Decitan rem mobil berhenti tepat berada di depan rumah mewah bergaya modern bercat putih dan berpagar hitam itu. Sebenarnya Arkha enggan memasuki rumah besar tampak sepi itu, kalau saja bukan mami Sita yang mengantar mungkin ia sudah memilih pergi ke apartemen untuk menemui Anggita. Kalau tidak pulang, setidaknya ia tak bertemu Amara yang jelas-jelas pergi bersama orang lain di saat dia berusaha untuk menjadi cairan penghilang dahaga. Kini pasti perempuan itu tengah tertidur pulas sambi tersenyum-senyum sendiri setelah melewati satu mobil dengan pria yang amat dia sayangi sepanjang hidupnya itu. Arkha menoleh ke belakang saat menaiki undakan menuju pintu rumahnya. Mami Sita masih beridiri di depan pagar bersadar pada pinggiran mobil seiring dengan kedua tangan terlipat di depan per

