Ringkus

1526 Kata
*** Disinilah aku. Di sebuah warung nasi goreng pinggir jalan yang buka di kala sore hari. Di sepanjang jalan ini memang banyak warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman ringan, ataupun sejenis rokok juga. Banyak muda-mudi yang sering nongkrong di kala menjelang maghrib seperti ini. Entah itu untuk makan ataupun sekedar cuci mata karena lalu lalang motor yang sering di naiki oleh gadis-gadis remaja tanggung dengan pakaian 'berani' yang mereka kenakan. Berbeda dengan wajah semringah yang para muda-mudi lainnya tampilkan saat bercanda dengan teman mereka. Aku yakin wajahku sekarang jauh dari kata manis, melainkan mendekati tragis. Mood-ku di buat naik turun oleh orang-orang menjengkelkan yang ada di sekitarku. Dan inilah puncaknya. Aku melampiaskan rasa kekesalan sekaligus kekecewaan ini dengan cara memesan makanan dan berbotol-botol air mineral. Mejaku sekarang sudah penuh dengan tiga piring nasi goreng super pedas dan delapan botol air mineral ukuran satu koma lima liter. Perlahan ku sendok sepiring nasi goreng yang terdekat dari jangkauanku. Ketika rasa pedas dan panas mulai memenuhi rongga mulutku, akupun mulai semakin bersemangat di suapan selanjutnya. Kurasakan mataku berair dan pipiku mulai basah. Ingus yang berasal dari hidung pun berlomba-lomba turun antara lubang kanan dan yang kiri. Tak ada niat sedikitpun untuk tanganku mengelap salah satu di antaranya, sehingga membuat orang-orang di sekitarku memandang jijik akan wajah 'Berair' ku. Tapi aku tak peduli. Aku sedang patah hati sekarang. Dan sikap selanjutnya yang harus ku lakukan adalah Masa Bodo. Entah ini air mata kesedihan atau kepedasan aku tak peduli. Tanganku dengan brutal terus menerus memasukkan nasi goreng super pedas ini ke mulutku. Di susul dengan tegukan air setelahnya. Tak terasa, dua piring nasi goreng sudah tandas dan hanya menyisakan sedikit minyak saja di piring tersebut. Botol air mineral juga baru tiga botol yang ku habiskan. Itu tandanya sisa lima botol lagi. Kuputuskan untuk membeli makanan ringan di warung terdekat untuk menemaniku 'mabuk' malam ini. Setelah membeli beberapa camilan untuk ku makan, aku kembali duduk di tempatku tadi. Tanpa sadar otakku kembali mengenang masa-masa indahku bersama Ken. Membuat air mataku mengalir kembali dan meraung keras. "Mbak.. Mbak.." aku mengangkat wajahku dari atas meja kala merasakan tepukan di bahuku. Ternyata pemilik tempat makan ini yang menghampiriku. "Kenapa Bang?" aku mengelap mataku yang berair dengan lengan baju guna memperjelas penglihatan. "Istighfar Mbak. Mbak mabuk ya?" "Cuma minum air aja kok Bang. Saya ganggu ya Bang?" "Enggak Mbak. Tapi tolong suara nangisnya jangan kencang-kencang. Soalnya nanti pelanggan saya yang lain keganggu" "Oh yaudah maaf ya Bang, saya ga bakal teriak-teriak lagi kok" "Iya Mbak, saya permisi dulu ya" Aku mengangguk saja dan kembali meneguk air langsung dari bibir botol besar ini. Dering ponselku dari dalam tas membuat aku kembali mengalihkan fokusku. Id Caller 'Mas Yoga' yang terpampang di layar ponsel berkedip-kedip minta di angkat. Setelah beberapa pertimbangan, aku memutuskan saja untuk mengangkatnya. Kasihan juga ia khawatir. Kan jarang sekali aku pulang mengajar sampai malam begini. "Iya Mas?" "Pulang" widih ga santai banget ini nada suara Mas Yoga. "Iya bentar lagi" "Pulang cepet." "Iya-iya bawel" aku mendelikkan mataku malas ketika merasa akan ada tanda-tanda diceramahi. "Kamu kemana aja? Ini ud-" flipp Ku matikan sambungan tersebut secara sepihak dan buru-buru mencabut baterai ponselku. Ya kali aku lagi berantakan gini di tambah denger ceramah pula dari Mas Yoga. Mana sudi aku. "Biasaan banget nih orang. Kan gue jarang keluar malem sendirian. Baru juga jam segini- SEGINI?!" aku membelalakkan mataku kaget kala menatap jam digital yang ada di sudut layar ponsel. "What the- anjir jam sepuluh? Ya kali gue selama itu ngegalau di sini? Ken sialan!" Aku buru-buru berdiri dari dudukku dan mengemasi barang-barang pribadiku yang tercecer di atas meja ke dalam sling bag. Namun di tengah-tengah aksi buru-buruku ini, seseorang dengan sialannya menabrakku dan menyebabkan minuman yang ada di tangannya tumpah mengenai bajuku. "Lah anjir! Woi dek lihat-lihat dong baju gue basah" aku berteriak heboh karena kaget sekaligus kesal. "Maaf Mbak" aku mendelik tajam pada remaja laki-laki di depanku ini. ku perkirakan ia masih duduk di bangku SMA sepertinya. "Lah apaan nih? Alkohol? Lo minum?" aku mencium bau alkohol yang sangat menyengat yang menguar di sekitar bajuku akibat ulah anak ini. Sial! Kalau aku pulang bisa di sangka mabuk nanti sama Mas Yoga. "Maaf Mbak beneran saya minta Maaf" "Minta Maaf doang mah-" Aku tiba-tiba menghentikan omelanku kala mendengar suara ramai dari arah ujung jalan. Mataku langsung saja menelisik lebih jauh ke arah sumber suara ramai tersebut. Namun seketika mataku membelalak lebar kala melihat para remaja laki-laki seusia anak di depanku ini datang bergerombol seraya menyerukan kata-kata kotor dan kasar. Di tangan mereka masing-masing memegang senjata tajam berupa arit dan besi-besi runcing yang di acung-acungkan ke arah gerombolan anak laki-laki yang duduk di sudut warung nasi goreng ini. Mereka mau tawuran? Yang benar saja astaga. "Itu temen-temen kamu?" tanyaku pada anak di depanku ini. "Bukan Mbak. Itu sekolah musuh kita. Kirain mereka gertak aja mau nyerang tempat nongkrong kita. Sembunyi Mbak! Sembunyi! Itu di bawah meja aja di sudut" aku yang panik pun langsung menuruti perkataan remaja ini. setelah aku duduk di bawah meja dengan memeluk sling bag ku erat, remaja tersebut menutupi tempat persembunyianku dengan menggunakan kursi. Oh My God! Dia baik ternyata. Aku jadi menyesal memarahinya. Aku memejamkan mataku erat kala mendengar suara-suara mengerikan benda tumpul dan benda tajam saling berbenturan. Tuhan.. cukup hubunganku saja yang berakhir, nyawaku jangan. Aku belum siap, terus terang saja. Namun sekitar lima belas menit berlalu, tiba-tiba suara sirine mobil polisi membuatku membuka mata dan mengintip di celah meja. Kulihat beberapa anak sudah lari tunggang langgang di kejar para anggota polisi. Aku yang melihat suasana mulai aman pun mulai menampakkan diri dengan berdiri. Aku berniat melaporkan keluhanku pada para polisi yang sudah datang ini. Biar mereka tahu betapa nakalnya remaja jaman sekarang akibat pengaruh alkohol. "TIARAP SEMUA! TIARAP!" suara lantang dari para anggota polisi bergema di suasana yang mendadak sunyi ini. "BUKA BAJU KALIAN SEMUA! BUKA!" "Hee kamu itu yang cewek siapa? Kamu cewek kok ikut tawuran?" Aku melongok di tempatku dan dengan segera menggelengkan kepala cepat kala mendengar teguran dari salah satu anggota polisi yang ada disana. "Bukan Pak. Saya tadi awalnya makan disini kok" "Jam segini kok masih keluyuran. Udah sini kamu!" Sial! Kenapa bisa begini! "Nah ini, kamu tawuran kan?" aku kembali menggeleng kala sudah mendekat ke arah salah satu anggota polisi yang tadi memanggilku. "Sumpah enggak. Saya makan tadi disini sampe lupa waktu Pak" kuhiraukan hiruk pikuk polisi dan remaja yang sedang tanya-jawab tentang kronologi sebab terjadinya tawuran. "Alah alesan aja kamu" "Ada apa?" aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Seorang rekan Pak polisi di depanku ini datang menghampiri kami. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dari polisi yang memanggilku tadi dan separuh wajahnya tertutupi buff. Aku hanya mampu melihat batang hidung, dahi dan matanya yang tajam. Ia terlihat masih muda mungkin jika buff di wajahnya di lepas. "Ini nih, cewek malam-malam keluyuran." Aku buru-buru menggeleng cepat kala tuduhan tak berdasar itu kembali mengarah padaku. "Enggak kok, udah saya bilang saya tadi cuma makan disini. Ini juga mau pulang, kakak saya nyariin." Aku melirik para remaja yang tadi tiarap sudah berdiri dan digiring satu persatu menaiki mobil patroli. Ada juga yang dibawa menggunakan motor petugas. Oh astaga aku tidak mau ikut terseret lebih jauh. "Biar saya yang urus" mendengar ucapan polisi dengan buff di wajahnya ini, polisi pertama yang memanggilku tadi mengangguk dan berjalan menjauh ikut menggiring para remaja yang beberapa sulit di atur tersebut. "Saya beneran ga tau apa-apa" aku berucap lemah kepada orang di depanku ini. Kulihat ia tak menjawab, namun kakinya yang panjang itu maju satu langkah menepis jarak antara kami. Mau apa orang ini? Tubuhnya mulai condong ke arahku, membuat aku ikut memundurkan kepalaku spontan akan ulahnya. "Kamu minum?" Aku memutar ulang pertanyaannya. Minum? Iya- jika air putih biasa. Tapi? "Bau alkohol nyengat banget. Udah ayo kamu ikut, ga usah pura-pura polos" "Enggak Pak, ini anak SMA tadi yang numpahin ke baju saya" aku meronta kala akan di giring memasuki mobil. Namun aku kalah, akhirnya bokongku mendarat juga di jok belakang mobil ini. "Bentar-bentar.." aku menahan polisi dengan buff di wajahnya ini kala akan menutup pintu mobil dari luar. "Apa lagi?" "Motor saya gimana?" "Bawa surat-suratnya ga kamu? Saya periksa di sini sekalian, biar kalo kamu terbukti ga salah motornya bisa langsung pulang sama kamu" "Enggak, ketinggalan" Brakk! Pintu mobil di tutup dengan keras tepat di depan wajahku oleh pria sialan ini! "Ini salah paham. Saya ga minum alkohol, saya Cuma minum air putih. Pak! Pak-! Bukain pintunya saya mau pulang!" "Udah diem kamu ga usah teriak-teriak!" Mulutku bungkam seketika kala bentakan dari salah satu anggota polisi yang ada di samping kemudi bergaung keras di mobil ini. Sialan! Kenapa aku jadi ikut di ringkus begini! Gara-gara pria blasteran Jepang itu aku jadi lupa waktu. Bodohnya aku mau saja menangisi pria dengan kenangannya itu. Imbas sial pria itu tak main-main rupanya. Dan sialnya lagi kantung kemihku berasa ingin meledak! Berapa lama lagi perjalanan ini berakhir? Oh astaga! *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN