Nice to Meet You, Again

2004 Kata
Haii *** "Wah sibuk banget, Bu Ita" Aku menghempaskan bokongku pada kursi yang ada di samping pintu masuk ruang Tata Usaha, menatap Bu Ita selaku staf Tata Usaha sekolah yang sedang fokus pada komputernya. "Iya, Dei. Soalnya lusa bakal ada penyuluhan lalu lintas, jadi ini lagi sibuk nyiapin berkas sama undangan" aku mengangguk saja mendengar ucapan yang mengandung informasi dari wanita berhijab ungu muda tersebut. "Enggak jemput Resti, Bu" aku memecah keheningan seraya mencomot tempe goreng yang selalu ada di atas meja ruang Tata Usaha ini. Favorit Bu Ita, makanya kalau lapar terkadang aku lari kesini. "Udah di jemput sama Bapaknya, soalnya 'kan Ibu masih sibuk," Fyi, Resti adalah anak Bu Ita yang masih duduk di Taman Kanak-kanak Nol Besar. Anak mahal di Resti. Bu Ita dan suaminya harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkannya melalui program bayi tabung. "Mau di bantuin ga, Bu?" tawarku basa-basi, "Boleh," Yah.. Padahalkan cuma basa-basi. "Habis Ibu print out undangan ini, tolong kamu minta cap di Kantor kepala sekolah buat undangan, sekalian tanda tangan Kepala Sekolah nya" "Itu aja?" Aku masih makan dengan santai seraya menanggapi ucapan Bu Ita. "Nah kalo udah, kamu balik lagi kesini. Masukin amplop undangan yang udah di cap sama tanda tangan KepSek" Bu Ita mondar-mandir mempersiapkan kertas untuk di taruh di printer, ia menatap ku sekilas sebelum kembali sibuk dengan komputernya. "Oke deh kalo gitu," aku mengangguk menyetujui. "Kamu udah habis jam ngajar?" "Ada sih, Bu. Tapi dua jam terakhir, di kelas enam A" Aku menatap jam dinding yang ada di ruang TU, menunjukkan pukul sepuluh pagi lewat seperempat. Itu artinya masih lama untuk sampai ke pukul dua siang. "Nah kebetulan! Tolong sekalian anter ke Polres Metro Jakarta Selatan ya," Aku melongo mendengar ucapan Bu, Ita. Gerakan tanganku yang hendak mencomot kembali tempe goreng sontak terhenti. Bu Ita ini lama-lama ngelunjak ya? "Bu, Tapi-" "Ibu ganti uang bensin" Padahalkan bukan karena bensin, tapi karena aku malas berkendara siang hari begini. Skincare-ku lebih mahal dari uang bensin Bu Ita! Tapi sudahlah, niatkan menolong saja. Salahku juga sok basa-basi mau menolong. Totalitas saja deh bantu orang. "Iya Bu, iya." aku tersenyum kecil menanggapi. *** "Permisi Pak, Saya mau nitip undangan buat kepala divisi Lantas" Aku duduk manis menatap staf administrasi yang ada di balik mejanya ini seraya mengulurkan amplop berisi undangan. "Mbak dari mana?" Laki-laki ber-name tag Adrian tersebut dengan sigap mengambil undangan yang ku ulurkan kepadanya. "Dari perwakilan SD Pelita Insani, Pak" "Sebelumnya udah ada konfirmasi kan sama divisi Lantas?" "Udah kok" Aku mengangguk sopan "Oh yaudah, nanti saya langsung kasih ke divisi Lantas" "Oke makasih ya, Pa-" "Nah itu KasatLantas nya! Kebetulan banget" Ucapanku dipotong begitu saja oleh Pak Adrian ini. Sontak saja aku mengikuti arah pandangnya yang tertuju dibalik punggungku. "Selamat siang, Pak Kanigara" Mataku membulat sempurna melihat siapa pria yang dimaksud. Orang ini? Jadi orang ini Kepala Satuan Lalu Lintas disini? sial sekali bertemu dia lagi! "Sekalian aja nih, Pak. Ada undangan penyuluhan dari SD Pelita Insani. Mbak ini perwakilannya" "Iya," mendadak aku kehabisan kata-kata ketika diperhatikan selama itu. Pria ini sebenarnya sedang memperhatikan apa di wajahku? Apa perasaan ku saja? Matanya sedari tadi tidak berkedip. Mengerikan! "Mana undangannya?" "Ini," aku ikut berdiri ketika Pak Adrian ini berdiri, sedikit menepi dan memberikan ruang agar tak menghalangi keduanya berinteraksi. "Oke besok saya usahakan untuk hadir" Tak sadar napasku berhembus lega ketika ucapan tersebut keluar dari bibir Gara, si Kasatlantas yang semalam membawaku paksa ke dalam mobil patroli. "Terima kasih. Kalau begitu saya pamit undur diri. Selamat siang" Aku tersenyum manis kepada keduanya. Bergegas pergi dengan mempercepat langkahku. Namun ketika aku melewati Gara, pria itu tiba-tiba menahan lengan baju ku seraya berbisik kilat, "Nice to meet you" aku mengerutkan kening bingung akan ucapannya ini. Namun ketika ia telah melepaskan tangannya dilengan bajuku, ia kembali berucap santai sebelum melenggang pergi. "Again," *** Aku mengusap peluh yang menetes di leherku dengan punggung tangan kiriku, sedangkan tangan kananku masih bertengger manis di stang motor. Hari ini sungguh melelahkan. Dari mulai basa-basi menawarkan bantuan, mengajar para siswa badung, sampai dengan kantor Polisi, benar-benar menguras tenaga maupun psikis. Bukannya tidak ikhlas, aku hanya mengeluh lelah kok. Namun ketika hampir sampai pada komplek perumahanku di ujung sana, tiba-tiba palang perlintasan kereta api di depanku menutup diikuti dengan suara khas sirine peringatan. Membuatku dengan sangat amat terpaksa memberhentikan motorku. "Ya Allah, itu keretanya masih jauh banget" aku menggerutu kesal seraya membuka kaca helm. Tiba-tiba saja perasaanku jadi tak enak. "Walaupun udah sore, masih cantik aja nih neng Deria" Aku memutar bola mataku malas ketika perasaan tak enak ini benar-benar terjadi. Kesialan apa lagi ini? "Keringetan gitu juga ga ngurangin kadar cantiknya" "Neng Deria-" "Diem atau Deria terobos ini palang?" Aku mendelik malas kepada Mas Egi, si penjaga palang perlintasan kereta api disini yang selalu menggodaku dengan gombalan receh nan pasaran andalannya. "Jangan dong," ucapan bernada manja namun lebih ke menjijikan jika terdengar oleh telingaku itu, sontak membuatku semakin merengut kesal. "Lagian keretanya masih jauh, Mas Egi! Ya kali lama banget, bakal macet! "Tuh kan tambah cantik walaupun marah-marah" Orang gila ini! Namun ketika aku akan memberikan u*****n kepada Mas Egi, pengendara motor yang berhenti tepat di sebelahku tiba-tiba berteriak heboh. Mereka adalah para remaja tanggung, berboncengan tiga orang dengan menggunakan kaos bergambar 'Banana' dan rok SMP yang belum sempat mereka ganti. Tersenyum menggoda kearah aku dan Mas Egi, seraya berteriak heboh satu sama lain. "Cieee, godain kita juga dong Kak~" Ada apa ini? Tidak waras mereka semua! Aku memfokuskan pandanganku ke depan seraya menutup kaca helm. Berusaha mengabaikan godaan Mas Egi dan tiga remaja di sebelahku yang semakin menjadi. *** Aku sampai di rumah dengan mood yang berantakan. Mas Egi benar-benar mampu membuat mood-ku berantakan dalam sekejap. Bahkan dengan hanya mendengar pria penjaga palang kereta tersebut memangil namaku dengan mendayu-dayu, emosi sudah langsung memuncak dikepalaku. Aku membuka pintu rumah dengan cepat. Rasanya ingin cepat-cepat mandi dan rebahan saja. Namun ketika aku berbalik untuk mengambil