"Hai, Sayang!" Fabi datang ke ruangan Xin dan memeluknya ditambah kecupan manis di pipi kirinya. Xin hanya tersenyum menanggapinya, janan kira yang jago akting hanya Fabi. Bertahun-tahun termakan oleh polah tingkah Fabi yang penuh kepalsuan membuat ia justru belajar banyak tentang kepura-puraan, maka inilah saatnya ia memerankan perannya. "Tumben mau ke kantorku, biasana ogah-ogahan?" tanya Xin masih sibuk dengan berkasnya. Ia tak terganggu meski Fabi masih memeluk lehernya dari belakang. Xin mencoba tetap bersabar dengan kondisi ini, ia tak boleh membuat Fabi menyadari ketidak nyamanannya. "Aku mau bicarain soal pengaduan kalau aku nyelakain Ama." Xin menghentikan aktivitasnya pura-pura terkejut, lalu ia memutar tubuh Fabi agar menghadapnya. "Emang gimana sih ceritanya?" taya Xin s

