Foto

2093 Kata
Aku duduk dipinggir tempat tidur seraya melipat mukena yang telah selesai kugunakan. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh dan aku baru saja selesai sholat Maghrib. Ini kali pertama aku sholat dengan posisi duduk. Biasanya semalas atau sesakit apapun aku, tetap kuusahakan untuk sholat berdiri. Namun tidak untuk kali ini. Tertekuk sedikit saja masih nyeri walaupun sudah diurut. Ya. Walaupun look-ku tidak terlihat seperti wanita shalihah, tapi aku tidak pernah lupa atau tinggal akan kewajiban yang satu itu. Pesan Ayah yang selalu ia ucapkan setiap kali aku malas beribadah selalu terngiang-ngiang dikepalaku dan membuat overthinking jika belum dilaksanakan. "Ya kalau kamu ga mau sholat berarti kamu udah selangkah narik tangan Ayah buat ke neraka bareng" Sederet kalimat tersebut terus terngiang-ngiang dikepalaku. Ucapan Ayah tersebut selalu kujadikan acuan agar tidak tinggal akan kewajiban beribadah. Suara ketukan pintu yang berasal dari pintu utama membuatku tersentak dalam lamunanku. Aku menaruh mukena yang tadi telah kulipat ke ujung tempat tidur lalu berdiri dengan perlahan. Ketika tengah berjalan melewati ruang tengah, mataku melirik jam dinding yang ada di sudut ruangan. Tumben Gara datang se-sore ini. Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh. Biasanya jika tidak jam tujuh atau setengah delapan malam, dia tidak akan datang untuk mengantarkan makanan. Ketukan pintu kembali terdengar, membuatku tersadar dan sedikit mempercepat langkahku yang terseok. "Iya.. iya.. Bentar yaa!" Teriakku sedikit keras agar terdengar oleh si tamu. Ceklek! "Loh? Mas Reynal?" Aku terkejut ketika membuka pintu dan mendapati sosok Mas Reynal yang tengah berdiri. Rambut pria itu setengah basah dan masih mengenakan kaos polisi berwarna coklat yang biasa ia pakai untuk dalaman sebelum ia memakai baju dinasnya. Perlahan pria itu mengulas senyum lalu mengangkat tas lunch box yang sedari tadi ia pegang. "Ini makan malam dari Mama. Sengaja masak banyak buat ngirimin kamu katanya" "Oh iya Mas. Mau masuk dulu?" Tanyaku basa-basi. "Oh iya. Nanti Mas mau bantuin buat naruh makanannya ke piring" ucap Mas Reynal dengan masih tetap tersenyum. Senyum di wajah pria itu belum juga lenyap dan terus terkembang. "Iya boleh deh. Makasih ya Mas" aku mundur beberapa langkah guna memberikan ruang untuk Mas Reynal masuk. "Langsung ke dapur aja Mas" Pintu kubiarkan tetap terbuka lebar, lalu aku mulai berjalan menyusul Mas Reynal ke dapur. Begitu kotak-kotak makanan itu terbuka, mataku langsung berbinar. Asyik! Sudah lama sekali tidak makan masakan rumahan. Biasanya masakan rumahan yang biasa aku makan adalah masakan Ayah. Dan jika ditinggal berdua dengan Mas Yoga atau aku ditinggal sendiri, bisanya hanya masak mie instan dan nasi goreng. Lebih sering delivery kalau mau makan. Dan untuk kali ini aku senang sekali. Makan masakan rumahan adalah hal langka yang pernah aku temui. "Mau dibantuin ga Mas?" Tanyaku basa-basi. "Ga usah. Kamu duduk aja nanti Mas ambilin" ucap Mas Reynal seraya melirikku sekilas. Tanpa berkata apapun aku langsung berjalan menuju meja makan yang ada di dapur. Duduk disini seraya memperhatikan gerak-gerik Mas Reynal yang tengah memindahkan makanan dari Bu Ratih ke piring. "Wangi banget masakan Bu Ratih. Parah." Ucapku tanpa sadar. Ternyata ucapanku tersebut membuat Mas Reynal tertawa kala mendengarnya. Aku tersenyum malu seraya menggaruk tengkukku yang tak gatal. Mulut ini kenapa sih asal saja kalau ngomong? Kebiasaan sendiri kah? Makanya tidak bisa membedakan sekarang lagi sendirian atau bersama orang lain juga. "Ini kalau ga habis bisa masuk kulkas ya. Besoknya bisa dipanasin atau masuk microwave" Aku mengangguk mendengar ucapan Mas Reynal yang tengah mondar-mandir dari meja dapur ke lemari piring yang tak jauh dari sana. "Mas baru pulang kerja ya?" Tanyaku random saat melihat kaos yang melekat di badan Mas Reynal. "Iya. Ini Mas belum mandi. Maaf ya kalau baunya agak ga enak. Tadi selesai maghrib langsung disuruh Mama nganter makan malam buat kamu" Hmm dasar Bu Ratih! Nyusahin anaknya aja. "Deria juga walaupun udah mandi masih bau kok Mas" Kami sontak terkekeh ketika aku melemparkan guyonan tersebut. Mata Mas Reynal seketika menyipit ketika ia tertawa begitu. Mas Reynal mendekat ke arah meja makan yang tengah kududuki dengan membawa sepiring nasi putih dan piring lauk-pauk. Ia menaruh piring berisi makanan tersebut tepat di depanku lalu kembali ke meja dapur guna mengambil piring berisikan lauk pauk yang lain. Aku menatap semua hidangan yang ada diatas mejaku ini dengan takjub. Ayam goreng mentega, udang balado, ikan sarden asam manis, sambal bawang kesukaanku, sayur asem bahkan sampai lalapan pun ada di atas sini. Dan ini semua walaupun sudah Mas Reynal pisahkan untuk disimpan, tapi masing-masing porsinya masih banyak sekali! Pemandangan yang langka sekali, bukan? Bu Ratih walaupun ngeselin tapi tetangga paling the best lah! "Cuci tangan dulu" pergerakan tanganku yang hendak menggapai ayam goreng mentega terhenti di udara ketika mendengar interupsi dari Mas Reynal. Senyumku terkembang malu. Buru-buru aku berdiri lalu berjalan ke arah wastafel guna mencuci tanganku. "Mas Reynal ayo makan juga sama-sama" aku kembali dari mencuci tangan lalu duduk kembali dikursiku. "Mas makan di rumah aja, Dei. Ini mah khusus dikirim Mama buat kamu" "Ihh enggak apa-apa. Itu banyak banget masih. Ayo buruan cuci tangan, Deria tungguin" Aku tahu Mas Reynal belum makan malam karena pria itu baru pulang bekerja. Tentu saja lelah bukan? Lagian Bu Ratih ada-ada aja. Anak baru pulang kerja malah disuruh-suruh. Padahal anaknya dua. Kenapa tidak suruh Sena saja 'kan? "Gapapa-" "Buruan! Deria laper banget. Mas Reynal jangan lama cuci tangannya. Terus jangan lupa ambil nasi lagi" Mas Reynal tersenyum mendengar ucapanku. Pria itu berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju wastafel. Tak lama kemudian ia kembali duduk di meja makan bersamaku dengan membawa semangkuk penuh nasi dan satu piring kosong. "Ini kalau kamu mau tambah. Sekalian Mas bawain" Peka sekali Mas Reynal! Tau aja udah feeling mau nambah. Hihi. Kami makan dengan khidmad. Sesekali tertawa karena obrolan ringan yang kami bicarakan. Mas Reynal ini orangnya asik kok. Ia pintar mencari topik yang hendak di bahas. Jika topik yang ia lontarkan tersebut sedikit membuatku tak nyaman, maka dengan sangat cerdasnya ia mengubah topik lain dengan ber-transisikan lelucon. "Yang biasa anter makanan pas kamu lagi sakit gini siapa, Dei?" "Temen Mas kemarin. Dia dalang dari tragedi keseleonya kaki Deria. Jadi dia tiap hari nganterin makanan" mentimun yang ada ditanganku kugigit dengan kesal ketika mengingat pria itu. "Siapa?" Tanya Mas Reynal bingung "Itu yang dikantor polisi kemarin pas Mas Reynal sama Mas Yoga jemput Deria malem-malem. Si Gara. Doyan banget sih cari 'gara-gara' jadi orang" "Kanigara?" Tanya Mas Reynal memastikan "Iya temen Mas itu" "Kok bisa?" Mas Reynal melirikku seraya menambah sayur asem ke piringnya. "Ohh ceritanya panjang Mas. Jadi waktu it-" "Assalamualaikum. Saya panggil-panggil ga ada yang keluar, maaf jadi masuk sendiri" Aku dan Mas Reynal sontak menolehkan kepala kami ke sumber suara yang tadi menginterupsi ceritaku. Untuk beberapa detik, mulut kami terbuka dengan tangan yang melayang di udara seraya memegang makanan. Ya. Saat ini kami sedang makan tanpa sendok. Mampus!! Yang sedang jadi objek pembicaraan datang! Gagal curhat deh! Padahal sudah menggebu-gebu dan menyusun kata-kata untuk cerita. "Loh kapan datengnya, Pak? Sini duduk sini kita makan bareng" ucapku basa-basi. Padahal jauh di lubuk hatiku yang terdalam ingin cepat-cepat dia pergi. "Baru kok" ucap Gara singkat. Tatapan pria itu beralih kepada Mas Reynal. "Sini, Ra. Ayo makan bareng" ucap Mas Reynal seraya tersenyum dan mengangkat tangannya yang sedang memegang potongan ayam yang sudah ia gigit setengah, seolah isyarat memanggil Gara untuk ikut makan malam bersama kami. "Cuma mau nganterin dia makan kok, Nal. Alhamdulillah kalau udah makan" Gara mendekat kearah kami lalu duduk disalah satu kursi yang ada di meja makan. Pria itu masih mengenakan seragam polisinya. Wajahnya kuyu dan letih. Sepertinya sama seperti Mas Reynal, belum mandi. "Gapapa nanti saya makan terus dipanasin lagi. Bapak kalau mau makan disini aja" "Ga-" "Gue ambilin piring bentar. Lo buruan cuci tangan sana" potong Mas Reynal cepat sebelum mendengar penolakan dari Gara. "Gapapa, Gu-" "Kalau di Kalimantan tempat bokap gue, orang yang udah ditawarin makan tapi ga dimakan entar kepunan. Bisa celaka pulang dari sini. At least cicip dikit aja kalau kenyang" Gara menghembuskan napasnya pelan, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah wastafel. Hampir saja nasi yang ada didalam mulutku menyembur ketika melihat raut wajahnya. *** Kupikir Gara akan pulang setelah memastikan aku menghabiskan makanan malamku dengan baik. Seperti yang biasa ia lakukan dua hari terakhir ini. Namun nyatanya sekarang pria ini ikut duduk bersama aku dan Mas Reynal di ruang tamu. Benar-benar merepotkan bukan? Bertanggung jawab atas ulahnya sendiri? Coba saja jika dia tidak berulah. Mungkin dia tidak harus repot-repot mengantar makanan kepadaku setiap hari. Aku sedang ada urusan sedikit bersama Mas Reynal. Tadi ketika kami tengah makan malam, lebih tepatnya sebelum kedatangan Gara, Mas Reynal berjanji akan mengajariku perihal membuka akun sosial media yang lupa kata sandinya. Aku sangat ingin menghapus akun f*******: lamaku. Awal aku mengenal sosial media, dan isinya sungguh-sungguh random dan tak berbobot. Banyak juga foto-foto masa remajaku yang sangat ingin ku arsipkan. Memalukan sekali jika dilihat! "Emang beneran bisa, Mas?" Tanyaku sekali lagi ketika Mas Reynal baru saja menghidupkan laptop milikku. "Temen-temen Mas suka minta tolong sama Mas sih kalau akun mereka ga bisa di buka karena lupa password" Aku mengangguk. Selanjutnya hanya mengikuti instruksi dengan menyebutkan hal yang dipinta oleh Mas Reynal. Misal username-nya apa, tanggal lahirnya berapa dll. "Yang ini ya?" "Iya. EHH-" aku buru-buru menutupi layar laptop tersebut dengan kedua telapak tanganku. Mataku terpejam erat ketika baru saja melihat foto lamaku yang ada di akun tersebut. "kenapa?" Tanya Mas Reynal kebingungan. "Jangan dilihat fotonya. Malu banget!" "Tapi Mas udah lihat" Mas Reynal terkekeh geli melihat tingkahku. Sialan! Kenapa jadi seperti nobar foto aib-ku begini! "Gaya foto kamu ga berubah ya dari dulu. Hobi banget foto dua tangan dibentuk tanda love" Aku menoleh dengan sangat terkejut ke arah Gara. What did he say? Ga berubah? Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah posisi wajah pria itu yang ternyata sudah sangat dekat berada di sampingku. Pria itu berdiri di belakang aku dan Mas Reynal seraya melongokkan kepalanya kedepan. Ikut melihat foto diriku yang ada dilayar laptop. Sesaat aku terpaku ketika melihat wajah pria ini dari samping. Rahangnya yang tegas ketika dilihat dari sisi seperti ini benar-benar membuatku terpukau. Sadar akan diperhatikan, kepala pria itu perlahan menoleh ke arahku dan balik menatap. Tatapan kami bertemu dan hal tersebut langsung membuatku buru-buru mengalihkan pandanganku ke depan. Sial! Kenapa jadi berdebar begini! Aku menggelengkan kepalaku seraya mencoba berpikir positif. 'debaran ini pasti karena aku terlalu kaget akan ucapan Gara tadi. Pasti begitu' "Bapak ini sebenarnya siapa? Kenapa berlagak sok mengenal saya?" Tanyaku dengan tatapan yang masih tetap lurus ke arah layar laptop. "Kayaknya cuma saya yang kenal" Gara tertawa kecil seraya berjalan kembali ke tempat dimana tadi ia duduk. Pria itu menatapku dalam, sebelum akhirnya melontarkan ucapan ambigu. "Ya gimana ga kenal? History-nya kelam!" Sebelah sudut bibir Gara terangkat membentuk smirk yang mengerikan. "Hah?" Aku terbengong mendengar ucapan Gara tersebut. Maksud pria ini apa? Apakah dimasa lalu aku pernah mengenal pria ini? Tapi siapa? Ingatanku kembali terputar ke beberapa tahun silam. Mulai dari masa SMA, SMP, sampai dengan masa SD. Lama aku berpikir namun tak ada satupun nama dari teman-temanku dulu yang jadi tersangka. "Bapak ini temen saya pas jaman kapan emang? Atau kita pernah bertemu dimana?" Siapa tahu orang ini bukan satu sekolah denganku kan? Bisa saja ternyata cuma satu tempat bimbel. "Nope. You can choice forgive it. Saya pamit dulu. Terimakasih untuk makan malamnya" "Loh? Buru-buru banget , Ra" Mas Reynal yang sedari tadi hanya diam memperhatikan obrolan aku dan Gara tiba-tiba menyela. "Iya, Nal. Tadi sih niatnya nganter makanan doang. Malah disuruh makan disini" ucap Gara santai. "Tapi makasih ya bilangin nyokap lo. Masakannya enak banget" Gara berdiri dari duduknya seraya mengambil tas ransel miliknya dan menggantungnya di bahu sebelah kiri. "Iya syukur deh kalau lo suka" Mas Reynal tersenyum singkat. "Gue pamit ya. Assalamualaikum" "Waalaikumsalam" jawab Mas Reynal "Hehh pertanyaan saya belum di jawab? Kita pernah satu almamater sekolah mana ya Pak?" "Hei! Saya dulu kebanyakan punya temen makanya ga ingat sama orang kalau dia udah gede gini" "Hei! Pak Gara!" Gara tak sedetikpun menoleh ke arahku yang tengah teriak-teriak karena penasaran. Pria itu berjalan dengan pasti ke arah pintu utama. "Apaan sih ga jelas banget!" Sungutku kesal ketika rasa penasaran yang ada tak terjawab. "Kalian dulu kayaknya temenan deh" Aku menoleh kepada Mas Reynal yang tengah fokus kembali pada layar laptop. "Apasih Mas. Saya aja baru tau dia waktu di ciduk tempo hari" "Ya mungkin aja kan" Mas Reynal terkekeh kecil. "Udah ah capek. Itu hapus buruan akunnya Mas Reynal" *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN