Bab 1. Ditinggal menikah
“Kenapa sih nggak mau di ajak menikah? Padahal hubungan kalian udah lama dan udah serasi banget.”
Kiandra mengabaikan pertanyaan yang ditujukan padanya itu, telinganya mendengar tapi tatapannya masih tertuju pada sosok lelaki yang saat ini ada di depan sana, di pelaminan.
Kiandra menarik napas pelan, seolah menahan sesuatu yang sejak lama ia simpan rapat-rapat. Senyumnya tipis, nyaris tak terlihat, sementara matanya masih terpaku pada sosok lelaki di pelaminan itu—lelaki yang dulu pernah begitu dekat, begitu ia kenal luar dalam.
“Karena…” akhirnya ia bersuara lirih, nyaris tenggelam oleh riuh tepuk tangan para tamu undangan, “nggak semua yang terlihat serasi itu benar-benar ditakdirkan untuk bersama.”
Ia mengalihkan pandangannya sesaat, menatap sahabatnya yang sejak tadi menunggu jawaban. Ada kelelahan di sana, juga sisa-sisa luka yang belum sepenuhnya sembuh.
“Kami terlalu lama saling menggenggam,” lanjutnya pelan, “sampai lupa… kalau ternyata arah kami berbeda.”
Tatapannya kembali lagi ke depan. Lelaki itu tersenyum bahagia di samping wanita lain, senyum yang dulu pernah hanya untuknya.
“Aku nggak menolak menikah,” ucap Kiandra, suaranya lebih tegas meski tetap lembut, “aku cuma menolak memaksakan diri tinggal di hubungan yang diam-diam membuatku kehilangan diriku sendiri.”
Hening sejenak.
“Dan dia…” bibir Kiandra melengkung tipis, bukan senyum bahagia, lebih seperti penerimaan, “akhirnya memilih seseorang yang bisa berjalan searah dengannya. Bukan aku.”
Di tengah gemerlap pesta dan ucapan selamat yang bersahutan, Kiandra berdiri di sana—tidak lagi sebagai bagian dari cerita lelaki itu, tapi sebagai seseorang yang akhirnya memilih dirinya sendiri.
Banyak yang mengira Kiandra menolak untuk menikah karena masih mengejar karir, karir di dunia kedokteran yang saat ini menjadi profesinya. Namun dibalik itu ada yang sengaja ditutup rapat olehnya, yang hanya diketahui oleh Andra, sang mantan kekasih. Kiandra tidak mengungkap apa yang sebenarnya terjadi ia justru diam mengiyakan banyak tuduhan bahwa ia anti komitmen seperti yang beredar. Kiandra tidak menyangkal, sengaja membiarkan tuduhan itu padanya.
“Sesti, aku mau balik. Ayo, atau kamu masih mau disini?” ajak Kiandra ada temannya.
“Ikut balik deh.. ayo.” Balas sesti.
Bahkan keduanya belum sempat bersalaman dengan si pengantin, namun Kiandra tahu, Andra menyadari kehadirannya.
Langkah Kiandra terasa ringan, namun entah kenapa dadanya justru semakin sesak. Gaun sederhana berwarna pastel yang ia kenakan bergerak pelan mengikuti ayunan kakinya, menyusuri lorong gedung yang dipenuhi cahaya lampu kristal. Suara musik dan tawa para tamu masih terdengar di belakang, perlahan menjauh seiring langkahnya yang semakin cepat.
Sesti berjalan di sampingnya, sesekali melirik wajah Kiandra yang tampak tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja meninggalkan pernikahan mantan kekasihnya.
“Ki…” panggil Sesti hati-hati, “kamu beneran nggak apa-apa?”
Kiandra tersenyum kecil tanpa menoleh. “Aku kelihatan kenapa-napa ya?”
“Justru itu. Kamu kelihatan terlalu baik-baik aja.”
Langkah Kiandra sempat terhenti sejenak, hanya sepersekian detik, sebelum akhirnya kembali berjalan. “Aku emang baik-baik aja, Ses.”
Namun kalimat itu terasa lebih seperti pengingat untuk dirinya sendiri daripada jawaban untuk sahabatnya.
Begitu sampai di luar gedung, udara malam menyambut mereka dengan semilir angin yang membawa sedikit rasa lega. Kiandra menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sisa-sisa sesak yang sejak tadi ia tahan.
Ia melangkah menuju area parkir, tapi langkahnya kembali terhenti saat mendengar suara yang begitu familiar.
“Kiandra.”
Satu kata itu cukup membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Sesti menoleh cepat ke arah sumber suara, lalu menatap Kiandra seolah memberi pilihan. Kiandra tidak langsung berbalik. Ia memejamkan mata sebentar, mengumpulkan keberanian yang entah sejak kapan terasa rapuh.
Pelan, ia berbalik dan benar saja.
Andra berdiri beberapa langkah di belakang mereka, masih mengenakan jas pengantin, rapi, sempurna, seperti seseorang yang benar-benar telah menemukan kebahagiaannya.
Namun matanya… tetap sama.
Tatapan yang dulu pernah membuat Kiandra merasa menjadi satu-satunya.
“Sebentar ya, Sest,” ucap Kiandra pelan.
Sesti mengangguk mengerti. “Aku tunggu di mobil.”
Kini tinggal mereka berdua.
Hening.
Hanya suara angin malam dan detak jantung yang terasa terlalu keras di telinga Kiandra.
“Kamu datang,” kata Andra akhirnya.
Kiandra mengangguk kecil. “Iya. Datang sebentar.”
“Kenapa nggak nyamperin?” tanya Andra, nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang tersembunyi di sana.
Kiandra tersenyum tipis. “Nggak perlu. Aku cuma mau lihat dari jauh aja.”
Andra menghela nafas pelan, menatap Kiandra seolah mencoba membaca sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
“Kamu masih sama,” gumamnya.
Kiandra mengernyit kecil. “Maksudnya?”
“Masih memilih diam daripada jujur.”
Kalimat itu membuat Kiandra sedikit tersentak, tapi ia segera menguasai dirinya.
“Bukannya kamu juga sama?” balasnya pelan.
Andra tersenyum miring. “Bedanya, aku akhirnya memilih untuk berhenti diam.”
Hening kembali menyelimuti.
Lampu taman yang redup menciptakan bayangan panjang di antara mereka—seolah menggambarkan jarak yang kini tak lagi bisa dijangkau.
“Kenapa kamu datang, Ki?” tanya Andra lagi, kali ini lebih pelan.
Kiandra menatap lurus ke arahnya. “Karena aku ingin memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Kalau kamu benar-benar bahagia.”
Andra terdiam. Untuk beberapa detik, ia tidak menjawab. Tatapannya melembut, namun justru itu yang membuat d**a Kiandra terasa semakin berat.
“Dan?” tanya Andra akhirnya.
Kiandra mengangguk kecil. “Kamu kelihatan bahagia.”
“Kelihatan?” ulang Andra, menekankan kata itu.
Kiandra tidak menjawab.
Karena ia tahu, kebahagiaan seseorang tidak selalu bisa dilihat dari luar. Sama seperti dirinya yang selama ini terlihat baik-baik saja, padahal tidak sepenuhnya demikian.
“Kamu masih nggak mau cerita?” tanya Andra lagi.
Kiandra tersenyum samar. “Cerita apa?”
“Alasan kamu nolak aku waktu itu.”
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan penuh makna.
Kiandra mengalihkan pandangannya, menatap jauh ke arah jalanan yang mulai sepi.
“Bukannya kamu sudah punya jawaban sendiri?” katanya pelan.
“Aku punya banyak asumsi,” jawab Andra cepat, “tapi aku nggak pernah dapat jawaban yang sebenarnya dari kamu.”
Kiandra terdiam.
Ia tahu, jika ia membuka satu bagian saja dari rahasia itu, semuanya akan berubah. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Andra… dan mungkin juga untuk kehidupan yang kini sedang Andra jalani.
“Aku nggak ingin merusak apapun,” ucap Kiandra akhirnya.
Andra tertawa kecil, tapi terdengar pahit. “Semua sudah berubah, Ki. Kamu nggak akan merusak apa-apa.”
Kiandra menatapnya lagi, kali ini lebih dalam.
“Ada hal-hal yang lebih baik tetap jadi rahasia,” katanya tegas.
“And even if it hurts me?” tanya Andra, suaranya merendah.
Kiandra menelan ludah. “Terutama kalau itu bisa menyelamatkan kamu.”
Andra mengerutkan kening. “Menyelamatkan dari apa?”
Kiandra tersenyum lagi—senyum yang kali ini jelas menyimpan luka.
“Dari keputusan yang salah.”
“And you think marrying you would’ve been a mistake?” suara Andra meninggi sedikit.
Kiandra tidak langsung menjawab.
Beberapa detik terasa begitu lama.
“Aku pikir…” Kiandra menarik napas panjang, “aku bukan pilihan terbaik untuk masa depan kamu.”
Andra menggeleng pelan. “Itu bukan jawaban. Itu alasan yang kamu buat supaya aku berhenti bertanya.”
Kiandra tidak membantah, karena memang benar.
Ia sengaja membiarkan semua orang berpikir ia ambisius, anti komitmen, terlalu sibuk dengan karier. Ia biarkan semua tuduhan itu melekat, selama itu bisa menutupi satu kenyataan yang tidak pernah ia berani ucapkan.
“Kamu tahu aku mencintai kamu waktu itu,” kata Andra lirih.
Kiandra menatapnya. “Aku tahu.”
“Dan kamu juga…” Andra menggantung kalimatnya.
Kiandra mengangguk kecil. “Iya.”
Dua orang yang pernah saling mencintai, kini berdiri di persimpangan yang sudah tidak mungkin disatukan lagi.
“Kalau waktu itu aku maksa kamu untuk tetap tinggal…” Andra berhenti sejenak, “apa kamu akan tetap pergi?”
Kiandra tersenyum tipis.
“Iya.”
Jawaban itu begitu pasti, tanpa ragu.
Dan justru itu yang membuat Andra akhirnya mengerti, meskipun ia tidak benar-benar tahu alasannya.
“Berarti keputusan aku untuk menikah hari ini…” Andra menatap Kiandra, mencoba mencari sesuatu, “nggak salah, kan?”
Kiandra menggeleng pelan. “Nggak. Kamu sudah memilih dengan benar.”
Andra menghela napas panjang, seolah melepaskan sesuatu yang selama ini ia tahan.
“Terima kasih sudah datang,” katanya akhirnya.
Kiandra mengangguk. “Selamat ya.”
Ia berbalik, hendak pergi.
Namun langkahnya terhenti ketika Andra kembali bersuara.
“Ki.”
Kiandra menoleh sedikit.
“Kalau suatu hari nanti kamu siap untuk jujur… aku harap itu bukan karena kamu sudah terlambat untuk bahagia.”
Kalimat itu membuat d**a Kiandra kembali sesak.
Ia tidak menjawab, hanya tersenyum tipis, lalu melangkah pergi.
Sesti yang sudah menunggu di dalam mobil langsung menatapnya penuh tanya saat Kiandra masuk dan menutup pintu.
“Dia ngomong apa?” tanya Sesti.
Kiandra menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap lurus ke depan.
“Cuma… masa lalu yang akhirnya benar-benar selesai.”
Sesti tidak langsung menanggapi. Ia tahu, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar “masa lalu” yang disembunyikan Kiandra.
Mobil mulai melaju, meninggalkan gedung pernikahan yang kini semakin jauh.
Di balik kaca jendela, lampu-lampu kota berpendar seperti kenangan—indah, tapi tidak bisa disentuh lagi.
Kiandra memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, satu tetes air mata jatuh tanpa suara. Rahasia itu, masih ia simpan rapat. Tentang alasan kenapa ia menolak Andra, kenyataan yang hanya diketahui oleh mereka berdua dan tentang satu hal yang tidak pernah berubah, bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.