S E P U L U H
Julia menutup mulutnya dengan kedua tangannya mendengar penjalasan dari dokter Deaton. Penjelasan tentang kondisi Nathan. Di samping Julia, Dylan tak hentinya mengusap punggung mamanya. Berharap itu akan menenangkan Julia dan berhenti menangis.
Entah sejak kapan Dylan jadi benci melihat Mamanya menangis. Apalagi menangis terisak seperti saat ini. Mengingatkan Dylan pada kebodohannya di masa lalu. Saat dirinya menghajar Nathan habis-habisan hanya karena alasan sepele.
"Tapi, Nathan akan bangun kan, Dok ? Dia.." Dylan tak bisa lagi bertanya. Karena air matanya ikut luruh.
"Sejauh ini keadaan Nathan stabil. Setelah dilakukan operasi. Seperti yang saya bilang tadi, kepala Nathan terbentur cukup keras dan menyebabkan gegar otak. Kemungkinan terburuk dia bisa amnesia. Juga tangan kanannya kemungkinan akan lumpuh."
"Tidak. Nathan gak boleh--" Julia kembali terisak.
"Kita harus bisa menerima segala kemungkinan, Nyonya Julia. Kemungkinan terburuk sekalipun. Tapi jangan lupa bahwa kita juga punya Tuhan. Tuhan yang selalu tau apa yang harus dia lakukan. Dan yang harus kita lakukan adalah memohon padaNya, agar apa yang akan Dia lakukan, adalah sesuatu yang baik. Agar kemungkinan buruk itu hanyalah sebuah kemungkinan, tidak berubah menjadi kepastian," tutur Dokter Deaton Bijak. "Sementara kita menunggu Nathan sadar, ayo kita berdoa."
"Baik dok, terima kasih," ujar Dylan. Menjabat tangan Dokter dan menggiring Julia agar keluar dari ruangan dokter.
--The Only Exception--
Julia kini memasuki ruang rawat Nathan. Bersama Dylan. Ada Melissa yang kini berada dalam rengkuhan Lexa. Masih terisak.
"Kamu gak pulang, Mel?" tanya Julia menghampiri Melissa dan Lexa, "Besok kamu gak ada kelas mengajar?"
"Melissa mau disini Tante. Melissa mau minta maaf langsung sama Nathan segera setelah Nathan bangun," Melissa berkata lirih.
"Kamu harus istirahat Melissa.” Julia ikut mengusap punggung Melissa, "Jangan buat diri kamu sakit juga."
"Melissa gak peduli kalo Melissa harus sakit."
"Tapi kita peduli, Mel. Kita harus tetep sehat saat Nathan sedang terbaring di sana," tutur Lexa. "Kita harus menjaga Nathan, berdoa untuk kesembuhan Nathan. Dan untuk melakukan itu, kita harus tetap sehat. Jadi lo istirahat ya? Please.." bujuk Lexa.
"Gue istirahat disini. Gue gak mau pulang Lexa."
"Okey, kalo gitu Tante akan nemenin kamu disini." Julia mengambil duduk di kursi dekat brankar. Dan Dylan mendekatkan kursi lain pada kursi Julia. Mempersilahkan Melissa duduk disana.
"Kita akan cari makanan untuk kalian semua, ya?" Lexa menawarkan, "Dan lo Mel, kalo lo mau disini, lo harus makan." Melissa mengangguk patuh. Meskipun tanpa menatap Lexa.
Dylan dan Lexa berjalan meninggalkan ruangan itu. Dylan menggenggam erat tangan Lexa. Bukan agar Lexa tidak tersesat. Namun untuk menyalurkan rasa panik dan khawatirnya. Dan Lexa menyadari hal itu.
Lexa balas menggenggam erat tangan Dylan. Ibu jari tangannya mengusap pelan tangan kokoh Dylan.
"And now we wait?" tanya Lexa berjalan di samping Dylan menuju kantin rumah sakit.
"And now we wait." jawab Dylan, merengkuh Lexa.
"He's gonna be fine, Dylan. Nathan adalah orang yang baik," kata Lexa masih mencoba menenangkan prianya.
Dylan menghentikan langkahnya.
"Are you sure he’s gonna be fine? Karena aku tau apa yang terjadi pada orang baik, Lexa. Tuhan menyayangi orang-orang yang baik. Aku gak mau kehilangan Nathan," kata Dylan sedih.
Lexa diam. Ya, dia tau betul bagaimana perasaan Dylan karena dirinya juga pernah mengalami yang namanya kehilangan.
"I know," kata Lexa akhirnya. "Kita gak akan kehilangan Nathan, oke?" Dylan mengangguk.
Kembali membawa Lexa dalam pelukannya.
Dylan dan Lexa kembali setengah jam kemudian. Menemukan Julia dan Melissa yang terduduk di kursi tunggu depan ruang operasi. Terlihat dengan jelas bahwa mulut keduanya tengah komat-kamit.
Menyebutkan segala doa yang akan membantu Nathan agar lekas pulang. Membuka kedua matanya dan kembali menghangatkan suasana.
"Ma.." panggil Lexa pelan. Julia langsung saja menoleh. Menjeda doanya. Menatap Lexa dengan raut sedih, "Ada apa Ma?" Lexa mulai terlihat panik.
Sementara Melissa masih memejamkan mata abu-abunya. Mencoba untuk tidak menangis lagi dan tetap berdoa.
"Nathan kritis," Julia menjawab singkat. "Dokter masih menangani Nathan."
Dylan nyaris saja menjatuhkan tas berisi makanan untuk Julia dan Melissa begitu mendengar jawaban Julia. Tapi sebisa mungkin Dylan mencoba untuk tetap tegar.
Tak jauh dari mereka berkumpul. Terdengar suara Sebastian.
"No..No..GAK MUNGKIN," teriak Sebastian frustasi. "Dia gak mungkin mati. Gak boleh."
Sebastian menggelengkan kepalanya. Mencengkeram kerah baju salah satu temannya.
"Sebs, lo harus terima kenyataan. Max meninggal. Itu udah takdir dari Tuhan," kata temen Sebastian yang lain. Mencoba meredam emosi Sebastian, "Ini rumah sakit Seb. Kendalikan emosi lo."
Sebastian melepaskan cengkeramannya. Menarik napas dalam-dalam. Saat menghembuskannya kembali, mata Sebastian tak sengaja menatap Melissa yang lebih dulu menatapnya.
Seketika emosi Sebastian kembali naik. Sebastian melangkahkan kakinya menghampiri Melissa. Menarik paksa kedua bahu Melissa agar berdiri. Dengan tatapan marah. Sebastian mengguncang-guncangkan bahu Melissa.
"INI SEMUA GARA-GARA LO. DIA MENINGGAL GARA-GARA LO," marah Sebastian.
Dylan langsung saja menarik dengan kasar tubuh Sebastian. Meninju wajah ganteng Sebastian hingga Sebastian tersungkur.
Teman-teman Sebastian berhamburan melerai Dylan dan Sebastian. Beberapa teman Sebastian memegangi Sebastian agar tidak kembali emosi.
Sebastian menatap tajam ke arah Melissa yang kini berada dalam rengkuhan Lexa. Melissa tidak menangis. Melissa terdiam.
Dalam hati tidak percaya dengan apa yang barusan Sebastian lakukan. Baru beberapa jam yang lalu Sebastian bilang ini bukan salah Melissa.
"LO," desis Sebastian marah. Menatap tajam Melissa. "Lo akan dapat hukuman. Hukuman yang lebih buruk dari kematian." Setelahnya, Sebastian beranjak meninggalkan Melissa, berjalan menjauh.
"Sorry, He's so upset. He didn't mean it," kata salah satu teman Sebastian sebelum ikut berjalan mengejar Sebastian.
Melissa kian memeluk tubuhnya erat. Tiba-tiba ketakutan itu kembali hadir. Takut akan kehilangan. Juga takut akan penderitaan.
--The Only Exception--
Melissa bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati kaca ruang ICU. Menatap Nathan yang masih terbaring disana. Dengan beberapa alat medis menempel pada tubuhnya.
Julia dan Lexa sedang mengurus administrasi Nathan. Juga rencana pemindahan Nathan ke rumah sakit Varmiga, yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka. Sementara Dylan kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberap urusan. Urusan yang seharusnya adalah tugas Nathan. Namun karena suatu hal, Dylan-lah yang kini terpaksa mengurusnya.
Melissa ingin sekali menahan agar air matanya tidak luruh lagi. Namun susah sekali. Melihat betapa tidak berdayanya Nathan sekarang, sungguh menyayat hatinya. Merasakan perih yang luar biasa membuatnya sakit.
Melissa menggigit bibir bawahnya. Menahan isak tangisnya. Kepalanya mulai pusing karena menangis semalaman. Juga karena perutnya yang sejak semalam protes belum diisi dan malah diabaikan oleh Melissa.
Entahlah, jangankan untuk makan. Untuk bernapas saja Melissa enggan. Jika saja dia tidak merasa butuh untuk minta maaf pada Nathan saat Nathan nanti terbangun. Mungkin Melissa akan mengakhiri hidupnya.
Ya, seperti yang dulu pernah Lexa lakukan saat Lucas meninggalkannya. Berniat mengakhiri hidupnya.
Bahkan nyaris saja Lexa meregang nyawa andai Melissa tidak menemukannya.
Melissa merasakan ada tangan yang menepuk pelan bahunya. Buru-buru Melissa menghapus air matanya. Menoleh ke samping. Pada Lexa.
"Gue mau pulang sebentar, Mel. Gue harus bantuin Dylan di kantor. Lo ikut gue pulang, ya? Lo kan juga ada kelas," kata Lexa pelan. Di samping Lexa ada Julia yang mengangguk.
"Gue disini aja," jawab Melissa mantap. Kembali menatap Nathan di dalam sana.
"Kamu harus pulang, Melissa. Kamu harus bekerja, biar tante yang jagain Nathan," kata Julia mencoba peruntungan untuk membujuk Melissa.
Melissa masih diam. Menghiraukan bujukan Julia.
"Mel.." panggil Lexa.
"Gue udah bilang sama Mrs Jackson kalo hari ini gue gak masuk," kata Melissa tanpa menatap Lexa. "Gue gak akan kemana-mana sebelum Nathan bangun," lanjutnya.
--The Only Exception--
Kamu kapan bangun, Nath? Kamu kapan senyum lagi di depanku? Aku kangen senyum kamu. Jangan lama-lama seperti ini. Jangan membuatku takut.
Jangan membuatku kembali merasakan sakitnya kehilangan.
Nath, ada banyak hal yang masih belum aku lakukan. Dan aku hanya akan melakukannya bersama kamu. Ada banyak hal yang ingin aku ketahui tentang kamu. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan. Tentang gadis berambut pirang yang memelukmu tempo hari. Yang berhasil menyalakan api cemburu di hatiku.
Iya gadis itu, Nath. Gadis itu sekarang berjalan mendekat. Dengan tatapan panik dan air matanya yang mulai luruh saat melihatmu terbaring koma. Bangunlah Nath. Sungguh, ini lebih buruk dari kematian. Lebih buruk dari segalanya.
Karena keadaan kamu ini, jelas tidak hanya membuat orang-orang yang menyayangimu merasa sakit, tapi juga ini membuatmu sakit juga, kan ? Jadi ayo bangun, Nath. Please...
--The Only Exception--