Cinderella

1288 Kata
Enjoy Reading. *** Di sebuah gang kecil seorang gadis terlihat berlari dengan kencang. Kakinya sudah terasa lemas dan lelah.  Napasnya juga sudah pendek-pendek tapi dia tidak boleh berhenti karena tepat di belakangnya beberapa pria dengan baju ala preman sedang mengejarnya. Gadis itu bernama Lin Xia. Gadis Tionghoa yang memiliki nasib tak seperti namanya. Jika Lin artinya cerdas maka dia 100% kebalikan dari kata cerdas. Dia sangat bodoh dan karena kebodohannya inilah dia berakhir di gang kecil seperti ini. Xia akan menginjak usia 17 tahun hari ini. Tetapi nasib sial sepertinya sedang menghampirinya. Salahkan saja keinginannya yang selalu bermimpi menjadi Cinderella dan menemukan sang pangeran. Hari ini keinginannya di kabulkan oleh Tuhan. Sayang minus pangeran tampan. Hidup Xia saat ini memang seperti Cinderella yang menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Bukan karena ibu tiri yang kejam dan saudara yang tamak tapi memang hanya itulah keahliannya selama ini. Siapa yang ingin terlahir bodoh? Tidak ada. Xia juga ingin menjadi pintar seperti kakaknya Lin Mey yang sudah menyandang status Dokter di usia 22 tahun. Ditambah tunangan yang kaya dan tampan. Tapi lihatlah dia, terlahir dari rahim yang sama tapi dengan kemampuan berbeda. Xia hanya lulusan SMP dan masuk 5 besar nilai terendah di sekolahnya. Benar-benar memalukan bagi ayahnya yang seorang pegawai negeri. Bukan Lin Xia tidak mau belajar, dia selalu giat belajar tapi entah kenapa dia tetap mendapat nilai terjelek di kelasnya. Ayahnya yang seorang pegawai negri semakin hari semakin malu karena keberadaannya. Ibu yang selalu membelanya pun sudah tiada dari 2 tahun yang lalu. Sehingga semakin lama keberadaannya seperti benalu di rumahnya sendiri. Hingga akhirnya setelah kematian sang ibu ayahnya sudah tidak sudi menyekolahkan dia karena kebodohannya. Lalu 4 bulan yang lalu kakaknya menghubunginya agar dia berangkat ke Jakarta dan tinggal dengannya. Alasannya dia kesepian karena menempati rumah besar peninggalan kakek dari mendiang ibu. Tentu saja Xia senang dan langsung menyetujuinya, karena selama ini kakaknya selalu baik padanya. Terlebih lagi dia sudah lelah di pandang seperti parasit oleh ayahnya sendiri. Namun, rasa senangnya hanya bertahan sekejap saja karena setelah tinggal bersama kakaknya ternyata tak lain tidak bukan dia hanya di jadikan upik abu di rumah itu. Walau kakaknya Lin Mey tidak pernah marah-marah, tapi tatapan kesal dan sindiran selalu Xia dapatkan jika rumah dalam keadaan kotor. Makanya Xia akhirnya sadar diri dan tahu di sana dirinya hanyalah numpang tempat tinggal. Walau rumah itu juga haknya tapi dia tidak punya apa-apa untuk membiayai perawatan rumah sebesar itu. Jadi biarlah tenaganya yang dia gunakan untuk membalas budi. Sayangnya kenyamanan hidup Xia di sana semakin lama semakin hilang.  Itu semua karena tunangan Lin Mey  yaitu Anton yang mulai sering berkunjung sebulanan ini. Awalnya sikapnya biasa saja layaknya kakak ipar dengan calon adik ipar. Tetapi lama kelamaan Xia mulai gerah dengan tingkah Anton yang sering menggodnya saat Lin Mey tidak di dekatnya. Xia berusaha menepis segala rayuan dan godaan Anton. Tapi entah kenapa cowok itu selalu memiliki berbagai cara untuk mendekatinya. Mulai dari menyentuh tangan, mencolek dan yang paling parah Anton pernah meremas pantatnya saat dia membuatkan minum di dapur. Puncaknya adalah malam ini, malam di hari ulang tahunnya. Kakaknya mengajak makan malam di tempat yang mewah untuk merayakan ulang tahunnya Xia yang ke 17. Xia bahkan mendapat kado berupa gaun yang indah yang sekarang dia kenakan olehnya. Sayangnya gaun inilah yang akhirnya menjadi bencana. Di tengah perayaan ulang tahun, kakaknya mendapat panggilan darurat dari rumah sakit sehingga mau tidak mau dia harus pergi.  Karena kakaknya yang khawatir dia pulang sendirian akhirnya Lin Mey  menghubungi sang kekasih yaitu Anton untuk mengntarnya pulang. Sebenarnya xia sudah menolak tapi kakaknya itu entah kenapa seperti benar-benar khawatir padanya. Makanya akhirnya Xia menuruti kata kakaknya itu. Tetapi seperti masuk kandang macan, Anton bahkan sudah terlihat berliur ketika melihat penampilan Xia dengan gaunnya yang mencetak jelas lekuk tubuhnya. Dengan semangat Anton mengantar Xia pulang. Namun ternyata nafsu sudah membutakan dirinya. Saat baru setengah jalan tiba-tiba Anton memberhentikan mobilnya dan dengan kurang ajar mulai menyentuh dan berusaha meraba tubuh Xia. Xia sebenarnya sama sekali tidak terlalu mengerti tentang hubungan intim dan sebagainya karena pergaulannya yang terbatas dan tentu saja dia yang selalu di rumah seperti tersisih dari dunia luar.  Namun nalurinya sebagai perempuan segera menyadari bahwa yang dilakukan Anton tidak benar. Xia yakin jika perempuan dan laki-laki belum menikah tapi saling pegang-pegang itu tidak baik dan bisa bikin hamil. Xia belum mau hamil, apalagi hamil anak Anton yang notabenya calon kakak iparnya sendiri. Makanya saat Anton mulai mengelus lengannya dan berusaha mencium bibirnya, Xia langsung memukul dan menendang sekuat tenaga. Anton yang tidak siap langsung terhempas ke kursi kemudi dan kesempatan itu tidak di sia-siakan Xia. Xia langsung keluar dari mobil Anton dan berlari tidak tentu arah hingga sampailah di sebuah gang kecil. Karena merasa sudah aman dan kelelahan Xia duduk di depan salah satu ruko yang sudah tutup, tidak di sangka keberadaannya di sana di salah artikan oleh beberapa pemuda yang sedang lewat. "Mangkal kok di sini neng." "Sekali maen berapa?" "Sini sama abang dulu." "Boleh test Drive sebelum booking kan?" Kata ketiga pemuda yang sepertinya preman itu. Xia tentu saja takut, dia selalu dinasehati tidak boleh bicara pada orang asing apalagi penampilan para pemuda itu membuat Xia takut. Xia berdiri dan berusaha pergi tapi sebelah tangannya dipegang salah seorang dari pemuda itu. "Mau kemana kok buru-buru?" Xia menendang pemuda yang menahannya, bersukurlah dia yang saat itu memakai sepatu hak tinggi sehingga pemuda itu reflek melepas cekalan nya karena kakinya seperti tertusuk paku. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Xia, dia langsung berlari sekencang mungkin. "Dasar p***k sialan. Jangan lari loe!" teriak pemuda yang di tendang Xia. Mereka marah dan langsung berusaha mengejar Xia. Maka di sinilah Xia sekarang. Dengan napas terengah dan kaki yang lecet masih berusaha lari menghindari kejaran pemuda-pemuda itu. Xia tidak mau besok menjadi berita di koran dengan judul korban pemerkosaan yang di buang di pinggir sungai. Xia berbelok lagi ke gang yang lebih sempit tapi baru beberapa langkah. Brughhhh. Xia menabrak tembok, bukan ... tapi beton karena apa pun yang di tabrak Xia terasa sangat keras sampai-sampai dia langsung jatuh terjengkang. Xia memandang ke atas dan demi seluruh oppa korea yang pernah di tonton olehnya, di depannya adalah contoh nyata cowok paling tampan dan menggiurkan yang pernah di lihat oleh mata imutnya. Sayang tatapan pria itu sangat dingin bak kuburan bahkan Xia merasa merinding saat dipandangi olehnya secara intens. Belum sempat kata-kata keluar dari bibir Xia, para preman tadi sudah berhasil menyusulnya. Mampus .... Sekarang Xia merasa hidupnya akan berakhir. Di belakangnya ada 3 pemuda yang siap memperkosanya sedang di depannya ada cowok super ganteng tapi nyeremin macam Mafia. Pria itu  masih betah menatapnya dengan wajag datar.  Xia jadi tidak tahu harus bagaimana. Karena apa pun pilihan Xia. Dia tidak yakin masih akan hidup hingga esok hari. Entah karena percaya atau karena putus asa Xia memandang wajah dingin di depannya berusaha menguatkan diri. "Help Me ...," bisik Xia lirih dengan air mata bercucuran  sambil berusaha menatap mata calon pahlawannya. Itu pun kalau benar dia seorang pahlawan yang mau menyelamatkan kecantikan. Wajah laki-laki itu mengernyit sebentar lalu semuanya terjadi seperti kilatan blitz kamera yang sangat cepat. Xia hanya tahu tiba-tiba ketiga preman yang tadi mengejarnya sudah tergeletak bersimbah darah dan pria menyeramkan itu berdiri masih dengan tatapan datar. Xia tidak tahu harus bersyukur atau takut karena sudah terbebas dari preman itu. Karena penyelamatnya jelas bukan pangeran berkuda putih, dia lebih terlihat seperti iblis yang mencari mangsa. Laki-laki itu hanya diam memandangi Xia lalu melangkah pergi seolah-olah tidak ada yang terjadi. Xia bangun dengan gemetar lalu berusaha melangkahi tubuh-tubuh preman yang mengejarnya tadi dengan berusaha setenang mungkin dan entah apa yang merasuki dirinya dengan tanpa paksaan Xia malah mengikuti laki-laki itu hingga sampai ke sebuah mobil dan ikut masuk ke dalam mobilnya. Laki-laki itu hanya diam, dia bahkan tidak menoleh ke arahnya. Tidak menerima namun juga tidak mengusir Xia dari mobil. Pria itu langsung melajukan mobilnya begitu Xia duduk di sebelahnya dan memasang sabuk pengaman. Xia hanya berharap kemanapun laki-laki itu membawanya dia tidak akan berakhir di tempat prostitusi. *** TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN