Ayu menggunakan kakinya yang gemetar untuk melangkah menjauh dari mereka berdua. Memungut tasnya yang sudah terjatuh di lantai bersama beberapa paper bag yang dibawanya tadi.
Bagas menyusul Ayu yang sudah hampir sampai di ambang pintu. "Kamu mau kemana Yu?" Bagas mencekal tangan Ayu. Mencegahnya keluar, dia tahu betul Ayu tidak punya tempat tujuan lagi. Kedua orang tuanya sudah tiada, dan selama ini dia selalu mengirimkan uangnya untuk Bagas.
"Bukan urusan kamu!" Ayu melempar tangan Bagas.
"Tapi kamu gak punya tempat tujuan Yu." Saat Bagas hampir memegang tangan dan mencegahnya lagi, Ayu menghindar.
"Stop Bagas! Aku punya tempat tujuan atau enggak itu bukan urusan kamu. Kita sudah gak ada hubungan lagi. Dan aku harap kita tidak akan pernah ketemu lagi setelah ini!"
Ayu melangkah cepat keluar dari rumah tersebut. Meninggalkan rumah yang penuh kenangan indah akan kisahnya bersama Bagas. Sepanjang Ayu berjalan kaki, air matanya terus menetes. Sesekali dia menyeka saat sadar bahwa dia sedang menjadi pusat perhatian banyak orang di jalan, tapi apalah daya matanya yang terus mengeluarkan air itu seolah tidak bisa diperintah untuk berhenti.
Bahkan saat Ayu sudah menaiki taksi dia terus menangis. Benar kata Bagas, dia tidak punya tempat tujuan. Pikirannya kacau, bahkan tidak bisa berpikir untuk menuju ke hotel terdekat, dan lagi sampai kapan Ayu akan berada di hotel? Uangnya menipis, terkuras habis. Dia tidak akan bisa bertahan lama jika dia memutuskan tidur di hotel.
Ayu mengatur nafasnya, kemudian menyeka air mata dan menyebutkan alamat rumah mendiang orang tuanya. Untuk sementara waktu dia memutuskan berlindung disana. Meskipun tempat itu sangat tidak layak untuk bisa dikatakan sebagai rumah, hanya sepetak ruangan kecil yang tidak terawat. Kamar tidur, dapur, dan kamar mandi jadi satu. Berdebu dan berantakan. Sama seperti kondisi Ayu sekarang.
***
“Permisi!”
“Permisi!”
Suara ketukan dan teriakan berkali-kali dari depan pintu membuat Ayu membuka matanya. Sudah tiga hari sejak Ayu berada di rumah kumuh peninggalan kedua orang tuanya tersebut. Namun dia tidak melakukan apapun, hanya tidur di atas kasur tunggal selama itu dan meratapi nasib sialnya karena pengkhianatan Bagas.
“Siapa yang datang kemari?” Ayu menghela nafas malas, jangankan untuk membukakan pintu dan bertemu orang lain, makan, minum, dan merawat dirinya saja Ayu enggan. Tidak ada semangat hidup.
“Permisi!”
Suara teriakan dari luar kembali terdengar. Ayu tak peduli, dia kembali meringkuk dan memejamkan mata. “Pergilah, jangan ganggu aku,” gumamnya pada diri sendiri. Berharap seseorang di depan sana segera menyingkir dari depan pintu.
“Permisi, Non Ayu. Saya adalah utusan dari Nyonya Emilia. Ada hal penting yang harus dibicarakan!”
Mata Ayu terbuka lebar setelah mendengar teriakan itu. “Nyonya Emilia?” Mendengar nama Nyonya Besar baik hati yang dirawat selama lima tahun terakhir itu membuat Ayu segera bangkit, mengurungkan niatnya untuk kembali meringkuk dan tidak menemui seseorang di depan sana. Pasti ada sesuatu jika utusan Nyonya Emilia mencarinya sejauh ini, pikir Ayu.
“Permi—”
Seorang pria muda mengenakan setelan jas lengkap menghentikan teriakannya saat Ayu membuka pintu. Dia menatap dari atas ke bawah. Rambut dan wajah acak-acakan, serta banyak sekali debu keluar dari dalam bersama Ayu. Bau tubuhnya juga cukup menyengat.
“Anda siapa? Ada apa dengan Nyonya Emilia?” tanya Ayu. Tidak peduli dengan tatapan pria di depannya itu. Siapapun pasti akan menatapnya heran dalam kondisi seperti sekarang, batin Ayu.
“Perkenalkan Saya Zavier, Sekretaris Tuan Leon. Beliau ingin bertemu dengan anda karena ada sesuatu yang dibicarakan perihal Nyonya Emilia,” jelas Zavier sambil menunduk sopan.
Ayu memutar bola matanya. “Leon? Putra Nyonya Emilia?” tanya Ayu memastikan. Sembari mengingat-ingat nama yang baru saja disebutkan oleh Zavier barusan.
Zavier mengangguk. “Benar Nona. Beliau ingin bertemu anda, membicarakan hal penting. Dan saya ditugaskan untuk menjemput anda hari ini Nona. Tuan Leon ingin segera bertemu anda sekarang karena beliau tidak punya banyak waktu lagi jika harus menundanya,” jelas Zavier lagi.
Ayu berpikir sejenak. Sejujurnya dia tidak mempunyai tenaga untuk kemana-mana. Tubuhnya sangat lemah. Tapi Ayu ingat semua kebaikan Nyonya Emilia saat masih hidup dahulu. Seseorang yang sudah seperti ibunya sendiri, rasanya tidak tahu terima kasih sekali jika Ayu tidak mengikuti Zavier sekarang.
“Baiklah. Aku akan ikut denganmu Tuan Zavier, tapi ijinkan aku bersiap terlebih dahulu,” jawab Ayu akhirnya.
Dengan sekali anggukkan dari Zavier, Ayu melesat masuk ke dalam dan menyiapkan diri. Lima menit setelah Ayu selesai, dia mengikuti Zavier masuk ke dalam sedan hitam mewah. Menuju sebuah hotel berbintang lima dan suite room untuk menemui pria bernama Leon tersebut. Begitu masuk ke dalam ruangan, Ayu mendapati seorang pria tampan sedang menyilangkan kaki di atas sofa single sambil membaca sebuah map. Pria yang pernah dilihatnya beberapa kali saja selama bekerja untuk Emilia.
“Pergilah! Aku ingin berbicara berdua dengannya,” perintah Leon pada Zavier begitu melihat Sekretarisnya itu masuk bersama Ayu.
“Duduk!” Setelah Zavier pergi, Leon memerintah pada Ayu. Pria itu dingin, tatapannya tajam, suaranya berat dan terlihat sekali dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik, pikir Ayu.
“Kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?” Tatapan mengintimidasi sudah ditujukan pada Ayu.
“Tidak Tuan,” balas Ayu ragu. Sejujurnya dia takut kalau Tuan Besar yang satu ini mengatakan padanya bahwa dia telah membuat kesalahan besar saat merawat Emilia.
Leon menyeringai tak suka. Sedetik kemudian melempar map yang tadi dia baca ke atas meja. “Jangan pura-pura bodoh! Kau pasti terlibat dalam hal ini!” kecam Leon.
Ayu masih tidak mengerti, matanya mengarah pada map tersebut kemudian mengambilnya ragu. Apa maksud perkataan Leon barusan? Terlibat dalam hal apa?
Ayu membuka map tersebut, terdapat beberapa lembar kertas. Di atas judul menunjukkan bahwa lembaran kertas itu adalah surat wasiat Emilia. Ayu masih tidak mengerti sampai dia membaca satu poin yang sangat mencengangkan. Mulutnya menganga, dan matanya terbelalak lebar.
Leon berdiri dari tempatnya, kemudian mendekat pada Ayu. Menyahut map tersebut lalu membuangnya ke lantai. Tangan Leon menarik dengan kasar lengan Ayu hingga wanita itu berdiri di depannya. “Apa yang kau lakukan pada ibuku hingga dia menuliskan wasiat tidak masuk akal seperti itu?”
Ayu bergidik ngeri, tatapan Leon padanya sekarang sungguh mematikan. Jika dia salah bicara sekali saja mungkin Leon akan melakukan hal tak terduga, pikir Ayu takut. Namun, Ayu juga sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja dibaca di dalam map itu. “Sa… saya tidak tahu tentang itu Tuan,” jawab Ayu terbata.
Leon mencengkram lengan Ayu, hingga wanita itu meringis kesakitan. Leon sama sekali tidak mempercayai Ayu. Sebelah tangannya memegang dagu Ayu dengan kasar. “Mana mungkin ibuku menuliskan wasiat agar aku menikahi gadis sepertimu, jika kau tidak melakukan sesuatu padanya.” kata Leon.
Point penting dalam surat wasiat Emilia adalah Leon harus menjadikan Ayu istrinya. Paling lambat dalam waktu tiga bulan setelah kematian Emilia, jika tidak Leon tidak akan mendapatkan sedikitpun warisan dan hak milik seluruh harta Emilia termasuk perusahaan raksasa yang saat ini dikelolanya. Pengacara dan orang kepercayaan Emilia juga ditugaskan untuk menyumbangkan seluruh peninggalan Emilia pada badan amal jika Leon tidak menjalankan wasiatnya.
Ayu tercekat. “Saya sungguh tidak tahu menahu tentang ini Tuan,” jawabnya.
Leon menatap tak suka pada Ayu. “Kau tau, polisi mengatakan bahwa kematian ibuku bukan karena penyakitnya, dia dibunuh,” kata Leon sambil menggertakkan gigi. “Dan kau adalah orang yang paling dekat dengannya sepanjang hari. Kau membunuhnya setelah dia membuat dia menuliskan wasiat ini?!” pekik Leon di depan wajah Ayu.