***
Aku men-scroll kontak di ponselku dengan teliti. Berpikir dengan keras siapa yang kira-kira cocok dimintai bantuan.
Ayah? Oh itu terlalu jauh,
Bibi Raya? Dia melihatku saja seolah mau muntah,
Bu Ratih? Ini sudah malam. Tidak sopan meminta bantuan malam-malam begini.
Mas Yoga? Oh cari mati tentu saja,
Mas Reynal? Ah-
Oke, ayo kita coba!
Ku tekan ikon gagang telpon di sudut kiri dekat nomor kontak Mas Reynal, kemudian mulai mendekatkan ponselku ke telinga. Terdengar nada sambung yang membuatku semakin berdebar. Kira-kira Mas Reynal mau nolongin ga ya? Kan malu juga kalau ditolak gitu aja. Mana ini tengah malam.
'Nomor yang anda tuju -'
Aku spontan melempar ponselku ke lantai kala suara khas operator wanita tersebut terdengar. Saking kagetnya kalau saja tadi itu suara Mas Reynal yang mengangkat. Aku belum siap, tapi bagaimana pun aku harus pulang.
Setelah tadi melakukan cek kadar alkohol aku di nyatakan negatif. Dan untungnya remaja yang menumpahkan minuman di bajuku tadi angkat bicara akan kronologi yang sebenarnya. sekarang akupun di perbolehkan pulang.
Oke Deria mari kita coba sekali lagi. Jangan gugup relax saja. Minta tolong tetangga sendiri ga seberdosa itu kok.
Nada sambung kembali terdengar, mataku terpejam menunggu dengan harap cemas. Aku takut mendengar penolakan terhadap harapan terakhir yang bisa ku mintai tolong tersebut. Malu juga jika ditolak ketika minta pertolongan.
Cukup lama aku menunggu sampai akhirnya kali ini di angkat! Di angkat pemirsah!
"Hallo, kenapa Dei?"
Suara Mas Reynal terdengar seperti orang yang habis bangun tidur, aduh aku jadi tidak enak menelpon malam-malam begini.
"Iya hallo Mas, hngg Mas lagi dimana?" aku bertanya dengan hati-hati,
"Di rumah,, kenapa?"
"Mas Tolongin Deria dong."
"Kamu di mana?"
"Deria di kantor polisi nih, nanti Deria ceritain deh kalo Mas Reynal dateng. Tapi jangan kasih tau Mas Yoga ya."
"Kamu ngapain di sana?"
"Mas pokoknya dateng dulu, sama tolong bawain STNK motor Deria ya Mas."
"Oh oke-oke"
"Makasih ya Mas, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aku bernapas lega seraya menyandarkan punggungku ke kursi tunggu yang kududuki sekarang. Mengusap wajahku kasar dan terus bergumam penuh syukur karena Mas Reynal dengan baiknya masih mau membantuku walaupun sudah larut malam seperti ini. Tetangga paling the best lah pokoknya
Namun saat tengah nyaman-nyamannya bersandar di kursi besi ini, panggilan alam yang sudah terjadi berulang kali tadi pun kembali menerpa dan mengharuskan aku berdiri ke toilet. Membuatku mengumpat kesal karena kebodohan diriku.
Sudah hampir sepuluh kali aku bolak-balik toilet gara-gara air yang ku teguk dengan brutal saat di warung tadi. Dan ini benar-benar mengganggu setelahnya. Aku menyesal, benar-benar menyesal.
"Toilet lagi?" Polisi dengan buff di wajahnya tadi belum juga membuka buff tersebut walau sudah berada di ruangan. Kenapa? Takut di kenali? Cih!
"Pinjem ya Pak" ku tampilkan senyum terpaksaku yang ku buat semanis mungkin.
"Tahan aja sampe pulang"
Bisa meledak kantung kemihku. Pria ini gil-? WTF!
Makian tertahan di mulutku kala melihat buff yang tadi terus melekat di wajahnya ia lepas. Wajahnya tidak terlalu tampan, namun secara keseluruhan pahatan wajahnya benar-benar mendekati tipeku. Alis tebal, hidung mancung, bibir tebal yang sexy, serta kulit wajahnya yang bersih dan warnanya selaras dengan kulit badannya yaitu sawo matang. Membuatku gagal fokus dan hampir kencing di celana sekarang juga.
Sadar akan mulutku yang sedikit menganga, aku buru-buru menutupnya dan menggelengkan kepalaku cepat menepis pikiran bodoh akan pria ini yang melintas.
"Pokoknya saya pinjem toiletnya!" aku buru-buru masuk ke dalam toilet yang ada di depanku ini dan menutupnya. Namun sebelum pintu tertutup sempurna, dapat kudengar samar tawa garingnya yang sialnya terdengar sangat merdu di telingaku.
***
"Mas Reynal!" aku melambaikan tangan semangat dan tersenyum lebar kala melihat sosok Mas Reynal yang berjalan memasuki loby. Namun kala melihat sosok dibelakang punggung Mas Reynal, perlahan-lahan senyumku luntur dan tanganku menggantung lemas.
Mas Reynal berkhianat! Sialan!
"Mas Reynal kok bawa Mas Yoga sih? 'kan Deria mintanya Mas aja yang dateng" aku menarik Mas Reynal dan berbisik kecil seraya melirik Mas Yoga takut.
"STNK motor kamu 'kan di rumah kamu. Gimana Mas mau ngambil?"
Bodoh! Ini benar-benar bodoh! Tahu begitu aku langsung menghubungi Mas Yoga saja dari pada repot-repot mengganggu Mas Reynal larut begini. Di marahi ditelpon juga aku rela! Kalau begini 'kan aku jadi merepotkan dua pria sekaligus.
"Bandel kamu ya? Kamu mau Mas pukul?"
"Ampun Mas! Ampun!" aku bersembunyi di belakang punggung Mas Reynal dan menghindari dari jangkauan Mas Yoga. Aku takut saat melihat mata Mas Yoga. Tersirat jelas kilat kemarahan dan kekhawatiran dimata pria itu ketika mata kami bertemu.
Seumur hidupku memang tidak pernah di pukul oleh kakakku itu, tapi mendengar ancamannya barusan entah mengapa membuatku gemetar ketakutan.
"Sini kamu! nyusahin orang aja bisanya"
"Ga mau! Nanti Mas pukul Deria" dibalik punggung Mas Reynal, aku memegang ujung kaos yang dikenakan pria itu dan tetap berlindung dibelakangnya.
"Udah Mas, kasihan Deria. Nanti di tanyain bener-bener aja di rumah. Pasti ada alasan dia kenapa bisa sampai sini" aku mengangguk semangat mendukung perkataan Mas Reynal. PanutanQ lah.
Kulihat Mas Yoga mendengus kasar dan menatapku datar. Oke aku yakin malam ini tidak akan bisa tidur nyenyak karena ocehannya akan bertahan sampai pagi.
"Habis Patroli malam, Ra?" aku mengikuti arah pandang Mas Reynal,
"Iya Nal"
Pria dengan buff di wajahnya tadi? Mas Reynal kenal? Bodoh! Ini 'kan kantor polisi. Tentu saja saling kenal. Keduanya 'kan polisi.
"Loh? Kanigara?" aku mengernyitkan dahiku bingung saat Mas Yoga ikut-ikutan sok kenal dengan pria ini.
"Mas Yoga ya?" Mas Yoga mengangguk singkat dan membalas jabat tangan pria yang namanya baru saja kucuri dengar tadi, Kanigara.
"Apa kabar?" Benar-benar sok kenal ya Mas Yoga ini?
"Alhamdulilah Mas, baik."
"Mas Yoga kenal?" tak tahan dengan rasa kepo yang memberontak, aku buka suara.
"Loh kamu ga kenal?" aku menggeleng bodoh menjawab pertanyaan Mas Yoga.
"Iya" kali ini aku mengangguk menjawab pertanyaan Mas Yoga.
"Hmm.. Inikan polisi yang tadi bawa aku kesini. Padahal aku ga salah apa-apa" aku mendengus sebal ketika mengingat kilas kejadian tadi.
"Kamu masih kenal sama adik Mas, Ra?" kali ini pertanyaan tersebut tertuju pada Kanigara. Dan pria itu hanya tersenyum menjawab pertanyaan Mas Yoga.
"Siapa sih?!" aku bertanya jengkel. Sepertinya hanya aku yang tidak mengenal pria ini.
"Udah nanti kenalan aja kalau belum kenal"
"Ga!" Mas Yoga tertawa kecil mendengar jawaban sewotku.
Hingga akhirnya ketiga pria dihadapanku ini sibuk berbincang satu sama lain. Aku yang berada disekitar mereka tak mendapat atensi sedikitpun. Hal ini membuatku jengkel dan mendadak bad-mood. Dasar para pria.
"Udah yuk pulang, Deria ngantuk" aku berjalan kearah Mas Yoga dan bergelayut dilengannya. Mataku terasa berat sekarang. Rasanya ingin cepat-cepat membersihkan badan lalu tidur dengan nyenyak.
"Ga. Kamu ga boleh tidur pulang ini. Mas masih marah sama kamu" jawaban Mas Yoga barusan membuat mataku yang awalnya mengantuk kembali terbuka lebar.
"Jahat!" aku berteriak kesal dan berjalan keluar dengan kaki yang menghentak-hentak.
***
Pukul enam lewat sepuluh menit, aku keluar dari kamar dengan wajah muram. Tidurku tak nyenyak karena harus bolak-balik kamar mandi demi mengeluarkan semua air yang telah kuminum. Planning mau ndusel-ndusel manja sama guling, malah harus bolak-balik WC hampir semalaman. Hampir saja semalam aku putus asa dan berniat untuk tidur di kamar mandi saja.
Setelah sholat subuh, aku tidak tidur lagi. Berhubung kamar ku tidak ada kamar mandi, jadinya sambil menunggu panggilan alam 'lagi' aku memutuskan untuk memasak sarapan untuk aku dan Mas Yoga. Biasanya juga Mas Yoga yang sering masak sarapan, tapi untuk kali ini aku ingin mengambil hatinya saja biar tidak terlalu meledak-ledak kalau nanti marah lagi.
Mas Yoga membiarkan aku tertidur terlebih dulu semalam dan menahan kemarahannya sampai pagi. Tidak apa-apa. Aku sudah mempersiapkan diriku pagi ini. Aku pasrah dan akan jujur pada apa yang terjadi semalam.
"Kamu yang siapin?" kulihat Mas Yoga sudah duduk manis di kursi yang biasa ia duduki seraya memainkan ponselnya.
"Iya, gapapa sayur asem sama telur mata sapi aja?"
"Ga masalah"
Suasana hening, kami makan dalam diam. Entah ini strategi Mas Yoga biar tak merusak napsu makan kami saja, atau ia sedang memupuk emosi, aku tak tahu. Namun ketika nasi di piringku tersisa kira-kira satu suapan lagi, Mas Yoga kembali buka suara.
"Cuci piring Mas sekalian ya" aku mengangguk saja seraya memasukan suapan terakhir ke mulutku.
"Kenapa bisa lupa waktu pulang kemarin?"
Aku membelalakkan mataku ketika mendengar kalimat pengawalan itu muncul juga. Oke. Introgasi di mulai!
"Dei awalnya Cuma pengen makan aja. Ternyata kemaleman ga sadar"
"Kok bisa minum air banyak banget kamu?"
"Deria haus"
"Ada yang ganggu pikiran kamu kemarin?"
Aku diam mendengar pertanyaan Mas Yoga. Jujur sekarang? Belum siap. Tapi bagaimanapun Mas Yoga harus tahu kalau aku sudah putus sama Ken. Tidak mungkin di tutupi lagi dengan kebohongan. Aku tak pandai berbohong masalahnya.
"Deria putus sama Ken"
Hening. Terjadi keheningannya yang cukup panjang diantara kami. Entah apa yang ada dipikiran Mas Yoga ketika mendengar aku berucap begitu. Namun tiba-tiba helaan napas Mas Yoga terdengar jelas. Ku tunggu respon selanjutnya dari pria itu. Namun apa yang ku duga-duga ternyata tidaklah sesuai perkiraan.
"Jadi sok mabuk-mabuk gitu pake air mineral? Cupu banget kamu" tawa garing Mas Yoga terdengar jelas memecah keheningan.
"Ga sehat tau Mas kalo alkohol. Lagian Deria juga ga yakin Mas Yoga masih bisa ketawa-tawa gini kalau Deria beneran neguk alkohol" Mas Yoga mengangguk singkat membenarkan ucapanku.
"Masih kembung perut kamu?"
"Agak mending Mas, semalam tidur bentar gara-gara kencing mulu" Tawa Mas Yoga semakin meledak mendengar penjelasanku. Memang membawa malapetaka sekali sih kebanyakan minum air. Untung saja aku tidak sampai keracunan air karena minum air yang terlalu banyak.
Dan untuk respon Mas Yoga, pria itu tidak bertanya lebih dalam lagi mengenai hubunganku dan Ken yang kandas. Pria itu langsung mengalihkan topik yang kita berdua bahas dengan bertanya hal-hal lain.
Mas Yoga memang the best lah! Paham sekali jika aku sedang tidak mau membahas hal tersebut.
"Mas ga mau nanya kenapa aku bisa di bawa ke kantor polisi?"
"Udah tau," jawaban Mas Yoga membuatku terkejut. Bagaimana bisa?
"Ha? Mas Yoga tau dari siapa?"
"Udah, Mas mau berangkat. Motor kamu jangan lupa dipanasin"
Mas Yoga meninggalkan aku di meja makan ini dengan berjuta kejanggalan dan tanda tanya. Aku kan belum cerita? Sama Mas Reynal juga belum. Terus gimana bisa tahu?
***
"Pagi Deria.."
Loh? Iya lupa nyapa Bu Ratih, biasanya aku yang sering nyapa dia duluan. Pagi ini kebalikan, tak biasanya juga.
"Iya pagi Bu.."
"Semalam ngapain sama anak Ibu?" senyum menggoda diwajah Bu Ratih dapat kulihat jelas dari tempatku berdiri saat ini. Padahal jarak kami terbilang cukup jauh. Dia di pekarangan rumahnya, dan aku di pekarangan rumahku.
"Ngapain?" aku sedikit memutar kilas balik kejadian semalam yang berhubungan dengan Mas Reynal, cukup lama sampai akhirnya aku ingat. Bertepatan dengan Bu Ratih yang kembali membuka suara.
"Ga usah pura-pura lupa. Reynal kemarin tengah malam kayak buru-buru banget. Berisik gitu kamarnya, semua barang jatuh sama dia. Pas di tanya mau kemana, katanya buru-buru mau jemput kamu"
Aku membelalak mendengar perkataan Bu Ratih. Seburu-buru itu kah? Emmm maksudku semerepotkan itu kah aku? Duh jadi ga enak gini kan.
"Mas Reynal buru-buru ya, Bu?"
"Iya, tapi gapapa kok. Toh, kalau malam juga dia susah tidur."
Shit! Malam itu kala aku menelponnya suara Mas Reynal terdengar serak seperti habis bangun tidur. Itu artinya ia baru tidur sebentar kalau dia susah tidur malam. Dan itu pasti benar-benar mengganggu kenyamanan.
"Duh, Deria harus minta maaf nih, Bu. Mas Reynal-nya mana Bu?"
"Ada lagi siap-siap mau berangkat"
"Pulangnya aja kali ya? Deria udah agak telat kayaknya ini. Nanti Deria minta maaf langsung aja sama Mas Reynal."
"Oh gapapa. Yaudah sana berangkat. Nanti telat lagi" Bu Ratih tersenyum manis kepadaku.
"Makasih ya Bu, Deria pergi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam- eh Deria!"
Aku mencengkram rem tangan motorku dengan mendadak kala mendengar panggilan Bu Ratih. Ku tolehkan kepalaku kebelakang seraya membuka kaca helmku.
"Apa?"
"Jadi ngapain?"
"KEPO!!" aku mendadak mual melihat kedua alis Bu Ratih yang naik turun, lengkap dengan senyum menjijikannya yang ia perlihatkan padaku.
Ku gas kembali matic biru kesayanganku ini membelah jalanan . Namun ketika seperempat perjalanan, aku baru menyadari bahwa jawabanku tadi bisa saja membuat Bu Ratih makin salah paham. Sialan!
***
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan