Enjoy Reading.
***
Pete menghembuskan nafas lelah lalu mengembalikan raut wajah dinginnya sebelum memasuki istana Cavendish.
Hari ini hari ulang tahun pernikahan kakaknya Peter dan Stevanie yang ke 35.
Pete sebenarnya paling malas menghadiri acara seperti ini, bukan karena musik atau acaranya yang membosankan. Tapi Pete kesal setiap bertemu wanita-wanita Cavendish dia di tatap dengan pandangan takut dan kasihan.
Takut karena menurut mereka tatapan matanya seperti malaikat pencabut nyawa, dan kasihan karena cintanya pada Ai yang enggak kesampaian.
Please ini sudah setahun sejak dia menculik Ai, dia bahkan tidak ada niatan sama sekali mendekati Ai lagi karena kasus lama itu hanya terjadi karena dia dalam pengaruh hipnotis.
Tapi memang sial sekali dirinya. Karena sekali kamu bertindak, cap itu tidak pernah pergi walau semua tahu Pete saat itu dalam keadaan terpengaruh orang lain.
"Ehem ... Pete ... bisa enggak mukanya di kasih senyum sedikiiiiit saja. Lihat orang-orang pada takut pas lihat kamu tuh. Seolah-olah kamu mau memenggal mereka semua," ucap Paul sang kakak smabil berbalik memandang adiknya yang malah seperti anaknya karena perbedaan usia yang hampir separuhnya itu.
Walau begitu, entah kenapa Pete yang paling muda dari semua saudaranya, tapi badannya paling besar dan paling tinggi di antara mereka.
Pete menurut dan berusaha memberi senyuman tipis seperti keinginan kakaknya.
"Ck ... enggak jadi deh. Senyummu tidak menyenangkan malah tambah menyeramkan. Pasang wajah kayak tadi saja." Paul berubah pikiran saat melihat senyum Pete yang lebih mirip psikopat gila.
Eh ... salah, bukan mirip. Adiknya ini kan memang psycopath, batin Paul sambil geleng-geleng sendiri.
Pete juga bingung, dia tidak tahu pasti rasanya tersenyum dan tertawa. Dia diam katanya menyeramkan, dia berusaha tersenyum katany malah semakin menakutkan. Apalagi kalau sampai dia tertawa, mungkin dia malah di anggap mau bunuh orang.
Apa yang harus dia lakukan? Dia ingin hidup normal seperti kakak-kakaknya, bisa ngobrol santai dengan teman, nongkrong dan sekali-kali main wanita, tapi setiap berkumpul dengan orang lain kosakata di lidahnya macet dan tak berguna. Akhirnya Pete hanya diam seperti robot yang bergerak dan bicara hanya jika ada yang bertanya. Hal yang jarang terjadi.
"Uncle ...!" teriak sebuah suara yang membuat Pete sedikit menurunkan wajah angkernya dan merubahnya lebih lembut.
Ai berjalan cepat mendeka dan memeluknya Pete tanpa rasa canggung sama sekali.
Dari semua wanita Cavendish entah kenapa hanya dia yang masih berani menyapanya sampai sekarang, padahal di lihat dari segi manapun harusnya Ai lah yang paling membencinya.
Pete penyebab utama Ai mengalami penculikan hingga kehilangan bayinya. Tapi, Ai memaafkan dengan hati lapang.
Walau begitu Pete tetap senang. Ai masih mau menyapanya. Meski Pete tahu Ai bersandiwara dan berusaha biasa saja. Pete tetap bisa merasakan tatapan kasihan di mata Ai setiap bertemu dengannya, entah kasian karena menganggap Pete masih menyukainya atau kasihan karena hal lainnya. Yang jelas Pete tidak menyukai tatapan seperti itu karena itu mengesankan seolah-olah dia orang paling mengenaskan dalam hal percintaan.
"Ehem ...."
Ai melepaskan pelukannya dari Pete saat Daniel mengintrupsi. Ai tersenyum lebar dan langsung menggelayut manja di lengan Daniel, hal yang membuat semua lelaki iri, termasuk Pete.
Bukan karena dia masih menyukai Ai tapi karena Pete sebenarnya ingin tahu rasanya memanjakan seorang wanita.
"Ai ... apa kamu tidak ingin memelukku juga?" tanya Paul yang ternyata berada di belakang Pete.
"Uncle ...," sapa Ai lalu memeluk Paul. Membuat Paul terkekeh senang sedang Daniel mendengus kesal.
"Coba kamu bukan istri keponakanku, ingin sekali aku menculik mu," ucap Paul dan langsung mendapat tatapan tajam dari dua Cohza di depannya. Siapa lagi kalau buka Daniel dan Pete.
"Ups ... kelihatanya ada yang tersindir, sebaiknya aku pergi sebelum ada yang mencincangku." Paul melirik Pete dan langsung pergi begitu melihat mata Pete yang seperti mengeluarkan laser.
"Uncle ...," sapa seseorang di belakangnya. Pete berbalik dan melihat Marco yang tersenyum lebar dengan Lizz di sebelahnya yang menciut ketakutan setelah melihatnya. Pete hanya mengangguk tidak mau membuat istri marco semakin gemetaran.
"Uncle ke sini dengan siapa?" tanya Marco seolah tidak menyadari istrinya yang mepet ke tubuhnya karena takut. Padahal dia sengaja menyapa uncle Pete biar Lizz nempel terus padanya.
Modus, biarlah kan udah halal.
Di tanya seperti itu Pete menengok mencari keberadaan Paul yang sudah lenyap di sekitarnya dan ternyata asik mendekati model-model cantik di ujung ruangan. Marco yang juga melihat itu langsung tertawa dan menepuk pundak Pete.
"Masih betah banget gandengan sama uncle Paul, kayak orang pacaran saja. Kasihan uncle Paul enggak bebas kalau mau mendekati cewek. Move on uncle, cari istri kek biar enggak kelihatan homo gara-gara nempelin uncle Paul melulu," ucap Marco lalu tersenyum semakin lebar saat melihat Daniel di belakang uncle Pete.
"Brother ... kangennnnnn ...," teriak Marco lebay dan tanpa permisi langsung memeluk Daniel kencang. Membuat Daniel jengah dan berusaha melepas pelukannya.
Ai menggeplak kepala Marco, sedang Lizz hanya menunduk masih tidak berani melihat Pete.
Karena menganggap keberadaanya sudah tidak di perlukan lagi, Pete memilih pergi mencari Peter untuk mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan lalu segera pulang.
Pete malas ikut bergabung dalam obrolan. Pasti sangat menjemukan.
***
Musik hingar bingar sama sekali tidak mengganggu Pete. Dia masih memikirkan perkataan Marco sebulanan ini.
Memang sudah sebulan sejak kunjungannya ke Cavendish. Tetapi kata-kata Marco semakin menghantui pikirannya.
Menikah?
Mungkinkah dia harus melakukan itu?
Jika dia menikah siapa tahu keluarganya jadi tidak terlalu kaku dan takut jika berhadapan dengannya. Terutama para istri-istri keponakanya itu.
Siapa tahu dengan menikah mereka mau lebih banyak komunikasi dengannya, walau hanya lewat istrinya. Kan lumayan setidaknya Pete akan lebih akrab dengan keluarganya sendiri.
Sepertinya Pete harus mencari wanita yang ramah dan mudah bersosialisasi biar tidak kaku jika bertemu wanita-wanita Cavendish nanti.
Masalahnya adalah dengan siapa dia akan menikah?
Teman saja tidak punya, akun sosial media tidak ada.
Jangankan sosmed dia memegang ponsel hanya untuk menghubungi Paul dan anak buahnya saat ada pekerjaan. Selebihnya tidak pernah tertarik memakainya.
Akhirnya di sinilah Pete berada. Di Club malam milik Vano, adik ipar Marco.
Bukan tanpa alasan dia ada di sini. Karena sebelumnya dia sudah menjelajah Club di prancis dan berusaha mendapat cewek di sana.
Namun, begitu dia melihat mereka. Pete tidak suka karena dia tidak mau barang bekas. Padahal mencari gadis perawan di prancis sama seperti mencari ayam di kumpulan angsa.
Kecuali mau membayarnya dengan harga tinggi maka sulit mendapatkan gadis perawan. Padahal Pete juga tidak mau memiliki istri yang menjual tubuhnya demi uang.
Menurut info yang di dapatkannya, dulu Daniel mendapatkan Ai karena ONS. Sedang Marco bisa menikahi Lizz karena terlanjur di perkosa.
Lalu terbersit ide di otaknya.
Kenapa Pete tidak melakukan itu saja? Orang asia kan terkenal menjunjung tinggi kehormatan, jika dia memperkosa gadis Indonesia pasti gadis itu bakalan minta tanggung jawab padanya. Setelah itu Pete bisa menikahinya dan semua beres.
Masalah kedua adalah, Pete sudah seminggu di Club ini tapi tidak ada tanda-tanda ada gadis perawan mabuk yang bisa di ajak ONS atau pun bisa dia perkosa.
Semua wanita yang datang terlihat liar dan sudah berpengalaman.
"Panggilkan Vano ...." ucap Pete pada seorang pelayan dengan bahasa Indonesia yang mulai dikuasai olehnya setelah 6 bulan tinggal di Indonesia karena sekarang dia menjadi pengawas Save Security yang resmi di lepaskan Daniel dan kini di bawah pimpinan Marco.
Vano sudah ketar-ketir saja saat pelayan memberitahu bahwa Pete mencarinya. Siapa yang tidak takut coba, manusia paling menyeramkan dari keluarga Cohza entah kenapa seminggu ini betah sekali nongkrong di Club miliknya.
Anehnya lagi, Pete yang biasanya datang dengan Paul atau Marco kali ini hanya sendirian dan tidak mau menempati ruang VVIP dan malah hanya duduk-duduk di sekitar batender dan mengamati semua pengunjung Club.
Pandangan matanya seperti meyeleksi mana yang pantas hidup mana yang harus dibinasakan.
"Uncle ...." sapa Vano seramah mungkin sambil duduk di sebelahnya.
Pete memandang Vano serius hingga membuat Vano menelan ludah susah payah. Was-was jika ada pelayanan di Clubnya yang tidak menyenangkan Paman dari kakak iparnya itu.
"Carikan aku cewek," perintah Pete membuat Vano mengerjap heran.
"Aku mau yang masih perawan," tambahnya.
"Eh ... Ladies? Virgin?"Oke Vano semakin bingung sekarang. Apa Uncle Pete sudah mabuk? Karena selama ini Vano belum pernah mendengar atau melihat Pete membutuhkan cewek.
Kecuali tragedi dengan Ai yang dia dengar dari Marco untuk meledek pamannya itu.
Pete menganguk.
"Aku ingin memperkosa gadis," ucapnya dengan raut datar.
Gubrakkk.
Untung suara musik mengalahkan suara Vano yang terjengkang ke belakang karena terkejut.
Duh ... si uncle kayaknya bener-bener mabok nih masak mau perkosa gadis pake bilang-bilang. Mana minta perawan lagi. Vano saja tak punya pacar bagaimana bisa paman dari kakak iparnya menyuruh Vano mencari gadis untuknya. Memang Vano terlihat seperti mucikari apa ya?
"Ucle salah orang. Aku bukan mucikari, tapi kalau uncle mau aku bisa kenalkan seorang mucikari yang bisa memenuhi permintaan uncle," kata Vano takut-takut.
Pete memandang Vano sambil berpikir dengan serius. Membuat Vano lagi-lagi merinding.
Sayang ... aku mencintaimu ..kalau malam ini aku pulang tinggal nama kamu jangan nangis lama-lama ya ... batin Vano mengingat calon gebetannya.
"Ah ... benar juga." Pete memahami.
Vano yang sudah keringat dingin jadi heran karena Pete terlihat tidak marah karena dia menolak permintaannya.
"Tapi ... aku enggak mau cewek dari tempat pelacuran, jadi menurutmu aku harus cari di mana?" tanya Pete lagi.
"Eh ... em ... bagaimana kalau aku minta tolong sama Joe, biar uncle di kenalin sama artis-artisnya."
Pete langsung menggeleng.
"Aku enggak suka wanita yang selalu di kejar paparazy, aku suka ketenangan," katanya lagi.
Tentu saja dia suka ketenangan, orangnya aja sudah kayak limbad, ngomong cuma sama orang tertentu saja.
Kalau permintaannya begini ya .. membuat Vano mentok. Susah sekali kriteria unclenya ini.
Enggak mau cewek bayaran juga enggak mau cewek terkenal.
Aha ... berarti Pete suka cewek yang biasa aja kayak kakaknya Lizz. Vano berpikir lagi ke mana kira-kira nyari cewek biasa?
"Uncle ... mau cewek biasa dan penurut?"
Pete mengangguk.
"Kalau yang kayak gitu sih susah-susah gampang. Tapi kalau menurutku sih uncle coba saja nyari di kampus-kampus. Karena kebanyakan anak kampus kan masih virgin. Kalau pengen lebih polos lagi cari anak SMA dan kalau pengen cari cewek sederhana cari di kos-kosan saja uncle. Biasanya anak perantauan lebih enggak neko-neko. Bagaimana? Paman bisa coba saja dulu siapa tau ada yang cocok." Vano agak ragu, karena enggak yakin 100% anak kuliahan sekarang masih Virgin. Tetapi enggak ada salahnya kan mencoba dari pada dia yang di suruh nyari. Kalau ketahuan gebetan di kira ntar dia suka nyari ayam-ayam an. Bisa gagal pdkt nya.
"Oke." Pete mengangguk setuju. Namun sekejab kemudian Pete memandang Vano tajam.
"Ini rahasia." Ucapan Pete seketika membuat Vano menelan ludah susah payah.
"Siap uncle mulutku tertutup rapat," jawab Vano menggerakkan tangan seolah mengunci mulutnya.
Merasa puas Pete langsung berdiri.
"Uncle mau pulang?"
"Cari cewek buat diperkosa," kata Pete dan langsung ngeloyor pergi.
Nyari cewek? Jam segini? batin Vano sambil melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan tengah malam.
Jam segini mana ada cewek perawan keluyuran, yang ada si mbak kunti yang tebar pesona.
Beneran mabuk nih kayaknya Uncle Pete. Vano mengendikkan bahu masa bodohlah yang penting dia selamat. Tapi sebelum itu Vano sempat berdoa dan meminta maaf pada siapapun gadis yang akan jadi korban uncle Pete karena Vano merasa dialah yang memberikan jalan buat uncle Pete melakukan kejahatan.
¤¤¤¤¤¤¤¤
Pete sudah hampir satu jam menelusuri gang-gang kecil yang terdapat banyak kos-kosan. Tetapi sayangnya dia belum menemukan apa yang di cari. Kos-kosan yang baru saja dia kunjungi malah berisi pasangan suami istri yang sedang indehoy.
Mungkin dia cari di kampus saja besok seperti intruksi Vano. Siapa tahu banyak gadis perawan di sana. Tinggal culik satu pasti beres.
Pete baru mau berbelok saat sesuatu menabraknya hingga membuatnya berhenti.
Pete memandang ke bawah dan ternyata ada seorang gadis mungil terjatuh saat menabraknya tadi. Ketik wajah gadis itu mendongak dan memandangnya dengan air mata berjatuhan.
Deg ....
Bidadari jatuh.
Pete memandangi gadis imut tersebut. Dan langsung merasa sepertinya ini adalah gadis perawan yang bisa dia perkosa.
"Help me ...," ucap gadis itu lirih dengan air mata semakin deras.
Pete masih merasa aneh karena gadis itu tetap terlihat cantik walau sedang menangis. Wajah mungil dan bibirnya yang bergetar sepertinya lembut jika disentuh.
Merasa ada orang lain Pete melihat ke depan dan mengernyitkan dahinya saat melihat bahwa di belakang gadis itu ada 3 preman yang sepertinya masih newbie tapi sok jagoan.
Pete tidak suka cara para preman itu memandangi bidadari kecilnya. Karena gadis ini adalah calon yang akan dia perkosa. Pete tidak mengizinkan orang lain merebut mangsanya.
Pete melompat dan memberikan satu pukulan telak serta sedikit goresan pada masing-masing preman itu dan mereka langsung pingsan tak bergerak. Pete memandang si kecil mungil yang masih memandang dengan shok.
Sebenarnya Pete ingin menggendongnya, tapi pete tidak mau membuat gadis itu semakin gemetaran. Akhirnya pete berbalik berharap gadis itu mengerti kode yang dia berikan.
Pete berjalan meninggalkan gadis itu dan mencari keberadaan mobilnya yang untung saja tidak terlalu jauh dari tempatnya tadi.
Pete masuk ke kursi kemudi, dan sudut bibirnya tertarik sedikit saat mengetahui gadis itu mengikutinya dan sekarang duduk di sebelahnya.
Tiga nilai plus untuk gadis ini.
1. Dia cantik dan menggemaskan.
2. Dia mengerti kode yang di berikan Pete tanpa Pete harus membuka suara 3. Kemungkinan besar dia masih perawan.
Ah ... Pete semakin yakin. Dia akan memperkosa gadis ini saja.
***
TBC