Saling menyalahkan, Arkha merasa dia benar begitu pun sebaliknya dengan Amara yang serta merta menganggap suaminya itu tidak memiliki rasa tanggung jawab. Seharusnya dia yang menolong Amara melawan dua orang yang telah mencoba menodai dirinya, bukan justru Kafeel memiliki insting lebih kuat untuk datang. “Kamu tau, udah berapa meter jalan yang udah gua tempuh buat nyari minum buat kamu Seharusnya mikir pakai otak! Bukan pura-pura bodoh, lupa sama suaminya sendiri!” Arkha menunjuk-nunjuk dahi Amara seiring wajah geram hampir saja dia menonyor dahi perempuan itu kalau Amara tidak segera menghindar. “Apa menurutmu salah, kalau aku milih pergi sama David ke klub? Oh, apa seharusnya aku pulang duduk di sampingmu lihat kamu senyum-senyum sendiri? karena habis ketemu dan di antar pulang sama

