Jadi, tak banyak yang melihat kejadian memalukan yang baru saja kualami. Dan karena tak terlihat itu, aku memutuskan untuk tetap pada posisi yang sama. Siapa tahu, kala dinginnya AC tak berhasil meredakan panasnya hatiku, maka dinginnya lantai bisa menjadi subtitusinya. Seperti deja vu, saat tiba - tiba sebuah tangan terulur di hadapanku. Seketika aku teringat mimpiku kemarin. Saat aku jatuh terduduk di rerumputan tinggi dengan pepohonan yang banyak. Tangan yang sama. Aku mengenalinya karena lengan kurus pemiliknya memiliki urat - urat menonjol yang kentara. Namun berbeda dengan yang ada di dalam mimpiku di mana aku tidak bisa melihat wajahnya, karena ia membelakangi cahaya matahari. Kali ini aku bisa melihat dengan jelas siapa pemilik dari tangan itu. Theo. Aku meraih jema

