Athaya menghela napas dalam-dalam, seolah ingin mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba menyerangnya. Dengan dingin, ia melepaskan diri dari pelukan Shenzy, membiarkan kehangatan sesaat yang tadi menyelimutinya lenyap begitu saja. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Seharusnya, pelukan Shenzy memberinya kenyamanan. Seharusnya, sentuhan itu terasa familiar, seperti rumah, seperti sesuatu yang dulu ia cari dan ia perjuangkan. Seharusnya, saat tangan Shenzy melingkar di tubuhnya, ia merasa utuh. Tapi sialnya... wajah Adeeva justru yang muncul di kepalanya. Bukan Shenzy. Bukan perempuan yang dulu hampir ia pertaruhkan segalanya demi bisa bersama. Bukan perempuan yang selama ini ia yakini sebagai satu-satunya yang ia inginkan. Adeeva. Sosok yang selalu ia anggap sebagai belenggu dal

