Morning Flower

1566 Kata
*** Aku berdecak kesal ketika mendengar suara nyaring yang amat ku benci di pagi hari seperti ini. Alarm berjudul Morning Flower itu benar-benar seperti panggilan mengerikan yang menyuruhku untuk lekas bangun. Membuat kenyamananku terusik. Seolah menegaskan bahwa jam istirahat telah usai. Ku buka mataku dan meraih ponsel yang ada di samping ranjang. Kumatikan alarm dengan setting automatic daily tersebut lantas segera bangun dari tidurku. Terduduk malas di ranjang ini dengan kesadaran yang berusaha ku kumpulkan. Namun ketika kesadaranku telah pulih seutuhnya, aku tersadar akan satu hal. Keadaan kaki ku. Ku singkap selimut yang membungkus tubuhku dan langsung mengamati kakiku. Tidak ada perubahan secara pandang.. Namun ketika aku menggerakkan kaki ku, rasa nyeri di sekitar pergelangan kaki sedikit menyambutku pagi ini. Yah walaupun tidak sesakit yang kemarin. "Izin aja kali ya?" Kuputuskan untuk meraih ponselku dan menelpon Regina. Meminta tolong untuk menyampaikan kepada guru piket bahwa aku tidak bisa masuk hari ini, dengan alasan sakit. Setelah berbicara singkat dengan Regina melalui telepon, aku kembali melempar ponselku asal ke ranjang. Tanganku bertumpu pada nakas yang ada di samping tempat tidurku. Perlahan, ku turunkan kakiku menyentuh lantai dan segera berdiri seraya menahan sakit yang tak terlalu parah itu lagi. Entah itu efek di urut Mak Wati semalam atau pun efek dari obat penahan sakit yang di beri Bu Nina kemarin. Aku tak peduli. Lama aku berdiri guna menyeimbangkan badan dan rasa sakit ini. Hingga akhirnya memberanikan diri untuk berjalan. Tungkai kaki yang berjalan terseok-seok ini menuntunku sampai pada dapur dengan selamat. Kuambil segelas air dari dispenser dan membawanya ke meja makan. Tak butuh waktu lama, segelas air sudah tandas ku teguk cepat. Aku termenung menatap sekitar dapur. Kira-kira masak apa untuk sarapan pagi ini ya? Dengan langkah seperti robot, aku berjalan mendekati kabinet atas, tempat dimana biasanya Mas Yoga menyimpan bahan makanan instan. Sebelah kakiku yang tidak sakit sedikit berjinjit guna membuka kabinet. Begitu melihat isinya hanya mie instan, napasku berhembus pelan. Okey, Lets cooking with Mama! *** Aku membawa semangkuk mie goreng dengan topping kol, telur dan sosis itu ke ruang tengah. Menyalakan tv, dan menonton tayangan serial kartun favoritku. Masha and the Bear. Aku sangat suka dengan karakter gadis kecil tersebut. Ia lucu dan tingkahnya menggemaskan. Aku merasa ada kemiripan antara aku dan karakter Masha. Yaitu sama-sama jail, dan menggemaskan tentu saja. Jika Masha jail kepada karakter Bear yang ada di serial tersebut, maka ke-jailanku tentu saja kepada Mas Yoga. Mas-ku satu itu terkadang sabar, namun terkadang juga galak. Mataku menatap berbinar pada semangkuk mie kuah instan yang berhasil kubuat pagi ini. Ada kebanggaan tersendiri bagiku karena ternyata aku mampu mengurus diriku sendiri dengan baik tanpa bantuan Ayah dan Mas Yoga. "Kalau diajak nikah sekarang udah bisa kali ye?" Aku terkekeh geli mendengar gumaman lirihku barusan. Bisa-bisanya kepikiran menikah padahal calon suami saja tidak punya. Tanganku bergerak memotong mie tersebut menggunakan sendok. Binar kepuasan ketika menatap mangkuk mie tersebut juga tak memudar sedetikpun. Namun ketika baru saja aku ingin menyuapkan mie tersebut kedalam mulut, suara ketukan pintu di luar sana langsung menghentikan pergerakanku di udara. Sial! Siapa bertamu sepagi ini! Tidak tahu apa aku kesulitan berjalan begini?! "Bentar!" aku berdiri dari dudukku, berjalan kearah pintu utama dengan terseok. Sehingga memerlukan waktu yang sedikit cukup lama dari biasanya untuk sampai ke ruang tamu dan membukakan pintu. Lagi. Ketukan dipintu kembali terdengar. Dan kali ini lebih nyaring dan lebih bar-bar. "Sabar woi!" Teriakku kencang. Dengan tujuan agar sampai ketelinga yang mengetuk. Ceklek! "Oh, kenapa Sen?" Begitu membuka pintu, aku mendapati Sena yang tengah berdiri di depanku lengkap dengan seragam sekolah membalut tubuhnya. Hanya saja kaki gadis itu masih di balut sendal bulu hijau kesayangannya, belum memakai kaos kaki dan sepatu. Sedangkan kedua tangannya memegang mangkuk yang di alasi piring plastik dan di tutupi selembar kertas. Tunggu.. Jadi? Dia gedor-gedor pintu menggunakan kakinya? "Ini bubur dari Mama, Kak. Kita tadi baru tau kalo Kakak sakit." Sena mengulurkan semangkuk bubur yang ia pegang menggunakan kedua tangannya seraya tersenyum manis. Aku menerima mangkuk berisi bubur yang di sulurkan Sena dengan perasaan bingung. "Cuma keseleo dikit kok, hehe" jawabku santai "Udah di urut tapi?" Aku mengangguk seraya mengulas senyum, menjawab pertanyaan Sena. "Lho? Emang tau dari mana?" rasa penasaranku tiba-tiba terpancing ketika menyadari hal yang ganjil. Yang tahu kakiku sedang sakit 'kan hanya Gara dan- "Mas Yoga" Jantungku hampir melompat ketika Sena menyebutkan nama orang yang baru saja kupikirkan sedetik yang lalu. "Ohh iya iya-" Bibirku tertarik paksa keatas, berusaha mengulas senyuman manis ketika mendengar jawaban ringan Sena. Aku yakin wajahku aneh sekali saat ini untuk dipandang. Berbeda dengan Sena. Senyum gadis itu terkembang sempurna dengan pipi merona ketika mengucapkan nama Mas Yoga. "Eh makasih bilangin Mama kamu ya. Kayaknya kamu udah harus berangkat sekolah deh, soalnya hari makin siang. Entar telat" aku langsung mengarahkan agar gadis manis ini untuk segera pergi. Bisa gila aku jika terus-terusan melihatnya tersipu begitu dikarenakan oleh seseorang yang amat sangat ku kenal. Itu sungguh menggelikan! "Iya nih Kak, tinggal pake sepatu aja kok. Terus langsung cuss deh." Aku terkejut ketika Sena tiba-tiba mengibaskan rambutnya yang panjang dengan sangat percaya diri. Gadis itu menyentuh bando bercorak minnie mouse yang ia kenakan dengan hati-hati, guna memastikan letaknya baik-baik saja. "O-oh iya ya? Yaudah hati-hati ya" ucapku masih dengan wajah cengo. "Assalamualaikum, Kak Dei" "Waalaikumsalam" Baru saja Sena berbalik pergi, buru-buru aku berjalan masuk dengan terseok guna mencari sesuatu. Ya benar. Ponselku. Begitu ketemu, langsung aku menghubungi Mas Yoga saat itu juga. Dengan perasaan jengkel aku menunggu panggilan tersebut diangkat. Dan benar saja didering ketiga panggilanku sudah tersambung kepada si pemilik nomor ponsel. "Mas! Mas chatting sama Sena?!" Tanyaku to the point. "Waalaikumsalam" "eh iya. Assalamualaikum-" Aku terkejut ketika sampai lupa memberi salam pada Mas Yoga. kemarahanku hampir saja terkecoh ketika mendengar jawaban salam dari Mas-ku itu. "Mas! Di jawab!" Ucapku lagi. "Iya, cuma bilang kalo kamu lagi sakit. Jadi biar ada yang perhatiin lebih selama Mas ga ada" jelas Mas Yoga santai. "Mas jangan terlalu manis-manis chat ke Sena. Dia itu gampang baper anaknya!" Peringatku pada Mas Yoga. "Gaada kok, Dei. Mas chat minta tolong sewajarnya tetangga doang" Mas Yoga terkekeh kecil ketika menjawab. "Kenapa ga ke Bu Ratih aja nelpon langsung?!" "Kebetulan Sena online tadi. Kenapa sih? Sewot