Kemiskinan

1951 Kata

Malam itu, Miranda duduk sendirian di depan meja kecil kontrakannya, hanya berteman dengan semangkuk mi instan rasa rendang yang uapnya masih mengepul pelan. Tak ada ketupat, tak ada opor ayam, tak ada suara riuh keluarga besar yang biasa memenuhi rumah-rumah di malam Lebaran. Hanya keheningan yang mendominasi ruangan sempit itu, ditemani sesekali suara kendaraan yang melintas di jalan depan kontrakan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa sepi yang terasa semakin pekat. Televisi di sudut ruangan hanya menampilkan siaran ulang takbir keliling, mengingatkannya pada betapa ramainya suasana di luar sana. Anak-anak kecil berlarian dengan baju baru, orang-orang saling berkunjung, dan meja-meja makan yang penuh dengan hidangan khas Lebaran. Tapi di sini? Hanya ada dirinya sendir

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN