Bayu berdiri di depan gerbang rumah kosan Senja. Ia menekan bel. Tak ada jawaban. Ia menekan lagi, kali ini sedikit lebih keras. Tetap hening. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Barangkali Senja sedang tidur atau sedang berada di kamar mandi. Tapi setelah menunggu hampir tiga puluh menit, tak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam. Ia melangkah mundur, menatap gerbang kayu cokelat yang terlihat sudah mulai pudar warnanya. Tak biasanya Senja tidak ada di kosannya pada pagi seperti ini. Matahari pagi baru saja naik, cahaya keemasannya membelah jalanan yang masih sepi. Udara pagi terasa segar, tapi di dadanya ada gelisah yang menggantung. Ia menekab bel lagi, sedikit lebih keras, lalu menunggu. Tak ada jawaban. Ia melangkah mundur, menatap pintu kayu yang sudah mulai pudar wa