sepatuku, tak sengaja mataku melihat motor yang biasa dipakai Mas Reynal bertugas sedang terparkir rapi di pekarangan rumahnya. Tumben Mas Reynal jam segini ada dirumah. Eh- tapi kesempatan nih buat bilang makasih dan minta maaf karena udah nolongin semalam. Kira-kira bawa apa ya kesana? Tidak mungkin tangan kosong kan? Tanganku bergerak mengambil ponsel yang ada di dalam slingbagku. Membuka aplikasi pesan antar guna memesan sesuatu. Mataku terus menelisik dengan fokus setiap gambar yang tampil dilayar ponsel. Dan jariku terus men-scroll layar ponsel dengan pelan. Setelah mendapat makanan yang cocok untukku bawa ke rumah Mas Reynal, aku buru-buru memesannya. Selagi menunggu makanan yang kupesan sampai, aku duduk didepan teras rumah dengan tetap memantau motor Mas Reynal agar tidak pergi. "Lah kok mati?" Tak sengaja mataku menangkap bunga kesayangan Ayah yang tertanam dipekarangan rumah ini sudah kering. Seketika aku panik dan langsung lari kebelakang guna mengambil air. Mas Yoga apa tidak pernah menyiram bunga Ayah lagi berapa hari ini? Bisa mampus aku dan Mas Yoga, jika Ayah pulang nanti lalu melihat bunga kesayangannya mati. "Maafin kami yaa anak bungsu Ayah karena lupa ngasih air. Ayo minum yang banyak" aku bergumam lirih seraya menyiram tanaman tersebut. Beberapa menit kemudian, aku memutuskan untuk kembali duduk seraya menunggu pesananku. Namun hampir saja bokongku hampir menyentuh kursi, badanku kembali menegak ketika melihat Mas Reynal keluar dan menaiki motornya. Mampus! Mana pizza yang dipesan belum datang! "Mas Reynal!" Aku memanggil Mas Reynal seraya berjalan keluar dari pekarangan rumahku, mendekati Mas Reynal yang sudah menaiki motornya. "Kenapa, Dei?" Mas Reynal membuka helmnya dan tersenyum ke arahku. "Mas Reynal mau kemana?" Tanyaku basa-basi. "Mau balik ke kantor. Kenapa?" Waduh malah balik nanya lagi! "Anu.. hmmm Deria cuma mau bilang makasih sama Mas Reynal karena udah nolongin Deria semalam. Maaf banget ya Mas jadi ngerepotin" "Ohh santai aja, Dei. Kan tetanggaan ya memang harus saling tolong" Aku tersenyum setelah mendengar ucapan Mas Reynal, ahh mungkin lebih tepatnya tersenyum setelah melihat standar motor yang dinaiki Mas Reynal kembali turun menyentuh tanah. Bagus Deria. Ayo! Ulur terus waktunya sampai Abang kurir datang! "Tapi Deria pasti ngerepotin banget ya, Mas. Malem-malem gitu bangunin Mas Reynal hehe" aku tertawa sungkan diakhir kalimatku. "Enggak kok, Mas juga belum tidur jam segitu" Mas Reynal tersenyum, seolah memberitahu bahwa 'itu bukan masalah besar' baginya. "Tapi suara Mas Reynal kok serak banget kayak orang habis bangun tidur?" Setelah pertanyaan tersebut keluar dari bibirku, seketika raut wajah Mas Reynal yang tadinya tersenyum tiba-tiba saja berubah menjadi datar, dan mata pria itu bergerak tak tentu arah seolah sedang berpikir. "Itu.. Mas pilek kayaknya semalam. Soalnya udaranya dingin banget. Dei, kalau udah ga ada yang mau dibicarakan, Mas pamit dulu ya mau balik ke kantor" Lah? Lah? Kok pamit? Jangan dulu Mas Reynal!! "EHHH TUNGGU!" Suasana mendadak hening terjadi diantara kami. Baik aku maupun Mas Reynal sama-sama kaget akan teriakanku barusan. Bodoh! Bisa-bisanya aku berteriak kepada Mas Reynal! "Anu Mas.. maksud Deria kalo mau pergi tunggu dulu.. maksudnya jangan lupa baca doa" aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal sama sekali. Canggung. Atau lebih ke malu sepertinya. "Iya udah dari dalam rumah tadi kok bacanya. Mas berangkat dulu ya-" "Mas tunggu dulu! Sebenarnya-" ucapanku terpotong ketika melihat sebuah motor yang baru saja tiba didepan rumahku. "NAH!" "Sini Bang!" Binar mataku tak dapat ku sembunyikan. Senang rasanya ketika melihat Abang kurir pengantar makanan ini datang tepat waktu. "Pesanan atas nama Mbak Deria ya tadi?" "Iya bener" aku menerima makanan tersebut seraya tersenyum lebar. "Makasih ya, Bang" "Iya, sama-sama" Selepas Abang tersebut pergi, aku langsung memberikan sekotak pizza tersebut kepada Mas Reynal dan satu kotaknya lagi untuk diriku. "Ini Mas diterima ya" "Ini dalam rangka apa nih?" Tanya Mas Reynal bingung. "Dalam rangka bilang makasih. Gapapa diambil aja" aku kembali mendekatkan kresek berisi sekotak pizza tersebut kepada Mas Reynal. "Gapapa kali, Dei. Mas ikhlas nolongin kok" "Ihh udah cepet ambil aja. Pegel tau" Mas Reynal tertawa seraya mengambil pizza ditanganku. "Yaudah Mas ambil ya. Makasih" "Deria yang makasih" aku tertawa kecil mendengar ucapan Mas Reynal. "Yaudah pergi sana Mas. Dimakan pizza-nya jangan lupa. Sekali lagi makasih ya" "Kalau gitu Mas pamit dulu ya. Assalamualaikum" "Waalaikumsalam. Hati-hati Mas" Aku masih berdiri dipekarangan rumah Mas Reynal selepas pria itu pergi. Dan setelah motor pria itu tak terlihat lagi di jalan ini, aku memutuskan untuk kembali ke rumahku guna beristirahat. Namun baru selangkah kakiku melangkah, nada suara yang amat menjengkelkan tersebut tiba-tiba muncul dari arah belakang menyapaku. "Indah banget pemandangan sore-sore ya, nduk" Ibunya Mas Reynal ada masalah hidup apa sih?! "Pemandangan kabel listrik yang semrawut itu ya, Bu Ratih?" Aku menunjuk kabel listrik yang ada didekat rumah guna menyindir balik Bu Ratih. "Ya enggaklah. Pemandangan yang baru aja ibu lihat. Adem banget dilihatnya, kayak istri yang lagi nganterin suaminya mau berangkat kerja" tawa cekikikan Bu Ratih membuatku merinding. Bisa-bisanya beliau berpikir sampai sejauh itu. "Bu Ratih bisa ga sih Bu mikirnya ga aneh-aneh. Sesama tetangga akrab tuh hal yang wajar" aku mendelik kesal akan praduga yang Bu Ratih layangkan. "Lebih dari tetangga juga gapapa toh nduk. Kalau jadi keluarga kan lebih bagus" "Bu Ratih apaan sih! Dah lah Deria mau pulang, assalamualaikum" "Waalaikumsalam" terdengar tawa cekikikan diakhir jawaban salam yang Bu Ratih ucapkan. Namun baru beberapa langkah aku pergi, badanku kembali berbalik arah kepada Bu Ratih. "Ini ambil buat Bu Ratih" ku ulurkan kresek pizza yang tadi kupegang kepada Bu Ratih. "Oalah ini buat ibu?" "Ambil aja buat ibu. Deria tiba-tiba mood pengen makan yang lain" "Makasih ya nduk. Duh baiknya" "Iya iya Bu sama-sama. Dah Deria pulang ya, assalamualaikum" aku buru-buru pergi setelah Bu Ratih mengambil pizza yang ku ulurkan. Berbalik pulang kerumah dengan berlari agar cepat sampai. "Waalaikumsalam" ucap Bu Ratih dengan masih tertawa cekikikan melihat tingkahku. *** Haii terima kasih yaa udah baca Nodus Tollens^^ Jangan bosan-bosan yaa hehe. Oh iya jangan lupa mampir dan baca cerita-ceritaku yang lain yaa. Yang lain juga ga kalah seru kok. Rekomendasi dari aku jangan lupa baca yang judulnya "Gaze". Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN