Aku mengemasi barang-barang milikku ke dalam tas ransel dengan malas. Saat ini hatiku masih panas. Anak-anak kelas tiga B selalu saja mampu membuat mood-ku jatuh sedalam-dalamnya. Ada saja tingkah mereka yang membuat aku harus berteriak kencang untuk menyuruh setiap siswa diam. Dan lagi-lagi kali ini hal menjengkelkan yang mereka perbuat adalah saling mengatai nama orang tua satu sama lain. Hal ini bermula dari penjelasanku akan seorang nama tokoh dalam teks narasi drama musikal yang bernama 'Paiman'.
"Jadi, Paiman ini adalah seorang petani baik hati yang menolong puteri kerajaan yang cantik jelita"
"Wah nama Bapak Rezi kan itu? Paiman!"
"Hei Nino! Tidak baik bicara begitu nak" aku menegurnya secara halus.
"Hee, Suparman aku ga ada masalah sama kamu"Kulihat Rezi, sang pemilik nama ayah bernama Paiman tersebut berdiri dari kursinya dan berkacak pinggang ke arah Nino
"Paiman.. Paiman.." Nino terus memancing emosi Rezi, Oh ini akan terjadi keributan lagi pasti.
"Suparman.. Suparman.. Suparman.."
Aku memijat pelipisku pelan,
"Paiman.. Paiman.. Paiman.. Paiman"
Kuusap wajahku kasar,
"Suparman.. Suparman.. Suparman.. Suparman"
Kuhembuskan napasku kasar, dan-
"Paiman.. Pa-"
Brakk!
Ku banting buku paket tebal yang sedari tadi ku pegang ini, lalu menatap ke arah dua bocah pentolan kelas ini dengan garang. Membuat keduanya diam, perlahan-lahan kembali duduk dan menunduk.
"STOP IT! REZI, NINO!"
Aku meledak marah, sebagai guru yang sedang mengajar di kelas merasa tidak dihargai rasanya.
"Mau orang tua kalian Ibu panggil lagi?" Keduanya kompak menggeleng, membuat aku kembali menghembuskan napas kasar.
Kulirik jam dinding yang ada di belakang kelas, sepuluh menit lagi untuk waktu berakhirnya kegiatan di sekolah.
"Untuk kalian berdua, rangkum materi Bab dua seringkas mungkin. Minggu depan bertemu Ibu Deria lagi tugas kalian harus selesai."
Ya begitulah awal mula jatuhnya mood-ku hari ini. Dua bocah lucu namun nakal itu disetiap pertemuan kelasku selalu saja berulah. Sudah berapa kali rasanya aku merekomendasi pihak BK untuk memanggil kedua orangtua anak tersebut. Namun hasilnya masih sama. Keduanya hanya berubah di dua hari pertama setelah mereka dan orangtua mereka di berikan pencerahan. Setelahnya? Ya begitu.
Sudah seperti siklus yang memuakkan. Berulah - dipanggil kedua orangtuanya- diberi pencerahan- kedua anak tersebut berubah sebentar - lalu berulah lagi.
Jika saja aku sekarang mengajar ditahun sembilan puluhan. Sudah kupastikan kedua anak tersebut akan babak belur kupukuli menggunakan mistar panjang.
Dering ponsel mengalihkan perhatianku dari barang-barang pribadiku yang sedang ku rapihkan. Terpampang id caller dengan nama 'My Love' di layar ponselku yang sedang berkedip-kedip. Segera ku sambar ponsel tersebut dan mengangkatnya.
"Iya, Ken?"
"Udah pulang?"
"Iya ini lagi beresin barang-barang aku. Bentar lagi langsung pulang" aku menjepit ponselku diantara bahu dan telingaku seraya kembali membereskan barang-barang pribadiku untuk dibawa pulang.
"Ohh yaudah jangan lama"
"Kenapa?"
"Aku nunggu didepan soalnya"
"Apa? Kamu di depan?" Mataku terbelalak mendengar ucapannya. Buru-buru kumatikan sambungan telepon tersebut dan mempercepat gerakanku merapihkan barang-barang.
Setelah selesai merapihkan barang-barang, aku buru-buru mengambil cushion dan lipstik yang ada di tasku untuk touch up sebentar.
Yakali bertemu pacarku kusam sekali begini.
Entah mengapa tiap kali akan bertemu pria itu, rasa semangat dan bahagia selalu membuncah. Apa mungkin karena kami yang jarang bertemu ya? makanya setiap akan bertemu membuatku jadi excited begini. Karena Ken ini orangnya super duper sibuk sekali. Ia seorang manager perusahaan asing dan juga seorang influencer di platform YouTube. Sudah terbayang kan sibuknya seperti apa?
***
Aku berlari dengan semangat menuju ke arah gerbang sekolah ini, tepat di mana kekasihku sedang menunggu. Mood yang tadinya jatuh seolah naik begitu saja hanya karena sebuah kalimat 'aku menunggu di depan' yang diucapkan oleh Ken. Aishh pria itu benar-benar penuh akan kejutan. Makin dibuat gila saja aku jadinya!
Dapat ku lihat seorang pria berkulit kuning khas Asia Timur yang masih mengenakan pakaian kantornya itu mendongakkan kepalanya kala mendengar langkah kaki ku yang bar-bar ini. Menyadarinya, aku tersenyum malu kearah Ken.
"Kok tiba-tiba sih? Aku kan bisa minta anter pagi tadi sama Kak Yoga kalo kamu mau jemput pulangnya. Motor aku gimana?" Jelasku panjang lebar.
"Ken?" Aku melambaikan tanganku ke depan wajah Ken kala pria itu hanya diam menatapku tanpa bicara.
"Ada yang mau aku omongin," Ken menghela napasnya berat, ia memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan.
"Apa?"
Mengapa seperti ini? kenapa pria ini jadi aneh? Ku mohon apa yang akan ia sampaikan beberapa detik ke depannya bukanlah hal buruk yang akan berdampak pada sesuatu yang penting.
"Kita akhiri sampai disini saja hubungan ini."
Aku tertegun, masih cukup jelas apa yang baru saja pria itu ucapkan. Pernyataan macam apa itu? Aku tahu pria ini selera humornya tinggi. Dia tidak sedang melawak demi menghiburku 'kan? Tapi kalaupun berniat menghibur dengan cara begini aku sama sekali tak terhibur.
"Kamu tau aja kalo aku lagi bad-mood. Makasih ya tapi lawakan hari ini garing Ken hehe" aku tertawa hambar.
"Aku serius Ra"
Bagai petir di siang bolong. Tatapan dan nada bicara itu benar-benar tidak mencerminkan jika ia sedang bercanda. Namun aku masih optimis dengan mengira bahwa Ken sedang bercanda dan berniat menghiburku.
Ku lirik ke arah kiri dan kanan lingkungan depan Sekolah Dasar ini. Siapa tahu Ken sedang membuat video prank untuk Youtube Channelnya. Pria ini 'kan jahil dan aktif di platform YouTube.
"Ra aku serius ga lagi bercanda" Mungkin Ken menyadari ketidakpercayaanku atas ucapannya barusan. Dan itu benar. Pria itu selalu tepat menebak diriku.
"Kenapa?" sial! Kenapa suaraku jadi lirih begini?
"Aku bakal menetap di Jepang." Ken berucap lancar, namun matanya tidak menatapku. Dan aku tahu ia bohong. Begitu cirinya jika ia sedang berbohong.
"Bukan karena wanita lain?" sekilas raut itu berubah tegang, namun secepat cahaya pula kembali berubah datar. Oke, aku tau kebenarannya hanya dalam beberapa detik saja. Kamu tidak pandai berbohong Ken.
"Bukan,"
"Oke" Aku membalas cepat ucapan laknatnya tersebut, secepat aku membuang muka untuk tidak menatap pria di depanku ini lagi.
"Maaf Ra.. aku pergi."
Setelah kepergian Ken dan Mobilnya, kepalaku masih tertunduk dalam tidak sanggup menatap ke arah depan. Entah mengapa rasanya ingin sekali menangis. Apalagi asap knalpot mobil Ken masih belum hilang juga, seolah mengejekku dengan polusi sialan yang mobil mahalnya itu hasilkan.
Aku sendiri lagi.
Cintaku kembali kandas.
Apalagi tidak ada kata perpisahan manis yang pria itu ucapkan. Hanya sebuah kata maaf yang belum mampu menutup luka yang sekarang ia hasilkan dengan cara instan ini. Hatiku hancur. Berat rasanya untuk melangkah.
Gerbang Sekolah Dasar Pelita Insani ini adalah saksi, saksi akan kandasnya hubunganku dengan pria blasteran Indonesia-Jepang bernama Ken Masumi. Apalah arti dua tahun kebersamaan aku dan dia selama ini? sekedar mengisi kekosongan? Padahal aku berharap kedepannya ia akan membawa hubungan kami untuk menjadi lebih serius. Tapi nyatanya aku di tinggal. Dan itu ketika aku sedang sayang-sayangnya dengan pria itu.
***
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan