Komputer yang menyala sedari tadi hanya ditatap dengan tatapan yang malas. Hampir setengah jam lamanya Calixto dalam posisi bertopang dagu dan menatap layar komputernya. Dia merasa bingung harus melakukan apa, padahal di depannya sudah ada tulisan yang harus dia selesaikan.
Calixto menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi. Dia meregangkan tangannya dan mendesah frustrasi, “Haaaah….”
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuat Calixto buru-buru menegakkan tubuhnya. “Masuk,” ucapnya kemudian.
Pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok Mia yang membawa nampan yang berisi cangkir dan beberapa cemilan.
“Aku membawakanmu teh dan cemilan yang kebetulan kubuat dan ingin kubagi padamu.”
“Aku….”
“Ya aku tahu itu dan aku akan menaruhnya di sini.” Mia menaruh nampan itu di meja kosong yang ada di samping pintu.
“Ya, kamu boleh keluar.”
Mia kemudian keluar dari ruangan Calixto. Calixto memandangi teh dan cemilan itu. Apa yang dibawa Mia ke dalam ruang kerjanya bisa menjadi masalah. Kertas yang ada di mejanya pernah menjadi korbannya dan beruntungnya kertas-kertas itu bisa di print ulang. Bagaimana jika kertas itu kertas ujian? Oh, Calixto tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Pikirannya yang terasa seperti kehilangan arah membuat Calixto memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi pekerjaannya. Musik klasik kemudian dia nyalakan agar bisa merasa lebih tenang. Dia kemudian bangun dari tempatnya dan mengambil teh dan cemilan yang di bawa Mia tadi.
Calixto kemudian membawanya ke sofa dan dia duduk di sana. Sambil menikmati teh dan cemilan itu, Calixto memutuskan untuk membalas email-email yang masuk ke dalam ponselnya. Email-email itu biasanya dari mahasiswa yang membutuhkan bimbingannya.
Email dibalas dari yang terbawah dan saat email bergulir menuju ke yang paling bawah. Email paling bawah ternyata berasal dari Fero, salah seorang sahabat di masa high schoolnya. Mereka sudah sangat lama tidak bertukar kabar dan setelah sekian lama Fero kembali mengirimkannya pesan.
Fero: Hallo Christopher Calixto Lewis. Bagaimana kabarmu? Kuharap kamu baik-baik saja karena aku berniat untuk mengundangmu ke acara pernikahanku. Aku akan mengadakan pernikahanku di Ohio juga, jadi kuharap kamu akan datang.
Fero: [Undangan]
Undangan dalam bentuk digital itu Calixto buka dan waktu yang tertera di undangan itu akan berlangsung akhir pekan ini. Calixto membuka jadwal yang sudah dibuatnya. Dia melihat jadwal miliknya yang pada hari dan waktu yang sama dengan jadwal pernikahan Fero dan dalam waktu itu semuanya kosong. Beruntungnya dia membuka pesan yang dikirim Fero terlebih dulu.
“Seseorang yang mengatakan tidak pernah akan menikah malah menikah,” gumam Calixto sambil menulis jadwalnya menghadiri pernikahan Fero. Tapi jika ditelaah lagi, Calixto rasa sangat lucu jika dia masih mempercayai ucapan mereka saat masa remaja dulu.
Hampir satu jam lamanya Calixto membuka email-email yang masuk dan membalasnya. Barulah setelah itu dia keluar dari ruangannya karena keinginan untuk buang air kecil.
Mia ternyata masih berada di depan televisi yang membuat Calixto berpikir jika Mia terlalu memiliki banyak waktu luang. Awalnya Calixto mengabaikan Mia hingga saat dia akan kembali ke ruang kerjanya, dia memutuskan untuk menegurnya.
“Sepertinya waktumu sangat luang ya.”
Ucapan Calixto membuat Mia tersentak kaget dan menoleh ke belakangnya. Calixto memandanginya dengan serius.
“Ya, seperti yang kamu lihat. Aku memiliki waktu luang malam ini.”
“Oh.”
“Apa ada sesuatu?” tanya Mia.
“Tidak ada.”
Mia tersenyum canggung. “Aku kira kamu ingin mengatakan sesuatu.”
“Tidak ada.”
Mia mengangguk mengerti dan Calixto berlalu meninggalkan Mia.
Setelah itu Calixto kembali ke ruang kerjanya. Sebenarnya tadi dia berniat untuk mengajak Mia pergi ke pernikahan temannya. Tapi, dia teringat bagaimana menyebalkannya Mia membuatnya enggan untuk mengajaknya. Mia juga pastinya tidak akan bisa berbaur dengan temannya. Tidak hanya dengan temannya, bahkan dengan dirinya pun Mia tidak bisa. Tidak banyak kata yang bisa dia bicarakan dengan Mia.
*
*
*
“Gue enggak sangka kalau lo tuh bisa hidup bahagia di sana, sedangkan orangtua lo itu hidup sengsara di Jakarta. Udah macam anak enggak tau diri banget tau enggak sih!” gumam Kayra saat membaca pesan yang dia dapatkan itu. Ekspresi Kayra seketika berubah mengeras. Sebuah pesan dari akun anonim yang malah langsung mengatakan penghinaannya. Dengan berapi-api Kayra menulis dengan cepat balasan untuk anonim tidak tahu diri itu.
Kayra: Kamu sepertinya punya banyak waktu luang untuk mengurusi hidup orang lain ya :)
Ingin sekali Kayra langsung memberikan makiannya pada orang asing itu. Tapi, bisa saja itu yang orang itu rencanakan. Membuatnya terlihat buruk dan akhirnya menyebarkan berita palsu lebih banyak lagi.
Tidak lama setelah Kayra membalas pesan itu, Wisteria langsung mengirimkan balasannya.
Wisteria: Gue tu peduli ke lo. Biar lo itu bisa ngurangin tingkah sok hedon lo itu.
Lagi-lagi Kayra dibuat kesal membaca balasan dari Wisteria. Tingkah sok hedon? Apa dia tampak seperti itu? Bahkan akun onstagramnya itu hanya menampilkan pemandangan dan beberapa kesehariannya sebagai mahasiswa. Dia tidak memposting saat dirinya pergi belanja, ke tempat mewah, atau bahkan saat dirinya pergi ke club. Itu tidak pernah dia lakukan. Saat pergi ke club malam pun itu dia lakukan untuk menghormati temannya. Apa dia minum alkohol di sana? Mencoba sekali pernah, selanjutnya? Tentu saja tidak. Rasanya sungguh tidak enak dan harganya sangat mahal. Mahasiswa dengan uang pas-pasan seperti dirinya tidak akan mampu membeli alkohol dan terus-terusan ke club malam.
Ponsel itu Kayra matikan. Dia menghela napas kasar lalu meletakkan kembali ponselnya itu.
Tring~
Baru dua menit dia meletakkan ponselnya, pesan kembali masuk. Melihat nama dari pengirim pesan itu, Kayra sontak mengumpat, “Sialan! Maunya apa sih nih orang!”
“Kenapa Kay?” tanya Juli saat mendengar u*****n dari Kayra.
“Nih ada anonim yang kirim pesan terus, ganggu banget.”
“Udah, hirauin aja. Orang kek gitu malah makin seneng kalau kamu ladenin.”
“Ya, kamu bener juga sih.”
Walau mengatakan hal itu, nyatanya Kayra tetap gatal juga untuk membuka pesan yang dikirim oleh Wisteria.
Wisteria: Gue saranin ni ya. Lo kurang-kurangin hidup sok hedon lo itu dan cari duit yang banyak buat bantuin keluarga lo tu.
Kayra: Makasi sarannya :)
Kayra memutuskan untuk membalasnya, dia berharap dengan seperti ini Wisteria akan merasa puas. Orang itu memberi saran, jadi wajar saja jika dibalas dengan ucapan terima kasih bukan?
Wisteria: Semoga utang-utang orangtua lo itu cepet lunas ya. Terus, kurang-kurangin deh posting kehidupan lo di luar negeri itu. Itu semua bikin lo macam anak enggak tahu diri aja. Orangtua lo di kejer rentenir, anaknya malah ketawa haha-hihi sama temen-temen bulenya.
Semua balasan yang Wisteria berikan untuknya itu membuat Kayra terdiam membisu. Dia mencoba mencerna semua kalimat yang sebenarnya sudah begitu jelas, tapi terasa sangat aneh. Utang dan rentenir? Tidak mungkin keluarganya memiliki utang.
Lama Kayra terdiam dan pesan dari Wisteria tidak muncul-muncul lagi. Kayra ingin menganggap Wisteria hanya orang yang ingin mengatakan omong kosong, tapi sepertinya tidak ada salahnya jika dia memastikan pada mamanya tentang kebenaran itu. Tapi Kayra tidak bisa menelepon mamanya di jam seperti ini karena perbedaan waktu mereka dan juga karena sosok Juli.
Hingga tengah malam Kayra masih terjaga karena bantuan serial drama yang dia tonton di laptopnya. Seperti apa yang sudah dia rencanakan, Kayra keluar kamar dan pergi menuju ruang santai yang sepi karena semuanya sudah berada di dalam kamarnya.
Mama
Kayra menekan kontak mamanya itu dan menelepon. Panggilan telepon itu terhubung. Kayra meremas pahanya, dia gugup dan berharap panggilan teleponnya segera diangkat.
“Hallo Kayra sayang.”
Suara ini, ini suara yang Kayra tunggu-tunggu.
“Ma, kangen.”
“Mama juga kangen kamu sayang.”
Kayra mengambil napas panjang saat merasa sesak di bagian dadanya. “Mama sekarang lagi apa?”
“Ah ini, Mama baru selesai beres-beres rumah. Kamu sendiri gimana? Enggak tidur?”
“Enggak Ma. Aku baru saja selesai nonton drama dan jadi kepikiran buat telepon Mama.” Kayra ingin langsung bertanya, tapi dia sadar terlalu aneh jika dia bertanya seperti itu. Mamanya pasti akan curiga dan akhirnya ingin tahu kenapa dia sampai berpikir seperti itu.
“Jangan begadang terus, nanti kamu sakit loh. Di sana juga sudah masuk musim gugurkan? Kamu harus pakai terus baju hangatnya.”
“Iya Ma, aku selalu ingat kok pesan Mama. Oh ya Ma, kabar Papa gimana Ma? Baik-baik ajakan?” Kayra semakin kuat mencengkram pahanya. Sebentar lagi dia akan bertanya tentang itu dan dia cukup takut untuk takut mengatakannya.
“Papamu itu baik-baik saja.”
“Toko ramai?” Setelah mengatakan itu, Kayra menutup matanya.
“Ramai, kenapa? Kamu mau minta tambahan uang jajan?”
Pertanyaan itu sontak membuat Kayra membuka matanya cepat dan menggeleng, padahal gerak tubuhnya itu tidak akan dilihat oleh mamanya itu.
“Enggak Ma, enggak,” ucap Kayra cepat dan panik, “Bukan itu maksudku.”
“Terus kenapa?”
“Ya cuman nanya aja. Aku enggak mau liat Mama sama Papa kerja keras banting tulang buat aku. Apalagi sampai punya utang karena itu. Aku enggak mau Ma.”
Setelah Kayra mengatakan itu sepi terdengar dari seberang telepon hingga satu menit lamanya yang membuat Kayra mengerutkan dahinya.
“Ma? Mama?” panggil Kayra.
“Ah iya… maaf tadi Mama enggak fokus karena ada gosip di tv.”
Kayra terkekeh mendengarnya. “Mama mah ada-ada aja.”
“Sana tidur, jangan begadang dan kamu enggak usah khawatir sama keadaan Mama di sini. Mama sama Papa baik-baik aja dan toko kita baik-baik aja.”
“Syukur deh Ma. Iya udah Ma, teleponnya aku matiin.”
“Iya sayang. Mimpi indah ya.”
“Iya Ma.”
Karena sudah mendapatkan jawaban yang dia mau, Kayra pun dapat mematikan panggilan telepon itu dengan perasaan tenang. Kayra merasa menyesal karena mempercayai ucapan anonim hanya karena tahu nama orangtuanya.
“Sekarang waktunya tidur.” Dia segera beranjak dari ruang santai menuju kamarnya lagi.
Di kamar yang tidak terlalu besar itu, Kayra melihat Juli yang sudah tidur dengan nyenyaknya. Saat baru akan mematikan ponselnya dan tidur, Kayra mendapatkan sebuah pesan.
Wisteria: [Video]
Wisteria: Berita menggemparkan nih di kompleks yang terjadi kemarin. Rentenir yang enggak dibukain pintu.