Paederia Foetida.

1310 Kata
Paederia Foetida adalah namaku. Apa yang terlintas di benak kalian ketika pertama sekali mendengar nama tersebut? Aneh? Unik? Atau Lucu? Sebagian orang menganggapnya aneh karena nama tersebut terdengar asing bagi awam, namun lucu bagi para pecinta tumbuhan dan para penyuka pelajaran Biologi. Kalian tahu apa arti dari namaku? Paederia Foetida merupakan nama latin dari tanaman Daun kentut. Ibuku yang memberi nama. Karena dulu saat hamil diriku, beliau sangat suka mengendus daun bau itu. Hal itu lah yang melatari ibu memberi nama langka tersebut untukku. Ayah juga sempat diancam untuk jangan dekat-dekat beliau lagi jika tidak menyetujui nama aneh tersebut. Apalagi ayah merupakan seorang guru Biologi di sebuah SMA Negeri yang ada di Jakarta Barat, tentu ia sangat paham akan usulan nama tersebut. Tapi sebagai laki-laki yang sangat menjaga perasaan ibu hamil pada saat itu, ayah dengan sangat sialannya menyetujui. Bahkan sampai sekarang tidak punya itikad baik pula untuk mengganti namaku dengan nama yang kekinian! Ya, begitu kira-kira cerita tragis yang Ayah ceritakan ketika aku menanyakan apa arti dari namaku. Saat itu aku bertanya ketika berulang tahun yang ke sepuluh. Bahkan ada sedikit adegan paksa-memaksa agar Ayah mau menceritakan arti namaku tersebut. Dan kalian tahu? Yaps! Aku menyesal bertanya. Tapi terlepas dari tragisnya kisah dibalik namaku tersebut, ada hal yang jauh lebih tragis lagi. Yaitu, cerita Ayah ketika aku berumur lima tahun. Saat itu beliau dengan amat sangat kesulitan menjelaskan kondisi ibu yang mengapa tak pernah ku temui di sekitar sudut rumah. Dan ternyata Ibu-ku sudah lama meninggal. Awalnya Ayah menceritakan bahwa ibu meninggal karena sakit kepala. Namun di umurku yang ke sembilan tahun aku mengetahui kebenaran tersebut dari Bibi Raya, bahwa ibuku meninggal karena melahirkan diriku. Selalu terdapat binar kebencian di mata bibiku kala menatap diriku. Aku tahu, aku berhak di benci karena telah menghilangkan nyawa adiknya begitu saja. Aku tidak benci pada bibiku. Mungkin ia butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa itu adalah permainan takdir. "Mau di anter?" Aku mendongakkan kepalaku dari piring mie goreng yang ada di hadapanku ini kala mendengar Mas Yoga berbicara. "Ga usah Mas, Deria bawa motor sendiri aja" "Pulangnya mau di bawain apa?" Tumben baik ini berudu? Aku menyipitkan mataku ketika menatap wajah Mas Yoga. "Kenapa?" tanyaku menyelidik. "Apa?" Mas Yoga balik bertanya dengan kerutan dahi yang tercetak samar di dahinya. "Tumben baik" jawabku santai seraya memasukan suapan penuh mie goreng dan potongan telur pedas ini kedalam mulut. "Su'udzon teroos" Mas Yoga memutar bola matanya bosan. Membuat tawaku seketika keluar dan buru-buru mengambil minum agar tidak tersedak. "Hehe, gajian ya Mas?" "Iyalah, makanya baik gini" jawab Mas Yoga datar. Fyi, Mas Yoga ini adalah kakak kandungku satu-satunya. Ia seorang pria dengan umur dua puluh tujuh tahun yang bekerja di sebuah Bank swasta. Dan perlu di garis bawahi, Mas ku ini jomblo. Ia tampan, mapan, dan menawan. Tapi sayang sifatnya pemalu abis. Ada wanita yang menatapnya secara terang-terangan saja wajahnya sudah berubah merah padam tak karuan. Dan sampai sekarang hanya aku satu-satunya wanita yang mampu membuatnya nyaman. Tapi aku harap kakakku ini jangan sampai menderita syndrome Brother Complex. Bisa bahaya 'kan kalau sampai ia terjebak perasaan dengan diriku yang cantik rupawan ini. Tapi aku yakin kok seratus persen dia normal. Dulu sewaktu SMA dirinya pernah menyukai seorang gadis. Tapi ya itu. Tidak punya nyali nembak duluan. Gimana mau ada kemajuan coba? "Tongseng aja Mas, yang deket tempat kerja Mas. Sama jamur crispy juga saosnya yang banyak" aku berujar semangat seraya mengacung-acungkan sendok yang ada di tangan kananku ke arah Mas Yoga. "Oke" Mas Yoga mengangguk. "Ehh sama es dawet jangan lupa. Hmmm corndog moza kayaknya enak juga deh. Itu juga ya Mas" "Banyak maunya nih" "Hehe. Kan tadi Mas sendiri yang nawarin." Aku tertawa centil seraya mencolek-colek dagu Mas Yoga yang sesegera mungkin ditepis oleh tangannya. "Dei" Mas Yoga kembali memanggilku setelah terjadi hening kembali di meja makan ini. "Iya?" "Kabar Ken gimana?" aku mengerutkan dahiku saat pertanyaan tersebut keluar dari mulut Mas Yoga. Pasalnya kakakku ini jarang sekali kepo perihal kekasihku. "Baik kok. Kenapa?" "Enggak, Mas nanya doang" aku menganggukkan kepalaku mendengar perkataan Mas Yoga. Tak terpikir untuk bertanya lebih lanjut juga karena malas. Apalagi kala mendengar dering ponsel yang berasal dari arah tas Mas Yoga, mengurungkan niatku untuk bertanya lebih. "Ayah Video Call" sahutan Mas Yoga langsung membuat wajahku yang tadinya kebingungan akan pertanyaan mengenai Ken, berubah jadi semringah. "Angkat cepet" aku buru-buru berdiri dari dudukku dan berlari ke belakang punggung Mas Yoga. "Assalamualaikum anak-anak Ayah" "Ayah!" Jeritku girang kala melihat wajah Ayah dilayar ponsel Mas Yoga. Tak ku pedulikan delikan tajam Mas Yoga yang seolah mengisyaratkan 'jangan teriak-teriak di dekat telinganya.' "Lagi apa Dei?" "Lagi sarapan sama Mas Yoga, Yah. Tapi Mas Yoga masakin Deira mie instan aja. Ga pake sayur lagi" ku lihat pria paruh baya berpakaian dinas hijau khas Pegawai Negeri Sipil tersebut tertawa lepas. Sepertinya Ayah baru akan berangkat bekerja. "Masih untung Mas masakin Yah, Dei bawel banget" sahut Mas Yoga santai. "Kangen masakan Ayah. Makanya cepetan pulang" jawaban manjaku tersebut membuat Ayah tertawa dan Mas Yoga bergidik jijik. "Ayah lagi ngapain?" Mas Yoga kembali membuka suara. "Ini baru mau berangkat kerja. Nyempetin hubungin kalian dulu karena kangen" kulihat di layar ponsel Ayah tersenyum lembut. "Ayah kapan pulang?" tanyaku lagi "Bulan depan kayaknya Dei, tapi tergantung kerjaan disini juga cepat atau lamanya selesai" "Cepet pulang ya, Yah. Dei sama Mas Yoga kangen" aku meletakkan daguku di atas bahu Mas Yoga seraya menatap layar ponsel tersebut lesu. "Kangen Ayah apa masakannya?" sahut Ayah lagi. "Dua-duanya dong!" "Dei!" Mas Yoga mengusap telinga kirinya kasar seraya menatap tajam ke arahku. *** "Pagi Bu Ratih!" Aku menyapa tetangga depan rumahku yang sedang menyapu halaman rumahnya tersebut ramah seraya mengelap motor matic biru kesayanganku ini. "Tumben jam segini baru keluar, Dei" sahut Bu Ratih dari balik pagar tanaman rumahnya yang sebatas pinggang orang dewasa. Sehingga membuat pekarangan rumah tersebut tampak asri kala dilihat. "VideoCall sama Ayah tadi Bu, makanya lupa waktu. Tapi gapapalah Deira juga enggak ada jadwal masuk awal pagi ini" "Oh gitu.. di sempetin atuh Dei ngerawat tanamannya. Rumah anak gadis kok gersang banget" Bu Ratih tertawa di akhir kalimatnya, membuat aku turut tertawa akan candaannya. "Iya sok sibuk nih Bu akunya. Eh tapi 'kan rumah bujang juga Bu. Mas Yoga kan masih available" Derai tawa kami kembali menggelegar dikeheningan pagi ini. Membuat mood-ku semakin membaik karenanya. "Mas kamu ga mau sih sama anak Ibu" Bu Ratih kembali menanggapi. Ku kira tawa panjang kami tadi adalah akhir. Ternyata tidak. Dasar ibu-ibu! Aku kan jadi ketularan terus virus rumpi ala ibu-ibu. "Emang Ibu punya anak gadis berapa?" aku mengerutkan dahi bingung kala mendengar perkataan Bu Ratih. "Satu lah." "Sena?" tanyaku ragu. Namun begitu anggukan santai itu di tujukan sebagai jawaban 'Iya' aku langsung menatap Bu Ratih malas. "Ya kali Mas Yoga pacaran sama anak remaja. Sena kan masih SMP, Bu." "Habis kamu di jodohin sama Reynal ga mau. Padahal anak Ibu 'kan ganteng, mapan, gagah pula. Kurang apa lagi?" "Ya kan Deira udah punya pacar, Bu. Emang mau Mas Reynal Deira jadiin selingkuhan?" aku tersenyum jahil di akhir kalimatku, "Ibu paksa kawin kamu sama Reynal kalo beneran terjadi." Aku tertawa lepas sekali lagi pagi ini. Bu Ratih emang dabest lah di ajak becanda. Btw Mas Reynal itu adalah anak sulung Bu Ratih. Ia merupakan seorang Polisi berpangkat briptu yang memiliki paras tampan. Tapi sayang, Mas Reynal ini kalau kenalan sama cewek sebelas-duabelas lah sama Mas Yoga. Bawaannya pen ngompol aja kalo deket lawan jenis selain keluarga. Aku curiga juga kan lama-lama. Jangan-jangan menyimpang. Waduh. "Yaudah Bu, Deira berangkat dulu ya.. salam buat Bapak, Sena, sama Mas Reynal. Assalamualaikum" "Waalaikumsallam. Hati-hati ya nduk" Aku segera tancap gas meninggalkan pekarangan rumah dengan motor matic kesayanganku ini. Menyalip mobil dan motor dengan lincah di jalanan agar segera sampai di tujuan. *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN