"Ih, tapi hati aku rasanya selalu nggak tenang gara - gara aku belum pernah ngaku, dan belum Pernah minta maaf sama kamu, Mas." "Berarti sekarang udah tenang, kan?" "Ya Alhamdulillah. Kok Mas Azam nggak marah sih?" "Ya ngapain marah, kan aku emang ngeselin. Jadi wajar kalau dapet balesan yang setimpal. Contohnya ya itu tadi, dighibahin." Keduanya kembali sama - sama tertawa. "Eh, Sa. Soal Suster Lisa ... Gimana?" tanya Azam di tengah tawanya. Asa kaget mendengarnya. Saking kagetnya ia sampai secara otomatis berhenti tertawa. Namun ia tetap meneruskan suara terbahaknya supaya Azam tidak curiga. Menurut Asa ... jujur ... ini semua akan sulit. Kenapa? Karena Azam adalah kakak Asa. Karena wajah keduanya begitu mirip. Tidak hanya wajah, tapi juga pembawaan, postur tubuh, car

