“Ya Tuhan sebentar lagi.” Tangan Kayra menggenggam dengan erat ponsel yang dipegangnya. Dia sekarang benar-benar panik karena ini hari pertamanya kembali berkuliah setelah libur musim dingin kemarin dan dia sudah tidak punya banyak waktu untuk pergi ke kampus dengan cepat karena masih ada di dalam toilet asramanya. “Aku pasti tidak akan diizinkan masuk,” keluhnya. Begitu perutnya sudah tidak sakit lagi, Kayra buru-buru keluar dari toilet dan bergegas untuk pergi ke fakultasnya. Kayra yang biasanya jarang membawa sepeda dengan cepat mengayuh sepedanya. Sejujurnya Kayra sedikit takut untuk bersepeda di kondisi ini. Salah-salah ban sepedanya bisa tergelincir dan membuat dirinya terluka. Tapi karena tidak ada cara lain lagi, jadi Kayra mau tidak mau melakukannya. Deringan telepon beberapa

