♡
“Ma, Alodia ke rumah kak Lupin ya, kemungkinan nginep di sana!” kata Alodia ke Mama yang sibuk menyusun kue buatannya ke dalam toples. Mamanya punya usaha kecil-kecilan, sejenis catering kue gitu. Biasalah, permintaan teman-temannya yang mau imlek. Sedangkan Ayahnya tinggal di Shenzhen, Cina dan pulang dua tahun sekali. Mereka punya restoran yang menunya khas asli Indonesia. Dulu sekali, Alodia ingin dia yang pergi kesana sekaligus belajar masak tapi permintannya ditolak karna harus menemani Mama di Indonesia.
“Heee, tunggu! Kamu disuruh Meyin menguhubunginya lewat video call.” Mama berteriak dari dapur.e Alodia terpaksa berhenti di depan pintu lalu balik lagi ke kamar. Menyalakan laptop, login skype dan seperti biasanya, video call….
Nggak berapa lama wajah adiknya Meyin muncul dengan genit.
Uh, dia udah gede ternyata.
“Hai, Kakakkuuuuu?” sapanya sambil melambaikan tangan.
“Kenapa? Gue buru-buru!” kata Alodia.
“#@!$%$%#$^” dia mengomel dengan bahasa cina. “Aku ada kabar baik untukmu tauuu.”
“Apa?” tanya Alodia nggak minat.
“Masih ingat dengan permintaanmu waktu SD dulu? Akhirnya, ayah mengizinkan juga kalau kakak boleh ikut kursus masak disini. Namamu sudah terdaftar, kalau memang mau, satu bulan lagi, kakak harus kesini untuk daftar ulang. Ke Shenzhen.”
….
“SERIUS?” teriak Alodia dengan mulut mangap. Matanya melotot nggak percaya. Meiyin tersenyum lebar sambil manggut-manggut.
“Ayah bilang, kalian harus pindah ke Shenzhen. Alhamdulillah, restoran kita sudah buka cabang. Kami nggak bisa mengurus semua, jadi Mama dan kakak harus ikut kesini membantu. Aku udah bilang sama Mama, mama setuju siiih.”
“MAAAAU BAAAAAA_” Alodia nggak melanjutkan katanya. Tunggu? Pindah?
Pindah ke Shenzhen? Jauh dari Kak Danola? Hah? NGGAK MAAAAAAAAAAAAAU!
“NGGAK MAU!” kata Alodia lagi.
“Huh? Tadi katanya mau?”
“Bilang ayah, gue pikir-pikir dulu! Dah!”
Klik. Alodia menutup video call. Dia mengitari ruangan kamarnya. Itu kabar baik apa kabar buruk sih?
Dulu memang, dia pengen banget ikut ayahnya. Ikut kursus masak. Cita-citanya tinggi selangit. Ingin memperkenalkan masakan khas Indonesia ke seluruh dunia. Dan halal tentunya.
Sebulan ngambek dan mogok makan, sampe badan kurus kering tapi tetap nggak dikasih izin untuk ikut. Dan sekarang, setelah 5 tahun berlalu, setelah dia mengenal Danola yang baik hati, setelah hatinya terisi penuh oleh bayangan Danola, dan setelah kesedihannya hilang karna Danola, baru keiinginannya itu terkabul.
Alodia bimbang. Galau melanda. Resah. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah Lupin dan berusaha untuk melupakan kabar ini untuk saat ini. Masih ada waktu, satu bulan lagi…
Sesampainya di rumah Lupin, langkahnya terhenti karna melihat Danola duduk disisi tempat tidur Lupin sambil mengelus rambut Lupin dengan penuh…cinta?
Seperti ada sesuatu yang menusuk-nusuk hatinya. Selama ini memang, dia selalu melihat kebersamaan Danola dan Lupin. Selama ini dia berpikir mereka hanya teman biasa, tapi…dari tatapan Danola ke Lupin… entah kenapa Alodia berat mengakuinya, mengakui kalo itu tatapan yang dia harapkan selama ini. Tatapan penuh cinta dari Danola. Memang sekarang dia melihatnya, tapi bukan untuknya.
“Ceboool!” pekik Gita mengangetkannya dari belakang. Alodia menoleh gugup. Gita mengernyit, dia menatap mata Alodia dalam-dalam.
“Ngapain lo di sini? Lama amat datangnya? Tapi janjinya jam delapan?” kata Gita dan menarik tangan Alodia menuju dapur. Alodia masih diam.
“CEBOL?”
“Hiks..hiks…!”
Gita bungkam. Sendok goreng yang tadi diacung-acungkannya ke Alodia di letakkannya dimeja. Alodia nangis? Gita menarik nafas dalam. Dia tau apa yang membuat cewek bawel ini nangis. Siapa lagi kalo bukan Danola? Dia pasti liat Danola sama Lupin di kamar. Ah, Alodia, nasib kita sama nak, pikir Gita.
“Lo kenapa? Lo nangis bukan gara-gara guekan?” tanya Gita pura-pura nggak tau. Alodia menggeleng. Kepalanya nunduk dalam.
“Ih Alodia cengeng banget siiih? Liat gitu aja nangiiiiis!” ejek Gita sambil mencolek-colek bahu Alodia yang naik turun menahan tangis.
“Ternyata…patah hati itu sakit ya, Kagit…” Akhirnya nih bocah ngomong juga. Gita tertawa kecil lalu menggeser bangku dan duduk menopang dagu.
“Emang. Baru tau ya lo?”
“Rasanya sakit banget. Nggak enak. Risih. Gerah. Pengennya nangis mulu. Kenapa sih, dalam cinta harus ada juga yang namanya patah hati. Dan lebih sakitnya lagi, merasakan patah hati disaat belum memiliki…” kata Alodia dalam. Asli dalam banget. Bikin Gita tertegun.
“Berani jatuh cinta, harus berani patah hati dong?” kata Gita lalu menepuk-nepuk pundak Alodia. “Cinta itu sakit kalo nggak sejalan dengan keinginan kita. Tapi, kita nggak boleh lupa, mungkin diluar sana, ada seseorang yang jauh lebih baik untuk kita.”
“Hiks…hiks…itu kak Danola sama kak Lupin ada hubungan apa, kak” Tanya Alodia nggak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Gita nggak tau harus bilang apa, kalo dia bilang yang sebenarnya bisa-bisa makin kejer nangisnya nih anak.
“Namanya juga Lupin lagi sakit. Wajar dong dapat perhatian dari teman-temannya. Apalagi Danola ama Lupin kan udah temenen dari kecil…”
“Kalo gitu Alodia juga mau sakit aah! Biar kak Danola ikut ngerawat!”
“Yaelah dasar bocah labil! Udah jangan nangis lagi dong, bantuin nih masaknya!”
“Kayak bau gosong deh.” Alodia mengendus-ngendus.
“Aish! Tuh kan! Gara-gara lo gosong IKAN GUEEEEEE!” teriak Gita ngacir melihat ikan gorengnya yang udah gosong. Bau gosong menyerbak ke segala penjuru ruangan termasuk kamar Lupin. Danola beranjak dari tempatnya dan menyelimuti Lupin lalu pergi menuju asal bau hangus itu.
“Wkwkwkwk, sini deh biar Alodia aja yang masak! Besok-besok belum tentu bisa lagi kayak gini…” kata Alodia lalu mengangkat wajan dan membuang ikan goreng yang gosong itu ke baskom.
“Maksud lo cebol?” Tanya Gita sambil memotong-motong sayur kacang panjang.
“Mungkin…satu bulan lagi Alodia sama Mama mau pindah ke Shenzhen…”
“HAH? SERIUS LO? IH, NGGAK ASIK DONG! NGGAK ADA LAGI YANG BISA GUE PANGGIL CEBOL!” pekik Gita nggak setuju. Alodia tersenyum samar.
“Kagit Lebay! Doain aja ya semoga jadi_”
“Semoga nggak jadi ya Allah, amiin!” kata Gita nafsu. Kepalanya menggeleng kuat. Dia baru aja tau ternyata deket sama Alodia asik juga. Bikin suasana heboh, bikin ngakak juga. Rasanya sedih ngebayangin kalo Alodia mau pergi. Ah, Alodia nggak boleh pergi!
“Kagit jangan gitu dong. Alodia harus kejar cita-cita Alodia buat jadi chef muda. Alodia mau ngenalin masakan negara kita sama negara lain…”
“Wah, asik dong. Kak Danola boleh ikut nggak?” suara Danola mengangetkan keduanya. Apalagi Alodia. Mulutnya mangap pas tau-tau Danola udah nongol tiba-tiba.
“A…kk… Kagit minyak gorengnya mana?” Alodia mengalihkan pembicaraan dan pura-pura sibuk mencari minyak di lemari.
Gita melirik Danola yang keliatan bingung. Nggak biasanya dia dikacangin gini sama Alodia.
“Dan, lo tau nggak Kenny kemana?” tanya Gita kembali sibuk dengan kerjaannya.
“Nggak tau. Beberapa hari ini dia sering pergi, nggak tau kemana…”
“Tadi malem dia juga nggak tidur di rumah gue. Nggak jelas juga tuh anak.” Kata Gita geram. Sejak kejadian waktu itu, dia jadi makin muak dengan Kenny.
“Siapa yang nggak jelas?” Kenny muncul dengan wajah pucat. Bibirnya kering dan rambutnya kusut.
“Kamu kenapa, Ken?” tanya Danola keliatan agak cemas. Gita nggak suka liatnya. Bukan apa-apa. Lebih baik dia perhatiin Lupin dari pada Mak lampir yang satu ini.
“Nggak apa-apa. Aku tadi malem nginap di rumah temanku. Lupin gimana keadaannya?” tanya Kenny lalu tersenyum manis. Danola mau menjawab tapi Kenny keburu pergi menuju kamar Lupin.
Kenny terkekeh saat melihat Lupin tertidur pulas di tempat tidurnya. Ada beberapa luka dibagian tangan dan wajahnya. Kenny memegang kepalanya yang nyut-nyutan.
Sial! Kenapa nggak lumpuh aja sih nih cewek! Ribet jadinya urusanku! Tau gini harusnya dari awal aku tabrak bolak-balik aja!Sampe mati! @#$@%#$^
Lingga lagi ntah kemana! s****n tuh anak, udah dapat uang malah kabur nggak tau kemana! Aaaaah, s****n semua! Danola udah nggak respect lagi sama gue!
SIAL! s**l! SIAAAAAAAAL!
Tanpa sadar Kenny meremas selimut Lupin dengan geram. Sampai akhirnya tepukan dipundaknya membuatnya kaget.
“Mama lo nelpon. Katanya nomor lo nggak aktif dari kemaren…” kata Dilo sambil menyodorkan handphonenya. Kenny mengangguk lesu lalu pergi.
Dilo duduk disisi tempat tidur Lupin. Dia tersenyum melihat Lupin tidur. Wajahnya terlihat polos dan sepertinya sih cewek itu lagi bermimpi indah. Dilo menarik pelan-pelan boneka kelinci yang dipeluk Lupin. Dia menciumkan hidung boneka itu ke hidung Lupin.
“Cepat sembuh ya cantik…mumumuah.” Kata Dilo dengan suara yang sengaja dipelankan. Dilo merapatkan duduknya, perlahan jari-jarinya bergerak ke tangan Lupin. Dilo menggenggamnya dengan lembut.
“Huhmmm sss…” Lupin menggumam nggak jelas. Tangan kanannya bergerak ke atas seolah ingin mencapai sesuatu. Dilo melihat ke langit. Nih anak mimpi apaan?
“Kiss…”
Dilo mengernyit. Kiss katanya?
Dilo mendekatkan wajahnya. Ingin mendengar jelas apa yang Lupin bilang. Tapi, tangan Lupin berhenti diwajahnya, dia mengelus wajah Dilo dengan lembut.
Lupin jelas-jelas ngingau. Dia mimpi apa sih? Dilo meletakkan tangan Lupin seperti semula. Saat dia mau beranjak tangannya tiba-tiba ditahan Lupin. “Kiss me…”
♡
LUPIN POV
“Kiss me?” kata gue ke Danola.
Saat ini gue dan dia berada disebuah taman yang penuh dengan bunga. Cantik banget. Gue nggak tau ini dimana.
Gue memandangi wajah Danola di depan gue. Uh, dia ganteng banget. Mungkin, saat ini…gue udah jatuh cinta sama dia. Rasanya seneeeeeng banget tangan gue dipegang gini sama Danola.
Danola tersenyum manis. Dia menyentuh pipi gue dan tangannya berhenti didagu gue.
Tapi, kenapa…kok gue ngerasa…biasa aja, ya? Hey, ini Danola! Cowok yang selalu ada buat gue! Harusnya chemistry antara gue dan dia terasa kuat!
Danola perlahan mendekatkan wajahnya. Aaaaah…gue menutup mata dan membiarkan itu terjadi. Ciuman pertama gue.
Rasanya…lembut, manis, hangat dan…
Tunggu! Kayaknya gue pernah ngerasain ini. Tapi, kapan? Dimana?
“Danola ini kayaknya pernah terjadi deh…”
Perlahan gue buka mata dan Danola udah nggak ada. Gue berlari kecil diantara jalan setapak yang dikelilingi bunga. Danola kemana? Tempat ini seperti taman bunga yang tak berujung. Sepi dan Cuma ada gue. Danola kemana?
“Danolaaaaaa?” teriak gue panik.
“Pin? Lo udah bangun?”
Gue buka mata dan celingukan. Mimpi???
Tapi, mendadak pipi gue merasa panas. Aaaaaaah…gue mimpi apaaaaaa siiiih? Ih, m***m.
“Pin, lo kenapa?” Tanya Danola bingung. Tangannya menyentuh kening gue.
“Gu…gue…nggak apa-apa kok. Sejak kapan lo disini?” Tanya gue rada gugup.
“Baru aja. Katanya dari tadi lo manggilin nama gue terus. Kenapa hayoooo?” Tanya Danola mengedip lucu.
Aduh, Mati gue!
“LAPAAAAAAAAAR!” teriak gue lebay. Mengalihkan pembicaraan. Gue dengar suara berisik dari arah tangga. Berisik banget. Ternyata Gita dan Alodia jatuh karna berebut masuk ke kamar gue. Rasakan kalian -,-
“Kagit berat banget sihhh aduuuh! Bisa bergeser nih tulang pinggang Alodia!” kata Alodia setelah sampai dikamar.
“Kalo geser yang kita geser lagi ketempat semula.” Katanya enteng. Gita emang udah gila.
“Huh! Kagit kejam! Eh, Kak Lupin coba deh masakan Alodia. Pasti enak banget!” kata Alodia sambil menyodorkan piring berisi ikan goreng dengan taburan bumbu juga bawang goreng. Lengkap sama nasinya juga. Ah Alodiaaaaaa, udah imut pinter masak lagi.
“Makasiiih yaaa…” kata gue senang. Gue masih merasa Danola ngeliatin gue dengan tatapan aneh.
Ah, Danola pulang dulu sana. Nggak mungkin gue cerita mimpi yang tadikan? Malu.
♡
Dilo melepas ciumannya dari bibir merah Lupin. Sedetik, dua detik, cewek itu masih diam dalam tidurnya. Sampe akhirnya…
“Danola…”
Ucapan itu membuat senyum di bibir Dilo memudar. Perlahan dia melepaskan genggamannya lalu perlahan-lahan keluar dari kamar dengan hati yang…sakit tentunya.
Sampainya di rumah, dia membuka kardus yang sejak pulang Jerman masih teronggok dibawah tempat tidurnya. Diambilnya selembar kertas yang terselip diantara benda-benda lainnya.
Dilo meremas kertas itu dengan geram. Resah. Gelisah. Sakit. Ah, kenapa sih patah hati itu sakit banget?
Jadi dari tadi Lupin memimpikan Danola?
Jadi senyum dalam mimpi itu karna Danola?
Dilo terkekeh. Dia mengutuk diri karna bodoh membiarkan dirinya tenggelam terlalu dalam pada rasa ini.
Ah, cinta! Apa harus sesakit ini?
♡
Beberapa hari kemudian…
Dilo baru aja membuka jendela kamarnya. Tapi, pemandangan nggak enak langsung menyambutnya. Lupin, cewek itu jatuh dari tempat tidur dan merangkak ntah mau kemana.
“Hem?” Dilo sengaja berdehem. Lupin menoleh dengan kening mengerut. Nggak pake lama, Dilo langsung masuk ke kamar Lupin lewat jendela. Membuat cewek itu mangap kaget.
“Sori, ada yang bisa gue bantu?” tanya Dilo sambil mengelus kepalanya yang tadi kejeduk bagian atas jendela.
“Ng…gue…mau…” Lupin sepertinya ragu untuk menjawab. Dilo mengernyit. “Gue mau…mau…” Lupin akhirnya menunjuk sebuah ruangan kecil yang ada disebelah meja riasnya alias kamar mandi. Dilo tersenyum lalu mendekati Lupin, mengangkatnya seperti berat Lupin bukan apa-apa untuknya.
“Eh?” Lupin mau menolak tapi rasa sesaknya juga nggak bisa ditahan.
“Nanti kalo udah siap, bilang ya…” kata Dilo pelan setelah menurunkan Lupin dipintu kamar mandi. Lupin mengangguk pelan lalu menutup pintu.
Diluar, Dilo terkekeh geli dan senyum-senyum sendiri. Matanya mengitari kamar Lupin yang berdinding pink muda.
“Dilo…”
DEG. Ntah kenapa saat Lupin menyebut namanya, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat dia mengangkat Lupin tadi. Ini pertama kalinya, cewek itu menyebut namanya langsug…
Krieek. Pintu terbuka. Lupin muncul dengan wajah yang enak diliat. Nggak kayak tadi.
“Udah?” tanya Dilo. Lupin mengangguk.
“Sori…” kata Dilo sebelum dia mengangkat Lupin dan membawanya kembali ke tempat tidur.
EH EH EH EH! Tapi, s**l kakinya tersandung alas kaki.
DUG. Kening mereka beradu setelah sampai ditempat tidur Lupin. Keduanya saling pandang untuk berapa detik. Ini fose yang sebenarnya…hmmmm…
Lupin mengerjapkan matanya. Begitupula dengan Dilo. Detik kemudian keduanya tertawa bersamaan.
“Lo berat sih, jatuhkan jadinya haha…”
“Hahaha, lo sih, jalannya nggak hati-hati.” Kata Lupin nggak bisa menahan tawanya. Dia mengelus-elus keningnya yang tadi beradu dengan kening Dilo.
Keduanya masih tertawa bersamaan sampe tiba-tiba pintu kamar terbuka dramatis.
Muncullah dua orang menyebalkan dengan muka lebaynya.
Bang Rey dan Kak Yona.
Tapi, saat melihat posisi Lupin dan Dilo yang masih…hmmmm
Keduanya memegang pipi lagi-lagi secara dramatis.
“OH MY GOD!” pekik keduanya dengan muka lebay.
♡