23 | Menerima

1128 Kata

Bahkan hingga menjelang waktu berbuka puasa, Ainun masih tak beranjak dari kamarnya. Sesekali Zahara mengintip ke kamar memeriksa keadaan sahabat yang merangkap sebagai adik iparnya juga. "Bagaimana dia?" Syamsul bertanya saat Zahara menjejakkan kembali langkah kakinya ke dapur melanjutkan masak memasaknya bersama Hanum. "Masih kayak tadi. Meringkuk di balik selimut sambil termenung." Syamsul menghela napas berat. Seharian ini, adik kecilnya itu hanya keluar untuk berwudhu, setelahnya ia kembali ke kamar dan tidak keluar-keluar lagi. Sikapnya itu sama seperti ketika abi mereka meninggal dulu. "Udah, biarin aja dulu. Nanti kalau dia udah mulai tenang, dia pasti akan menerimanya. Ketentuan takdir gak ada yang bisa menebak dan menolaknya. Dia akan sadar itu," ujar Hanum pada anak laki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN