Shy

1500 Kata
hii! Pagi ini berbeda dari pagi-pagi biasanya di SD Pelita Insani. Susana sekolah cukup ramai dan lumayan sibuk. Para guru dan staf sekolah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing dalam membantu menyiapkan acara penyuluhan lalu lintas pada hari ini. Untuk tugasku sendiri tidak terlalu menguras tenaga. Saat ini aku tengah duduk dimeja ku seraya melipat amplop dan memasukkan lembaran uang untuk diberikan kepada narasumber sebagai tanda terimakasih karena sudah hadir sebagai pembicara. Namun, fokusku akan amplop-amplop ini teralihkan ketika melihat Regina yang berjalan bak setrika. Aku menatap jengah pada Regina yang tengah mondar-mandir menenangkan dirinya sendiri. Tiga puluh menit lagi acara penyuluhan seputar lalu lintas akan di mulai, dan kali ini Regina dipilih sebagai MC untuk memandu jalannya acara. Dia guru Bahasa Indonesia juga sama sepertiku. Setiap ada acara di sekolah ini kalau tidak dia ya aku yang akan menjadi MC. Nah untuk kali ini, kami sepakat bahwa dia yang akan andil, karena kemarin aku sudah menjadi MC untuk acara isra' miraj yang kala itu juga mengundang salah satu ustad kondang yang sosoknya sering wara-wiri di layar kaca. "Bisa diem ga, Re?" aku bicara tepat setelah amplop terakhir yang ku lipat selesai. "Kok gue tiba-tiba nervous gini ya?" tanya Regina bingung. "Biasa juga lo ga kayak gini kok" aku berdiri dan mendekati sudut ruang guru ini guna mengambil ponselku yang sedang di charge. "Apa lo aja yang gantiin?" "Mana bisa gitu!" gerakanku mencabut charger terhenti begitu saja mendengar ucapan Regina yang menyebalkan. "Biasa aja kali! Bantuin tenangin gue dong!" Lah kenapa jadi dia yang sewot? Aku menghembuskan napasku keras, kembali berjalan kearahnya dan mengabaikan ponselku. Setibanya di depan Regina, aku tersenyum paksa seraya membuat gerakan tarik-buang napas yang umum orang lakukan ketika gugup. Menyuruh gadis itu mengikuti apa yang ku instruksikan. "Udah?" tanyaku datar. "Mendingan deh kayaknya" Aku memutar mataku ketika mendengar tawa lirih yang gadis itu perlihatkan. "Udah yuk ke aula" tanpa sempat menjawab, Regina tiba-tiba menarikku lebih dulu untuk bergegas mengikutinya. Sepanjang perjalanan menuju aula, tangan gadis tinggi di sebelahku ini saling bertautan dengan tanganku. Membuatku tak nyaman karena keringat dari tangannya yang juga berpindah ke telapak tanganku. "Apaan sih, Re. Tangan lo basah" "Gue gugup sumpah," Aku menepis tangan Regini yang akan meraih tanganku lagi. "Ga usah pegang-pegang!" ucapku sewot. Sekita raut wajah Regina berubah menjadi masam. "Bikin mood gue bagus kek, lo" sungut Regina. Jarak aula dengan ruang guru cukup jauh. Letak aula terletak di dekat gerbang sekolah sehingga membuat perjalanan menuju kesana terasa lama karena rengekan Regina yang terus-terusan terdengar. Namun ketika hampir sampai pada aula sekolah, aku melihat sosok lelaki tinggi yang bentuk tubuh dan potongan rambutnya benar-benar sangat ku kenali. Aku terkejut untuk kali ini. Mas Yoga? Ngapain? Tiba-tiba Mas Yoga balik menatapku, ia melambaikan tangannya isyarat agar aku mendekat. "Re bentar, temenin gue nyamperin Mas gue" Regina mengangguk dengan mata yang sesekali fokus pada selembar kertas yang sedari tadi ia bawa. "Kenapa Mas?" "Mas mendadak ada kerjaan keluar kota. Kebetulan lewat sini jadi sekalian aja Mas kasih kunci rumah. 'Kan tadi udah Mas w******p ke kamu" Aku mengerutkan kening bingung. Namun kala tersadar akan satu hal buru-buru aku mengangguk. " Ga tau, ponsel Deria lupa ngambil lagi di charge. Kenapa ga di titip Bu Ratih aja?" "Ga ada orang di rumahnya. Gapapa sekalian jalan lewat sini juga. Yaudah, Mas duluan ya" "Iya, hati-hati ya Mas" Mas Yoga mengangguk dan berlalu pergi setelah sebelumnya melempar senyum singkat pada Regina yang ada di sampingku. "Ayo," ucapku. "Itu Kakak, lo?" Aku melirik Regina yang kini tengah menatapku dari samping, dengan binar mata yang tak sungkan ia tutupi. "Iya," jawabku singkat. Sampai sini aku belum paham situasinya. "Parah! Kenalin dong?" terdengar nada antusias di setiap ucapan Regina sekarang "Lo suka abang gue?" tanyaku to the point "Iya, mau gue ajakin PDKT-an" Aku terdiam sejenak mendengar ucapan Regina. Tiba-tiba saja sebuah ide cemerlang melintas di otakku. "Bagus deh! Deketin aja dia. Kasihan abang gue ga ada yang mau kayaknya. Entar gue kasih WhatsAppnya" Kulihat Regina mengangguk antusias dan melompat kecil, mengekspresikan kebahagiaannya akan responku. Melupakan rasa nervous yang tadi menderanya. "Ehh Re bentar deh.." aku menarik tangan Regina untuk ikut menghentikan langkahnya. Padahal tadi ia sedang melompat kecil ketika berjalan. "Kenapa?" ekspresi Regina seketika berubah ikut kebingungan. "Keknya gue harus balik lagi deh ke kantor" "Duit- itu duit dalam amplop ketinggalan diatas meja gue!" Mampus! "Tapi gue mau gladi bersih sekarang" "Yaudah deh, lo duluan aja. Gue mau balik lagi" aku berlari dengan cepat meninggalkan Regina. Seraya berdoa agar belum ada guru atau siswa yang masuk lalu usil untuk mengambil amplop tersebut. *** "Jadi, kalau adik-adik di ajak keluar naik motor sama orangtuanya, jangan lupa diingatkan orangtuanya. Ayahnya atau ibunya buat pake helm." " Adik-adik sekalian juga harus pake helm. Mau jauh, mau dekat. Kapan terjadinya kecelakaan 'kan kita tidak pernah tau" "Oke terimakasih untuk hari ini, Bapak ucapkan Assalammualaikum warrahmatuallahi wabarrakatu" Aku menatap Kanigara yang baru saja selesai menyampaikan materi lalu lintasnya yang lumayan ringan untuk seusia anak SD ini. Sedari tadi mata pria itu terus berpendar, menatap percaya diri seluruh orang yang ada di ruangan ini. Hingga akhirnya tatapan itu selalu terhenti tepat menatapku yang juga tengah serius memperhatikannya. Sesi penyampaian materi telah usai, kini saatnya sesi tanya-jawab untuk para siswa yang berani bertanya. Semua sangat antusias karena siapa yang bertanya akan di beri reward berupa paper bag yang isinya kaos dan peralatan tulis. Aku berdiri, berjalan menjauhi keriuhan aula. Regina selaku MC di buat kewalahan untuk menertibkan kembali acara. Beberapa guru lainnya juga ikut memberikan isyarat agar anak-anak tetap kondusif. Ku lirik pria itu, Kanigara. Ia terus-terusan mengikuti pergerakanku, yang sangat membuatku jadi tak nyaman. Sebenarnya ada masalah apa pria ini? Menyebalkan sekali. Aku sampai di taman samping aula. Memijit pelipisku yang tiba-tiba saja pening dan meraih botol air mineral yang tadi ku bawa. Kuhela napas panjang ketika selesai menenggak air tersebut. Kutaruh kembali botol yang airnya tinggal setengah itu lalu kembali duduk dengan santai seraya melihat ke sekeliling lingkungan sekolah. Lelah juga karena pagi ini sudah maraton gara-gara amplop. Untung saja keadaan kantor guru tadi sedang sepi. Jika saja tadi uang-uang yang ada diatas mejaku tersebut hilang, alamat potong gaji bulan ini! Dan sudah dipastikan Mas Yoga akan mentertawakanku habis-habisan tanpa ada niat membantu pengeluaranku yang terhambat. Minta dengan Ayah pun rasanya sudah tak pantas. Desiran angin tiba-tiba berhembus dan menerbangkan rambutku yang tidak diikat. Mataku sontak terpejam menikmati sapuan angin yang menyejukkan menerpa wajah. Seketika, rasa pening yang tadi sempat hinggap perlahan-lahan menghilang. Hampir beberapa menit aku bertahan dengan posisi mata terpejam seperti ini. Hingga akhirnya mataku perlahan terbuka kala teringat akan ponselku. "Yah ketinggalan ya ponselnya?" Aku menghentikan gerakan merogoh semua saku blazer dan celana bahan yang tengah ku kenakan ini, ketika teringat ponselku yang sedang di charge. Padahal tadinya aku mau melihat pukul berapa sekarang. Untuk kali ini aku menyesal karena tak menyukai memakai jam tangan. "Jam berapa ya?" aku bergumam tak berguna, "Jam setengah satu" "Makasih- eh" Kepalaku sontak mendongak ketika menyadari ada orang lain selain aku disini. Dan orang tersebut sukses membuatku terkejut. "Kenapa di sini, Pak?" aku menggeser dudukku ketika pria itu semakin mendekat. Aroma bergamot dan green mandarin seketika menguar ketika pria itu duduk di sampingku. "Ada larangan?" Dengusan tak suka tiba-tiba keluar begitu saja dari bibirku. Orang ini arogan sekali. Membuatku tak tahan berlama-lama berada di sekitarnya. "Ga ada. Kalau begitu silahkan duduk. Saya permisi" aku berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Gara. Namun baru dua langkah aku berjalan, tiba-tiba saja tubuhku ambruk ke tanah ketika merasakan kakiku di kait sesuatu. Seketika saja aku tersadar dan menoleh cepat kepada Gara. Pria itu menatapku datar dan bersikap seolah tak terjadi apapun. "Rese' banget sih!" aku hampir menangis sekarang. Seumur hidupku tidak pernah aku diperlakukan begini. Justru sebaliknya, aku lah yang sering memperlakukan orang seperti tadi. Pria itu berdiri dan menatapku yang tengah terduduk di tanah mengenaskan, "Ayo," aku menepis tangan Gara yang terulur ke arahku. Memukul kaki pria itu yang ada di depanku dengan sekuat tenaga. Namun sial, pria itu bergeming. Tetap berdiri angkuh tanpa merasa kesakitan. "Minggir!" aku berusaha berdiri sendiri dengan bertumpu pada pot bunga berbahan dasar semen di sampingku. Mengabaikan tatapan datar Gara yang terus mengamatiku. "Udah susah aja masih ga mau terima bantuan orang. Diem jangan bawel" Aku menjerit tertahan ketika merasakan tubuhku melayang di angkat Gara. Ku lemparkan protes akan aksinya ini, namun keheningan pria ini yang hanya ku dapati. "Mau kemana? Turunin! Saya malu tau" "UKS" jawaban singkat Gara membuatku mengusap wajah kasar. Ketika kami melewati aula, beberapa orang di dalamnya terlihat keluar menyaksikan aksi memalukan pria ini yang tengah menggendongku santai. "Saya malu sumpah," Aku menutup wajahku dan mencoba pasrah. Padahal kaki ku tidak terkilir. Aku masih bisa berjalan sendiri tentu saja. "Kamu terlalu sering buat orang lain malu, gimana? Enak?" Aku tertegun mendengar ucapan Gara. Kenapa pria ini seolah-olah mengenal diriku sejak lama? Sebenarnya siapa Kanigara ini? *** Visa Ranico Prabumulih, Sumtera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN