bc

Istri Sementara Tuan Leon

book_age18+
943
IKUTI
8.3K
BACA
fated
goodgirl
CEO
drama
tragedy
sweet
bxg
office/work place
enimies to lovers
affair
like
intro-logo
Uraian

Ayu Apriliani harus menelan kenyataan pahit begitu pulang ke Indonesia. Ayu mendapati Bagas—tunangannya—ternyata sudah menikah dengan sahabatnya sendiri dan memiliki buah hati. Mereka membodohi Ayu dan memanfaatkan uang kiriman Ayu dari hasil bekerja selama lima tahun untuk kehidupan mereka berdua.

Masih dalam kondisi menghadapi kehancuran cinta dan masa depannya, seorang pria bernama Leon menemui Ayu. Dia adalah putra tunggal dari seorang wanita jompo dan sakit-sakitan yang selama lima tahun ini dirawat oleh Ayu—Emilia.

Leon membawa wasiat dari Emilia yang berisi bahwa Leon harus menikahi Ayu untuk mendapatkan seluruh harta dan hak waris dari perusahaan raksasa ternama yang saat itu masih atas nama Emilia. Leon tidak punya pilihan lain selain menjalankan wasiat tersebut. Sedangkan dia juga memiliki Gisella—seorang kekasih yang rencananya akan dinikahi olehnya.

Lalu apakah yang akan dilakukan oleh Ayu? Apakah Ayu akan menjalankan wasiat Emilia? Bagaimana hubungan antara Leon dan Gisella nantinya? Dan apa alasan Emilia menuliskan wasiat tersebut untuk putra semata wayangnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Pengkhianatan Cinta
“Aku kangen sama kamu Bagas,” ucap Ayu penuh ketulusan sembari memeluk Bagas. Beberapa detik yang lalu dia baru saja sampai di komplek perkampungan tempat Bagas tinggal dan mendapati kekasihnya itu berada di depan rumah. Ayu langsung berlari memeluknya. “Ayu… kamu kapan datang?” tanya Bagas, Terbata. Wajahnya tegang, tubuhnya juga gemetar. Bukan karena rindu pada kekasih yang sudah lima tahun ini bekerja di Singapura itu, melainkan terkejut dengan kedatangannya yang mendadak. Ayu melepaskan pelukan pada Bagas, kemudian menatap wajah pria yang dicintainya itu. “Aku emang sengaja gak bilang sama kamu Bagas. Biar jadi kejutan, dan aku bawa oleh-oleh buat kamu,” ucap Ayu sumringah seraya mengangkat beberapa paper bag di tangannya. “Yuk, kita masuk ke dalam dan buka!” ajak Ayu, sambil menarik tangan Bagas ke dalam rumahnya dengan antusias. “Tunggu Yu—” Bagas mencegah, tapi Ayu tak menghiraukannya. Dia justru semakin cepat menyeret Bagas masuk ke dalam rumah. Rasa rindunya sudah sangat dalam pada Bagas. Dia ingin segera menceritakan banyak hal dan menuangkan rasa rindu berdua dengan seorang pria yang sudah bertunangan dengannya lima tahun lalu itu. Begitu Ayu membuka pintu, dia mendapati seorang wanita sedang memunggunginya. Mengucapkan sesuatu. “Sudah mas buang sampahnya?” Wanita itu berbalik dan sekarang beradu tatap dengan Ayu. Ayu mengerutkan keningnya. “Riska? Sedang apa kamu disini?” Seorang sahabat baik yang sangat dikenalnya berada di rumah Bagas. Pertanyaannya adalah sejak kapan mereka sedekat itu? Sampai saling mengunjungi rumah masing-masing seperti itu. Bagas bahkan tidak pernah menceritakan apapun perihal Riska selama ini. “Ayu… kapan kamu datang?” pertanyaan yang sama diajukan oleh Riska. Bukan malah menjawab pertanyaan Ayu. Wanita seumuran dengan Ayu tersebut seketika terlihat tegang. Tidak berani menatap Ayu terlalu lama. Riska beralih menatap Bagas yang berada di belakang Ayu. Mereka berdua saling menyorotkan pandangan penuh tanya dan membuat Ayu heran. “Bagas, ada apa ini?” Pertanyaan Ayu belum sempat terjawab oleh Bagas, tapi dia justru melihat seorang anak kecil berusia sekitar dua tahun berlari ke arah Bagas, memanggilnya papa dan berlari kembali pada Riska, memanggilnya mama. “Ada apa ini Bagas?” Ayu mengulang pertanyaan yang belum terjawab tadi. “Siapa anak kecil itu?” Bagas menghela nafas dalam-dalam. Kemudian mengusap wajahnya frustasi. Mungkin memang sudah saatnya dia jujur pada Ayu sekarang. Kebohongan yang selama ini ditutupi. “Dia anak aku Yu,” jawab Bagas. “Aku dan Riska sudah menikah,” imbuhnya menjelaskan. Ayu membelalakkan mata. Menatap Bagas dan Riska bergantian. Wajah mereka memerah seperti seseorang yang baru saja melakukan kejahatan. “Kamu bercanda kan Bagas?” Ayu tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar, dalam hati dia berharap Bagas hanya melakukan candaan untuk mengerjainya, karena sudah lama tidak bertemu. Bagas menggeleng lemah. “Aku gak bercanda Yu. Aku sama Riska sudah menikah, dan itu anak kami,” kata Bagas lagi. Kali ini lebih mantap dan meyakinkan. Menatap Ayu lamat-lamat. Bagai disambar petir, kaki Ayu mendadak lemah. Tubuhnya hampir saja terjatuh jika saja dia tidak segera berpegangan pada dinding rumah itu. Jantungnya berdegup kencang dan terasa sesak. “Gak mungkin!” sergahnya kembali membalas tatapan Bagas. “Kamu udah janji bakal nikahin aku sepulang dari Singapura Bagas, aku juga selalu kirim uang sama kamu tiap bulan untuk tabungan pernikahan kita. Gak mungkin kan kamu mengkhianati aku? Bagas, kamu gak sejahat itu.” Ayu mendekat pada Bagas, menggenggam kedua tangan Bagas dengan erat. Matanya sudah berair. Namun harapan yang besar masih muncul bahwa ini semua tidak benar. Dan lenyap seketika saat Bagas membuka mulutnya. “Aku udah menikah sama Riska empat tahun yang lalu Yu, aku dan Riska sama-sama cinta. Jadi kami memutuskan untuk menikah saat itu,” timpal Bagas lagi. “Cinta kamu bilang?” Ayu menghempaskan tangan Bagas, dan beralih mendatangi Riska. “Ris, bilang sama aku kalau ini semua gak benar. Kamu sahabat aku Ris, gak mungkin kamu mengkhianati aku. Kamu tau kan gimana aku sama Bagas?” Ayu ganti memegang kedua tangan Riska dan meminta penjelasan pada sahabatnya itu. Riska menunduk. “Maafin aku Yu, aku cinta sama mas Bagas. Kami menikah di belakang kamu,” jelas Riska. Memberanikan diri menjawab sejujurnya pada Ayu. Dadanya semakin sakit, seolah terhantam oleh batu yang sangat besar. Ayu menghempaskan kedua tangan Riska. Sedetik kemudian tamparan keras mendarat di pipi Riska. “Cinta kamu bilang? Kamu sering video call sama aku selama di Singapura, dan kamu gak pernah bilang apa-apa Riska! b******k kamu!” Tamparan sekali lagi sudah siap mendarat di pipi Riska, tapi Bagas segera mendekat dan mencekal tangan Ayu. “Stop Yu! Jangan sakiti Riska,” kata Bagas. Melindungi istrinya. Ayu menarik tangannya dan beralih mendaratkan tamparan tersebut pada pipi Bagas. “Kamu yang paling gak tahu diri Bagas! Jadi, selama ini kamu diam aja, dan terus terima semua uang kiriman aku?! Kamu penipu Bagas! Kamu b******k!” teriak Ayu di depan wajah Bagas. Selama lima tahun harapannya sangat tinggi pada Bagas yang akan menikahinya, tapi sekarang yang didapatkan hanya sebuah kesakitan yang mendalam. "Kamu jahat bagas!" Ayu memukul d**a Bagas sekuat tenaga dengan kedua tangannya yang mengepal. Semakin dia marah dadanya semakin sesak dan Ayu kesulitan bernafas. “Sekarang balikin semua uang yang aku kirim buat kamu!” sentaknya lagi sekuat tenaga. Nafas Ayu terengah, menahan amarah yang terus membuncah. Pasalnya saat melirik ke arah ruang tengah tadi, Ayu mendapati foto pernikahan Bagas dan Riska dicetak sangat besar dan dipajang di dinding. Harapan Ayu sudah pupus, hancur seketika saat melihat foto itu. Mereka tidak bohong. Yang dikatakan kedua orang di depannya ini memang benar. Mereka berdua mengkhianati Ayu. Bagas menggeleng. “Maafin aku Yu. Uang kiriman kamu aku pakai buat biaya pernikahan dan kebutuhan sehari-hari kami. Kami juga butuh uang untuk biaya hidup bertiga,” jawab Bagas. Sangat tidak tahu malu. Ayu semakin menggila, dia berteriak sekencang mungkin di depan mereka berdua. Menyesali kebodohan yang dilakukan. Tangan Ayu meraih vas keramik berukuran sedang sebagai hiasan rumah tersebut, lalu memecahkannya pada meja kaca ruang tamu milik Bagas. Dia kembali memukuli Bagas dengan sisa tenaganya, dan mengumpat tanpa henti. Bagas menerima tamparan, dan pukulan bertubi yang diberikan Ayu tanpa protes sedikitpun. “Ayu, aku minta maaf.” Riska menghentikan gerakan Ayu dan memegang kedua tangannya, tapi itu juga tidak bisa membuat Ayu berhenti. Ayu bahkan menarik rambut Riska ke belakang sekuat tenaga. Amarahnya pada kedua orang ini tidak dapat dibendung lagi. “Segampang itu kamu bilang maaf?” Ayu mendorong tubuh Riska hingga tersungkur ke lantai. Kata maaf dari mulut mereka berdua bahkan tidak bisa mengobati sedikitpun luka hati Ayu. Namun, satu hal yang membuat Ayu berhenti menggila adalah saat mendengar tangisan putri Bagas dan Riska. Anak berusia dua tahun itu menangis kencang, ketakutan dan memeluk Riska dengan erat. Dia terisak dan takut sejak Ayu memecahkan meja ruang tamu dan vas keramik. Setidaknya Ayu masih memikirkan perasaan anak tersebut. Dia masih kecil dan sama sekali tidak bersalah, jadi tidak sepantasnya Ayu meneruskan adegan itu di depan anak-anak. “Kamu bukan manusia Bagas! Kalian gak punya perasaan!” umpat Ayu. Di sisa tenaganya. Telunjuknya mengarah mengecam Bagas dan Riska bergantian.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook