Dua Belas

1165 Kata
D U A B E L A S Melissa mengurungkan niatnya untuk segera pulang ke rumah. Karena saat perjalanan menuju parkiran rumah sakit, tangannya dicekal oleh seseorang. Memaksa Melissa untuk ikut dengannya. Dan disinilah sekarang Melissa. Duduk dengan gelisah di taman rumah sakit. Bagaimana tidak gelisah? Seseorang yang duduk di sampingnya adalah pria yang beberapa hari lalu mengatakan bahwa Melissa akan mendapatkan yang lebih buruk dari kematian. Right. The handsome Sebastian Smith-lah yang tadi mencekal tangan Melissa. Menarik tangan Melissa menuju taman rumah sakit. Katanya ada yang ingin dia sampaikan. Tapi setelah 5 menit mereka duduk bersebelahan, pria itu hanya diam. Menatap langit cerah pagi ini. “Gue gak punya banyak waktu. Just want you to know that,” seru Melissa. Membuka obrolan. Sebastian menoleh pada Melissa. Dengan tatapan datar. Namun mengerikan. “Gue tau. Gue juga gak punya banyak waktu.” “Then, say something. Lo katanya mau bilang sesuatu.” “Gue minta maaf,” kata Sebastian lirih. Menatap sendu pada Melissa yang menatapnya. “Buat?” "Teriakan dan juga kata-kata kasar nan mengerikan dari gue malam itu. Gue bener-bener minta maaf, Mel," ucap Sebastian tulus. "Dimaafin," jawab Melissa dingin. Mengalihkan arah pandangnya. Senyum Sebastian merekah. "Gue gak bermaksud ngucapin itu, sungguh. Malam itu, saat dokter menutup tubuh Max--" "I know. Your boyfriend's dead because of me." "Wait, what?" Sebastian mengerutkan kening. Melissa menoleh pada Sebastian. "Your boyfriend, Max.." "My boyfriend?" tanya Sebastian tidak percaya. "Apa yang buat lo berpikir kalo Max adalah pacar gue?" "Natalie bilang gitu." "Natalie?" Sebastian mengulas senyum tipis. "Wanita ular berkepala pirang itu? Dia bilang gitu?" Melissa mengangguk mantap. Meskipun sedikit heran dengan tingkah Sebastian. "Dan lo percaya?" Melissa mengangguk ragu. Sebastian meraup wajahnya kasar. "GOD. Melissa, lihat gue. Apa gue kelihatan kayak cowok gay?" "Semua cowok bisa kelihatan seperti cowok gay." "Dan gue?" "I don't know. I don't know you." "Yeah. You don't know me, you don't know Natalie but you trust her words?" "Dia begitu meyakinkan saat mengatakannya." Melissa melengos. Entah mengapa dia tidak tahan dengan tatapan dari Sebastian. “Kapan lo ketemu Natalie?” Sebastian menghela napas. Ikut mengalihkan pandangannya pada langit. “Gue gak ketemu dia. Gue sempet dengar pembicaraan dia dengan seseorang saat dia berkunjung ke rumah sakit.” "Gue gak gay, okay? Dan gue gak akan ngasih lo hal yang lebih buruk dari kematian. Gue gak lakan nyakitin lo. Atau orang terdekat lo. Atau siapapun." Terdengar helaan napas dari Sebastian. "Seperti Lexa, Max adalah temen baik gue. Bener-bener baik. Dia yang selalu jadi pengendai segala emosi gue. Jadi, saat dokter menutup tubuh Max dengan kain putih. Mengatakan Max sudah meninggal. Gue ngerasa semuanya berakhir malam itu. Dan emosi gue meledak gitu aja." Melissa diam. Memberanikan diri menatap Sebastian yang masih menatap langit. Menyembunyikan buliran air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk mata. "Gue ngerti gimana perasaan lo," ujar Melissa. "Karena gue juga merasakan hal yang sama saat ada orang yang menyakiti Lexa. Bahkan, gue nyaris menghabisi nyawa salah satu diantara mereka, kalo aja Nathan--" "Nathan juga orang yang baik," sela Sebastian. Dengan gerakan cepat menghapus bulir air matanya. "Gue pernah punya pikiran buat nyomblangin Willow sama Nathan. Sayangnya adik gue itu gak suka sama cowok. Sayangnya lagi, dia milih kekasih yang salah." "Natalie?" tanya Melissa. Sebastian mengangguk, "Gue juga denger dia bilang bahwa lo membunuh Willow." "Gue emang membunuh Willow secara gak langsung.” Sebastian menghela napas. “Tapi jauh sebelum malam tragis itu, gue udah tau, kalo Willow udah gak hidup lagi. Dia memang masih bernapas, masih melakukan kegiatan seperti biasanya. Ikut kelas menari, bantu Mama di butik, masak buat gue. Tapi jiwanya udah gak ada. Senyum sebagai tanda kehidupannya udah hilang," tutur Sebastian. "Why ?" "Karena Natalie merenggutnya." Sebastian menoleh pada Melissa, "Gue inget malam itu, gue baru pulang balapan, Mama panik dan bilang kalo Willow tak kunjung pulang. Padahal itu nyaris tengah malam dan mulai turun hujan. Gue langsung aja nyari Willow di rumah Natalie. Dan benar, adik manis gue ada disana. “Berlutut di depan pintu rumah wanita ular itu. Menangis terisak. Merutuki dirinya sendiri karena Natalie memutuskannya demi kekasih baru Natalie. Gue gak bisa apa-apa saat itu. Willow bersikeras untuk menunggu Natalie. Sampe Max datang dan meluluhkan Willow." Air mata Sebastian kembali luruh tanpa ada yang bisa menahan. Ya selalu begitu setiap dia ingat sosok adiknya. Tangan Melissa bergerak. Entah itu dorongan dari siapa, Melissa menghapus buliran air mata di wajah tampan Sebastian. "Gak apa kalo lo mau nangis. Pria menangis, bukan karena dia lemah. Tapi karena dia punya perasaan yang lembut, sama halnya wanita." Tangan Melissa masih bergerak menghapus air mata di pipi Sebastian, "Percayalah, gue pernah melihat pria menangis lebih dari ini." "Thanks." Sebastian menangkap tangan Melissa di pipinya. Membawa tangan itu pada pangkuan Melissa, "Hingga malam itu, Willow memaksa ikut gue balapan. Ada kesalahan fungsi motor gue yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Willow menjadi satu-satunya korban meninggal di kecelakaan beruntun itu. Lo pasti tau gimana perasaan seorang kakak saat melihat adiknya menghembuskan napas terakhir di depannya kan, Mel?" Sebastian menatap Melissa terluka. Mengingatkan luka yang Melissa terima sore itu. "Gue tau," Melissa menjawab. Dengan mata berkaca-kaca. Membayangkan kembali perasaan menyesakkan itu. Saat Lucas menghembuskan napas terakhirnya di pelukan Lexa. Di depan kedua matanya. "I remember that hurt. Dan gue bukan satu-satunya yang terluka malam itu, Max juga. Dia bahkan jauh lebih hancur dari gue. Dia..yang ternyata mempunyai perasaan lebih pada Willow, benar-benar merasa kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup. Dan saat itu gue berjanji, buat mengembalikan kembali semangat hidup Max. “Buat menyayangi Max seperti gue menyayangi Willow. Sama halnya seperti lo, yang selalu melihat Lucas pada diri Lexa. Gue selalu melihat Willow pada diri Max. Karena keduanya memiliki banyak persamaan. Karena keduanya yang selalu jadi pengendali gue." "I know that feeling too." Melissa mengulas senyum tipis. "Lo orang yang baik, Sebastian. Lo juga kakak yang baik. Lo kakak yang selalu menjaga adiknya. Gak kayak gue. Gue bahkan gak bisa apa-apa saat dulu adik gue memutuskan untuk meninggalkan rumah." "Tapi lo sekarang udah jadi kakak yang lebih baik, Mel. Dengan lo selalu menjaga dan melindungi Lexa." Sebastian ikut mengulas senyum, "Dan gue juga yakin, lo akan jadi kekasih yang baik buat Nathan." "Lo juga, pasti kelak lo akan mendapatkan hal baik.” “Benarkah?” “Di luar sana, pasti Tuhan udah menyiapkan seseorang yang akan menyayangi lo. Yang akan menjadi segalanya buat lo, bukan hanya untuk mengendalikan emosi lo. Tapi juga jadi penyeimbang antara kekurangan dan kelebihan lo, Sebastian. Tuhan itu baik. Dan wanita di luar sana, yang udah dipersiapkan Tuhan buat lo, juga pasti baik." Melissa mengulas senyum hangat. Sebastian menatap lekat ke dalam manik abu-abu milik Melissa. Mengangkat kedua bahunya singkat. Lalu kembali tersenyum. "Ya. Dan gue selalu berharap bahwa wanita baik di luar sana, yang udah dipersiapkan oleh Tuhan. Itu adalah lo, Melissa," kata Sebastian sungguh-sungguh. Melissa merasakan kesusahan yang luar biasa hanya untuk menelan salivanya saat mendengar kalimat Sebastian barusan. Tak hanya itu. Melissa juga merasakan tenggorokannya yang mendadak kering. Dan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. --The Only Exception--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN