10. Ketahuan

2193 Kata
“Aku masih sayang banget sama kamu, Dano…” gumam Kenny dengan mata berkaca-kaca. Dia menunduk saat Danola bergerak tanpa sadar. Kenny menarik nafas dalam lalu perlahan mencium Danola tepat dibibirnya. Berkali-kali dan itu disaksikan oleh seseorang…. “Kenny?” suara itu membuat Kenny terlonjak kaget dan tangannya tanpa sadar menjatuhkan jam beker yang ada di meja. Saat itu juga, Danola terbangun. “Gi…Gita?” Kenny mulai panik. “Kenny? Ngapain kamu di sini?” Danola mengerjapkan matanya. Berusaha menghilangkan rasa kantuk yang tersisa. Matanya menangkap seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi aneh. “Git, itu elo?” tanya Danola setelah memperhatikan Gita secara seksama. “Lo sama Kenny ada hubungan apa?” Gita berusaha menahan emosinya. Sementara tangannya sudah mengepal geram. “Maksud lo? Kalian ngapain di kamar gue?” seru Danola bingung. Dia menatap Kenny yang terlihat panik. “KENNY NYIUM LO! KENNY LO ADA HUBUNGAN APA SAMA DANOLA? BUKANNYA LO PACARAN SAMA DILO?” pekik Gita habis kesabaran. Danola tersentak lalu matanya kembali menatap Kenny yang tiba-tiba menggeleng panik. “Ken…benar apa kata Gita?” “Danola, aku nggak tahan lagi sandiwara kayak gini! Please, ikut aku ke Jerman!” Kata Kenny berlinang air mata. Sandiwara? Gita nggak ngerti apa yang diomongin Kenny. “Sebenarnya kalian ada hubungan apa? Kalian Selingkuh?” Tanya Gita sinis. “Git, ini nggak seperti yang lo liat! Dengarin gue dulu_” “Bukannya lo suka sama Lupin, Dan? Lo kemaren nembak dia, kan di Pulau? Terus hubungan lo sama Kenny itu apa? Kenapa dia nyium lo? Kalo lo mau nyakitin hati Lupin, gue nggak akan biarin itu terjadi. LUPIN SAHABAT GUE!  SIAPAPUN YANG NYAKITIN DIA, ITU ARTINYA NYAKITIN GUE!” teriak Gita lepas kendali. Dia menendang pintu lalu pergi. Di belakang, Kenny berlari mengejar langkahnya. “GIT! GITA! TUNGGU!” teriak Kenny lalu menarik tangan Gita. “LO LAGI! LO TAUKAN, KALO DANOLA ITU SUKANYA SAMA LUPIN? LO NGAPAIN NYIUM-NYIUM DANOLA SEGALA? MAKSUD LO APAAAA?” pekik Gita. “DANOLA ITU TUNANGAN AKU!” teriak Kenny yang juga habis kesabaran. Membuat Gita terpaku di ambang pintu. Seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. “Mantan…” sambung Danola dari belakang Kenny. “Ken, aku udah bilang sama kamu. Hubungan kita udah berakhir. Aku juga udah bilangkan, perjodohan itu dibatalkan.” Kata Danola pelan. Gita masih diam ditempatnya dengan pikiran yang penuh tanda Tanya. Kenny tunangan Danola? Ada apa dengan ini semua? “Dan Gita lo butuh penjelasan_” “Bukan gue tapi Lupin!” kata Gita memotong ucapan Danola. Gita baru saja mau melangkah tapi tangannya lagi-lagi ditarik paksa Kenny. “GITA, plisss! Jangan kasih tau Lupin, Aku juga nggak mau Dilo tau kejadian ini! Tadi itu aku…khilaf!”  “Sandiwara apa?” tanya Gita mengangkat satu alisnya. Kenny melihat Danola, berharap cowok itu membantunya.  “Yang sandiwara itu siapa? Lo sama Danola?”  “Bukan! Tapi gue sama Dilo! Gue sama Dilo pura-pura pacaran. Tujuannya dua, pertama bikin Lupin cemburu, kedua, biar gue bawa Danola pulang lagi ke Jerman…”  “Wow.” Gita bertepuk tangan. “Gue nggak bisa janji!” kata Gita lalu pergi.  “Dano…” Kenny mendekati Danola yang langsung pergi tanpa perduli dengan Kenny yang berlinar air mata.  “b******k! Kalo emang semua harus berakhir, jangan harap akan berakhir bahagia!” batin Kenny sambil mengepalkan tangannya geram.  ♡ AAAAAAAAAAARG! SIALAN! b******k! Gita berkali-kali menghantamkan tinjunya ke samsak yang mengantung di langit-langit kamarnya. Kenapa dia harus lihat itu? Tujuannya ke rumah itu cuma mau memastikan Kenny ada disana. Karna beberapa kali dia pernah liat pagi-pagi sekali Kenny keluar dari rumah Dilo. Tapi, kenapa dia malah melihat Kenny mencium Danola? Rasanya sakit! Dia marah! Marah karna cemburu! Dan marah karna orang-orang itu bersandiwara di depan Lupin! “Git?” Kenny masuk ke kamar dengan wajah panik. “KELUAR LO! MULAI SEKARANG JANGAN TINGGAL DI RUMAH GUE LAGI!” teriak Gita.  “Kamu marah kenapa? Karena tau Danola nembak Lupin? Atau karna aku nyium Danola? Atau dua-duanya?” tanya Kenny lalu tertawa kecil. “Lucu. Aku tau lagi, kalo kamu suka sama Danola! Tapi, Lupin nggak tau itukan? Kalo aku kasih tau kira-kira gimana?”  Gita mengumpat kesal lalu turun dari tempat tidurnya.  “Kenapa? Kok panik gitu? Oh, kamu takut ya kalo Lupin tau kamu suka juga sama Danola? Wah, itu pasti bikin Lupin makin bimbang! Tapi nggak apa-apa, kasih tau aja! Biar semuanya jelas, biar kalian juga tau sebenarnya Danola itu milik siapa…”  “Tapi kasihan ya lo, Ken. Danola kayaknya lebih milih Lupin deh dari lo hahaha.” Gita tertawa sambil melepas sarung tinjunya. “Udahlah, bilang sama Dilo, sandiwara itu jangan dilanjutin, karna percuma…Danola dan Lupin itu sama-sama suka…”  “Yaudah kita lupain aja yang tadi. Gue anggap kejadian tadi nggak ada.” Kata Kenny lalu duduk di pinggiran jendela. Nggak segampang itu Mak Lampir! Tapi, gimana kalo si setan ini bilang sama Lupin kalo gue juga suka sama Danola? Tadikan gue udah bilang gue nggak suka sama Danola! Kalo lupin tau gue boong. Dia pasti marah sama gue. Gue nggak mau berantem cuma gara-gara cowok! Harusnya dari awal gue sadar, gue nggak boleh suka sama Danola. Gue suka sama orang yang salah. Tapi, tenang Pin…gue akan bantu lo sama Danola! Gue nggak akan biarin Mak lampir ini ngerebut Danola dari lo! Tapi, kalo Danola ternyata cuma jadiin lo alat buat jauh dari Kenny, gue akan hajar dia! Lagian, masih ada Dilo kok. Ah, Dilo juga b******k! Pengecut! Kalo suka sama Lupin harusnya ngomong! Mampus deh, diduluin ama Danola! Ah, gue nggak mau tau! Intinya, gue cuma mau disamping Lupin! APA-PUN-YANG-TERJADI! “Gimana? Kejadian tadi kita anggap nggak ada, kan?” ulang Kenny membuyarkan lamunan Gita. “Hem, ”balas Gita lalu pergi. Kenny mengulum senyum iblisnya. Semua sesuai rencana. ♡ “Ini gimana sih mainnya! Nggak ngertilah!” kata Lupin kesal sambil mengotak-atik  stick PS ditangannya. “GOAAAAAAL!” teriak Dilo sambil mengangkat kedua tangannya. “3-0!” kata Dilo ke Lupin yang meliriknya dengan tatapan membunuh. “Gue nggak pernah main bola! Ganti! Ganti!” kata Lupin kesal. “Nggak bisa! Lo kan harus ngelanjutin permainannya Bang Rey!” kata Dilo sambil menaikkan alisnya. “Bang Rey ngapain sih? Lama deh!” teriak Lupin kesal. Dari tadi dia habis diketawain Dilo karna mengoceh nggak jelas. Habisnya, diakan nggak biasa main bola. Adanya juga main Mario sama Angry Birds. “Gue mau main angry birds!” kata Lupin lalu menekan tombol off. Dilo mendelik sebal. “Terserah, kalo Bang Rey marah, jangan salahin gue. Lo yang minta ganti!” kata Dilo. “PIN?” suara itu mengangetkan keduanya. Gita muncul masih dengan baju dan rok yang tadi. Tapi, mukanya agak kusut dan kelihatan nggak bersahabat gitu. Apalagi pas ngeliat Dilo. “Lo ngapain di sini? Ntar PACARnya marah lagi,” kata Gita penuh penekanan pada kata Pacar. Dilo angkat bahu cuek. “Kenapa, Git?”  “Gue mau ambil film yang semalem lo pinjam.”  “Oh, iya ada tapi waktu itu dipinjam Bang Rey. Ambil aja ke kamarnya deh, gue lagi main nih!” kata Lupin menunjuk-nunjuk kamar Bang Rey yang ada di samping tangga.  “Yaudah.” Gita lalu berjalan menuju kamar bertuliskan “ANDA MEMASUKI WILAYAH ORANG GANTENG SEJAGAD RAYA, NO KOMEN THANKS”. Bertahun-tahun dia membaca tulisan itu tetap aja membuatnya geli.  “Saatnya berburu BABIIIIII!” kata Lupin semangat sambil menoleh ke Dilo. Cowok itu tampaknya tersinggung karna pas bilang Babi lupin melihat ke arahnya. “Ada gitu Babi warna hijau?” “Namanya juga gameee!” “Itu babi apa sapi sih?” kata Dilo ditengah-tengah serunya Lupin memainkan sticknya. “Babi! Nggak liat hidungnya apa kwkwkwkwkkw!” Lupin tiba-tiba ngakak. Membuat Dilo keheranan. Ntah kenapa dia jadi ketagihan melihat ekspresi Lupin saat tertawa tadi. Terlihat manis… Sementara itu… “Mana sih?” Gita berkali-kali berdecak sebal sambil memilah-milah deretan kaset yang ada di bawah TV. Terlalu banyak tumpukan kaset, jadinya bingung deh. “Naanananana! Lalalala…fufufufu.” Suara itu membuat Gita diam. Kayak suara Bang Rey. Halah! Gita menepuk jidatnya! Inikan hari sabtu! Waktunya Bang Rey di rumah! Harusnya dia mengetuk pintu lebih dulu. “Nananana…” suara itu makin mendekat. Kayaknya sih dari arah kamar mandi. Gita buru-buru tegak sebelum Rey tau dia ada di kamarnya. Gimanapun dia udah nggak sopan masuk kamar orang tanpa permisi. “Gita?” “Sori bang tadi cuma mau….” Gita nggak melanjutkan kata-katanya karna saat ini di depannya Rey berdiri bertelanjang d**a dan cuma dibalut handuk sebatas lutut yang perlahan melorot. Membuat keduanya terdiam lalu… “AAAA!” keduanya teriak histeris. Gita buru-buru berlari keluar kamar dengan wajah panik. “GIT? KENAPA LO?” teriak Lupin kaget. Gita nggak menjawab lalu kabur menuju rumahnya. “BANG! LO APAIN SI GITA?” tanya Lupin setelah Bang Rey keluar dari kamarnya. Rey nyegir lalu duduk di sebelah Dilo. “Lo apain Gita baaaaaang?” desak Lupin. “Hahahahha…Gita manis juga ya ternyata wkwkwkkw.” Bang Rey ngakak dengan mata berbinar-binar. Setelah sekian lama, sejak ditinggal Felish, akhirnya Lupin melihat sinar itu. Wah, sepertinya ada yang sedang jatuh cinta nih…pikirnya. “Ingat kak Felish bang! Tapi, mau nungguin itu!” “Ah, ngapain nungguin yang nggak jelas. Ya nggak, Di? Kamu siapa pacarnya sekarang?” tanya Bang Rey ke Dilo yang nggak langsung menjawab. Dia malah melirik Lupin yang menatapnya nggak bersahabat. “Masa nggak tau sih! Ceweknya cantik, bule, seksi…” kata Lupin lalu kembali menatap layar TV.  “Beneran, Di?” tanya Bang Rey sumringah. Yang ditanya cuma senyum.  “Eh besok abang mau ke  Bandung, Pin. Kamu mau ikut nggak? Sekalian jemput Mama sama Papa.”  “Hmmm…nggak deh, Lupin di rumah aja sama Kak Yona. Lagian besok ada kuliah malam.”  “Loh, kok ada malamnya?”  “Iya, dosennya bilang jadwalnya di ganti malam, sekalian ada praktek gitu.”  “Oh, yaudah deh. LOH KOK ANGRY BIRDS SIH?” teriak Bang Rey lebay saat tau permainan bolanya berganti dengan angry birds.  “Ya Lupin tuh nggak bisa main bolaaaa!” kata Lupin sebal.  “Dasar cewek! Yaudah sana kamu masakin apa kek buang abang sama Dilo!” kata Rey sambil merebut stick di tangan Lupin.  “Masak apa? Ntar ajalah tunggu kak Yona!”  “Laper nih, Dek!”  “Iiiiih!” Lupin menggeram sambil mencubit lengan Rey yang berotot.  “Masak yang enak yaaaa!” teriak Bang Rey setelah Lupin pergi menuju dapur.  “Bang,,,” panggil Dilo beberapa menit setelah Lupin pergi.  “Apa, Di?”  “Gimana sih caranya bikin orang yang pernah kita sakiti nggak benci sama kita lagi?” Tanya Dilo sambil tersenyum samar. Rey menoleh dengan kening mengerut.  “Emangnya kenapa? Abang tau…Lupin, ya?”  “Iya…gue nyesal bang, dulu udah nyakitin Lupin. Dulu, gue sering banget ngejekin dia di sekolah. Dan yang bikin dia makin benci sama gue pasti karna gue bikin malu dia dihari ulang tahunnya…”  “Hmmm…” bang Rey duduk menghadap Dilo dan meletakkan stick PSnya. “Makanya sekarang kamu harus baik-baik sama adek abang itu! Lupin sekarang udah keras! Dia bukan anak kecil lagi yang gampang dibujuk! Kalo kamu mau jadi temannya, ya…minta maaf aja dulu.” Kata Rey sambil menepuk-nepuk pundak Dilo. Dilo manggut-manggut paham. Hatinya juga lega karna akhirnya ada tempat untuk berkeluh kesah. ♡ “KAAAAAGIIIIT!” suara teriakan cempreng Alodia masuk kelubang kuping Gita dengan sempurna. Gita menoleh dan langsung melempar sandal jepitnya kearah cewek itu. “Suara lo cebol!” bentak Gita galak.  “WOAAAH! KAGIT UDAH BERUBAAAH!” teriaknya lagi sambil meneliti Gita dari atas sampai bawah. “WAAAH ALODIA IRI! KAGIT JANGAN BERUBAH DOOONG! AAAA….KAGIT APAAN SIIIIH!” Alodia mencak-mencak sambil cemberut. Takut kalah saing kali ya :p  “Apaan sih lo!” kata Gita jutek. Nggak tau deh, hari ini rasanya pengen marah-marah aja.  “Ih, kok galak sih Kagit? Oh ya, Kak Danola mana siiih? Kangeeen niiiih!” kata Alodia genit sambil bergoyang-goyang nggak jelas.  “Jangan tanya-tanya dia sama gue!” kata Gita lalu pergi mengambil bola basket yang ada dibawah tiang ring.  “Ih, Kagit kenapa yak? Sensi amat?” gumannya bingung. “Hari ini gue berhenti! Hari ini gue hapus semuanya! Gue nggak akan ngarepin Danola lagi! GAME OVER!” kata Gita lalu melempar bola ditangannya ke dalam ring dan masuk dengan sumpurna.  "Hai, Gitaaa?" Gita menoleh ke belakang. Disana berdiri Rey melambaikan tangannya dengan senyum manis. Membuat Gita tertegun sesaat. Tapi ingat kejadian tadi membuat mukanya panas. MALU!  "Ngapain bang?" tanya Gita mendadak salting.  "Hmm...nggak tau nih! Tiba-tiba aja ada sesuatu yang membawa hati abang datang kesini!"  "Hoeeeeks!" Alodia pura-pura muntah di bawah tiang ring. Dia menatap Rey keheranan.  "Sejak kapan bang?"  "Apanya yang sejak kapan Alod?"  "Alod? Nggak enak banget dengarnya! Sejak kapan, jadi gila?"  "Sejak ngeliat Gitaaa wkwkkwkw."  Gita speechless. Sementara Rey mendekat lalu mengambil bola ditangannya. "Bercanda, hehehe,” kata Bang Rey lalu mulai mendrible bola. Bang Rey manis juga. Eh? ♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN