Perjalanan terasa panjang dan lama untuk Kaniya yang saat ini sibuk berlari menuju rumah sakit. Gadis itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kalio ketika dirinya akhirnya mendapat panggilan telepon yang mengatakan bahwa anak itu telah membuka matanya. Kaniya tidak henti mengucap syukur dalam hati atas berita melegakan itu. Akhirnya, dirinya bisa bertemu mata dengan Kalio lagi, satu-satunya keluarga yang paling berarti dalam hidupnya. Kaniya mempercepat langkah kakinya memasuki rumah sakit, menuju tempat di mana Kalio berada. “Kalio!” seru Kaniya ketika gadis itu akhirnya membuka pintu ruangan dengan lebar. Jantung Kaniya sudah berdetak dengan cepat, berikut dengan tarikan napasnya yang berat setelah berlari cukup jauh dan cepat untuk beberapa saat. Mata Kaniya langsung mengarah ke ra

