Di mobil, Gendhis dan Mus terlihat sangat diam saja, merasa canggung karena sedari tadi Ama terlihat menghindari obrolan dari Xin. Bahkan Xin yang melirik-lirik Ama tak digubris sama sekali, ia hanya diam dan membuang pandangan ke luar jendela. "Perang dingin ges?" Gendhis mengangguk sambil mengisyaratkan Mus agar diam. Namun, bukan Mus namanya kalau setuju untuk diam. "Lumayan bisa naik mobilnya Dosen Killer," bisik Mus lagi. Gendhis mendelik menjewer telinga Mus yang ada di balik hijab pasminanya. "Du duh, sakit njir!" teriaknya membuat Xin dan Ama menoleh. "Kenapa?" tanya Ama. "Gak papa, hehe maaf ya Pak," ujar Mus nyengir kuda. Sementara Gendhis merasa malu dengan kelakuan Mus yang tak bisa diam, padahal hanya menunggu sampai mereka sudah tiba di tujuan saja, tapi dasarnya Mus

