***
"Assalamualaikum, Bu. Ini bener ruang konseling?" Wajahku yang sedang menunduk seraya memainkan ponsel terangkat guna melihat sumber suara.
Seorang wanita cantik dengan mengenakan blouse dan hijab berwarna biru langit tersebut berdiri di depan pintu ruang bimbingan konseling. Wajahnya terlihat kebingungan dan ia tengah menggendong seorang bayi yang tertidur.
"Waalaikumsalam, iya Bu. Ada apa?" Kuletakkan ponselku lalu fokus pada wanita tersebut.
"Saya walinya Bagas. Tadi dapat panggilan dari sekolah"
"Ohh walinya Bagas. Iya sini masuk Bu" aku berdiri dari dudukku dan mempersilahkan Mama-nya bagas untuk masuk. Kuambil satu kursi yang ada di sudut ruangan konseling ini lalu menaruhnya di sebelah Bagas.
"Silahkan duduk dulu Bu" aku tersenyum mempersilahkan.
Kemudian aku berjalan kembali mengambil satu kursi yang ada di sudut ruangan dan menaruhnya di sebelah Nino.
"Abang kamu lama banget" bisikku pada Nino ketika tengah menaruh kursi tersebut disebelahnya.
"Kayaknya Abang saya ga bakal datang deh Bu" Nino balik berbisik padaku.
"Yaudah kita tunggu sampai dia mau" ucapku pelan dengan nada yang dalam. Membuat ekspresi wajah Nino langsung berubah ketika mendengar ucapanku.
Aku kembali duduk ke tempat dudukku yang ada di sebelah Bu Riska. Bu Riska adalah guru konseling SD Pelita Insani. Dia sampai hapal dengan wajahku karena saking seringnya ikut masuk ruang konseling bersama anak yang membuat ulah.
Dan rekor tersering adalah bersama Nino.
"Kita tunggu Kakaknya Nino dulu ya, Bu" Bu Riska tersenyum ramah kearah Mama Bagas.
Kuamati ekspresi Nino dan Bagas yang duduk berdampingan di depanku. Keduanya menampilkan dua ekspresi yang berbeda. Bagas dengan raut penyesalannya menunduk malu, sedangkan Nino menatap keluar jendela dengan wajah datarnya. Persis seperti Gara yang kesulitan berekspresi. Ck! Kakak-Adik satu ini benar-benar merepotkan!
Selang sepuluh menit kemudian, akhirnya Gara datang juga. Sepertinya pria ini mangkir dari pekerjaannya demi memenuhi panggilan sekolah. Dilihat dari seragamnya yang tertutup jaket kulit tersebut.
"Maaf saya terlambat," Gara mengulurkan tangan, mengajak Bu Riska berjabat tangan. Spontan aku yang ada di samping Bu Riska juga mengangkat tanganku guna menunggu bersalaman.
Tapi sial! Ku kira pria itu juga akan menyalamiku, ternyata tidak. Ku genggam tanganku yang tadi terbuka lebar menunggu jabat tangan Gara, seraya tersenyum masam dan menatap sengit wajah Gara.
"Oke bisa kita mulai?" ku lirik Bu Riska yang tengah mantapku sekilas, lengkap dengan senyum jenakanya seolah meledekku.
Gara sialan!
"Ya," setelah semuanya duduk dengan tenang dan suasana berubah kondusif, Bu Riska memulai interogasinya.
"Jadi begini ya Bapak-Ibu. Kedua anak dan adik Bapak-Ibu ini berkelahi tadi saat jam pertama sebentar lagi akan dimulai" Bu Riska mengawali dengan tenang.
"Nah, saya belum tahu juga motif mereka berkelahi ini apa. Kita sengaja menunggu Bapak-Ibu untuk datang dan sama-sama mendengarkan penjelasan dari kedua anaknya"
Bu Riska beralih menatap Nino dan Bagas.
"Jadi, Bu Riska mau dengar dulu penjelasan dari sudut pandang Nino. Nino kenapa bisa berantem sama Bagas? Bagas ngelakuin apa sampai Nino bisa mukul dia duluan?"
Suasana hening, dengan semua pandangan mengarah pada Nino.
Tapi Nino tetap diam, sampai akhirnya suara batuk Gara membuat Nino akhirnya angkat bicara.
"Bagas ngatain keluarga Nino ga berguna. Makanya Nino pukul aja Bagas yang lagi ngomel"
Kami semua terdiam mendengar penjelasan Nino. Mencerna ucapan bocah nakal itu sebelum akhirnya Bu Riska selaku guru Konseling disini angkat bicara.
"Memangnya Nino melakukan apa sampai Bagas jadi bicara seperti itu?" Nino hanya diam, enggan menjawab lagi.
Tatapan Bu Riska beralih menatap Bagas.
"Nino ngapain tadi Bagas?"
"Nino lari-lari terus mecahin Tumblr minum Bagas, Bu" Bu Riska tersenyum, kemudian mengangguk mendengar penjelasan keduanya.
"Kalian sama-sama salah disini. Nino bersalah karena memecahkan Tumblr-nya Bagas, dan Bagas yang salah karena berucap tidak sepantasnya kepada Nino."
"Tapi 'kan Nino ga sengaja, Bu Riska. Lagian mau diganti ga mau Bagas" Nino menyela pembicaraan, bermaksud membela diri sendiri.
"Itu Tumblr dari Papa. Kamu ga akan bisa gantiin dengan yang manapun" ucap Bagas datar.
Suasana hening. Baik aku maupun Bu Riska sedikit terkejut mendengar ucapan Bagas. Pasalnya kami berdua tau betul akan latar belakang hidup anak ini. Hampir rata-rata murid di Pelita Insani ini malah. Karena kehidupan anak di rumah pasti sangat berpengaruh dengan nilainya disekolah. Jadi mau tak mau kami harus memahami anak-anak.
Ya. Ayah Bagas baru saja meninggal satu bulan yang lalu karena kecelakaan kerja. Bocah itu seorang yatim sekarang.
Ditengah keheningan ruang konseling, sayup-sayup terdengar suara isak tangis dari seorang wanita. Aku menoleh ke arah Ibu dari Bagas. Wanita itu tak mampu menahan haru.
"Iya, Bu Riska paham permasalahannya. Tapi alangkah baiknya Nino minta maaf lebih dulu sama Bagas. Pasti Bagas juga maklum" Bu Riska kembali berbicara guna mencairkan suasana. Tiba-tiba saja suasana menjadi canggung.
"Bagas juga, kamu ga boleh bicara gitu lagi sama siapapun. Temanmu bisa tersinggung karena ucapan kamu"
"Kalau begitu, ayo.. Saling minta maaf dan memaafkan. Kalian ga mungkin musuhan terus 'kan?"
Awalnya baik Nino maupun Bagas tidak ada yang mau mengulurkan tangan duluan. Sampai akhirnya aku menarik tangan kanan keduanya dan menyatukannya secara paksa.
Tingkahku ini ternyata membuat Mama Bagas dan Bu Riska spontan tertawa kecil.
"Udah ga usah kayak anak cewek kalian, ngambekan begitu"
"Bu Deria mah.." aku tertawa melihat raut jengkel Nino.
"Oh iya, Bu Sukma. Ini kali pertama Bagas berkelahi, loh" Bu Riska memulai sesi konselingnya dengan para wali murid.
"Iya, Bu. Bagas itu di rumah anaknya pendiam padahal. Saya juga ga nyangka tadi pas dapat panggilan ke sekolah yang ngasih tau kalau dia berantem" jelas Bu Sukma.
Namun tiba-tiba, suara tangisan bayi membuat kami semua menoleh. Anak Bu Riska yang kedua terbangun dari tidurnya dan menangis.
"Sshh sayang.. sayang" Bu Sukma menepuk-nepuk b****g anaknya pelan seolah menenangkan.
"Bangun tidur ya?" Tanya Bu Riska seraya tersenyum maklum. Seorang ibu yang mempunyai bayi tentu kerepotan sekali.
"Iya, maaf ya Bu" Bu Sukma berucap tak enak.
Karena tangisan bayi tersebut tak kunjung berhenti, aku berdiri dari dudukku lalu menghampiri Bu Sukma.
"Bu Sukma sini dedeknya biar saya bawa keluar" aku mengulurkan kedua tanganku guna menerima bayi tersebut.
"Ada susunya, Bu?" Tanyaku ketika anak Bu Sukma sudah berpindah tangan kepadaku.
"Ini Bu Deria. Eh- tapi gapapa ngerepotin Bu Deria?"
"Gapapa. Ibu bisa lanjutin aja konselingnya" aku tersenyum seraya mengambil botol s**u tersebut dan membawa bayi yang sedang mengamuk ini keluar.
Ketika hendak keluar ruangan, tak sengaja iris mataku dan Gara bertemu. Pria itu ternyata memperhatikan setiap gerak-gerikku.
Tanpa menghiraukan ekspresi pria itu yang terus menatapku, aku buru-buru keluar dari ruangan guna mencari angin dan tempat duduk untuk memberi bayi ini s**u.
***
"Kalau begitu terimakasih ya Bu Sukma, Pak Kanigara. Maaf sudah mengganggu aktivitas pekerjaannya. Nanti sampai rumah bisa diberi pengertian anak dan adiknya ya Pak, Bu" suara Bu Riska terdengar.
"Tidak apa-apa Bu. Saya kira Bagas buat masalah besar banget. Ternyata berantem gara-gara botol minum yang dikasih Papa-nya"
Sayup-sayup aku mendengar suara berpamitan orang di dalam ruang konseling dari luar sini.
Senyumku mengembang menatap bayi imut ini seraya mengajaknya bicara.
"Tuh, Mama-nya udah selesai. Duhh cantiknya"
Kekehan bayi cantik ini semakin membuatku bersemangat mengajaknya main.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, Bu"
"Oh iya, Bu"
Aku berdiri dan bergegas masuk kembali ke dalam ruang konseling.
"Saya pulang duluan ya, Pak Kanigara" kulihat Gara dan Bu Sukma saling bersalaman. Keduanya saling meminta maaf atas kelakuan anak dan adik mereka.
"Ini dedeknya, Bu" aku memberikan bayi yang ada di gendonganku ini seraya tersenyum manis.
"Ya ampun makasih banyak loh, Bu Deria" ucap Bu Sukma dan membalas senyumanku.
"Iya sama-sama, Bu. Hati-hati pulangnya"
"Iya saya duluan ya, Bu Deria. Mari Bu Riska, Pak Kanigara duluan ya"
Semua kompak menjawab iya dan mengucapkan hati-hati.
Dan saat ini di ruang konseling tinggal aku, Bu Riska dan Gara. Nino dan Bagas sudah kembali ke kelasnya setelah bermaaf-maafan. Bahkan keduanya akrab kembali setelah bertengkar hebat. Ck! Dasar anak-anak.
"Saya juga pamit, Bu. Maaf atas kelakuan adik saya" Bu Riska mengangguk dan kembali bersalaman dengan Gara.
Ketika keduanya sedang sibuk bersalaman, aku pura-pura menyibukkan diri dengan merapihkan berkas catatan hitam siswa yang ada di atas meja. Aku tidak akan tertipu lagi Gara!
"Bu Deria?"
Aku mendongak menatap Bu Riska yang memanggil namaku. Menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan seolah bertanya 'ada apa?'
"Salaman dulu.."
Aku terdiam sejenak ketika mendengar ucapan Bu Riska. Namun beberapa detik kemudian aku mengangguk pasrah, lantas berdiri dan membalas jabat tangan Gara. Namun ketika aku akan menarik tanganku, alangkah kagetnya aku ketika Gara menahannya dengan mencengkram erat tanganku.
"Senang bersalaman dengan anda" ucap Gara datar seraya menatapku tanpa ekspresi.
Pria sialan!
Sebenarnya ada masalah apa orang ini denganku?
Senyum keterpaksaan terulas di wajahku. Ku tarik paksa tanganku dan memandangnya sengit.
Setelah semuanya pamit, dan ruangan kecil ini kembali sepi. Aku membereskan tumpukan buku Bu Riska, dan juga akan segera kembali ke kubikelku di ruang guru. Beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan mengajar.
Di tengah perjalanan melalui koridor, ku pijit pangkal hidungku pelan menghalau pening yang sempat mendera. Namun di tengah perjalanan ini aku kembali bertemu Nino. Anak laki-laki itu berjalan di koridor berlawanan arah denganku. Kepalanya tertunduk dan telapak tangannya saling mengusap.
"Dari mana?" Nino berhenti ketika aku menghalangi jalannya. Kepala anak itu perlahan mendongak.
Aku mengerutkan dahiku kala melihat binar mata itu meredup. Wajahnya yang keras itu seolah menahan sesuatu untuk di luapkan. Ketika mata kami bertemu, dengan secepat itu pula ia memutus kontak mata dengan cara menunduk.
"Dari parkiran, Bu" Nino berucap pelan. Nada suaranya sedikit bergetar terdengar ditelingaku.
"Ngapain?"
"nganter Abang"
Ku perhatikan sekali lagi gerak-gerik Nino yang terlihat mencurigakan. Baju anak ini yang tadi kusut pun sudah rapi kembali. Tapi..? Tangan yang tadi saling mengusap sudah tak terlihat. Kedua tangan anak itu ia sembunyikan di balik punggungnya.
"tangan kamu kenapa?"
"Gapapa, Bu. Nino duluan ya B-"
Ku tarik tangan Nino secara paksa, membuat ucapannya terinterupsi karena kaget. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat telapak tangan anak ini yang merah dan nyaris berdarah.
"Kamu berantem lagi?" amarahku mendadak naik kembali ketika melihat keadaan telapak tangan Nino. Baru beberapa menit loh keluar dari ruang konseling.
"Enggak kok, Bu. Nino ga berantem lagi sumpah" Nino menatapku seolah meyakinkan.
"Terus ini tangan kamu kenapa?" Aku terus mendesak Nino untuk bicara.
"Nino- uhmm-"
Dengan sabar aku menunggu anak ini untuk bicara dan mengakui hal yang sebenarnya terjadi. Kepalanya kembali tertunduk tak berani menatapku.
"Jawab Nino" desak-ku sekali lagi
"ini- di pukul Abang, Bu" Aku terbelalak mendengar pengakuan Nino. Wait! Apa telingaku salah dengar?
Gara memukuli anak sekecil ini? yang benar saja!
"Ikut Bu Deria," aku menggenggam pergelangan tangan anak kecil ini dan menariknya guna berjalan mengikutiku.
"Bu, jangan panggil Abang Nino lagi Bu.. Nino mohon"
Rasa bersalah begitu menghujami hatiku ketika mendengar ucapan Nino begitu. Ini salahku. Harusnya aku tidak memanggil Gara untuk datang ke sekolah. Aku tidak tau jika Nino akan di pukuli habis-habisan seperti ini.
Kakak gila! Mas Yoga saja tidak pernah memukuliku dari kecil sampai aku setua ini. Sebenarnya Gara ini kakak kandung Nino atau bukan sih?
"Kita ke UKS. Ibu mau obatin tangan kamu,"
***
haii thank you so much for read this story!
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan