Hang Out With Nino

1567 Kata
Jam menunjukkan pukul dua siang, yang mana merupakan waktu pulangnya siswa-siswi SD Pelita Insani seperti biasanya. Di bawah bayangan pohon besar depan gerbang sekolah ini, aku duduk diatas motorku menunggu Nino. Tadi sewaktu aku mengobati tangannya, aku berjanji akan membawa anak itu jalan-jalan denganku. Dengan syarat PR keesokan harinya harus sudah beres dan ia harus berusaha menghindari hukuman dari guru manapun walau sehari. Dan anak itu menyanggupinya. Tak sampai lima menit, Ku lihat Nino melambaikan tangannya yang berbalut perban dengan semangat ke arahku. Wajahnya berubah jingar, sangat ceria. Aku tersenyum melihat raut muka itu. Raut muka tanpa beban yang selalu anak-anak tunjukkan walau sedang ada masalah. "Sudah siap?" Anggukan cepat sebagai jawaban dari Nino tersebut membuatku tertawa geli. Ku starter motorku dan mempersilahkan Nino untuk naik ke motorku. Tujuan kami kali ini adalah kedai es krim. Aku akan mentraktir sebanyak apapun yang Nino makan nantinya. Waktu di jalan menuju ke kedai es krim ini benar-benar terasa sebentar. Obrolan konyol antara aku dan Nino benar-benar seru. Sehingga membuat diriku tak bosan dalam perjalanan di tengah cuaca panas hari ini. Kami sampai di kedai es krim dan sepakat memilih meja yang terletak di sudut dinding kaca yang menghadap jalan raya. Selang berapa menit kami duduk, seorang pelayan muda datang membawakan buku menu es krim di kedai tersebut. "Mau pesen apa, No?" Ku lihat Nino menunduk membaca menu. Namun beberapa saat kemudian, Nino memberi isyarat agar aku mendekat, bocah itu mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mulai membisikkan sesuatu. Gelak tawaku hampir lepas kala mendengar perkataan yang di bisikan Nino dengan sangat polosnya. "Ga ada harganya Bu, di daftar menu" "Gapapa. Bu Deria yang bayar kok" ucapku menenangkan. "Gapapa nih Bu?" "Pesen sepuasnya" Binar di mata kecil itu kembali terlihat diikuti dengan seulas senyum. Membuatku tanpa sadar juga ikut tersenyum ketika melihatnya. *** Setelah sepuluh menit berselang dari pesanan kami datang, baik aku maupun Nino hanya makan es krim dan makanan kami dengan hikmat. Anak lelaki ini memesan satu mangkuk ice cream Donduma khas Turki dan satu porsi kebab. Sedangkan aku sendiri memesan ice cream Gelato khas Italia kesukaanku sedari dulu. Juga red velvet cake untuk menemaniku menghabiskan es krim yang ku pesan ini. Karena keheningan diantara kami saat ini membuatku bosan, aku mulai mencari topik pertanyaan untuk Nino. Dan tiba-tiba saja random pertanyaan tersebut keluar dari mulutku. "Nino, emangnya Pak Gara itu kakak kandung kamu beneran?" Nino menatapku dengan heran, sebelum kemudian menjawab dengan santai. "Kok Bu Deria nanya gitu? Ya iyalah Bang Gara itu kakak Nino, Bu" "Kok tega gitu ya mukul kamu?" Sebelah tanganku menopang dagu dengan dahi berkerut menatap Nino yang terlihat tenang memakan es krimnya. "Bang Gara ga akan mukul kalau Nino ga bandel. Kalau Nino di pukul, artinya udah nakal banget kata Bang Gara" Oh jadi itu alasannya. Ya bagus sih guna mendisiplinkan anak nakal memakai cara seperti itu. Tapi untuk aku yang tidak tegaan melihat anak kecil dipukuli, itu merupakan hal yang salah. Menurutku anak-anak nakal diumur seperti Nino ya hal yang biasa. Berkelahi, saling ejek, dan lainnya. Namanya saja anak-anak. Hanya saja kita sebagai orang dewasa inilah yang harus mampu mengarahkannya dan memberikan pengertian agar 'kenakalan' tersebut tidak menjadi semakin brutal. Dan menyebabkan kerugian bagi diri anak tersebut sendiri. Aku dulu sewaktu duduk di Sekolah Dasar sama bandelnya dengan Nino. Sering berkelahi dengan lelaki, mengejek teman yang tak kusukai dan melakukan hal-hal kenakalan masa kecil lainnya. Tapi, dibalik itu semua ada Mas Yoga dan Ayah yang selalu memberiku pengertian bahwa hal yang kulakukan tersebut sangat tidak baik. Tanpa kekerasan sedikit pun, dua lelaki kesayanganku itu mampu membuatku jadi anak bandel yang bertobat. Dan semakin bertambahnya usiaku, aku semakin sadar bahwa kelakuanku saat di Sekolah Dasar dulu merupakan perbuatan yang sangat buruk. Bahkan setelah aku dewasa sekarang, aku sangat menyayangkan pernah bersikap begitu. Terutama ketika aku dulu suka melakukan bully kepada salah satu temanku ketika SD. Sampai sekarang aku masih sangat ingin ada harapan bisa bertemu dengannya kembali, untuk meminta maaf akan kelakuan bodohku ketika masih kecil. Perasaan bersalah karna pernah melakukan bully tersebut semakin memuncak ketika aku membaca jurnal psikologi yang menyatakan bahwa trauma pasca di bully itu bisa melekat sampai ia dewasa. Itulah mengapa aku sangat ingin bertemu dengan anak itu lagi dan memastikan bahwa hidupnya baik-baik saja. Walaupun aku lupa akan nama anak tersebut. Tapi setidaknya akan aku cari tahu lagi melalui foto yang ada di album tahunan kami. "Ayah kamu kok ga pernah kelihatan ya kalau ada panggilan ke sekolah?" Tanyaku penasaran. "Ayah Nino 'kan udah meninggal, Bu." Aku tertegun mendengar fakta yang satu ini. Benarkah? Wajar aku tidak tahu banyak, aku kan bukan wali kelas bocah ini. Aku juga baru dekat ketika beberapa bulan yang lalu diminta mengajar kelas mereka. "Tapi bener yang sering dateng ke sekolah itu, Ibu kamu?" ku dapati anggukan ringan Nino yang matanya masih terus berfokus pada es krim di tangannya. Seolah tak peduli pada pembahasan kali ini. "Kamu berapa bersaudara, No?" aku ikut menyendok es krim vanila ku yang mulai sedikit mencair. "Tiga Bu," Nino menyingkirkan gelas es krimnya lalu menarik kebab yang tadi ia pesan dan mulai memakannya. "Kamu anak bungsu?" "Iya. Bang Gara kakak pertama, satu lagi Kakak Nino namanya Mita," jelas Nino "Masih sekolah, kak Mita?" "Udah kuliah, Bu" Aku mengangguk dan menyudahi pertanyaan-pertanyaan tentang keluarga Nino begitu saja. Entah mengapa aku jadi kepo begini akan keluarga mereka. Diriku seolah penasaran akan sosok Gara. Ada rasa ingin bertanya lebih, namun ku urungkan niat tersebut ketika keadaan sadar mulai menguasai otakku kembali. "Nino kita refreshing dulu yukk. Bu Deria mau ajak kamu ke Timezone. Kamu sudahi sedih kamu yaa, kita kumpulin tiket Timezone yang banyak terus buat ditukerin apapun deh" "Bu Deria serius?" *** Kedua sudut bibirku terangkat ketika dari kaca spion kiri motor melihat wajah Nino yang sumeringah. Binar kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Nino. Bahkan pegangan kedua tangan anak ini di pinggangku terasa mengerat. Saat ini kami membawa satu buah panci dan dua buah boneka babi berwarna pink, hasil dari kami bermain seharian di tempat permainan anak. Tadi saat di Timezone, salah satu tempat permainan anak yang terkenal di kawasan Kemang. Lebih tepatnya di Lippo mall Kemang. Aku dan Nino memainkan banyak jenis permainan. Mulai dari Big Cannon, Dino Time, Road Hwang, Monster Drop, sampai dengan Crossy Road. Hanya bermain dari permainan tersebut kami bisa banyak mendapatkan tiket untuk ditukar, dan hasilnya itu dia, Panci. Btw, Nino sangat jago bermain permainan yang ada di sana. Padahal ketika kutanya seberapa sering dia bermain ke situ, frekuensinya tak sesering itu Nino menjawab. Paling sering dua bulan sekali, dan paling lama enam bulan sekali. Lebih tepatnya ketika libur semester. Kebetulan Mama Nino berulang tahun kemarin. Jadi Nino berinisiatif untuk memberikan sesuatu. Berhubung Nino bilang Mamanya suka masak, jadi aku menyarankan untuk menukarkan tiket hasil kami bermain tadi dengan sebuah peralatan masak saja. Dan untuk dua boneka babi ini, kami dapatkan dengan cara bermain mesin capit boneka. Dan kalian tahu apa hal yang mengejutkan? Kedua boneka ini adalah Nino yang mendapatkannya. Padahal aku sudah habis banyak uang karena menggesek kartu permainan terlalu sering untuk bermain permainan capit boneka tersebut. Tapi Nino hanya tiga kali mencoba, dan anak itu hanya gagal satu kali saja. Boneka tersebut kemudian Nino berikan padaku satu, dan satunya lagi akan ia berikan pada Mita. Kakak perempuannya yang masih duduk di bangku perkuliahan. See? Aku seperti melihat sisi baik anak ini jika lebih dekat begini. Anak ini sebenarnya penyayang. Diusianya yang sekarang, 'nakal' memang sedang menjadi teman. Tapi aku yakin ia tak mungkin terus-terusan begini. Peran kita sebagai orang yang lebih tua-lah yang harus mengarahkannya. Kami juga sempat photo box tadi. Aku sengaja mencetaknya dua guna untuk diberikan satu pada Nino. Disepanjang perjalanan sore ini, aku dan Nino kembali mengobrol ringan dan menyanyi riang. Aku merasakan seperti mempunyai adik laki-laki sekarang. Masih posisi di tengah perjalanan menuju pulang, badanku tiba-tiba menegang seketika. Wajahku mendadak pias ketika dari jauh melihat barisan para Polisi Lalu Lintas yang sedang mentertibkan lalu lintas sore ini. Ku pelankan laju kendaraan yang tengah kunaiki ini dan mulai panik. Aku lupa jika ini masih jam operasional resmi polantas. Dan aku sedang membawa Nino yang tidak mengenakan helm. Sial! "Astagfirullahaladzim.. POLISI NO!!" Teriakku spontan. "Terus kita gimana, Bu?" " Pegangan yang kenceng! Kita bakal terobos Bapak-bapak disana! Kamu siap?!" Seruku. "Siap! Eh- Tapi Bu jangan-" "Kamu ga pake helm, ga usah banyak protes ya!" setelah kurasakan genggaman tangan Nino pada ujung blazer yang kukenakan mengerat, aku mulai nekat memacu motor ini sekencang mungkin. Mataku menatap lurus kedepan dan berusaha berani melajukan motor ini. "STOP!!" Maaf! Batinku menjerit meminta maaf kepada para polisi di depan sana yang coba menghalangi jalanku. Aku hanya ingin lolos pada pemeriksaan, dan pulang. Sudah itu saja. "Bu! Itu Bang Gara!! Stop Bu," "MINGGIR!!" Dari jauh aku berteriak heboh ketika Gara dengan tidak warasnya berdiri di tengah-tengah jalan. Menghadap kearahku dengan tatapan datar. Seolah tak takut kalau saja aku khilaf menabraknya. Aku terpaksa memelankan laju motorku, mencengkram rem dan berhenti dengan perasaan amat sangat jengkel dan tak rela. Tiga puluh senti lagi roda depan motorku menyentuh kaki berbalut celana cokelat yang di kenakan Gara tersebut. Ku hembuskan napas pelan ketika menyadari tidak terjadi kecelakaan dalam bentuk apapun. Hampir saja.. Namun Naas. Memang pria itu dan Nino tak celaka, tetapi setelah aku mendongak menatap wajah Gara, aku yakin akulah yang akan celaka setelah ini! *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN