“Kamu pergi sepagi ini?” Calixto mengeluarkan sepatunya dari kotak penyimpanan. “Ya.” Akan jauh lebih baik bagi Calixto jika dia pergi lebih cepat. Jika sampai di lama di apartemen, tidak menutup kemungkinan orangtua Mia akan menelepon Mia dan memaksa dirinya untuk berbicara di telepon. “Pukul berapa kamu akan berangkat?” “Sembilan.” Calixto bangun dari duduknya setelah memakai sepatunya itu. Dia berbalik menatap Mia yang berdiri tidak jauh darinya. “Maaf tidak bisa mengantarmu,” sesal Calixto. “Asal kamu jangan lupa untuk datang menjemputku.” “Ya, tidak usah khawatir.” Calixto memberikan senyum kakunya. “Kalau begitu aku berangkat.” “Hati-hati.” Gerak tangan Calixto yang hendak membuka pintu apartemen tertahan. Kalimat hati-hati itu baru pertama kali Calixto dengar dari Mia. Me

