Tilang

2571 Kata
"MINGGIR!!" Dari jauh aku berteriak heboh ketika Gara dengan tidak warasnya berdiri di tengah-tengah jalan. Menghadap kearahku dengan tatapan datar. Seolah tak takut kalau saja aku khilaf menabraknya. Aku terpaksa memelankan laju motorku, mencengkram rem dan berhenti dengan perasaan amat sangat jengkel dan tak rela. Tiga puluh senti lagi roda depan motorku menyentuh kaki berbalut celana cokelat yang di kenakan Gara tersebut. Ku hembuskan napas pelan ketika menyadari tidak terjadi kecelakaan dalam bentuk apapun. Hampir saja.. Namun Naas. Memang pria itu dan Nino tak celaka, tetapi setelah aku mendongak menatap wajah Gara, aku yakin akulah yang akan celaka setelah ini! *** Terjadi hening untuk beberapa saat. Aku membeku di tempatku, menghiraukan segala jenis bunyi-bunyian yang mampir ke telingaku. Bunyi klakson, teriakan, suara burung, bahkan suara angin, semua terasa memantul di telingaku. Waktu terasa berhenti. Hingga akhirnya kesadaranku pulih ketika Nino yang ada di balik punggungku berbisik pelan. "Mampus kita" Sontak aku menolehkan kepalaku, berusaha melihat wujud Nino yang sedang duduk di belakangku. "Kan udah Nino bilang, Bu" Nino kembali berbisik seraya merapatkan tubuhnya pada punggungku. "Kapan kamu bilang ya? Ga usah nyalah-nyalahin orang" ucapku kesal. Saat ini perasaanku tengah complicated. Kesal, takut, cemas dan marah, semuanya bercampur aduk membuat pikiranku mulai tak waras. "Iya kok, Nino udah ngelarang.." Ditengah aksi saling menyalahkan aku dan Nino, tiba-tiba ku rasakan mesin motorku mati. Ku lihat bingung ke sekelilingku, ternyata kunci motor dengan gantungan dinosaurus hijau itu sudah berpindah tangan kepada Gara. "jangan ambil motor saya, Pak" aku menatap Gara memelas. Pria itu mematikan mesin motorku dan mengambil kuncinya secara paksa. "Siapa suruh membuat kekacauan?" Suara pria itu lebih dingin dari biasanya. Membuat aku yang mendengarnya saja merasa merinding. Kenapa jadi aku yang merasa terintimidasi begini? "Ga ada.." lirihku tanpa menatap Gara. "Turun," perintah Gara singkat. "Mau di apain?" Kepalaku perlahan mendongak. "Turun dulu" Aku mengangguk singkat dan menyuruh Nino untuk turun terlebih dahulu, setelahnya aku menyusul turun dari motorku. Kulihat Gara memperhatikan aku dan Nino secara bergantian. Raut wajahnya sih datar, tapi siapa yang tahu apa isi hati dan pikirannya? Aku dan Nino sama-sama menunjukkan gelagat ketakutan. Sungguh aku tak sebaik Gara dalam menyembunyikan ekspresi agar tak diketahui orang. Kurasa pria ini akan lolos jika ikut seleksi casting sebuah film. Oke, sepertinya aku takut dan merasa terintimidasi oleh Gara hanya karena ia sebagai petugas kepolisian. Jika saja kami tidak bertemu diwaktu operasional jalan begini aku yakin nyali-ku tak serendah ini. "Kenapa melarikan diri?" Tanya Gara. Tatapannya sulit diartikan. Membuatku jadi bertanya-tanya ada hal buruk apa kira-kira yang akan terjadi setelah ini? "Saya ga melarikan diri kok. Orang saya lagi ngendarain motor saya dengan tenang" ucapku mencoba relax. "Tenang? Cih!" Gara tersenyum mengejek. "Kenapa ngebut padahal sudah tahu di depan ada banyak polisi? Kenapa ga jalan pelan-pelan? Kamu sadar tindakan kamu tadi bisa mencelakai anggota saya yang lain?" Nada suara Gara yang jengkel terdengar jelas di telingaku. Membuatku menjadi makin terintimidasi dan ketakutan. "Penumpang tidak menggunakan helm," "Kaca spion tidak ada," "Kebut-kebutan di jalan" "Dan hampir mencelakai petugas yang sedang bertugas," Aku mengerang dalam hati ketika satu persatu kesalahanku di sebutkan oleh Gara. Dengan lancar dan fasih pria itu menyebutkan beberapa kesalahanku siang ini. Raut wajahnya masih datar, namun nada suaranya terdengar menggebu-gebu seolah ada amarah yang terpendam. Kali ini ingin menangis saja rasanya diperlakukan seperti ini. Bagaimana bisa hari ini se-sial itu? Bertemu dengan Gara merupakan hal terburuk yang pernah terjadi di hidupku! "Bisa menunjukkan SIM?" Tanya Gara kemudian. "Oh- SIM? Ada kok" aku buru-buru mengeluarkan dompet dari dalam tasku. Ku buka dompetku dengan harap-harap cemas. Siapa tahu sialku berturut-turut hari ini. Namun ternyata tidak, senyumku mampu terulas ketika menemukan apa yang pria itu minta. "Ini.." "STNK?" "Ada" aku semakin percaya diri ketika di tanya mengenai surat menyurat. Setidaknya hukumanku tidak akan bertambah lagi nantinya. Haha. Ku minta izin untuk mengembalikan kunci motorku dengan alasan ingin membuka jok motor yang di dalamnya terdapat surat menyurat motor ini. Namun ketika jok motor sudah terbuka, wajahku mendadak pias. Tidak kutemukan satupun surat menyurat yang biasanya selalu ada disini. Hanya ada beberapa alat motor dan jas hujan di dalam bagasi ini. Sial! Kenapa bisa begini? Kemana larinya surat-surat penting yang sudah di laminating itu? Apakah semesta sedang berkomplot membuat hariku menjadi buruk? Cukup lama berpikir, akhirnya aku mengingat sesuatu. ingatanku kembali melayang pada kejadian kemarin. Saat itu aku mencuci motorku di rumah, dan surat-surat penting yang biasanya ada di bagasi motor ada di....? atas meja telepon ruang tamu rumahku! Arghh sial! "Ga bawa?" "Hehe.. ketinggalan" aku tertawa masam menjawab pertanyaan Gara. Aku yakin saat ini dirinya tengah bersorak senang atas kekalahanku yang terlihat tak berdaya di hadapannya. Dengan santai, pria itu kembali menuliskan kesalahanku yang berikutnya di kertas tilang yang sedari tadi ia pegang. "Kamu kenapa ga langsung pulang?" perhatian Gara beralih kepada Nino yang ada di sebelahku. Ku amati interaksi antara keduanya, memastikan adakah gelagat kakak-adik di antaranya. "Bu Deria ngajakin Nino makan es krim dulu tadi" Buru-buru ku alihkan tatapanku yang tengah memperhatikan mereka saat Gara balik menatap ke arahku. Terjadi hening sesaat. Iseng, ku lirik lagi kearah Gara dan benar pria itu masih memperhatikanku. Seolah menuntut jawaban atas pertanyaan non-verbalnya 'Kenapa melakukan itu?' "Apa?" aku berucap sedikit nyolot kearahnya. Namun kedua mata pria itu hanya berkedip sekali menanggapi, seolah tak takut akan nada suaraku yang sedikit keras. "Refreshing. Apa salahnya?" Jawabku. "Saya kasihan juga sama dia, makanya saya ajak makan es krim biar mood-nya balik." Ku hela napasku pelan, memberi jeda sebelum kembali melanjutkan ucapanku. Mataku tiba-tiba saja beralih menatap Gara bosan. "Oh iya, jadi kakak jangan sok berkuasa banget lah sampe mukulin anak kecil kek gitu. Abang saya aja sekesel-keselnya sama saya ga pernah mukulin saya nyaris berdarah kek gitu." Gara diam sejenak seraya memperhatikan diriku sebelum akhirnya angkat bicara. Dengan masih mempertahankan raut wajah datarnya pria itu melangkahkan kakinya mendekat ke arahku. Membuatku refleks memundurkan langkahku seiring dengan majunya langkah pria itu. Tatapan matanya seolah mengunci fokusku untuk tak melihat kemanapun. Dan seketika, Gara menahan lenganku agar berhenti melangkah mundurnya. Bibir Gara mendekat ke telinga kananku. Dan tindakannya itu membuatku tiba-tiba menahan napasku tanpa sadar. "Justru sedari kecil anak harus di didik agar bisa saling menghormati, walaupun dengan teman sebaya sekalipun. Agar dia tidak berlaku semena-mena, hanya karena ia lebih kuat dari segi apapun di antara teman-temannya." "Saya tidak mau, kenakalan Nino ini membuat anak yang lain merasa Nino yang paling berkuasa. Jika sudah seperti itu, saya yakin jiwa 'Pem-Bully' yang ada di diri Nino tidak akan padam sampai ia dewasa" Aku terdiam mendengar ucapan Gara. Sedikit tertohok akan kata-katanya barusan. Entah mengapa diriku secara tak langsung merasa terusik akan ucapannya. Seperti dulu aku pernah berada di situasi seperti Nino ini. Tiba-tiba Gara memundurkan kembali wajah dan langkahnya. Sekarang jarak kami sudah tak sedekat tadi. Pria itu merobek sebuah halaman di buku yang tadi ia pegang, lantas memberikannya padaku. "Ini, silahkan datang ke persidangan pada tanggal yang sudah tertera di kertas. . . . *** . . . Aku menatap kertas berwarna merah di tanganku ini dengan perasaan kesal. Aku paham sekarang mengapa masyarakat sangat banyak membenci polisi, terkena tilang benar-benar bukanlah sebuah hal yang seru. Sekalipun petugas yang melakukan tilang memiliki wajah tampan, tetap saja itu bukanlah sesuatu yang patut di banggakan. Atau bahkan sampai membagikan pengalaman di tilang ke media sosial. Anak remaja yang baru akan beranjak biasanya sering ku lihat postingannya berisi tentang hal-hal konyol seperti itu. "GARA SIALAN!" aku berteriak keras seraya menendang-nendang udara kosong di depanku, membayangkan wajah Gara. Dukk! "Dei! Berisik!" Terdengar suara tendangan kaki beradu dengan papan pintu kamarku, diikuti dengan suara Mas Yoga yang sangat menyebalkan untuk di dengar. Namun seolah ingat sesuatu, aku beranjak dari tidurku dan membuka pintu kamarku . kulihat Mas Yoga tengah duduk di sopa seraya menonton serial kartun asal negeri Ginseng favoritnya, Larva. "Mas Yoga, tanggal dua enam hari rabu bisa temenin Deria ke Pengadilan Negeri ga?" aku masih berdiri di depan pintu kamarku yang terbuka setengah. "Mau ngapain?" Mas Yoga melirikku sekilas lalu kembali fokus pada animasi asal Korea yang ada di layar televisi. "Sidang," ku acungkan kertas berwarna merah yang sedari tadi ku pegang kearah Mas Yoga. Membuat atensi pria itu menjadi sepenuhnya kepadaku. "Kok bisa gitu sih?" "Ah udah ah, males cerita" aku berjalan kearah Mas Yoga dan ikut duduk di sampingnya. Ku rebut keripik kentang yang ada di tangannya dan makan dengan wajah tertekuk. "Mas kerja kalau pagi, jam makan siang paling bisa" "Ga guna banget sih," ku lirik sinis Mas Yoga yang mencoba merebut kembali bungkus keripik kentang yang tengah aku kuasai. "Belajar tanggung jawab sendiri lah, jangan apa-apa mau Mas mulu yang ngurus" ucap Mas Yoga bijak "Yaelah, Deria minta temenin aja kali, bukan nyuruh Mas Yoga." "Lagian Deria tuh ga ngerti prosedurnya." lanjutku, "Kan ada Gara. Kamu minta tolong dia aja, ngajarin gimana prosedur ngurus tilang kayak gini" "Mana mau lah aku. Dia yang nilang kok! najis banget minta tolong dia lagi" aku berucap sewot ketika mendengar ucapan santai dari mulut Mas Yoga. "Lagian kenapa ga minta surat warna biru aja, langsung ke Bank bayarnya" "Mahal, ga ada uang" rengekku. "Nah, minta tolong Reynal aja gih! Mas juga ga pernah kena tilang soalnya, jadi ga pengalaman" dengan paksa, Mas Yoga merebut keripik kentang yang ada ditanganku lalu menjepitnya diketiak baunya. Hal itu membuatku jijik sekaligus berteriak kesal ketika membalas ucapannya. "Mas Reynal 'kan bukan kerja di divisi Satlantas!!" "Ya 'kan dia polisi juga! b**o banget sih jadi orang! Mau nanya prosedur ngurus sidang 'kan?" Serasa angin segar menampar wajahku ketika Mas Yoga mengatakan sarannya kali ini. Aku baru ingat, tetanggaku 'kan polisi! *** Dengan tubuh yang telah berbalut piyama tidur, aku berdiri di depan pintu rumah keluarga Pak Wijaya. Menunggu dengan sabar untuk di bukakan pintu setelah tadi tiga kali mengetuk. Agak sangsi juga datang jam segini. Sekarang pukul delapan malam. Masih sopan untuk bertamu ya 'kan? Tak lama kemudian, pintu ganda di depanku ini terbuka sebelah. Menampilkan sosok Sena yang tengah berdiri dengan headset yang menyumpal sebelah telinganya. "Oh, Kak Deria.. Masuk Kak" "Mas Reynal ada ga, Na?" aku ikut melangkah masuk ke dalam rumah ketika Sena membukakan pintu lebih lebar. "Ada kok, entar jam sembilanan dia ada dinas malem katanya. Duduk aja dulu, entar Sena panggil" Aku mengangguk singkat dan mulai duduk dengan nyaman di sopa ruang tamu keluarga Wijaya. Sembari menunggu, mataku berpendar mengamati figura foto yang memenuhi dinding ruang tamu ini. Foto-foto anggota keluarga Wijaya tersebut, di pajang dengan sangat tertata. Dari mulai ukuran foto, pose, sampai dengan pencapain masing-masing anak dan orang tua di letakkan sesuai urutan. Bu Ratih benar-benar yang terbaik dalam urusan tata menata ruang. Baik indoor maupun outdoor, Bu Ratih jagonya. Tak heran jika perbedaan antara rumahku dan rumah beliau sangat mencolok walaupun baru dilihat dari depan saja. "Kenapa Dei?" Aku mengalihkan pandanganku yang tengah sibuk melihat-lihat sekitar ruang tamu ini. Mas Reynal sudah duduk di depanku masih dengan pakaian santainya. Ku kira ia sudah siap-siap akan berangkat kerja, ternyata masih mengenakan celana training dan kaos polos biasa. "Sibuk ga, Mas?" Ucapku berbasa-basi. Sebenarnya memang tidak enak datang kesini malam-malam dan meminta bantuan Mas Reynal lagi. Rasanya sudah sering sekali aku merepotkan pria ini. Mungkin aku adalah tetangga paling merepotkan yang pernah Mas Reynal temui. "Enggak kok. Masih ada waktu satu jam-an lagi juga berangkat kerja" Mas Reynal tersenyum diakhir ucapannya. Membuatku tanpa sadar menghembuskan napas lega. "Ini, Mas.. Deria 'kan habis kena tilang. Nah terus tanggal dua enam di suruh dateng ke pengadilan negeri gitu buat sidang." aku mengeluarkan kertas bukti tanda tilang berwarna merah dari saku piyamaku, dan menunjukkannya pada Mas Reynal. Mas Reynal sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat, ketika aku meletakkan kertas bukti tilang tersebut keatas meja yang menghalangi tempat kami duduk. "Ohh belum pernah ngurus yang kayak gini sebelumnya ya?" Tanya Mas Reynal. "Iya Mas hehe" "Ini nanti kamu datang aja ke pengadilan negeri sesuai yang tertulis di kertas ini. Waktu dan tempatnya kan udah di tulis sama petugas yang nilang" Aku memutar bola mataku malas ketika mendengar penjelasan Mas Reynal. Mas Reynal mah ga peka.. Kalo gitu doang mah murid-murid ku juga tau kali. "Nah terus kalo udah dateng gimana Mas?" Tanyaku lagi. Meminta penjelasan lebih agar paham. "Kalo udah tau nomor tilangnya, entar kamu ambil nomor antrian buat masuk ke ruang sidang," "Nah kalo udah dapet nomor antrian, kamu tunggu di depan ruang sidangnya jangan ngelayap kemana-mana. Soalnya proses sidang tilang tuh cepet banget," aku mengangguk paham mendengar penjelasan dari Mas Reynal. "Kalo Deria kebelet pipis pas selesai ambil nomor antrian gimana?" Raut seriusku berganti bingung ketika mendengar tawa lepas Mas Reynal pecah. Apa yang lucu? Aku salah bertanya? "Kok ketawa sih Mas Reynal?" Tanyaku bingung. "Lagian kamu tuh ada-ada aja.. Ya pipis dulu dari rumah Dei. Kalau ngga ya datang lebih awal dari jam sidang, terus pipis disana" Mas Reynal menggelengkan kepalanya mendengar ucapanku. "Ya 'kan kali aja, Panggilan alam mana ada yang tau Mas" Aku ikut tertawa ketika tawa Mas Reynal kembali terdengar. Obrolan kami tiba-tiba saja berubah topik menjadi ngalur ngidul. Pembahasan random secara tiba-tiba hadir begitu saja setelah pembahasan prosedur tilang yang kami bicarakan. Saat sedang tertawa akan salah satu topik seru yang kami bahas, Bu Ratih tiba-tiba datang dari arah dapur dengan membawa baki berwarna merah yang diatasnya berisi dua gelas minuman. "Eh ga usah repot-repot, Bu. Padahal Deria udah mau pulang ini" aku tersenyum tak enak akan sikap Bu Ratih. Bertamu semalam ini tapi masih di jamu minuman juga. "Gapapa, ngobrol aja dulu. Kalian makin akrab kayaknya yaa" aku mendengus melihat senyuman Bu Ratih yang mencurigakan. "Kan emang dari dulu gitu, Ma" aku mengangguk, ikut menyetujui ucapan Mas Reynal. "Enggaklah. Dari apa yang Mama lihat sih, kemistri kalian makin bagus kok" "Ma," "Bu," Derai tawa Bu Ratih terdengar menjengkelkan di telingaku ketika ia mendengar aku dan Mas Reynal tak sengaja berucap secara bersamaan saat mencoba menegurnya. Ck orang tua ini! Membuat suasana awkward saja. Aku mengambil minuman yang tadi di bawakan Bu Ratih dan meneguknya sekali. Lantas buru-buru pamit dari keadaan canggung ini. "Kayaknya Deria harus pamit deh Bu. Makasih loh minumannya" "Loh? Duduk dulu" Bokongku kembali terhempas ke sopa ketika Bu Ratih dengan gilanya menekan kedua pundakku untuk menyuruhku duduk ketempat semula. "Kan kalian jarang ketemu walaupun tetanggaan. Kayaknya waktu luang ini manfaatin aja sebaik-baiknya" Aku mulai gusar ketika Bu Ratih semakin gencar menjodohkan aku dengan anaknya. Namun ketika ingat akan sesuatu, aku menahan diri untuk tidak tersenyum saat mendapat jawaban jitu agar bisa lepas dari momen jodoh-jodohan ini. "Mas Reynal bukannya ada dinas malam ya kata Sena?" Aku menatap kearah Mas Reynal seolah memberi kode. "Oh iya, Dei. Untung kamu ingetin" Senyumku terkembang sempurna begitu mendengar ucapan Mas Reynal. "Yaudah kalo gitu Deria pamit dulu ya Mas, Bu" pamitku. "Yahh buru-buru banget" aku tersenyum paksa mendengar sindiran Bu Ratih. Dasar! "Entar kalo ada , Deria main lagi kok kesini" aku seberusaha mungkin aku memasang wajah menyenangkan. "Deria pamit ya, Bu" "Mas Reynal, Deria pulang yaa. Makasih untuk penjelasannya" Mas Reynal mengangguk santai membalas ucapanku, diikuti ibu jarinya yang teracung ke arahku. Aku berjalan ke arah pintu dengan perasaan lega bukan main. Berada satu ruangan bersama Mas Reynal dan Bu Ratih membuatku sangat tak nyaman. Bu Ratih selalu saja mencari celah menjodohkan aku dengan anaknya. Dasar emak-emak! Buat suasana jadi awkward saja! *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN