28. Jebakan

1451 Kata
"Yunzo!" teriak Grazel seketika berlari dengan sangat cepat ke arah Yunzo diiringi dengan sinar kuning yang ikut melesat tepat di belakangnya, "Rasakan ini!" teriaknya lagi seketika memukul tubuh Yunzo ketika tiba tepat di dekat Yunzo berdiri, tapi Yunzo tidak sedikitpun bergerak menghindari serangan dari Grazel. "Sia-sia," ucap Yunzo tersenyum dengan tatapan tajam ke arah Grazel ketika pukulan Grazel menembus tidak mengenai tubuhnya. Kemudian Grazel menundukkan kepalanya, seketika sinar kuning melesat dari belakang dan mengarah ke tubuh Yunzo, namun tetap tidak bisa mengenai tubuhnya. "Aku tidak bisa menyentuhnya," gumam Grazel terheran sembari mengerutkan keningnya kemudian melompat ke arah dimana Nim, Luiji dan Juno tergeletak. "Kakak!" teriak Michi berlari ke arah Nim, "Kakak!" teriaknya lagi ketika tiba tepat di samping tubuh Nim yang tergeletak. "Mi... Michi," ucap Nim perlahan mencoba membangunkan tubuhnya diikuti oleh Luiji dan Juno yang juga perlahan membangunkan tubuh mereka. "Kakak tidak apa-apa?" tanya Michi sembari membantu Nim berdiri. "Iya, kakak tidak apa-apa," jawab Nim tersenyum. Grazel mengerutkan keningnya, "Apa ada cara agar serangan kita bisa mengenainya?" tanyanya menatap ke arah Nim. "Kami masih mencarinya," jawab Nim, "Sebaiknya kita serang dia bersama-sama, mungkin kita bisa melihat sebuah celah," sambungnya. "Ayo!" ucap Luiji yang sudah bersiap untuk menyerang. "Ya!" ucap Juno yang juga ikut bersiap. "Baiklah, sepertinya kita sudah sepakat," ucap Nim kemudian perlahan melangkah ke depan, "Ayo!" teriaknya kemudian seketika berlari melesat ke arah dimana Yunzo berdiri. "Baik!" sahut Luiji kemudian melesatkan salah satu tentakelnya. "Aku juga!" teriak Juno ikut berlari ke arah Yunzo bersamaan dengan Grazel. Michi mengulurkan telapak tangannya, kemudian tampak lingkaran sihir yang muncul dari telapak tangannya. Seketika dari lingkaran sihir tersebut melesat sebuah sinar ke arah Yunzo. "Keras kepala!" teriak Yunzo menatap ke arah Nim dan teman-temannya yang berlari ke arahnya. "Kami tidak akan menyerah!" teriak Nim seketika melayangkan cakarnya yang tepat mengarah ke tubuh Yunzo, namun masih tetap tidak mengenainya. Juno dan Grazel juga ikut menyerang Yunzo diikuti dengan tentakel Luiji yang melesat di belakang mereka. Juno menyerudukkan kepalanya, Grazel memukul Yunzo, tentakel Luiji melesat ke tubuh Yunzo. Namun, hasilnya tetap saja sama, semua serangan mereka tidak ada satupun yang dapat mengenai tubuh Yunzo. "Sepertinya aku hanya membuang-buang waktu saja," ucap Yunzo kemudian mengibaskan tongkatnya dan seketika mengenai Nim, Juno dan Grazel yang berada di dekatnya, sehingga membuat Nim, Juno dan Grazel terlempar. "Tongkat itu!" gumam Nim dalam hati ketika tubuhnya terlempar dan terhempas karena kibasan dari tongkat milik Yunzo. "Benar, Nim," sahut Tion. "Baiklah," ucap Nim tersenyum ke arah Yunzo sembari beranjak berdiri, kemudian berlari dengan sangat cepat ke arah Yunzo dan menyerangnya setelah tiba tepat di depan Yunzo. "Sudah ku katakan, semua serangan kalian hanya..." ucapan Yunzo terpotong ketika serangan cakar dari Nim menembus tubuhnya, namun serangan Nim tepat mengenai tongkat yang dipegang oleh Yunzo sehingga tongkat tersebut terlempar jauh. "Sudah ku duga," ucap Nim tersenyum ke arah Yunzo. Yunzo bergegas berlari ke arah tongkatnya yang terlempar, namun dihalangi oleh Luiji. "Aku tidak akan membiarkanmu!" ucap Luiji. "Minggir kau!" teriak Yunzo yang tetap berlari menghindari Luiji yang menghalanginya. Kemudian Luiji mencoba menyerang Yunzo dengan tentakelnya, dan benar, ternyata serangan Luiji dapat mengenai tubuh Yunzo sehingga membuatnya terlempar. "Aaaarrrggh," jerit Yunzo ketika tubuhnya terhempas karena serangan dari Luiji. "Menyerahlah!" ucap Nim dengan nada tegas ketika tiba berdiri tepat di depan tubuh Yunzo yang tersungkur. Yunzo hanya terdiam kemudian tertawa, "Walaupun kalian bisa mengalahkanku, tapi aku tidak akan memberitahukan dimana Alice berada," ucapnya kemudian tertawa kembali. "Kau!" teriak Nim kemudian melesatkan sebuah serangan dengan cakarnya, namun Nim mengurungkan niatnya seketika cakar tersebut berhenti tepat di depan wajah Yunzo, "Pergi kau!" teriaknya lagi. "Nim, kita tidak bisa melepaskannya begitu saja," ucap Grazel. "Tidak ada gunanya memaksanya untuk memberitahu kita," sahut Nim dengan tatapan tajam menatap ke arah Yunzo, kemudian aura biru yang menyelimuti tubuh Nim perlahan meresap kembali ke dalam tubuhnya. Luiji dan Juno hanya terdiam dengan menahan rasa amarah mereka kepada Yunzo, kemudian aura pada tubuh mereka berdua perlahan meresap masuk ke dalam tubuh. Grazel menggenggam kedua tangannya menahan amarah dan menatap tajam ke arah Yunzo yang tersungkur, "Pergi kau dari sini!" teriaknya. Kemudian Yunzo pun perlahan beranjak berdiri lalu melangkahkan kedua kakinya menjauh dan keluar dari tempat tersebut. "Michi," panggil Nim kepada adiknya. "Ya, Kak?" tanya Michi seketika menghampiri Nim. "Kamu masih bisa melacak Alice, kan?" ucap Nim balik bertanya pada adiknya. "Akan aku coba," sahut Michi kemudian memejamkan kedua matanya dan memusatkan pikirannya, "Semuanya, ikuti aku," ucapnya kemudian setelah sesaat memejamkan kedua matanya dan membukanya kembali, lalu segera berlari menuju ke suatu tempat yang dilihatnya, diikuti oleh Nim dan yang lainnya tepat dari belakang. Nim bersama teman-temannya berlari mengikuti Michi menelusuri lorong-lorong yang berada tepat di dalam persembunyian Black Tail tersebut, dan Michi mencoba memperhatikan setiap ruangan yang mereka temui. Sampai mereka semua menemukan karpet yang menutupi sebuah jalan rahasia menuju ruang bawah tanah. "Aku yakin ini tempatnya, Kak," ucap Michi menatap ke arah Nim. Nim mengangguk kemudian mencoba membuka penutup jalan tersebut, namun tidak bisa dibuka. Setelah itu Luiji, Juno dan Grazel pun ikut membantu Nim membuka penutup jalan tersebut sehingga penutup tersebut berhasil mereka geser. Dari balik penutup tersebut, tampak sebuah tangga yang mengarah ke bawah tanah. "Ayo kita ke dalam," ajak Nim seketika meraih tangan adiknya menuntun kemudian masuk melalui anak tangga menuju ke bawah tanah diikuti oleh Luiji, Juno dan Grazel di belakangnya. "Tempat ini gelap sekali," ucap Michi menoleh ke kiri dan kanan ketika tidak tampak sedikit cahaya pun yang menyinari jalan tersebut. Tiba-tiba gelang yang berada di tangan Nim mengeluarkan cahaya putih dan menyinari jalan gelap di ruang bawah tanah tersebut. "Tion?" gumam Nim. "Ya, aku hanya mengalirkan sedikit kekuatanku pada gelang ini," sahut Tion. "Bagus, sekarang kita dapat melihat tempat ini," ucap Nim. "Disini, Kak," ucap Michi seketika menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah ruangan yang tertutup rapat, "Aku sangat yakin kalau kak Alice dikurung di dalam sini," sambungnya. "Alice! Alice!" teriak Nim berdiri tepat di depan pintu yang tertutup. Putri Alice mendengar suara Nim, "Nim, apa itu kau?" tanyanya terdengar samar dari dalam ruangan tersebut. "Ya, ini aku," jawab Nim. "Pergilah kalian semua dari sini," sahut Putri Alice. "Apa maksudmu?" tanya Nim heran. "Kalian semua tidak akan bisa membuka pintu ruangan ini, karena sudah dikunci dengan menggunakan sihir tingkat tinggi," jawab Putri Alice, "Dan kalaupun kalian bisa membukanya, itu akan memicu bom peledak yang berada di tempat ini dan menghancurkan seluruh tempat ini," sambungnya memberitahu. "Bom?" gumam Grazel, "Sial, kita sudah dijebak!" ucapnya dengan kesal. "Apa ada cara lain mengeluarkan kak Alice dari dalam ruangan ini?" tanya Michi. "Michi, kamu juga ikut?" sahut Putri Alice terdengar samar dari dalam ruangan. "Iya, Kak," jawab Michi, "Kak Alice kan juga kakakku, jadi aku juga harus ikut menyelamatkan Kak Alice," sambungnya. "Tapi, aku rasa usaha kalian semua hanya sia-sia," sahut Putri Alice. Tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat keras dan ternyata suara tersebut berasal dari Grazel yang berusaha mencoba menghancurkan dinding ruangan dimana Putri Alice dikurung, namun dinding tersebut tidak dapat dihancurkan. "Dinding ini juga sudah dilapisi mantera sihir, sehingga aku tidak bisa menghancurkannya," ucap Grazel. "Bagaimana kalau kita membuat sebuah portal disini?" tanya Michi mengajukan pendapatnya. "Itu bisa saja, tapi aku yakin ledakan bom juga ikut masuk ke dalam portal," jawab Grazel. "Kau benar, Grazel," sahut Nim kemudian terdiam memikirkan bagaimana cara membuka pintu tersebut tanpa memicu bom yang sudah dipasang pada tempat persembunyian tersebut, "Andai saja kita masih bisa menggunakan kemampuan teleportasi," gumamnya dalam hati. "Nim, aku rasa kita sudah bisa menggunakan teleportasi," ucap Tion memberitahu Nim. "Benarkah?" tanya Nim tampak senang. "Benar, aku juga merasa kalau kita sudah bisa kembali menggunakan teleportasi," sahut Naken. "Ayo!" ucap Nim dengan semangat, namun kemudian terdiam sejenak, "Lalu pintu ini, bagaimana caranya kita membukanya?" lanjutnya bertanya. "Serahkan saja padaku, Kak," ucap Michi kemudian melangkah mendekat ke arah pintu tersebut, lalu menempelkan kedua telapak tangannya pada pintu tersebut, "Greatshfer, aku sudah siap," ucapnya lagi. "Baik, Tuan Putri," sahut Greatshfer, "Merapal mantera sihir ini lumayan lama, Tuan Putri ikuti apa yang saya katakan," sambungnya. Michi mengangguk kemudian memejamkan kedua matanya, lalu mengikuti perkataan Greatshfer merapalkan mantera untuk melepaskan sihir yang mengunci pintu tersebut. Setelah beberapa menit Michi mengikuti perkataan Greatshfer merapalkan mantera, kemudian Michi membuka kembali kedua matanya. Tampak pintu tersebut tergeser dengan sendirinya, seketika terdengar keras suara dentuman yang berasal dari salah satu tempat di dalam persembunyian tersebut. "Ayo Alice, kita harus segera pergi dari tempat ini," ucap Nim seketika meraih tangan Alice dan juga meraih tangan adiknya, yaitu Michi. Putri Alice mengangguk, "Baik." "Grazel, pegang tanganku," ucap Luiji mengulurkan tangannya. Grazel mengangguk seketika meraih uluran tangan Luiji. "Cepat, kita harus segera pergi dari tempat ini!" teriak Juno. Kemudian seketika Nim dan teman-temannya muncul dan berdiri tepat di dekat danau. Tampak air danau yang menyembur ke atas akibat dari ledakan bom yang berasal dari persembunyian Black Tail di dasar danau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN