"Kata-katamu masih mendengung di indra pendengaranku. Memporak-porandakan seluruh harapku. Aku bisa apa saat kamu tidak lagi ingin denganku?" -Raveira Livira Shabira- __________ Papa kamu bakal ninggalin Mama. Jadi, kamu baik-baik, ya, dalam perut Mama. Jangan nakal. Kita bakal hidup berdua. Vei mengelus lembut perutnya, mengadakan percakapan kebatinan antara dirinya dengan janin yang ada dalam perutnya saat ini. Vei lebih memilih diam, sedangkan Atta tidak banyak bicara. Keduanya hanya berada dalam satu ruang yang sama, tanpa mengucap sepatah kata pun. Atta pikir, ia sudah mengambil keputusan yang benar dengan mengutarakan keinginnya pada Vei. Sejak saat malam malapetaka itu, tidak bisa dipungkiri lagi Atta merasakan gelenyar aneh tiap kali menatap dua bola mata sendu milik Vei. Att

