Putri Alice anak dari Raja Ashgar?" tanyanya kemudian. "Benar," jawab Grazel, "Anda mengenal Raja Ashgar?" sambungnya bertanya. Kepala Kampung tersenyum ke arah Grazel, "Raja Ashgar sangat berjasa di kampung ini," ucapnya menjawab, "Karena beliaulah yang menyelamatkan dan membebaskan kami ketika kami ditahan oleh Rieghart di dunia Khamaya," sambungnya. "Rieghart lagi!" gumam Nim dengan nada kesal. "Beliau memberikan sedikit wilayahnya untuk kami tinggali, yaitu kampung yang kalian berada saat ini," ucap Kepala Kampung tersenyum, "Itulah sebabnya kampung ini kami beri nama Kampung Ashgar," sambungnya tersenyum dengan bangga. "Kampung Ashgar?" gumam Grazel dalam hati, "Kepemimpinan Raja Ashgar sungguh luar biasa," gumamnya lagi tersenyum bangga. "Lalu, mengapa kalian tidak kembali saja ke istana?" tanya Kepala Kampung heran. "Seluruh bangunan istana sudah hancur karena diserang oleh Black Tail, dan hanya saya dan Putri Alice yang selamat," jawab Grazel. Kepala Kampung mengerutkan keningnya, "Black Tail? Aku baru pertama kali mendengar nama itu," ucapnya, "Apakah mereka juga anak buah Rieghart?" lanjutnya bertanya. "Bukan," sahut Grazel, "Pendiri Black Tail adalah Neilto, salah satu petinggi istana yang berkhianat," sambungnya menjelaskan. "Neilto?" ucap Kepala Kampung mengerutkan keningnya, "Sudah ku duga bahwa Neilto akan meneruskan ambisinya untuk berkhianat kepada Raja Ashgar," sambungnya. "Anda juga mengenal Neilto?" tanya Grazel heran. Kepala Kampung menundukkan kepalanya, "Ya, aku sangat mengenal Neilto," jawabnya, "Dahulu, dia pernah diperintahkan oleh Raja Ashgar untuk membantu pembangunan di kampung ini," sambungnya, "Tapi bukannya membantu pembangunan disini, melainkan dia menghasut kami untuk pergi ke istana dan merebut istana tersebut, namun kami semua menolak ajakannya," sambungnya lagi. Putri Alice perlahan membuka kedua matanya, "Grazel?" ucapnya menatap dengan pandangan buram ke arah Grazel. "Tuan Putri," sahut Grazel seketika menghentikan pembicaraannya dengan Kepala Kampung dan segera mendekati Putri Alice yang berbaring. "Grazel, kita dimana?" tanya Putri Alice masih dengan nada pelan. "Tuan Putri tenang saja, kita sekarang berada di sebuah perkampungan di dekat danau," jawab Grazel. Kepala Kampung kemudian melangkah mendekat menuju ke arah dimana Nim dan teman-temannya berdiri, "Sebelum kalian kemari, aku mendengar ledakan dari arah danau, apa kalian mengetahuinya?" tanyanya setelah tiba di depan Nim. "Iya, ledakan itu berasal dari dasar danau," jawab Nim, "Lebih tepatnya adalah persembunyian Black Tail, Alice ditawan di tempat itu," sambungnya, "Setelah kami berhasil membebaskan Alice, tiba-tiba tempat itu meledak," sambungnya lagi. "Kami dijebak," lanjut Luiji. Kepala Kampung menatap sebuah gelang yang terpasang di lengan Nim, "Apakah kalian Caster?" tanya Kepala Kampung. "Bukan, kami bukanlah Caster," jawab Nim menggelengkan kepalanya. "Tapi, bukankah itu gelang yang dimiliki para Caster?" ucap Kepala Kampung kembali bertanya. "Aaaa... ini...." Nim tampak bingung menjelaskan. "Tunggu sebentar, bukankah Grazel mengatakan bahwa hanya dia dan Putri Alice yang selamat," ucap Kepala Kampung, "Lalu, kalian berasal dari mana?" sambungnya bertanya. "Kami bukan berasal dari dunia ini," jawab Nim menggaruk kepalanya. "Lalu dari dunia mana?" tanya Kepala Kampung. "Kami berempat berasal dari dunia yang bernama Bumi," jawab Juno seketika mendekat ke arah Kepala Kampung. "Bumi," gumam Kepala Kampung tampak mengerutkan keningnya, "Menurut yang saya ketahui, Bumi terhubung langsung ke Khamaya," sambungnya. "Bumi terhubung langsung ke Khamaya..." gumam Juno dalam hati sembari mengerutkan keningnya. "Lalu bagaimana kalian bisa ke dunia ini?" sambung Kepala Kampung bertanya. Nim, Luiji, Juno serta Michi pun menjelaskan kepada Kepala Kampung tentang apa yang sudah terjadi terhadap mereka. Setelah mereka menjelaskannya pada Kepala Kampung, tiba-tiba tampak Grazel bersama Putri Alice yang menghampiri mereka. "Kak Alice?" ucap Michi seketika melangkah mendekati Putri Alice, "Bagaimana keadaan Kak Alice?" sambungnya bertanya. "Kakak sudah tidak apa-apa," jawab Putri Alice tersenyum ke arah Michi yang berdiri tepat di depannya. Michi mendengus lega, "Syukurlah Kak Alice tidak apa-apa," ucapnya balas tersenyum. "Tuan Putri," ucap Kepala Kampung seketika menundukkan badannya ke arah Putri Alice. "Tidak perlu begitu," sahut Putri Alice, "Seharusnya saya yang berterima kasih atas kebaikan anda," sambungnya tersenyum. "Tidak Tuan Putri," ucap Kepala Kampung yang masih belum beranjak dari menundukkan badannya, "Kami semua yang tinggal disini sangat berterima kasih dengan Raja Ashgar, dan kami semua sudah berjanji kepada beliau untuk setia mengabdi padanya dan seluruh keturunannya," sambungnya. "Saya sudah mendengar semuanya dari Grazel," ucap Putri Alice tersenyum, "Tapi, sekali lagi, saya ucapkan terima kasih," sambungnya. "Saya turut prihatin atas apa yang sudah terjadi dengan istana," ucap Kepala Kampung menunjukkan rasa empatinya, "Dengan segenap jiwa dan raga, saya dan seluruh warga disini bersedia untuk membantu Tuan Putri membangun istana kembali," sambungnya menawarkan. "Benarkah kalian ingin membantu saya membangun kembali istana?" tanya Putri Alice terkejut. "Iya Tuan Putri, kami bersedia," sahut Kepala Kampung. "Nah, kalau begitu ayo kita semua rencanakan dimana istana akan di bangun," ucap Nim dengan semangat seketika membuat semua orang yang berada di dalam rumah Kepala Kampung terkejut. "Maaf, bukankah tadi anda mengatakan kalau Bumi terhubung langsung ke Khamaya?" tanya Juno. "Ya, benar," sahut Kepala Kampung. "Menurut anda, apakah kami bisa kembali ke Bumi jika membuka portal ke Khamaya?" tanya Juno lagi. "Kalian mampu menciptakan portal?" ucap Kepala Kampung terkejut balik bertanya. "Benar, kami bisa membuat portal," jawab Nim, "Apa anda tahu bagaimana cara kami kembali ke Bumi?" sambung Nim bertanya. "Seharusnya kalian bisa, tapi itu sangat berbahaya," jawab Kepala Kampung. "Bahaya apa yang akan kami hadapi?" tanya Luiji. "Seperti yang sudah kamu katakan," ucap Kepala Kampung menatap ke arah Juno, "Jika kalian ingin kembali ke Bumi, maka kalian harus membuka portal menuju Khamaya," jawab Kepala Kampung. "Bahayanya, jika kalian membuka portal ke Khamaya, ditakutkan ketahuan oleh anak buah Rieghart," lanjut Grazel menjelaskan. "Apakah ada cara lain?" tanya Michi. Kepala Kampung menggelengkan kepalanya, "Tidak ada cara lain," sahutnya menatap ke arah Michi. "Kita tidak perlu menghindar, kan?" ucap Nim dengan semangat. Grazel tersenyum menatap Nim dengan bangga, "Kau benar Nim," ucapnya. "Sebaiknya besok saja kalian kembali ke Bumi," ucap Kepala Kampung, "Beristirahatlah malam ini disini," sambungnya. "Baik," sahut Nim, "Terima kasih," sambungnya tersenyum menatap ke arah Kepala Kampung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN