Aku masih terngiang - ngiang saat ia melepas jarum infusnya tanpa ragu. Juga melepaskan kanulanya, menggeletakkan selang malang itu di atas brankar. Ia mengambil jaket warna hijau pupus dari dalam laci nakas. “Ayo …,” katanya setelah memakai jaket itu. Aku masih terdiam dalam ketidakpercayaan. Ya, kami merencanakan ini sejak semalam. Tapi aku hanya tidak menyangka, ia akan melakukannya sepagi ini. Bahkan di luar sana masih petang. “Ayo … kita harus buru - buru. Jam segini pergantian shift para perawat yang berjaga. Kalau kita nggak buru - buru, nanti bakal cepet ketahuan!” “T-tapi Theo ….” “Ayo Ali ….” Ia menggamit lenganku, menggelandangku keluar kamar. Ia menengok kanan kiri, memastikan tak ada orang yang melihat. “Aman … lari …!” Kami benar -

