5. Spam

1760 Kata
Saat Calixto pulang, hujan bertambah deras. Calixto merasa sedikit bersyukur karena dia pulang tepat waktu. Tombol kunci apartemen yang terbuka membuat Calixto menipiskan bibirnya tak suka. Apartemen yang ditempati Calixto merupakan apartemen yang menggunakan kunci digital dan tombol untuk memasukkan password di pintu apartemen Calixto terbuka. Calixto tidak suka jika Mia sampai lalai menutup tombol kunci apartemen. Calixto berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam apartemen. Langkah Calixto terhenti di ruang keluarga di mana Mia tengah menonton televisi. Mata Calixto langsung tertuju pada adegan romantis yang terlihat di layar televisi. Calixto menutup matanya, kemudian dia membukanya perlahan dengan napas yang dihembuskannya dengan berat. Hembusan napas Calixto itu membuat Mia menoleh ke belakang. “Ah, kamu sudah pulang. Aku sudah memasak dan kalau lapar, kamu bisa langsung makan ke dapur.” “Tidak, aku sudah makan.” Calixto kembali melirik televisi di depannya, “Volumenya tolong dikecilkan.” Setelah mengatakan itu, Calixto langsung pergi meninggalkan Mia. Hari ini, hari Calixto benar-benar buruk. Terlalu banyak hal yang membuatnya terganggu, terutama tentang cinta dan keluarga. * * * “Ah, coklat hangat.” Kayra menerima coklat hangat yang diberikan Daniel. Daniel duduk di depan Kayra dan memperhatikan Kayra sambil bertopang dagu. Kayra meminum coklat panas yang baru saja dia beli dengan bersemangat. “Enak?” Kayra mengangguk. “Ini membuat tubuhku hangat.” “Bukankah sudah kubilang untuk memakai payung?” Daniel berdecak tak suka. Kayra sudah tahu akan hujan sore ini dan dia malah menggunakan jas hujan untuk pulang, tidakkah itu suatu yang gila? Kayra meletakkan gelas coklat panas miliknya yang sudah habis. Kayra kemudian terlihat tersenyum sombong. “Kamu tidak tahu kalau aku….” “Kalau kamu sering main hujan-hujanan dan sering melakukan kegiatan di alam,” potong Daniel. Daniel mendengus geli dan mencubit pipi Kayra yang sedikit chubby. “Tapi tetap saja, hujan-hujanan di hari sedingin ini itu tidak benar.” Pipi Kayra yang baru selesai dicubit langsung dielus oleh Kayra. Kayra tersenyum masam. “Ini sakit,” keluhnya sambil terus mengelus pipinya. “Kamu terlalu menggemaskan,” balas Daniel. “Aku seksi,” seru Kayra yang menolak dibilang menggemaskan. “Menggemaskan dan seksi, bukankah itu lebih baik?” Daniel mengerlingkan matanya. Kerlingan mata dari Daniel seketika membuat Kayra tertawa. Selesai puas tertawa, Kayra tersenyum simpul ke arah Daniel. “Ya, itu terdengar lebih baik,” katanya. “Rasa percaya dirimu sekarang lebih tinggi ternyata.” Daniel bangun dari duduknya. “Ayo ku antar ke asrama.” “Tunggu, aku ingin membeli sesuatu di dalam dulu,” ucap Kayra. “Membelikan Amanda?” Kayra mengangguk mengiyakan. Convenience store yang sekarang dia datangi jaraknya cukup dekat dengan asramanya. Kayra jadi tidak perlu takut jika saat dia pulang dia tidak bisa pulang karena hujan yang begitu deras. “Anak itu tidak pernah tidak menyuruhmu.” Daniel ikut masuk mengikuti Kayra. Kayra memilih beberapa snack dan permen. Selain itu, Kayra juga harus membelikan Amanda pembalut karena gadis itu tengah datang bulan sekarang. “Pantas saja emosinya tidak stabil,” komentar Daniel saat melihat pembalut yang dibeli Kayra. Kayra mengangguk setuju dengan ucapan Daniel. “Dia juga memerahiku tadi,” katanya. “Kenapa? Apalagi yang kalian pertengkarkan hari ini?” Langkah kaki Kayra terhenti. Dia melirik Daniel dan tersadar jika Daniel adalah salah satu objek yang berada di pembicaraan mereka. Jika dia memberitahu Daniel apa yang mereka bicarakan, bisa-bisa semuanya mendadak menjadi aneh. “Biasa, beberapa pembicaraan masalah hewan apa yang terlihat tampan.” Daniel menutup wajahnya frustrasi. “Kapan kalian akan berhenti membicarakan hal-hal aneh seperti itu?” “Setelah dimulainya kegiatan belajar mungkin? Aku dan Amanda akan lebih fokus ke bidang tumbuhan.” Kayra meletakkan belanjaannya di meja kasir. “Jadi sekarang kalian tertarik dengan tumbuhan?” “Ya, jadi mungkin kamu akan sering mendengarku berdebat masalah tumbuhan.” Baru saja Kayra akan membayar, Daniel menahan tangan Kayra dan memberikan kartu atmnya pada kasir. “Aku traktir.” “Oh ya Tuhan….” Kayra menutup mulutnya. Matanya menatap Daniel dengan tatapan takjub. “Dari kemarin malam kamu terus mentraktir kami. Sebenarnya berapa dolar yang cair ke rekeningmu itu?” tanyanya penasaran. Daniel tersenyum simpul dan menarik Kayra untuk keluar dari convenient store. Saat dia membuka payung miliknya, Daniel pun berucap, “Cukup untuk makan sebulan dan pergi kencan.” Lagi-lagi Kayra dibuat takjub dengan jawaban Daniel. “Kamu akan pergi berkencan? Kapan?” tanyanya antusias. “Uhm… mungkin besok atau lusa.” “Siapa dia? Apa aku mengenalnya?” tanya Kayra penasaran. Dia merasa senang mendengar jika Daniel akan pergi berkencan. Daniel kembali menarik Kayra agar berada di dekatnya. Dia merangkul Kayra dan mengajaknya untuk berjalan pulang. Kepala Kayra tengadah ke atas, dia menatap Daniel penasaran. “Ayolah… kasih tahu aku.” “Aku hanya bercanda,” jawab Daniel. Dia terlihat tersenyum dengan pandangan mata menerawang lurus ke depan, “Tapi mungkin nanti ketika aku siap.” Kayra menyiku perut Daniel. Daniel seketika mengaduh karena sikuan Kayra yang membuatnya kaget. “Kenapa?” tanya Daniel yang bingung karena tiba-tiba disiku Kayra. “Kamu menyebalkan.” Daniel semakin mengeratkan rangkulannya. “Babe… jangan seperti itu. Aku hanya bercanda dan tidak akan selingkuh darimu.” Ucapan Daniel sukses membuat tubuh Kayra bergidik geli. Dia bahkan menutup kupingnya karena geli dengan ucapan Daniel yang tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan babe. “Jangan katakan itu lagi, aku bisa mati karena ngeri,” ucap Kayra yang masih menutup telinganya. “Kenapa kamu jahat sekali?” Daniel terlihat sedih. “Aku akan menyuruh Amanda untuk memberimu pelajaran.” Kayra menjauhkan tubuhnya dari Daniel, namun Daniel dengan cepat menarik Kayra ke dekat tubuhnya lagi agar Kayra tidak terkena hujan. “Jangan jauh-jauh, bisa-bisa rambutmu basah.” “Aku tahu itu,” cicit Kayra. Dia melirik Daniel dan mendengus. “Aku baru tahu jika kamu menjadi pengadu sekarang. Padahal aku yang selalu membelamu jika bertengkar dengan Amanda.” “Sepertinya aku dan Amanda sekarang berada di sisi yang sama untuk memarahimu.” Kayra berdecih mendengarnya. “Ya, ya, ya, jadilah sekutunya dan aku akan mencari sekutuku sendiri.” “Babe… aku hanya bercanda.” Tangan Kanan Daniel yang merangkul Kayra mencubit pipi kanan Kayra. Dia selalu suka mencubit pipi Kayra yang terasa lembut dan kenyal. “Ya, ya, ya….” Mereka terus berjalan hingga tanpa terasa mereka berdua sudah sampai di asrama perempuan. Di depan pintu asrama, Kayra berdiri berhadapan dengan Daniel. “Terima kasih atas traktirannya.” “Untuk Kayra yang manis, kenapa tidak?” “Ya Tuhan, hari ini mulutmu sangat manis sekali. Sepertinya aku harus memberikan hadiah.” “Aku menerima semua macam hadiah.” Senyum Daniel mengembang dengan lebarnya. “Oke, aku akan memasakkanmu makan malam besok.” “Boleh, tapi besok aku akan pulang larut.” “Bagus dong, aku akan membawakanmu makan malam ke gedung fakultasmu. Bagaimana?” Kembali Daniel mencubit pipi Kayra. “Oke, aku akan menunggunya.” Sebelum mendapat pukulan dari Kayra, Daniel lebih dulu mengambil jarak dari Kayra. “Aku pulang dulu!” seru Daniel sambil terus menjauh dari Kayra. “Ash! Awas aja kamu!” teriak Kayra. “Besok saja kalau ingin memukulku!” jawab Daniel dengan suara yang cukup keras karena suara hujan membuat suaranya menjadi sedikit teredam. Kayra tidak menjawabnya, ekspresi wajahnya terlihat mengerut namun semakin jauh Daniel berjalan, senyum simpul Kayra mengembang. Daniel adalah anak baik-baik yang dia kenal sejak pertama kali mendaratkan kakinya di kampus ini. Daniel adalah anak yang sangat ramah, melebihi anak-anak kelasnya yang terbilang sangat serius, terkecuali Amanda yang memang memiliki jiwa barbar. Yang sama antara Kayra dan Daniel adalah sama-sama pendatang di kota Columbus, Ohio. Sedangkan Amanda, dia lahir dan besar di kota ini. Walau sama-sama pendatang, hanya Kayra yang merasakan culture shock karena dia yang berasal dari Asia Tenggara. Kayra pergi ke kamar Amanda yang berada lantai dengan kamarnya. Di tahun pertama, Kayra masih bisa sekamar dengan Amanda, hanya saja rolling yang terjadi membuat Kayra harus sekamar dengan anak jurusan lain. Untungnya mereka berdua sama-sama dari Indonesia. “Pesananmu Nona.” Kayra meletakkan pembalut. Mata Amanda menatap snack yang masih di dalam kantung plastik yang dibawa Kayra. Kayra yang sadar ke mana arah pandang Amanda hanya bisa menghela napas. “Sabar.” Kayra memberikan dua bungkus snack. “Itu Daniel yang memberikan semuanya, jadi tidak usah diganti.” “Uangnya pasti baru ditransfer orangtuanya.” “Ya sepertinya.” Kayra mengusap tengkuknya yang terasa dingin. “Aku mau ke kamar dulu. Mau mandi.” “Mandi di hari sedingin ini? Wow!” “Kamu kan tahu,” “Kalau tidak mandi setelah hujan-hujanan, nanti kamu sakit,” potong Amanda yang langsung tahu apa yang akan Kayra katakan. Kayra terkekeh sambil mengangguk setuju. Daniel dan Amanda tampaknya sudah hafal dengan kebiasaan yang sering dilakukannya dan itu semua sering dianggap aneh oleh Daniel dan Amanda. “Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu.” Sampai di kamarnya, Kayra mendapati roommate-nya Juli yang tengah belajar. “Baru pulang ya?” “Enggak, udah dari tadi, tapi tadi main ke convenient store depan dulu.” Kayra memberikan satu bungkus biskuit untuk Juli. “Makasi.” “Sama-sama. Aku mau mandi dulu.” Di bawah shower yang mengalir Kayra bersenandung pelan. Dia menikmati air panas yang membasuh tubuhnya, rasanya sangat nyaman sekali. Senandung Kayra tiba-tiba terhenti saat mengingat hal-hal yang menyenangkan yang sudah dia lalui hari ini. Kayra merasa tidak menyesal telah mengambil keputusan untuk kuliah Ohio. Terlalu banyak hal yang menyenangkan yang dia temukan. Bisa bertemu dengan Amanda dan Daniel juga merupakan keberuntungan dan juga kebahagiaannya. Siapa yang akan perlu kekasih jika sudah memiliki sahabat seseru Amanda dan Daniel. Kekasih bisa didapatkan kapan saja, tapi tidak dengan sahabat bukan? Tapi jauh di hati kecilnya, Kayra juga ingin memiliki kekasih. Ingin merasakan bagaimana rasanya benar-benar jatuh cinta pada seseorang. Cinta yang pernah dia rasakan hanya cinta sesaat. Selesai mandi, Kayra segera memakai pakaian hangatnya. Tak lupa dia juga bersembunyi di balik selimut. Di dalam selimutnya, Kayra menyalakan ponselnya dan memposting foto yang dia ambil dengan Amanda. Tring~ Sebuah pesan masuk ke akun media sosialnya. Kayra mengernyit melihat nama yang terasa asing itu. Walau begitu, yang namanya pesan Kayra tetap akan membukanya, terlebih pesan itu menggunakan bahasa Indonesia. Wisteria: Lo Kayra Olaya kan? Wisteria: Orangtua lo tu Vina sama Handoko, kan? Kayra mengerutkan alisnya saat melihat pesan yang dia dapatkan. Dia kemudian mengetik balasan untuk pesan itu. Baru saja dia akan mengirimkan balasannya, orang itu sudah langsung mengirimkannya pesan yang lain. Wisteria: Pasti bener dong… Wisteria: Gue enggak sangka kalau lo tuh bisa hidup bahagia di sana, sedangkan orangtua lo itu hidup sengsara di Jakarta. Udah macam anak enggak tau diri banget tau enggak sih!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN