Sembuh

1872 Kata
haii *** Aku melompat karena kaget akan rasa sakit yang tiba-tiba mendera. Arah pandangku seketika berubah jadi ke bawah lantai. "Mas Yoga! Jangan ngasih kucing makan sembarangan! Semut semua ini!" Suaraku memecah kedamaian pagi ini. Di tengah kesakitan jempol kaki ku yang digigit semut, u*****n akan kebiasaan buruk Mas Yoga yang berdampak padaku terus ku teriakan. Dengan perasaan dongkol ku ambil sapu dan cepat-cepat membersihkan kerubungan semut merah beserta sisa tulang ikan tersebut. "Kaki baru sembuh keseleo malah di gigit semut," rutuk-ku. "Marah-marah mulu" Aku mendelik mendengar kalimat menjengkelkan yang keluar dari mulut Mas Yoga. "Sekali lagi ngasih makan kucing kampung itu, Deria gebukin itu kucing" ucapku kejam seraya memelototi Mas Yoga. "Gila kamu!" sewot Mas Yoga. "Ya lagian itu bukan kucing kita, Mas Yoga!" Ya, kucing yang sering Mas Yoga manjakan dengan ikan tersebut merupakan kucing liar yang tak jelas asal usulnya. Ayah tak memperbolehkan Mas Yoga memelihara kucing karena Ayah alergi pada mahluk berbulu itu. Tapi masih saja nekat. Dasar! "Berbagi itu indah Dei, tega banget kamu gebukin kucing lucu" ucap Mas Yoga seraya berjalan ke kulkas dan menuangkan s**u pada gelas yang ia bawa. "Bodo amat!" Aku berjalan kearah wastafel dan mencuci tanganku sebelum duduk ke meja makan untuk sarapan. Mengabaikan Mas Yoga yang terus memperhatikanku. "Apa lihat-lihat?!" Seruku galak. "Enggak kok. Lama ga ketemu kamu kok tambah cantik hehe" "Basi!" balasku jengkel. Ini rayuan andalannya yang sudah sangat aku hafal. Kalimatnya sama persis dari waktu ke waktu jika sedang merayuku. See.. sangat tidak kreatif bukan? Wajar saja perempuan jadi malas untuk dekat dan menjalin hubungan dengan Mas-ku ini. "Mas serius ini. Rugi besar sih orang Jepang itu ninggalin kamu" Mas Yoga berjalan ke arah meja makan seraya membawa s**u yang ia tuang tadi, lantas duduk disalah satu kursi yang ada disana. "Apasih Mas Yoga! Jangan nyebut-nyebut nama orang gila itu. Bikin mood turun aja" Selesai mencuci tangan, aku ikut duduk bersama Mas Yoga, lalu mulai memakan sereal-ku dengan hati yang jengkel "Tapi Mas seneng banget kamu putus dari dia. Dari awal emang ga suka Mas. Muka-nya ngeselin" Aku hampir menyemburkan makanan yang ada didalam mulutku ketika mendengar ucapan Mas Yoga. Ada perasaan geli akan kata-katanya tersebut, namun perasaan jengkel masih juga hinggap. "Perasaan Mas Yoga aja deh kayaknya" "Udah lah emang ga worth it dia mah buat dipacarin. Emang ga suka Mas kamu sama dia" "Kok Mas Yoga ga bilang dari awal pas Deria pacaran sama si Ken?" "Nasehatin orang yang lagi jatuh cinta mah sia-sia, Dei. Jadi percuma aja Mas bilangin. Mending dibiarin" Aku mendelik kesal ketika mendengar ucapan Mas Yoga. Ku alihkan pandanganku dan lebih memilih memakan serealku dari pada menanggapi ucapan Mas Yoga. Ya ucapan Mas Yoga ada benarnya sih. Kalau orang jatuh cinta dinasihati bakal sia-sia. Tapi kan lebih sia-sia lagi kalau udah terlanjur 'nyebur' gini. Ditengah keheningan acara sarapan kami, aku teringat sesuatu yang sangat ingin ku tanyakan pada Mas Yoga. Pertanyaan ini sebenarnya sudah sangat lama mengganjal dipikirkanku. Hanya saja selalu lupa untuk ditanyakan. "Oh iya Mas-" aku mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan ucapanku. "Sebenernya Mas sama Polisi lalu lintas itu ada hubungan apa sih?" Aku menatap wajah Mas Yoga dengan serius. Saat ini ia tengah mengupas pisang dan memakannya. Dengan sabar menunggu pria itu bicara dan menghabiskan pisang tersebut, Kutunggu jawaban Mas Yoga dan terus menatapnya serius. "Kenapa sih, kepo mulu?" Tsk, jawaban macam apa itu! "Nanya kayak gituan doang kok di bilang kepo," aku menatap Mas Yoga jengah "Menurut kamu?" Tiba-tiba mataku terbelalak mendengar tanggapan Mas Yoga yang seolah mengulur-ngulur dan sangat menggangu telingaku tersebut. Namun tiba-tiba aku tersenyum setan ketika ide jail muncul dikepalaku. Masih dengan tersenyum setan, aku menatap Mas Yoga dengan tatapan menggoda seraya mendekatkan kepalaku untuk melihat wajahnya. " 'Menurut kamu?' Apa jangan-janga--" "Suudzon aja terus!" Mas Yoga menginterupsi ucapanku dengan mata berkilat marah. Seolah tau arah pembicaraanku selanjutnya akan kemana. Tawaku seketika saja meledak. Aku terbahak dengan puas saat melihat wajah murka Mas Yoga. Ku seka mataku yang berair dengan ujung lengan blazer yang aku kenakan. Saking hebohnya aku tertawa, mataku sampai mengeluarkan air. "Kemarin nuduh Mas p*****l, sekarang nuduh Mas gay. Jadi adik kok b**o banget" Mas Yoga berbicara jengkel seraya menunjuk-nunjukku dengan gelas s**u yang ia pegang. "Yaudah sih kalo enggak," ucapku santai seraya menyandarkan punggungku ke kursi. Tawaku mulai mereda. "Lagian umur Mas sama dia beda jauh deh kayaknya. Berarti mana mungkin itu temen Mas" "Iya. Dia tiga tahun di bawah Mas. Dan itu temen kamu Deria! Kita dulu deket, kamunya aja yang ga inget" Mas Yoga memakan sarapannya dengan gemas. "Hah? Temen Deria? Kalau dulunya deket ga mungkin Deria lupain. Deket sama Mas aja kali" Untuk kesekian kalinya aku kembali dibuat bingung. Pasalnya, teman laki-laki yang akrab semasa aku sekolah itu tidak banyak. Mulai dari aku SD sampai dengan SMA, semua teman akrabku yang berjenis kelamin laki-laki masih bisa dihitung dengan kedua tangan. Karena memang aku tidak terlalu suka bergaul dengan banyak anak laki-laki. "Dan Temen-temen Deria mah baik semua gaada yang jahat kayak gitu" "Berangkat sana! Capek ngomong sama kamu," Aku mendengus sebal ketika mendengar respon Mas Yoga. Alu berdiri dengan perasaan jengkel seraya menghentakkan kakiku. "Gausah banyak tingkah. Kaki baru sembuh juga" "Sakit kemarin 'kan gara-gara temen Mas Yoga juga! Mana tanggung jawabnya cuma nganterin nasi padang doang lagi dua kali sehari." Ya, selama tiga hari aku sulit berjalan, Gara sangat sering mengantarkan makan siang berupa nasi padang. Yah walaupun sarapan menunya kerap berbeda. Tapi 'kan untuk makan siang dan malam bosan juga. "Terus mau tanggungjawab dalam bentuk apa kamu? Dinikahin?" "Nggak!" *** Aku berjalan ringan di sepanjang koridor sekolah. Sesekali menghentikan langkah ketika siswa yang ku lewati ingin mencium tanganku. Suasana seperti ini benar-benar ku rindukan. Tiga hari tidak masuk sekolah ternyata mampu membuat hal-hal kecil seperti rutinitas menjadi se-istimewa ini ketika di lakukan lagi. "Udah sembuh, Bu Deria?" "Udah, Pak" ku ulas senyum kepada rekan kerja ku tersebut. Pak Rian, seorang Guru Agama yang sudah mempunyai anak dua itu tetap terlihat bak bujangan karena penampilannya yang segar. "Alhamdulillah" Aku mengangguk, dan kembali berjalan ke mejaku. Mengambil beberapa tisu dan mulai mengelap mejaku yang sedikit berdebu. Kulihat di sudut meja, bertumpuk buku tugas siswa yang belum ku periksa. Tugas yang guru piket berikan kepada siswa selama aku tidak masuk. Ku buka jadwalku hari ini. Jam pertama di kelas 3B. Kelas si anak-anak badung yang di dalamnya terdapat Nino, adik Gara. Semoga mood ku tidak di buat berantakan karena ulah mereka. Ya.. Semoga saj- "Bu Deria! Nino berantem sama Bagas!" Aku menatap kosong siswi berkacamata yang terengah-engah mengatur napasnya di depanku ini. Ia menyampaikan informasi yang sangat-sangat ku hindari di hari pertama masuk kembali ini. Oh benarkah harus sepagi ini? *** Jantungku hampir melompat dari tempatnya ketika melihat suasana kelas yang begitu berantakan. Kursi dan meja yang tidak rapi, para siswa yang bergerombol, "Bubar!" Plak!! Plak!! Kupukul dua kepala anak laki-laki yang sedang baku hantam di depanku ini menggunakan buku tulis yang sudah ku gulung. Keduanya pun sontak saling melepaskan satu sama lain. "Berdiri!" Nino dan Bagas berdiri dengan mata yang masih saling beradu tajam. "Bagus sekali kalian, sepagi ini sudah berkelahi ! Ikut ibu ke ruang konseling!" "Tapi Bu-" "Sekarang!!" *** Nino lagi, Nino lagi! Anak ini selalu saja berulah. Dan kali ini teman berkelahinya adalah Bagas. Yang ku kenal sebagai ketua kelas di kelas badung tersebut. Bagas ini setauku tak pernah terlibat dalam kasus apapun. Ia cerdas dan selalu mampu mencuri perhatian guru yang mengajar karena keaktifannya. Lantas masalah apa yang membuat mereka sampai baku hantam seperti ini? "Bu Deria harus telpon wali kalian. Jelaskan nanti ketika mereka datang" Tanganku sontak terangkat memberi isyarat diam ketika keduanya akan berbicara. Dan sialnya, Bu Winda wali kelas mereka tidak masuk hari ini. Maka dari itu, urusan mereka berdua hanya aku dan guru konseling yang menanganinya. Kubuka buku yang berisi data para siswa kelas 3B ini guna mencari nomor kontak wali mereka. "Bu.. Jangan telepon Bunda saya Bu.." Ku hiraukan rengekan Bagas dengan tetap menekan angka demi angka kontak Ibunya tersebut. Setelah diangkat dan menjelaskan maksudku menelpon beliau, beliau akhirnya setuju dan akan segera datang memenuhi permintaan. "Bu.. Bagas mohon, jangan suruh Mama Bagas kesini.." "Berisik banget sih! Orang udah di telpon juga" potong Nino berucap bosan lengkap dengan wajah santainya. Ck, anak ini benar-benar tak ada takut-takutnya! "Kamu tuh kok santai banget, No? Ga kasihan sama Mama Papa kamu dipanggil mulu? Ga malu orang tua mu?" Ku tunggu balasan apa yang akan bocah ini lontarkan, tapi nyatanya ia hanya diam tak menjawab ataupun menyanggah. Aku suka dengan tipe anak yang seperti ini sebenarnya. Dia tak akan menjawab walaupun tak sepenuhnya mendengarkan. Tapi setidaknya kita tidak perlu sakit hati karena di jawab ketika memberi nasihat. "Padahal Abang kamu polisi. Kamu ga malu sama temen-temen kamu karena kelakuan adik polisi kayak kamu ini?" Kulihat perubahan air muka Nino yang begitu signifikan ketika aku kembali bicara. Apa anak ini sudah mulai berubah karena aku ceramahi? Secepat itu? "Sebenarnya Ibu kasihan sama Mama kamu yang datang kesini mulu karena anaknya punya masalah. Atau Bu Deria telepon Abang kamu aja? "Jangan Bu, jangan Abang saya" Keterkejutanku benar-benar tak dapat kusembunyikan. Jadi anak ini takut pada Gara? Si Abangnya yang menyebalkan itu? Ku kira tak ada lagi yang ia takuti di dunia ini. Tiba-tiba saja ide cemerlang melintas di otakku. Buru-buru ku raih ponselku dan membukanya. Ku kirim pesan w******p kepada Mas Yoga guna menanyakan apakah ia menyimpan nomor Gara atau tidak. "Bu, saya mohon jangan Abang say-" "Berisik banget sih Nino!" Aku menggebrak meja dengan sebelah tanganku. Terus-terusan mendengar rengekan bocah itu membuatku jadi sakit kepala. "Tapi-" "Berisik banget sih! Orang udah di telpon juga" Aku sontak tertawa mendengar ucapan Bagas yang ada di samping Nino. Anak laki-laki itu memotong ucapan Nino dan mengulang ucapan yang persis Nino ucapkan ketika Bagas memohon kepadaku untuk tak ditelepon walinya. Setelah beberapa menit aku menunggu, tiba-tiba saja Mas Yoga sudah mengirimkannya lebih dulu. Padahal aku baru bertanya belum meminta. Tanpa basa-basi, aku langsung men-dial nomor tersebut. "Halo, Selamat Pagi" suaraku kubuat se-tegas mungkin menyapa Gara diseberang sana. "Ada apa?" aku sempat kaget akan respon Gara, namun secepat mungkin ku kuasai diriku untuk tidak memakinya. "Ya Selamat Pagi, Pak. Ini saya Paederia dari SD Pelita Insani. Guru Nino yang bertanggung jawab di jam sekarang. " "Saya tau" aku semakin di buat kaget mendengar tanggapan Gara. Ia tau? Padahal sekarang aku menghubunginya menggunakan nomor pribadi, bukan nomor telepon sekolah. "Bapak tau?!" tanyaku spontan "Ada apa?" Aku berdeham sekali untuk menetralkan kembali nada suaraku. Kulirik kedua bocah di depanku ini lalu kembali merubah raut wajahku. Sial! Wibawa-ku hampir jatuh di depan anak-anak gara-gara pria ini. "Jadi begini, Pak. ketika jam saya baru akan dimulai, Nino berkelahi dengan teman sekelasnya. Apa bisa Bapak kemari untuk menyelesaikan masalah adik Bapak?" "Oke," "Baiklah kalau begitu, saya tunggu segera mungki-" ucapanku terhenti karena interupsi dari Gara. "Oh iya-" "Kenapa, Pak?" "Simpan juga nomor kontak saya" Flip. "Ha-Halo?" Sambungan terputus begitu saja. Menyisakan aku yang melongo menatap layar ponselku bingung ketika tidak ada lagi suara di seberang sana. *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN