Pada akhirnya, Fabian lah yang mengurus ayahnya di rumah sakit. Ia tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa ayahnya kini hanya memiliki dirinya. Tidak ada siapa pun lagi yang peduli, tidak ada siapa pun yang mau repot-repot datang menjenguk, apalagi membantu. Sejak kecil, ia tahu bahwa ayahnya bukan tipe pria yang mudah akrab dengan orang lain. Hubungan dengan para tetangga pun tak pernah harmonis. Ayahnya selalu merasa bahwa orang-orang di sekelilingnya hanya ingin mengambil keuntungan dari statusnya sebagai seorang profesor ternama. Bukannya bersikap ramah atau membangun relasi yang baik, ayahnya justru memasang tembok tinggi, menjaga jarak, dan menaruh curiga pada hampir setiap orang. Fabian masih ingat bagaimana ayahnya selalu mengeluhkan tetangga yang datang dengan berbagai alasan.