banget" "Bukan gitu.. Sena itu gampang baper anaknya. Dia di chat pake emot love aja langsung beda ngartiinnya" aku memutar bola mataku kesal. "Mas ga segila itu suka sama anak SMP" Suara Mas Yoga mulai terdengar jengkel ditelingaku. "Mungkin aja Sena jadi alasan Mas ga nikah-nikah sampai sekarang. Kan kita ga tau?" "Deria!!" Buru-buru kumatikan sambungan telpon dan melemparnya asal ke sopa. Teriakan Mas Yoga di ujung sana membuatku benar-benar kaget sekaligus geli. Ku pandang dua mangkuk makanan beda rempah di hadapanku ini dengan bingung. Jadi mau makan apa dulu ini? Tadi saja mengeluh bingung mau makan apa. Ditengah pikiranku yang sibuk memilih makanan, ketukan pintu di luar sana kembali mengalihkan fokusku. Aku berdiri seraya mendengus keras, lantas kembali jalan terseok menuju pintu. Begitu membuka pintu ruang tamu dan menemukan Gara lah sebagai tamu, wajahku mendadak lebih masam dari sebelum membukakan pintu. "Kenapa?" tanyaku datar, "Ini," ku tatap kaget uluran kantong plastik putih di tangan Gara. Jangan bilang ini makanan? "Apa?" "Soto buat kamu sarapan," Nah kan! "Tapi saya sudah punya dua sarapan pagi ini," "Ambil" Aku mendelik, mengambil plastik yang di ulurkan Gara dengan wajah malas. "Di makan, jangan di buang" "Iya tau" ucapku malas. "Saya ga bisa lama, mau langsung berangkat." Aku mengangguk singkat. Dari awal, tebakan ku sih begitu. Mengingat seragam cokelat yang melekat di tubuh besarnya. "Gimana kakinya?" "Udah agak baik ko- ngapain?!" Aku refleks mundur selangkah melihat Gara yang tiba-tiba berjongkok di depanku. Hampir saja aku terjungkal jika tidak langsung berpegangan pada daun pintu yang ada di sampingku. "Maju," ucap Gara singkat. "Oh-oke" Bak terkena sihir. Aku jadi menurut begini karena mendengar suara dingin nan datarnya barusan. Seolah terhipnotis dan takut akan resiko jika aku tidak menurut. "Ini masih sakit?" Gara bertanya namun tatapannya tetap lurus ke arah kakiku. "Enggak terlalu sih" jawabku singkat. "Kalau tiga hari belum sembuh atau belum ada perubahan, kita ke dokter" Aku diam, tidak menjawab. Hanya terpaku melihat gerakan pria itu yang tengah mengusap pelan pergelangan kakiku. Hal tersebut memberikan efek kaget sekaligus geli pada diriku. Sialan pria ini? Sampai akhirnya Gara berdiri, buru-buru ku alihkan pandanganku ke sembarang arah. "Ini motor kamu," ku terima kunci motor milikku yang di ulurkan Gara dengan sikap santai yang berusaha ku buat. Namun sial, sikap santai yang terlalu dibuat-buat itu terlihat sangat kentara ketika aku dengan bodohnya tak sengaja menjatuhkan kunci tersebut. "Maaf-" dengan sigap Gara mengambilnya seraya tersenyum samar. "Saya berangkat dulu. Makan yang banyak," Usapan di puncak kepalaku menjadi penutup kepulangan Gara kali ini. Hal tersebut membuatku benar-benar tak nyaman di perlakuan seperti ini. Mataku mengikuti pergerakannya yang mulai menjauh ke luar pekarangan rumahku. Pagar rumahku ini hanya sebatas pinggang orang dewasa sehingga membuatku sangat leluasa melihatnya. Ia tak berbalik lagi, hanya berjalan lurus menuju motor dinas yang sedang di duduki oleh rekannya yang mengenakan seragam sama tersebut. Bedanya hanya aksesoris bajunya saja. Gara memiliki banyak lambang-lambang kecil penuh makna yang menempel di bajunya. Sedangkan rekannya hanya memiliki beberapa saja. Tak lama, keduanya bertukar posisi. Dengan Gara yang memegang stang kemudi. *** Yang pake hp Samsung pasti kenal tuh alarm ?? Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN