♡
Dia beda.
Beberapa hari ini beda. Nggak kayak sebelumnya. Kenapa ya, Dilo? Kok sekarang dia nggak jutek banget kayak sebelumnya ke gue?
Yang ada setiap jumpa gue dia pasti senyum. Dia juga nggak banyak bicara. Aneh banget deh. Kenapa sih dia?
Tapi kenapa gue jadinya…aduh ngomong apaan sih? Diakan udah Kenny! Ngapain malah mikirin dia sih!
Mending mikirin Danola.
Sejak seminggu dia nembak gue, sampe sekarang gue belum kasih jawaban. Gue masih ragu. Gue juga nggak tau sebenarnya perasaan gue ke Danola itu kayak gimana.
Huaaa, galau menyerang.
Krieek. Jendela di depan gue terbuka. Dilo muncul dengan baju kaos putih longgar. Rambutnya basah dan bibirnya... ya ampun itu seksi banget . Plakk Ingat Danola!
Drrttt drrrrt drrrt
Getaran ponsel di meja membuat gue kaget lalu buru-buru mengangkat telepon.
Calling Abang Ganteng…
Sejak kapan pula nama kontaknya berubah? Pasti kerjaan bang Rey nih!
“Apa, Bang?” tanya gue sambil bersandar disisi jendela. Sesekali mata gue melirik Dilo yang mengacak-ngacak rambutnya. Kenapa sih gue nggak bisa lepasin pandangan setiap ngeliat cowok ini?
“TELPON BALIK!”
Kampret! Mulai lagi dia.
“Apa baaaang?” tanya gue geram sedetik setelah telepon diangkat. Terdengar suara berisik kendaraan diseberang sana.
“Huhuhuh…dompet abang tinggal deeek! Tolong antarin sekarang ke bandara yaaa? Plis, Pin! Bentar lagi pesawatnya berangkat niiiiiiiih!” teriak Bang Rey di seberang sana. Menyebalkan.
“Besok tinggalin aja kepalanya!”
“BAWEL! Buruan antariiin cepataaaan!” teriak Bang Rey dan gue bisa bayangin gimana wajahnya yang lebay itu sekarang.
Abang Rey emang rada lebay. Keliatannya aja cool. Mulutnya suka nyablak kayak Gita *eh
“Iya iya bentar nih Lupin mau kesana!” kata gue jutek.
Nggak berapa lama ponsel gue bunyi lagi. “Apa bang?”
“TELPON BALIK!”
“Kenapa laaaaagi?” Tanya gue sambil garuk-garuk meja.
“Ntar kirim nomor hapenya Gitaa yaaaaaa kwkwkwkw! Sekalian isi pulsa abang ya! KWkwk!”
Tut. Males dengerin ocehan panjangnya gue langsung matiin Handphone dan siap-siap pergi. Gue sempat melirik Dilo yang lagi make jaket kulit warna maroon lalu pergi. Huh, sok keren! Tapi emang keren kok. Hem.
“IYA IYA SABAAAAARLAH BANG!” teriak gue karna Bang Rey nggak bosen-bosennya miskol. Dia pikir gampang apa nyariin dompetnya!
Gue sempat melirik ke rumah Dilo. Danola ada kuliah pagi jadi nggak bisa minta tolong anterin. Gita juga. Terpaksa deh naik taksi atau ojek juga boleh biar bisa ngebut. Eits! Baru aja kepikiran mau nyari ojek udah ada yang parkir di depan pagar. Asiiik! Nggak perlu jalan sampe simpang. Tapi kok…
Dilo?
“Mau ke tempat Bang Rey? Sama gue aja. Gue juga ada perlu sama Bang Rey…” katanya yang udah stay di atas motor yang ntah apa namanya tapi gede dan keren abis wow.
“Nggak, gue naik ojek aja.” Kata gue cuek padahal ngareeep.
“Yaudah kalo gitu anggap gue ojek sekarang.” Katanya sambil tersenyum. Wowowowoow…ada apa ini?
“Mana bisa gitu…” jawab gue masih sok nolak.
“Ntar Bang Rey ketinggalan pesawat gimana? Kan kasian…” katanya dengan mimik yang bikin gemes. Astaga.
DANOLAAAAAA MAAF YAAAA
INI TERPAKSA KOK! IYA, TERPAKSA KAYAKNYA SIH GITU.
“Yaudah!” kata gue lalu naik ke motornya.
DEG. Jantung gue tiba-tiba jadi liar. DANOLAAAAA MAAF YAAAAAAAA?
Merasa bersalah dikit, karna harusnya Danola yang diposisi Dilo.
Bruum…bruuum
Di sepanjang jalan gue merasa nyaman karna wanginya Dilo. Ih, wanginya manis deh. Bikin adem. Tapi tetap gue nggak pegangan.
Tapi…
Tiba-tiba Dilo menarik tangan gue dan melingkarkannya dipinggangnya. “Sori ya, biar cepat sampai. Pegangan yang kuat!” katanya lalu menaikkan gas motornya. Ngebut dan meliuk-meliuk dengan lincah.
Ternyata Dilo…bisa ngomong lembut juga. Kenapa gue jadi mellow gini ya?
Sepuluh menit perjalanan dan akhirnya sampai juga dibandara. Di teras-teras bandara gue liat Bang Rey udah kayak gembel sambil bengong mandangin orang yang lalu lalang. Cckck…kasian.
“Bang!”
“Lima menit lagi pesawatnya berangkat! Untung kamu udah nyampe! Mana dompet abang?” kata Bang Rey buru-buru.
“Ini! Kesininya juga udah ngebut tau!” kata gue sebal sambil nyodorin dompet miliknya.
“Masa? Sama siapa kamu kesininya?”
“Sama…Dilo…”
“Ehem…uhuk” Bang Rey pura-pura batuk dan melirik Dilo yang berdiri di sebelah gue.
“Katanya tadi ada perlu ama bang Rey?” tanya gue ke Dilo.
“Oh, iya! Hati-hati ya bang, salam buat om dan tante…” jawab Dilo tersenyum manis.
ITU DOANG?
“Oke deh! Abang pergi dulu, ya? Di, jagain Lupin ya selama abang nggak di rumah! Dadaaaah!” kata Bang Rey lalu pergi.
Gue melirik Dilo yang melambaikan tangannya ke Bang Rey.
“Udah? Yuk pulang!” katanya sambil senyum ke gue. DILO KENAPA? ADA APA DENGANNYAAAAA?
Gue mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Sampainya diparkiran, gue mendadak berubah pikiran. Lebih baik gue pulang sendiri aja deh! Ntar kalo Danola atau Kenny liatkan ribet. Gue males ditanya-tanya hal yang nggak penting.
“Gue pulang naik taksi aja.” Kata gue setelah Dilo naik ke motornya.
“Kenapa?” tanyanya. Dari nada dan raut wajahnya gue tau dia nggak suka.
“Yaaa…nanti kalo cewek lo liat atau Danola liat_”
“Cuek aja. Kan nggak ngapa-ngapain?”
“Iya tapi kita nggak tau isi pikiran mereka! Udah gue pulang sendiri aja! Makasih udah mau nganterin!” kata gue lalu pergi. Gue dengar suara motor Dilo mengikuti gue dari belakang. Ngapain sih nih anak?
“Naik!” katanya menyamai langkah gue.
“Nggak!” balas gue tegas.
“Kalo gitu tunggu disini biar gue cariin taksi!” katanya lalu ngebut. Baru beberapa detik pergi aja gue liat dia udah sampe di ujung. Buset, kencang amat.
Yaudah deh, diam disini aja. Seperti apa katanya.
♡
BRRRRRRRRUUUMMMM CTAK CTEK
Dilo menuntun taksi di belakangnya dengan kecepatan tinggi. Perasaannya nggak enak meninggalkan Lupin sendiri. Mana disana sepi lagi.
Dari kejauhan dia melihat ada mobil yang melaju di belakang Lupin. Terus dan terus…
“MINGGIR PIN!” teriak Dilo lalu semakin melaju gas motornya.
Sementara Lupin, 50 meter di depannya masih diam sambil melipat tangan didada. Bersenandung kecil dan memainkan batu-batu kecil yang ada ditepi jalan.
“LUPIN AWAAAAAAS!”
BRAAAAAAAK
Tabrakan tak bisa dihindari. Mobil hitam itu menabrak Lupin dari belakang lalu melaju begitu saja. Sementara tubuh Lupin terguling-guling diatas aspal dan kemudian berhenti sebelum kepalanya membentur trotoar.
♡
TAP!
Kenny keluar dari mobil hitam mini dengan senyum lebar. Senyumnya makin melebar saat memasuki sebuah g**g kecil. Langkahnya berhenti di sebuah rumah papan yang penuh dengan coretan cat piloks.
“Baru kali ini motor gue dipake buat bunuh anak orang!” seseorang keluar dari salah satu ruangan dengan celana pendek dan tanktop.
“Nggak sampe mati kok! Paling patah-patah doang.” Kata Kenny lalu duduk disalah satu bangku yang tampak lusuh dan bau.
“Kurang ajar lo! Bukannya itu bikin tunangan lo itu makin lengket ntar ama tuh cewek?”
“Gue pikir Danola pasti mikir 1000 kali kalo tau kaki tuh cewek patah dan lumpuh seumur hidup!” Kenny memainkan kunci ditangannya. Seketika tawanya meledak mengisi penuh ruangan.
“By the way, tadi ada yang liat lo nabrak? Gue nggak mau dapat masalah lagi gara-gara lo, Ken! Gue kabur dari Jerman juga gara-gara lo. Ntah kenapa waktu itu gue nurut apa kata lo !”
“Akukan udah bayar mahal! Aku juga yang bantu kamu lari kesini! Udah deh, nggak usah takut! Uang bisa mengatur segalanya! Yaudah deh, thanks ya pinjamannya! Ntar duitnya gue transfer! By baby, see you…” Kenny berlalu dengan senyum yang masih sama seperti tadi.
♡
LUPIN POV
Apa yang terjadi?
Kenapa rame banget orang di kamar gue? Ada, Gita, Alodia, Kenny, Danola, Dilo! Ngapain sih mereka di kamar gue? Ngeliatinnya sampe segitunya pula!
“Ah…ghh..” kenapa rasanya susah banget sih buka mulut.
Ini dimana sih? Warna dindingnya kok beda ya?
“Pin, lo udah sadar, ya?” Tanya Gita lalu mengelus rambut gue dengan lembut. Gue liat matanya berkaca-kaca. Gita kenapa?
“Kak Lupin masih ingat nggak sama Alodia?”
Nih bocah lagi ngomong apa coba?
“Pin…?” itu suara Danola. Gue tersenyum ke arahnya. Dia balas tersenyum dan menyentuh pipi gue.
“Lupin siapa sih yang nabrak lo tadi? Lo masih ingat nggak orangnya gimana? Biar kita cari siapa pelakunya!” kata Kenny sambil memegang tangan gue dengan lembut. Gue baru tau ternyata Kenny orangnya perduli juga.
Tapi, ngomong-ngomong…gue ditabrak orang???
Gue coba bangun dan yang ada semua badan gue sakit termasuk kedua kaki gue.
“Gue kenapa?” Tanya gue ke Gita.
“Lo kecelakaan. Jadi korban tabrak lari…” kata Gita pelan tapi jelas masuk ke telinga gue. Gue menarik nafas dalam lalu terkekeh.
“Kok malah ketawa sih, Pin?” Tanya Danola heran.
“Nggak, gue senang aja, keluarga gue pada pergi tapi gue masih punya keluarga lain disini. Makasih ya kalian udah ada disini buat gue…” kata gue berusaha tersenyum semanis mungkin. Gue nggak mau mereka semua khawatir dengan keadaan gue.
BRAK! Pintu ruangan terbuka dramatis. Dari suaranya gue udah tau itu siapa!
“OH MY GOD! ADEK GUE TERCINTAAAAAAA!” Kak Yona berlari mendekati gue dan menyentuh pipi gue dengan wajah panik. Bukan, maksud gue lebay.
“SIAPA YANG BERANI-BERANINYA BIKIN ADEK GUE JADI KAYAK GINI? SIAPAAA!” teriak Kak Yona histeris. Yang lain pada tepok jidat. Plis kak, ini rumah sakit! Percuma lo jadi Dokter disini! Ah
“Orangnya kabur kak. Tapi, kita pasti cari tau kok!” kata Dilo.
“YA AMPUN ADEKKKUUUU! KALO LO SAKIT SIAPA DONG YANG MASAK DI RUMAAH HUWAAAAA!”
Emang Kakak gue yang satu ini nggak punya hati.
“Ntar biar Gita bantuin kak!”
“Alodia juga jago masak lohh!”
“Aku juga mau bantu kok!” sambung Kenny yang ditanggapi sinis oleh Gita.
“ALHAMDULLILAH YA ALLAH! MEMANG DI SETIAP MUSIBAH PASTI ADA HIKMAHNYA!” kata Yona sambil nyegir.
“Kak, mama papa sama Bang Rey tau nggak?”
“Ya taulah! Tapi, mereka belum bisa pulang Pin, katanya nungguin om ivan sama tante mila buat gantiin jagain nenek yang sakit disana! Tenang Dek, kan disini ada Dilooo, Danolaaa, Gita, Alod, dan kamu siapa, ya?” Yona beralih ke Kenny.
“Kenny, Kak,” jawab Kenny sambil tersenyum.
“Nah, tuh ada Kenny juga!” kata Kak Yona lalu mengibaskan rambutnya bak iklan sampo. Punya abang dan kakak nggak ada yang beres!
“Permisi, keluarganya Lupin Kannia?” tanya seorang suster berjilbab putih dengan sopan.
“Gue Kakaknya! Kenapa, Nin?” sambung Kak Yona mendekati suster itu.
“Oh, disuruh Dokter Rido ke ruangannya. Memberi tau hasil pemeriksaan tulang kaki pasien.” Kata suster itu lagi.
“Oke, gue yang ke sana!”
“Ikut, Kak!” kata Dilo dan Danola bersamaan. Gue melirik mereka bergantian. Keduanya saling tatap untuk beberapa detik.
“Bisa! Yuk!” Kak Yona melangkah genit. Rambut panjangnya yang hitam lebat bergerak lembut mengikuti langkah kakinya. Ah, kakak gue yang satu itu, ntahlah -__-
“Pin, emang lo nggak ingat sama sekali ya nomor plat mobil itu atau wajah orang gitu?” Tanya Gita penasaran.
“Nggak, Git! Gue ditabrak dari belakang, gue ngerasa agak melayang terus jatuh, sakit, terus gelap!”
“Hmmm…kayaknya tabrakan disengaja ya, kak?” tanya Alodia sambil mengunyah apel.
“Woi, itu kan buah buat Lupin! Dasar cebol rakus lo!” kata Gita galak.
“Satu doaaang, blelelele.” Kata Alodia sambil meletin lidah.
“Bisa jadi disengaja. Tapi, siapa? Emang kamu pernah punya musuh gitu, Pin?” sambung Kenny.
“Nggak...” geleng gue sambil mengingat-ingat. Musuh? Selama ini gue nggak punya musuh deh! Hidup gue selama ini berjalan baik-baik aja. Semua teman gue baik-baik.
“Mungkin musuh dalam selimut. Nggak keliatan. Atau lebih tepatnya, dia yang menganggap lo musuh.” Kata Gita sambil menyuapkan potongan jeruk ke mulut gue.
“Bisa jadi,” kata Kenny.
“Iya, Kak! Bisa jadi loh! Kalo nggak, ngapain coba tuh orang nabrak kakak? Atau jangan-jangan tuh orang gila, psikopat, autis, ataulah apalah itu namanya…”
“Ya udah. Yang penting kan Lupin sekarang baik-baik aja,” kata Kenny dan lagi dia memegang tangan gue. Berusaha memberikan gue semangat dari senyumnya. Pantesan Dilo suka sama Kenny. Kenny cewek yang lembut dan perhatian.
“Tapi…kaki gue rasanya sakit banget. Gimana kalo tulang gue patah terus gue lumpuh seumur hidup gimana dong?” kata gue panik.
“Hus, Kak nggak boleh ngomong gitu! Ngucap, kak! Astagfirullahaladzim…” kata Alodia mengingatkan. Cewek cina muslim ini mirip banget sama Mamanya yang lemah lembut tapi juga kadang bawel. Hihihi. Beruntungnya punya tetangga kayak mereka. Kayak Gita, Alodia, dan sekarang ada Kenny. Mungkin, gue harus rela Dilo jadi milik Kenny! Kok mikirin Dilo sih?
Ngomong-ngomong soal Dilo, dia di mana ya pas tadi gue ditabrak? Apa dia liat? Apa dia yang bawa gue kesini?
“Yang bawa gue kesini siapa?” tanya gue tiba-tiba.
“Oh, iya siapa yaaa? Yang jelas tadi gue dapat kabar dari Danola, katanya lo masuk rumah sakit!”
Danola? Jadi, yang bawa gue ke sini Danola? Bukan Dilo? Kenapa rasanya…sedih ya. Aduh, gue ini bicara apa sih?
Kenapa sekarang gue berharap Dilo yang harus ada buat gue! Dasar bodoh…
Itu nggak mungkin.
Setengah jam kemudian, pintu kamar terbuka lagi. Kak Yona muncul diikuti Dilo dan Danola. Mereka tampak tenang, itu artinya keadaan gue baik-baik aja. Semoga.
“Pin…” Kak Yona duduk disisi tempat tidur gue. Matanya berkaca-kaca. Dia juga mengelus rambut gue dengan lembut.
“Kenapa, Kak? Dokter bilang apa?” tanya gue mulai panik. Perasaan gue nggak enak. Gue liat Dilo dan Danola bergantian, tapi ekspresi itu…gue nggak suka liatnya!
“Kata Dokter…kaki lo…kaki lo…” Kak Yona keliatan hampir nangis.
“Kaki gue kenapa, Kak? Gue lumpuh ya?” tanya gue dengan suara bergetar.
“Kaki lo…sebenarnya…nggak kenapa-kenapa kok wkwkkwkwk!” kata Kak Yona lalu ngakak. Membuat suasana yang tadi menengang mendadak heboh dengan suara tawa. s****n, gue udah jantungan pula.
“Tapi, penyembuhannya butuh waktu dua bulan, Dek. Lo sabar ya, yang penting kaki lo masih bisa sembuh kok!” kata Kak Yona lagi.
“Alhamdulillah…” kata gue mengucap syukur. Padahal tadi pas ditabrak gue pikir gue bakal mati. Ternyata Tuhan masih sayang sama gue.
“Pin, sori ya…harusnya tadi gue nggak ninggalin lo sendiri…harusnya tadi gue cepat…”kata Dilo yang langsung membuat semua tatapan beralih ke arahnya. Termasuk Danola.
“Maksud lo?” tanya Danola. Dari nadanya jelas dia nggak suka.
“Tadi gue nemenin Lupin ke Bandara ngantarin dompet Bang Rey. Terus pas pulang_”
BUGKH! Belum selesai bicara Danola udah menghantamkan tinjunya ke wajah Dilo. Membuat Dilo mundur selangkah dan hidungnya berdarah. Alodia dan Kak Yona menjerit kaget.
“Jangan pernah deketin Lupin,” kata Danola tajam. Gue bisa liat kemarahan dimatanya.
“Dilo nggak salah…gue yang nolak pulang sama dia. Dia nyariin taksi buat gue, trus tiba-tiba gue ditabrak…” kata gue menjelaskan yang sebenarnya. Gue harus bela Dilo, dia nggak salah kok. Ini salah gue. Danola menoleh ke gue dengan tatapan marah.
“Tetap aja…harusnya dia nggak biarin kamu sendiri,” kata Danola lalu pergi.
Dilo menyeka darah dihidungnya lalu pergi.
Seandainya aja tadi gue nggak nolak ajakan Dilo…mungkin ini nggak akan terjadi.
“Hoi! Jangan nyalahin diri sendiri!” kata Gita yang sepertinya tau apa yang gue pikirkan. Dia emang pinter banget membaca apapun yang gue sembunyiin. Ah Gita my best friends.
“Iya, kak! Itu bukan salah kakak! Yang salah itu yang nabrak! Punya MATA tapi nggak DIPAKE!” kata Alodia sambil mengepalkan tinjunya.
“Yang penting, Lupin nggak apa-apa. Kan dua bulan lagi mau ulang tahun yang ke-20! Harus sembuh doooong!” kata Kak Yona lalu bertepuk tangan lebay. Uh, kakak gue ini, ternyata dia ingat hari ulang tahun gue. Dari dulu dan itu selalu.
“WOAAAH! Masa siiih? Asik dong! Dirayain dong, Kaaak???” kata Alodia sambil melompat senang.
“Iya Alodiaaaaa baweeel!” kata gue lalu melirik Gita yang ngeliatin Kenny dengan tatapan aneh. Tumben. Kenapa ya mereka? Nggak biasanya Gita kelihatan sinis gini sama Kenny?
♡
“Sori Di, tadi gue kebawa emosi…” kata Danola lalu duduk disebelah Dilo. Saat ini mereka ada di taman di halaman depan Rumah sakit.
“Iya nggak apa-apa. Kalo gue jadi elo mungkin gue akan lakuin hal yang sama. Atau mungkin lebih parah dari ini…” balas Dilo sambil mengusap-usap tangannya.
“Kenapa harus sekarang?” tanya Danola. Alis Dilo bertaut bingung.
“Hem?”
“Kenapa harus sekarang lo deketin Lupin? Dan kenapa juga lo bawa-bawa Kenny kesini?”
Dilo menarik nafas dalam lalu sedikit memiringkan badannya ke arah Danola.
“Sebenarnya, tiga tahun setelah pindah ke Jerman, gue teringat Lupin. Surat yang pernah dia kasih ke gue, masih gue simpan sampe sekarang. Hari berganti hari, bulan, tahun, sampe akhirnya, bulan lalu, gue liat foto-foto cewek di i********: lo. Gue tau itu Lupin karna dia meluk boneka kelinci yang dulu gue kasih. Dan yang waktu itu gue bilang sama lo kenapa gue baru pulang sekarang, jawabannya…karna gue pengen cari tau tentang perasaan lo ke Lupin dan tentang perasaan dia ke gue? Lucu, kan? Haha…” jelas Dilo dan tertawa kecil. “Nggak tau kenapa gue pengen tau gimana perasaan dia sekarang ke gue. Jelas-jelas itu udah 10 tahun. Dia pasti juga udah lupain itu semua…”
“Terus Kenny?”
“Lo tau kan gue sama dia cuma pura-pura? Hahaha. Tapi, sumpah, Kenny yang mohon-mohon sama gue buat ngizinin dia kesini. Tujuannya satu, untuk bawa lo pulang lagi ke Jerman. Orang tuanya bilang, kalo lo nggak pulang tahun ini, pertunangan itu dibatalin. Dia nggak terima, Dan. Lo tau sendirikan Kenny orangnya gimana?”
“Gue nggak nyangka aja kalo ternyata dia ada di dalam mobil yang nabrak Lea. Gue tau dia nggak salah, karna yang bawa mobil waktu itu temannya. Satu lagi yang bikin gue kaget, ternyata Kenny pemakai…itu yang bikin gue ilfeel dan mutusin dia.”
Lalu keduanya terdiam…
“Soal Lupin…gue nggak keberatan kalo lo mau berjuang dapetin dia.” Sambung Danola lagi. Dilo tersentak.
“Gue pasti gagal…”
“Kita nggak tau isi hatinya. Bahkan sampe sekarang gue nggak tau gimana perasaannya ke gue…”
“Tapi_”
“Gue akan pulang ke Jerman kalo Lupin lebih milih lo….”
“Jadi lo masih mau lanjutin pertunangan itu?”
“Nggak dan nggak akan pernah.” Kata Danola menggeleng pasti.
Sementara itu dibalik tembok, Kenny berdiri dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mengepal geram. Dia menendang batu yang ada didepannya dengan sekuat tenaga. Dia dengar semua pembicaraan itu. Setelah mengumpat geram dia pergi dengan langkah lebar menuju pintu keluar.
Tap!
Gita turun dari balik pohon yang nggak jauh dari tempat duduk Dilo dan Danola. Dia juga ada ditempat itu dari tadi. Bahkan sebelum Kenny datang, dia udah nangkring duluan diatas pohon. Alasannya nyari angin. Tapi, keberuntungan ada dipihaknya. Mungkin dia akan cari tau sesuatu…tentang Kenny tentunya.
“Ternyata nguping itu punya manfaat yang luar biasaaa!” katanya sambil bertepuk tangan ria.
♡