Aku membiarkan Gara yang melepas flat shoes serta kaos kakiku tanpa izin. Melirik tak enak pada Bu Nina selaku penjaga UKS yang berdiri di sebelah Gara. Wanita anak satu yang lebih tua lima tahun dari ku itu memperhatikan dengan bingung, mulai dari awal kami tiba.
"Kenapa kakinya, Pak?" Ku lirik kembali Bu Nina yang mulai buka suara.
"Ngecek aja, Bu. Kali aja ada yang luka" Jawaban Gara tersebut membuatku sangat berhasrat untuk memukul kepalanya menggunakan bantal yang sekarang tengah menopang kepalaku.
"Oh yaudah sini biar saya yang ngecek" Gara mundur dan memberikan Bu Nina ruang untuk melihat keadaan kakiku.
"Ini terkilir ya tadi?" Tanya Bu Nina seraya memegang kakiku.
"Dikit doang kok, Bu Nina. Tapi Deria rasa ini udah mendingan kok enggak sakit banget" jelasku mencoba meyakinkan bahwa kaki ku baik-baik saja.
"Ini kayaknya-"
"Baik-baik aja kan Bu?" Aku menekankan setiap kata yang kulontarkan seraya menatap Bu Nina dengan senyum paksa dan tatapan memohon untuk meng-iyakan ucapanku.
"Ga ada yang luka 'kan Bu?" Sela Gara.
"Yaiyalah! Saya sehat," aku beranjak dari acara rebahanku menjadi duduk. Menatap Gara sengit seraya mengayun-ayunkan kaki ku pertanda baik-baik saja.
"Bu Nina, Maaf ngerepotin nih. Saya duluan ya Bu," aku menatap Bu Nina seraya tersenyum canggung sebelum turun dari ranjang UKS. Tak kuberi kesempatan untuk wanita cantik itu menjawab.
Namun begitu turun dari Ranjang, kakiku mendadak ngilu ketika baru saja menyentuh lantai. Membuatku sontak merosot ke lantai seraya menahan sakit. Kok jadi gini? Perasaan tadi aku tidak merasakan sakit apapun.
"Gitu sehat?"
Ku tatap Gara dalam diam, berusaha mengontrol perasaanku dengan sulit. Sampai akhirnya meluap tak tertahankan.
"Ini 'kan ulah Bapak juga! Bapak ini maunya apa sih?!" aku menangis keras ketika di salahkan dalam keadaan seperti ini. Ini bukan salahku, kenapa aku harus di salahkan? Apalagi yang menyalahkanku orang yang berbuat salah.
Gara tidak menjawab, pria itu memilih mengangkat tubuhku kembali ke ranjang UKS dan membenarkan letak kakiku.
"Tolong obati ya, Bu" Gara menyingkir dan memberikan Bu Nina ruang untuk mengobati kakiku. Pria itu melirikku sekilas sebelum berlalu keluar ruangan.
Cih! Dasar pria tidak tahu malu! Dia yang menyebabkan kakiku jadi seperti ini, malah dia juga yang bertingkah bak pahlawan kesiangan!
Sebenarnya apa yang ada didalam pikiran pria itu?
"Itu yang ngasih materi hari ini dari Polres JakSel 'kan, Dei?" Bu Nina mengambil tube berisi krim dan mengoleskannya pada kakiku, hal itu memberikan efek hangat pada kakiku yang awalnya berdenyut sakit.
"Iya Bu," jawabku singkat, seraya mengelap wajahku yang masih basah akan air mata dengan lengan blazer yang kukenakan.
"Kamu kenal?" pertanyaan Bu Nina kali ini membuatku mengerutkan dahi, mencoba memutar kejadian lalu antara aku dan Gara.
"Enggak terlalu deh kayaknya. Kenal buat kepentingan acara hari ini aja" jawaban singkatku membuat Bu Nina hanya menganggukkan kepala seraya terus fokus mengobati kakiku.
Namun ketika aku sedang diam memperhatikan Bu Nina yang tengah membungkus kaki ku menggunakan kasa, Gara kembali masuk mendekati kami.
"Kamu pulang sama saya, motor kamu biar temen saya yang bawa," Tak kuhiraukan hadir pria itu. Aku diam seolah tuli dan tetap fokus memperhatikan gerakan tangan Bu Nina yang telaten.
"Mas Yoga nyuruh saya buat tanggung jawab, jadi itu bentuk tanggung jawab saya"
Deg!
Jantungku hampir melompat ketika Gara menyebutkan nama Mas Yoga dalam situasi ini. Sialan! Bagaimanapun bisa?
"Kok tau nomor Mas Yoga?!" aku sewot mendapati fakta baru yang benar-benar tidak menguntungkan ini. Berbagai pikiran tidak jelas dan negatif terus berputar-putar di otakku saat ini juga.
"Kenapa langsung nelpon Mas Yoga?!" aku mendelik tak suka. Mas Yoga 'kan lagi perjalanan ke luar kota. Kalau dia khawatir bagaimana? Kalau dia kepikiran akan kondisiku bagaimana? Bagaimana jika rasa khawatirnya Mas Yoga bisa membuat pekerjaannya jadi berantakan? Kan yang rugi jadi banyak pihak!
ARGGHHH Kanigara sialan!
"Karena saya mau bertanggung jawab. Jadi saya rasa perlu untuk menghubungi wali kamu " aku mendengus kesal ketika mendengar jawaban tak berarti dari Gara. Kuputuskan untuk diam saja dari pada menanggapinya.
"Nah selesai. Ini di lepas aja kalau mau di urut. Ini pertolongan pertama aja biar sakitnya ga kerasa banget. Jadi rasa sakitnya teralih ke rasa hangat." Bu Nina langsung membereskan peralatan dan sampah bekas potongan kasa dan plester yang ada diatas tempat tidur.
"Dan ini obat buat ngurangin sakitnya, diminum tiga puluh menit setelah makan pagi dan malam ya. Atau pas udah sakit banget," Aku mengangguk mendengar penjelasan Bu Nina. Mengambil bungkus obat yang ia ulurkan kepadaku dan mencoba memberikannya pada Gara.
"Pegang," Gara mengangguk tanpa protes seraya mengambil bungkusan obat yang ku berikan. Ia mendekat dan mencoba membantuku berdiri.
"Bisa jalan?" aku mengabaikan pertanyaan Gara dan berusaha untuk berdiri dengan sempurna di tengah-tengah rasa sakit yang mendera pergelangan kakiku. Tanpa sadar pegangan tanganku pada lengan Gara mengerat, sehingga membuat seragam polisi yang ia kenakan sedikit kusut.
"Saya ga mau di gendong. Tuntun sampai parkiran aja,"
Setelah mengucapkan terima kasih pada Bu Nina selaku penjaga UKS, Gara hanya diam seraya membantuku berjalan. Langkah demi langkah, ku pijaki dengan amat menyiksa. Membuatku sesekali mengeluarkan ringisan sakit dan helaan napas Gara yang menghembus bosan.
"Pak Kanigara!" aku berteriak kaget,
Baru saja kami sampai di depan pintu keluar UKS, Gara dengan sikap tidak sabarnya mengangkatku dan menggendongku seperti bayi. Setelahnya ia berjalan cepat dengan tatapan mata yang lurus kearah depan.
"Saya 'kan udah bilang saya ga mau di gendong" wajahku masam menerima keadaan. Memberontak juga percuma. Yang ada aku capek sendiri.
"Bisa sore nuntun kamu jalan ke depan," ucap Gara santai. Mata pria itu terus lurus kedepan tanpa sedikitpun melirik ke arahku.
Aku hanya diam di dalam gendongan Gara, menatap bosan pada langit-langit koridor yang kami lewati. Sebelah kakiku yang tidak sakit ku gerak-gerakan guna mengusir rasa bosan.
Aneh! Kenapa di situasi seperti ini parkiran terasa sangat jauh sekal!
Namun, ketika sebentar lagi sampai di parkiran, kami berdua harus melewati aula. Yaps! Aula pertemuan yang sedang digunakan untuk penyuluhan pada hari ini. Sudah terbayang bukan ramainya seperti apa? Mampus jika ada satu orang saja yang melihatku dalam posisi seperti ini.
Tubuhku mendadak tegang ketika kami hampir mendekati gedung aula. Tidak.. jangan lewat sini!
"Pak, jalannya yang cepet!" aku sewot ketika keberadaan kami hampir mendekati aula, menuju tempat parkir yang ada di sebelahnya. Sebenarnya ini bukan jalan satu-satunya menuju parkiran. Gara bisa saja berputar sedikit lebih jauh melalui jalur samping untuk ke parkiran.Tapi aku yakin pria itu pasti akan menolak mentah-mentah permintaanku.
Kegeramanku semakin bertambah ketika pria yang menggendongku ini malah memperlambat langkahnya. Seolah sengaja melakukannya.
"Pak!" Hanya lirikan singkat yang ku dapatkan dari pria ini. Setelah itu matanya kembali menatap lurus ke dapan.
Sial!
Bertepatan dengan ini pula kudengar dari luar sini, acara akan segera berakhir. Itu artinya semua orang di aula pasti akan keluar. Tidak.. tidak.. ku mohon untuk orang yang ada di sana jangan keluar dulu sampai aku lew--
Astaga!
Aku pasrah seraya menutup wajahku dengan menggunakan kedua tangan ketika riuh sorakan para rekanku tiba-tiba saja terdengar memanggil-manggil namaku. Sialan pria ini! Sudah berapa kali aku di permalukannya?
.
.
.
.
***
"Tunggu disini. Saya mau kembali ke aula"
"Pak, tolong ambilin ponsel saya dong di ruang guru. Warna hitam lagi di charge" Gara mengangguk singkat mendengar permintaanku.
Ketika Gara menutup pintu mobil, punggungku bersandar lemas pada sandaran jok. Pandanganku terlempar keluar kaca mobil, melihat sosok Gara diberhentikan mendadak oleh salah seorang siswa yang amat kukenal. Salah satu list siswa badung yang duduk di kelas tiga-B. Nino Alfiano. Si pentolan kelas yang selalu membuatku naik pitam.
Kuturunkan kaca jendela mobil dan sedikit mengeluarkan kepalaku guna mencuri dengar pembicaraan mereka berdua. Jarak antara mereka dan mobil terbilang cukup dekat, yaitu cuma satu setengah meter.
"Bang minta duit dong?" Suara khas Nino terdengar di telingaku. Anak tersebut mendongak menatap Gara seraya menadahkan tangannya enteng. Membuatku membelalakan mata ketika mendapati hal ini. Kebadungan anak ini tak pandang bulu ternyata. Bahkan seorang polisi saja dipalak?!
"Udah mau pulang juga. Buat apa?"
"Buat jajan Bang. Nino haus. Uangnya habis buat sumbangan, Ayah temen Nino sakit." Alasan yang bagus sekali anak badung. aku mendengus kesal mendengar ucapan Nino.
"Kamu habis ini langsung pulang?" Tanya Gara.
But, wait? Kenapa mereka sepertinya terlihat akrab? Ini memang Nino-nya yang friendly atau Gara-nya yang mudah akrab dengan anak kecil?
"Enggak. Mau kerumah temen dulu besuk ayahnya. Abis itu baru minta jemput Kak Mita"
Kulihat Gara mengangguk singkat seraya merogoh dompet yang ada di saku belakang celana bahannya, mengeluarkan dompet dan memberi Nino selembar uang sepuluh ribuan.
Mataku membelalak lebar ketika melihat adegan palak-palakan ini masih terus berlanjut. Buru-buru aku menurunkan kaca jendela ini dengan full dan menongolkan kepalaku
"Jangan!" aku berteriak heboh ketika melihat tangan Nino yang akan meraih uang dari tangan Gara. Membuat pergerakan keduanya terhenti dengan kepala yang sama-sama menoleh kepadaku.
"Nino! kamu tuh ga boleh gitu sama Pak polisinya. Masa' malak pak polisi sih! mau Bu guru hukum lagi?"
Sempat terjadi hening di sekitar kami bertiga. Sampai akhirnya ucapan Gara berikutnya benar-benar membuatku hampir tidak memiliki muka lagi untuk sekarang.
"Tapi dia adik saya."
A-adik?
Ya Tuhan.. sudah berapa kali aku merasakan malu untuk hari ini?
***
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan