Tukang Urut

1499 Kata
*** Setelah mandi dan mengganti pakaian dengan bersusah payah dan penuh drama serta air mata, akhirnya aku bisa duduk dengan santai sekarang. Btw , rasa sakit yang ada di pergelangannya kakiku ini dipaksa berjalan atau berdiri lama, jadi lebih sakit. Itulah mengapa saat berganti pakaian tadi sungguh-sungguh menyiksa diriku. Bahkan saat mandi pun aku duduk karena tak kuat berdiri. Suasana hening menyelimuti atmosfer yang ada di kamarku, membuatku tak nyaman dan buru-buru mengambil ponselku yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Aku membuka sosial media sebentar untuk melihat berita-berita terkini, lalu mengecek pesan yang masuk ke w******p-ku. Satu pesan dari Ayah yang masuk beberapa menit lalu membuatku buru-buru untuk membukanya. Ayah: Dei, kalau udah pulang jangan lupa istriahat. Senyumku mengembang saat membaca sederet kalimat tersebut. Tanpa pesan tersebut, aku langsung ke nomor ayah untuk melakukan panggilan video. Assalamualaikum Ayah, aku tersenyum lebar, menatap rindu pada layar ponsel yang sedang menampilkan wajah ayah. "Waalaikumsalam anak Ayah" senyumku makin lebar ketika suara ayah terdengar jelas dari headset yang tengah menyumpal telingaku. "Udah bulan depan belum sih, Yah? Kok lama banget ya bulan depan yang Ayah janjiin" Tawa ayah terdengar lantang mendengar sindiranku. Membuat wajahku berubah menjadi masam yang indah. "Sabar ya. Ayah 'kan disini juga kerja," kerutan disekitar wajah ayah mulai terlihat ketika beliau tersenyum. Nampak dari raut wajah dan kantung matanya bahwa Ayah sedang lelah. Sepertinya sudah waktunya Ayah untuk pensiun. Semakin bertambah usia, pekerjaan Ayah pasti terasa sangat melelahkan untuknya. Dan untungnya masa pensiun Ayah hanya tinggal 2 tahun lagi. Mau tidak mau ia harus mundur dari jabatannya. Kami sudah sering menawari Ayah untuk pensiun lebih awal saja. Biar aku dan Mas Yoga yang membiayai dan mengurus keperluan Ayah. Namun Ayah selalu menolak dengan alasan mau mencari kesibukan. Ya. Sampai saat ini pria paruh baya kesayanganku itu masih belum bisa melupakan Ibu, meskipun sudah puluhan tahun waktu berlalu. Cinta Ayah sungguh besar, dan itu hanya untuk ibu seorang. "Ayah udah makan?" "Udah, kamu sendiri udah makan?" "Udah kok," aku tersenyum paksa menutupi kebohongan kecil yang ku buat. "Yaudah ya, Yah. Ayah pasti capek mau istirahat, Dei tutup ya?" "Oh ya sudah," Ayah tersenyum kecil, sehingga kembali menampakkan guratan lelah yang amat kentara di sekitar matanya. Tadinya aku ingin bercerita perihal kaki ku. Tapi ketika melihat raut wajah lelah Ayah, aku memutuskan untuk segera menyudahi rutinitas kami kali ini. Mas Yoga juga sepertinya belum memberitahu Ayah tentang kondisi kaki ku. Biar saja deh, ga usah di kasih tau. Nanti Ayah kepikiran terus jadinya. "Jangan lupa minum vitamin, Assalamualaikum Ayah" Aku melambaikan tanganku ke arah layar seraya tersenyum lebar. "Waalaikumsalaam" Flip. Panggilan berakhir. Ku lepas headset yang menyumpal telingaku dan melempar asal ponselku ke samping tempat tidurku yang kosong, menyandarkan punggung pada sandaran ranjang seraya menghela napas kesal. Bagaimana tidak? Karena insiden kaki ini gerak gerikku jadi terhambat. Bahkan untuk berjalan ke dapur saja malas rasanya kalau harus menahan denyutan di kaki ini. Kanigara sialan! Dimana letak tanggung jawab pria itu! Apalagi Mas Yoga sedang tidak di rumah. Bisa mati kelaparan aku! Namun ide cemerlang kembali melintas di otakku ketika mataku tak sengaja menangkap wujud ponsel yang tadi ku lempar setelah videocall bersama Ayah. Delivery saja! Ketika sedang asyik memilih-milih menu dari restoran pilihanku, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Membuatku menghentikan kegiatanku sejenak dan berdiri guna membukakan pintu. Ketukan pada pintu makin terdengar keras. Membuatku mendengus sebal akan tingkah orang di luar sana. Sudah bertamu malam, tidak sabar pula. "Sebentar!" Ku buka pintu ruang tamu tanpa mengintip terlebih dahulu dari jendela- Seperti kebiasaanku, tapi kali ini tak ku lakukan karena ketukan di luar sana bertambah keras. Dan ketika pintu sudah terbuka, untuk kali ini aku menyesal tidak mengintip dulu siapa yang datang. Sialan! Di depanku sekarang, berdiri sosok Kanigara dan seorang wanita tua, mereka menatapku dengan ekspresi yang berbeda. Yang satunya menatapku datar, dan yang satunya lagi menatapku dengan senyuman hangat. "Ada apa?" aku menjaga nada suaraku agar tetap terdengar sopan. "Ini," Kutatap bungkusan plastik yang di ulurkan Gara dengan bingung. "Tadi macet, makanya agak lama" lanjut pria itu kemudian "Ini apa?" tanyaku curiga, "Makan malam." Mataku berbinar senang ketika mendengar kata makanan. Langsung saja ku ambil bungkus plastik tersebut dan mempersilahkan keduanya masuk. "Yang cepet makannya. Habis itu Mak Wati bakal ngurut kaki kamu" "APA?!" aku menjerit kaget ketika mendengar ucapan Gara. Oh tidak, yang benar saja! "Ga mau!" aku buru-buru mengulurkan kembali plastik berisi makanan yang ku pegang, kepada pria itu. "Kenapa?" "Saya lebih milih ga makan dari pada harus di urut." "Kamu tuh nurut aja." Gara mendudukkanku di kursi ruang tamu secara paksa, berjalan cepat kearah dapur dan ketika kembali lagi di hadapanku sudah membawa piring dan sendok. Ia membuka makanan yang ada di kantung plastik tadi dan memindahkannya ke dalam piring. Bubur? Hei! Yang sakit kakiku bukan perutku! Kenapa diberi bubur begini sih? "Habiskan." Ku teguk liurku kasar ketika mendapat tatapan intimidasi begitu. Mengambil pasrah sendok yang terletak di atas meja dan mulai memakan makan malamku di bawah pengawasan Gara. Sial! Jika seperti ini aku jadi mirip calon taruna yang sedang ditempa mental-nya. "Kok bubur sih? Harusnya Pak Gara tanya dulu saya maunya makan apa. Jangan dateng-dateng bawa bubur begini! Emangnya perut saya yang sakit?!" Aku mengomel panjang setelah beberapa suap bubur sudah masuk kedalam mulutku. "Orang sakit kan emang harus makan bubur biar pencernaannya lancar. Kamu mau lama di WC buat buang air besar dengan kondisi kaki sakit gitu?" Aku terkejut mendengar ucapan Gara. Iya juga yaa.. makan-makanan aneh bisa membuat perutku bermasalah dan bakal lama di toilet. Kok bisa pria ini berpikir sampai sejauh itu? "Yang banyak makannya," ucap Gara lagi "Oh iya, agak di percepat" Di percepat kepala dia! Dia pikir ini sedang berada di camp pelatihan kepolisian yang mengharuskan makan cepat apa? . . . . . *** "SAKIT!!" Tanpa sadar aku mencengkram lengan Gara yang ada di sampingku ketika merasakan sakit yang teramat sangat dari sentuhan tangan renta Mak Wati. Padahal, Wanita tua ini baru mengusapnya sedikit. "Tahan ya neng, entar sakitnya Cuma sebentar kok" sahut Mak Wati menenangkan. Aku pasrah. Ku tutup wajahku menggunakan sebelah tangan, sedangkan sebelah tanganku yang lain mencengkram lengan Gara kuat. Biar saja dia ikut merasa kesakitan. Setidaknya cengkramanku tak sesakit efek keseleo karena ulah gilanya ini. "Untung buru-buru di urut. Ini hampir bengkak, bisa bahaya neng" Tak kutanggapi ucapan Mak Wati, aku hanya ingin acara pijat-memijat ini segera berakhir. Itu saja. "Pak Gara tolong buatin Mak Wati teh dong di dapur. Sama ada biskuit didalam kulkas bawa kesini juga" Aku berbisik kepada Gara untuk menjamu Mak Wati dengan membawakan air dan kudapan yang ada di dapur. Agar setelah wanita itu selesai memijatku, beliau bisa langsung beristirahat dan memulihkan tenaganya. Kulihat Gara mengangguk tanpa protes. Pria itu berdiri dan aku dengan sadar langsung melepaskan cengkramanku dilengannya. *** Sekitar hampir sepuluh menit lebih aku berteriak-teriak kesakitan karena proses urut yang dilakukan oleh Mak Wati. Dan akhirnya mulai ada tanda-tanda akan wanita tua itu untuk mengakhirinya. "Nah udah. Coba kakinya di gerak-gerakin pelan-pelan neng" Aku menurunkan sebelah tanganku yang menutupi wajah, kemudian membuka mataku secara perlahan. Sebelah tanganku yang lain masih mencengkram lengan Gara, menyalurkan rasa sakit dari kakiku ini pada lengannya. "Beneran udah, Mak?" "Iya, coba di gerakin" aku mengangguk dan langsung menuruti apa yang di perintahkan Mak Wati. Perlahan ku gerakan pergelangan kaki kananku. Menurunkan kedua kakiku ke lantai dengan posisi tangan yang masih bertumpu pada lengan Gara. "Masih sakit, Mak. Tapi Ga sesakit yang sebelum di urut" "Di latih aja, gerakin pelan-pelan jangan di paksa" Aku mengangguk dan tersenyum lebar. Tak lupa ku haturkan ucapan terima kasih kepada wanita tua ini sebanyak-banyaknya. "Ini kamu kesandung sesuatu ya pasti?" Mak Wati mengangkat gelas teh yang tadi Gara buatkan untuknya. "Iya. Kesandung akar pohon gede yang ga tau sopan santun, Mak" aku melirik Gara sinis. "Oalah, harus hati-hati ya nak kalau jalan. Bahaya banget kalau kaki udah sakit. Soalnya tumpuan kita banget kaki mah. Kemana-mana susah kalau kaki lagi sakit" ucap Mak Wati panjang. Hampir sepuluh menit kami ngobrol basa-basi. Mak Wati ternyata seru juga diajak berbincang santai begini. Hingga akhirnya wanita tua itu izin pamit undur diri karena mau menjemput cucunya dan memastikan sudah pulang atau belum. "Saya pulang dulu," aku melirik Gara sekilas dan mengangguk singkat. "Mak makasih banget loh," Untuk yang kesekian kalinya aku mengucapkan terima kasih pada Mak Wati. Pijatan Mak Wati ini walaupun mematikan, tapi paten! "Iya neng sama-sama" "Hati-hati di jalan ya Mak," aku melambaikan tangan kepada Mak Wati yang sekarang sudah berdiri dari duduknya. Namun ada yang aneh. Kenapa pria di sebelahku ini belum juga beranjak? "Katanya mau pulang?" tanyaku dengan nada tak bersahabat. "Tangan kamu," aku tersentak, ketika melihat dimana letak sebelah tanganku berada. Buru-buru aku melepaskan tanganku dan tersenyum malu. Benar-benar rasa malu yang tak bisa di tolerir Deria! Lagi dan lagi! Ada saja hal memalukan yang terjadi saat didepan pria ini. " Pastikan sebelum tidur semua pintu terkunci. Saya pulang, Assalamualaikum" "Wa- waalaikumsalam" *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN