Sini Aku Perkosa.

1380 Kata
Enjoy Reading. *** Xia duduk diam di depan penolongnya, Xia risih dengan  tatapan Pete yang tidak berpaling sedetikpun dari sejak mereka  masuk rumah minimalis yang letaknya terpencil di ujung kota. Ini om-om nggak bisu kan? Atau dia nggak bisa bahasa Indonesia, bagaimanapun mukanya aja udah kelihatan bule banget, beda sama Xia, nama dan mukanya aja yang Tionghoa, lahir dan  tinggalnya mah asli di Bandung. “Nama?” tanya Pete tiba-tiba, membuat Xia yang hanya melihat ke bawah langsung memandang Pete. Eh  ... nggak bisu ternyata. “Lin Xia, Om.” “I’m Pete not Om.” “Tapi Om kan udah tua ... eh ... maksudnya lebih tua dari saya makanya nggak etis kalau cuma panggil nama,” kata Xia meringis. “Pete, Not Om Not entis,” kata Pete menekankan. ‘Etis Om etis, bukan entis, emang Sule apa Entis Sutisna?’ batin Xia. Susah nih kalau ngomong sama orang beda negara, Xia nggak bisa bahasa Inggris, nih Om-Om nggak terlalu lancar bahasa Indonesia, masak iya harus pakai bahasa isyarat? Akhirnya Xia berpikir keras dengan Otak pas-pasannya arti kata Om dalam bahasa inggris, apa ya? Sir? itu Pak bukan sih? Mentok ih, Xia menyerah. “Om is Sir,” kata Xia kemudian, bodo ah salah juga, paling ini Om juga nggak bakalan ngerti ini. Pete hanya mengangguk mengerti. Lalu hening lagi. Xia mulai kedinginan, gaun yang dia pakai sudah acak-acakan dan kotor karena terjatuh tadi dan ini membuatnya tidak nyaman, ditambah Ac yang dingin membuat Xia mulai menggigil. Ini Om nggak peka apa ya? ada tamu di bikinin minum atau kalau nggak iklas nolong dipulangin kek, ini malah di bawa ke tempat yang nggak tahu di mana, habis itu didiemin kayak patung. Di taruh terus dilihatin, berasa alien deh. Nggak pernah lihat cewek cantik apa om? Lalu sekalinya diajak ngomong malah ngomong hal nggak penting. Pete memandang Xia dari atas ke bawah menentukan mana dari dirinya yang nggak pantes diperkosa, tapi begitu Pete perhatiin kok nggak bosen ya? Padahal ini minions nggak cantik-cantik amat,  baunya aja kayak bedak bayi, pipinya chubby, bibirnya mungil, matanya cuma segaris, kulitnya kayaknya mulus banget, beda banget sama telapak tangannya yang udah kayak amplas karena kebanyakan berantem ini, badannya kecil mungil dan terlihat imut, apa nggak bakal gepeng kalau ditindih sama dia? Pete menghela napasnya berpikir keras, bagaimana cara memperkosa gadis ini? Dia tidak banyak pengalaman soal cewek, biasanya cewek yang bersamanya ditentukan oleh Paul itu pun tidak boleh lebih dari 1 jam dan tentu saja keberadaan mereka hanya untuk memuaskannya, jadi kebanyakan merekalah yang aktif Pete hanya menerima, tapi yang ini jelas masih perawan yang artinya dia juga nggak punya pengalaman. “Xia ... sini aku perkosa,” ucap Pete sambil menepuk pahanya, mengkode Xia agar naik ke pangkuannya. Mending bilang langsung kan dari pada tanya-tanya nggak jelas. Xia mengedipkan matanya dua kali dan memandang Pete bengong, ini dia yang lagi ngimpi atau Om-Om ini yang lagi ngigo. “Om mau perkosa saya?” tanya Xia memastikan.  Pete mengangguk cepat. “Kalau Xia nggak mau?” tanya Xia. “Mau saja, nanti habis aku perkosa kamu minta tanggung jawab, terus aku nikahi,” balas Pete datar. Lah ... ini Xia yang memang bego atau si Om yang gila, manaada tawar menawar pas mau perkosa? “Tapi Xia masih kecil Om,” kata Xia makin nggak ngerti kenapa malah nanggepin omongan nggak masuk akal ini. “Nggak apa-apa aku juga pernah kecil kok,” kata Pete santai. Plakk ... Xia memukul jidatnya sendiri. Semua orang dewasa  juga tahu kali kalau mereka pernah kecil. Pete memandang Xia heran karena memukul jidatnya sendiri, Xia yang dipandang aneh begitu jadi meringis sendiri.  “Ada nyamuk Om,” kata Xia beralasan. Pete langsung memandang seluruh rumah seolah matanya bisa melaser setiap nyamuk yang akan lewat, tapi dia tidak menemukan seekorpun, akhirnya Pete kembali mengarahkan pandangannya ke Xia dan mulai berpikir kapan bisa memperkosa gadis itu. ‘Dari pada bingung mending searching Google aja,’ batin Pete mencari-cari hpnya. “Om,” panggil Xia. Pete menoleh setelah menemukan Hpnya. “Dingin,” ucap Xia setelah nggak tahan. “Oh ...” Kata Pete lalu menunduk ke Hpnya dan mulai melakukan pencarian. Cara memperkosa gadis dengan baik dan benar --> klik ‘Oh...doang?’ batin Xia, ‘ni Om-Om beneran nggak pekaya?’ lanjut Xia dalam hati. “Ehem ... Om, pinjem baju sama kamar mandinya dong, Xia mau mandi, lagian nggak enak Om merkosa cewek kalau badannya kotor kayak gini,” ujar Xia memberanikan diri. Pete mengernyit memandang Xia, benar juga ini gantungan kunci emang kelihatan kucel, tapi ... Pinjam baju? Dia kan nggak punya baju cewek, lagian badan sekecil itu di kasih taplak meja juga udah ketutup. Lalu dipandanginya Xia secara teliti bibir Xia agak membiru dan badannya gemetaran, melihat itu Pete jadi kasihan juga, apalagi bajunya sudah nggak karuan. Akhirnya dengan malas Pete beranjak dari duduknya dan menghampiri lemari, adanya Jas, kemeja, kaus, semuanya besar tapi karena Xia tadi bilang bahwa ia kedinginan, akhirnya Pete memilih sebuah sweater, lalu ia juga mengambil celana kolor. ‘Lumayanlah,’ batin Pete sambil kembali ke tempat Xiaberada. “Terimakasih Om,” ucap Xia saat Pete mengulurkan sweaterkepadanya. Pete tidak membalas hanya duduk dan mengambil Hpnya lagi, melihat hasil pencariannya tadi. Cara memperkosa gadis dengan baik dan benar. Seorang gadis di perkosa oleh tetangganya sendiri ... bla bla .... Kakek berusia 60 tahun memperkosa cucunya sendiri ... bla ... bla .... Korban pemerkosaan mengalami trauma ... bla ... bla .... Seorang gadis sebut saja namanya mawar diperkosa oleh ... bla ... bla ... bla .... ‘Kenapa tidak ada cara memperkosa gadis?’ batin Pete kesal. “Om,” panggil Xia. Pete memandang Xia dengan tatapan kesal, membuat Xia salah tingkah. “Maaf, Om kamar mandinya di mana?” tanya Xia.  Pete hanya menunjuk tempat di mana kamar mandi berada lalu kembali mengotak-atik Hpnya. Xia yang merasa dia ada atau tidak nggak bakal di permasalahin langsung melesat ke ruangan yang di tunjuk Pete, tapi kok. kamar? ‘mungkin kamar mandinya ada di dalam kamar,’ batin Xia lalu membuka sebuah pintu yang dia pikir kamar tapi ternyata di sana ada berbagai pisau dan pistol dari mulai yang kecil sampai yang besar, bahkan ada samurai dan berbagai koleksi Bom. ‘Wah ... si Om ternyata suka koleksi Pistol-Pistolan,’ batin Xia lalu menutupnya lagi dan masuk ke pintu satunya, gotcha. kali ini benar, ini kamar mandinya. Xia langung masuk dan menguncinya, melepas gaunnya yang kotor lalu mencuci beserta pakaian dalamnya, setelah itu dia mandi karena merasa badanya lengket karena abis bermaraton ria dikejar preman tadi. Setelah membersihkan diri Xia memakai sweater yang ternyata langsung membuatnya tenggelam dan saat memakai kolor Pete, kolor itu selalu melorot karena kebesaran. Akhirnya Xia pasrah hanya memakai sweater saja, toh sweater itu sudah mencapai lututnya dan cukup untuk menutupi tubuh mungilnya. Pete menutup Hpnya kesal, tidak ada cara memperkosa yang baik dan benar, ah ... dia langsung nonton filmnya saja, Paulkakaknya kan suka nonton video porno. Seolah mendapat ilham Pete langsung menuju kamarnya dan terpaku saat melihat calon korbannya baru keluar dari kamar mandi. ‘Kenapa ini bonsai menggiurkan banget?!’ batin Pete, bahkan tidak butuh waktu lama pistol Pete sudah berdenyut dan membengkak.  ‘Tahan Pete, cari tahu dulu cara yang bagus buat perkosaini paku payung, kamu nggak mau kan ini kecambah malah nggak mau dinikahi setelah diperkosa gara-gara kamu merkosanya nggak bener?’ lanjut Pete dalam hati, dan langsung mengambil laptopnya lalu keluar lagi dari kamar. Xia yang melihat itu hanya bengong, gimana tidak bengong saat keluar kamar mandi dengan baju seadanya langsung ada cowok yang ngelihatin dia sambil ngiler, tentu saja yang muncul di otaknya langsung bayangan yang iya iya, eh ternyata malah cuma ambil laptop dan keluar lagi. Xia memandang ranjang yang kelihatan nyaman banget, apalagi tubuh lelahnya sudah mulai protes, maka dengan pelan Xia merebahkan diri di kasur, ‘nggak apa-apa kali dia istirahat dulu, ini kan baru jam 2 pagi pasti si Om belum mau nganterin dia pulang,’ batin Xia dan langsung terlelap begitu menyentuh bantal. Pete mulai penjelajahannya di dunia maya dan menonton berbagai film tentang pemerkosaan, intinya semua di lakukan dengan paksa dan 100% cewek menjerit. Pete menutup laptopnya setelah pukul 5 pagi lalu mencari si kecil mungil calon istrinya yang akan di perkosa dulu itu. ‘Ah ... ternyata si baterai remote sudah tertidur, tapi kalaudia tidur lalu gimana aku bisa memperkosanya?’ tanya pete pada dirinya sendiri. Di vidio yang dia tonton tidak ada yang menampilkan pemerkosaan saat ceweknya tertidur? Pete termenung sambil memandangi Xia tanpa bosan. Nanti kalau Xia sudah jadi istrinya, Pete bakal kenalin sama Ai dan Lizz, mereka kan sama-sama Asia, pasti cocok. Setelah itu tidak akan ada lagi pandangan ketakutan Lizz dan pandangan kasihan Ai yang akan di tunjukkan padanya. Pete semakin mendekati Xia, dia bahkan ikut berbaring di sampingnya, entah karena apa Pete ingin memeluknya. ‘Kenapa rasanya nyaman sekali? Seperti pelukan ibunya,’ batinnya, Karena kenyamanan yang ia rasakan Pete jadi mengantuk dan ikut tertidur bahkan tanpa melepaskan pelukannya. Pete seolah menemukan sumber kehangatannya ketika tangannya melingkar di tubuh wanita asing itu. *** TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN